
Perihnya Jalan Taubatku
Bab 2
“Aduh, Enin ini gimana. Terus perawatnya bilang apa? Enin cerita apa saja soal Bram?”
Bram terus memutar otak agar Eninnya tak bercerita banyak pada siapapun tanpa membuat neneknya ini curiga.
“IH! Orang Enin cuma bilang kamu sering kelelahan aja, gak ngomong yang lain.”
“Benar?!”
“Ya, bener, atuh. Masa Enin bohong. Memangnya kenapa? Takut amat?” Enin kembali melihat keanehan di diri cucunya itu.
“Mmm!” Bram memejamkan matanya berusaha terlihat tenang. “Enin jangan bilang siapa-siapa soal Bram. Bram ini kan artis, ya. Jadi harus hati-hati. Cuma takut kalau ada yang kepo terus bikin hoax,”
“Iya, Enin juga paham. Jangan takut kelewatan gitu. Ujang banyak-banyak istigfar. Enin teh sayang ke Ujang. Masa Enin tega nyebar-nyebarin berita yang bikin Ujang kena masalah,”
Bram tersenyum simpul pada Neneknya dan berusaha menganggap semuanya baik adanya.
“Tapi emang Ujang Cuma kelelahan, kan?”
“Kenapa Enin bilang gitu?” Bram yang baru saja merasa tenang kembali merasa insecure.
“Soalnya namanya artis kan banyak godaannya. Enin Cuma gak mau, Ujang teh keperosok ke dunia yang aneh-aneh. Kaya narkoba, ih auzubilah hamidalik nya Jang.”
“Enin,” bisik Bram yang seketika jadi takut nenek yang sangat dia sayangi ini tau kondisinya yang sebenarnya.
“Cucu Enin mah gak mungkin kegoda yang gitu-gitu kan, Jang?”
“Iya atuh, Nin. Cucu Enin mah paling godaannya cewek cantik doang,” kekeh Bram mencoba menutupi rasa bersalahnya.
“Ah! Itu mah turunan dari bapak kamu,” kekeh Enin.
“Sudah kalau sudah turunan ya, Nin”
“Kalau bapakmu pernah salah, kamu ya jangan ikutan salah, Jang”
Bram membalas ucapan neneknya dengan senyuman.
“Udah! Sini Enin doain.” Enin meraih pipi Bram kemudian berbisik di ubun-ubun cucunya. “Bismillah Ya Allah, jauhkan Ujang ganteng ini dari yang jelek-jelek. Enin teh cuma punya Bram sekarang, jadi sing jauh dari musibah, Ya Allah!” Enin meniup ubun-ubun Bram tiga kali, hal yang selalu dia lakukan sejak kecil.
“Aamiin,” sahut Bram dengan tatapan nanar ke arah sang nenek yang duduk di depannya.
“Sudah! Sekarang Ujang sholat. Sholat itu cara kita minta ampunan dan perlindungan dari Allah Subhana wata'ala, Jang. Jadi jangan sampai telat sholat, ya.”
Enin berdiri dari samping tempat tidur lalu melangkah keluar untuk memberikan waktu pada Bram yang akan bersiap menjalankan ibadah sholatnya siang ini.
Meski berat, Bram akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membilas peluh yang belum sempat lepas dari tubuhnya.
Sesekali matanya menatap ke arah cermin kamar mandi kecil di dalam ruangan sederhana itu melihat pantulan wajahnya yang pucat, wajah seorang pecandu narkoba. “Aku harus sembuh dari kecanduan ini, uh! Tapi bagaimana caranya,” gerutu Bram lalu meremas wajahnya.
Dia terus memandangi wajahnya sendiri berharap ada cara untuk keluar dari semua ujian hidupnya ini, tapi semakin dia berpikir rasa bersalahnya pada sang nenek semakin memenuhi hatinya.
“Enin, maafkan Bram. Kalau tidak begini, kontrak kerja dengan label musik ngak akan bisa selesai,” bisik Bram lalu meraih rambutnya dan menjambaknya lagi. “Aku ini bodoh. Seharusnya hari itu aku gak menerima sabu dari Kholil. Ya Allah, beri aku jalan untuk keluar dari kecanduan ini,”
Selang sedetik dari doa terdalamnya di kamar mandi tiba-tiba…
Brak!
Brak!
Brak!
“Bram!” panggil Enin sambil menggedor pintu kamar mandi. “Keluar, Jang. Enin mau bicara!!”
“Hah! Kenapa dengan Enin?”
“Jang! Keluar, Jang!”
“Ada apa?” tanya Bram lirih sambil menoleh ke arah pintu.
“Buka saja pintunya, Jang!”
Suara panik sang Nenek membuat Bram bergegas. Dia segera membasuh sisa sabun di tubuhnya kemudian mengeringkan tubuhnya.
Tak lama kemudian pria 20 tahun itu sudah keluar dengan wajah bingung sambil berharap tak ada hal buruk yang akan diberitahukan neneknya siang itu.
“Ada apa?” tanya Bram yang rambutnya masih basah.
“Jang, apa benar manager teh namanya Kholil, kan?” tanya Enin dengan wajahnya yang datar.
“Iya, memangnya kenapa?”
Mendengar jawaban cucunya, Enin langsung terduduk lemas di atas lantai rumahnya. “Astagfirullah hal adzim,” bisiknya lalu menatap Bram yang masih berdiri dengan wajahnya yang bingung.
“Enin, ada apa?”
Wanita itu ketika meneteskan air mata dengan tatapan kosong berharap kabar yang baru diterima hanyalah gosip belaka.
“Ada apa?” tanya Bram yang semakin cemas saja lalu meraih bahu sang nenek yang masih belum bisa berkata-kata.
“Enin tadi nonton berita infotainment, katanya yang namanya Kholil ditangkap polisi dengan barang bukti sabu seberat 10 gram yang akan dibagikan,”
Blaz!
Wajah Bram yang pucat semakin pucat saja mendengar apa yang baru saja dikatakan neneknya, “Enin!”
“Dia juga ngaku kalau semua grup band D’Klok pake barang dari dia, berarti kamu juga....”
“Enin!” bisik Bram dengan air mata yang sudah tak bisa lagi dibendung. “Maafkan, Bram, Nin!”
“Astagfirullah hal adzim. Jang, kenapa kamu kejam sekali sama Enin.”
“Dengar dulu, Nin!”
“Enin teh nggak punya siapa-siapa lagi sekarang. Cuma kamu, Jang. Kalau seperti ini, terus Enin harus gimana!”
“Tapi ini bisa diatur kok, Nin!”
“Jang, apalagi yang diatur. Polisi dalam perjalanan kemari. Kamu tau itu artinya apa?”
“Nin!” Bram memeluk neneknya dengan pelukan penuh rasa bersalah, dia terus menangis memohon maaf dari wanita yang sudah membesarkannya itu.
“Kalau polisi sampai datang kemari, jangan sampai Enin lihat kamu naik mobil polisi. Hancur hati Enin, Jang!”
“Tapi mereka belum tentu datang hari ini, Nin. Pasti Bram masih punya waktu untuk kabur,”
Plak!
Tangan Enin yang masih kokoh menampar keras wajah Bram membuat cucunya itu terbelalak karena nya.
“Denger, Jang. Enin ngajak kamu untuk apa? Untuk kabur dari tanggung jawab? Nggak, Jang. Enin gak mau kamu kayak bapakmu yang lari dari tanggung jawabnya.”
“Tapi...”
“Kamu harus tanggung jawab. Salah gak salah kamu tetap harus ke kantor polisi untuk bereskan urusanmu disana.”
Bram menghapus air mata yang sudah berlinang di wajahnya. “Bram gak mau, Nin!”
“Kalau kamu mau kabur, Enin yang akan ikat kamu di kamar sampai mereka datang nyusul Ujang. Gak ada, Jang. Enin gak akan biarkan mau kabur kayak bapakmu. Durhaka kamu sampai lari dari tanggung jawab!”
Bram menggelengkan kepalanya lalu teringat pada banyak orang yang berjanji akan menolongnya jika dia dalam keadaan terburuk sekalipun.
“Tunggu! Bram mau telepon orang-orang label dulu, Nin. Tunggu di sini!” seru Bram lalu meraih ponselnya dan mulai menghubungi satu persatu temannya yang dia kira bisa membantunya.
“Tidak diangkat,” ketus Bram lalu menghubungi temannya yang lain.
“Kenapa, Jang?”
“Tak ada yang angkat panggilan teleponku, Nin. Tunggu!”
“Sudah, Jang. Di saat seperti ini, tak akan ada orang yang mau membantumu. Sudah! Kau hadapi saja penegak hukum itu,”
“Tapi, Nin! Mereka janji akan bantu Bram. Pasti ada yang mau bantu, paling tidak biar Bram gak usah ke kantor polisi. Ini memalukan.”
“Memalukan? Kenapa kau tak pikirkan ini sebelum kejadian, Jang?”
“Nin! Aku terpaksa, Nin. Ini semua perintah manajer Bram, jadi Bram tidak seharusnya ke kantor polisi!”
“Kamu bicara apa? Memangnya kenapa kalau kamu ke kantor polisi untuk tanggung jawab?”
“Malu, Nin. Malu. Apa kata dunia kalau sampai mereka lihat Bram di televisi. Hancur karir Bram, Nin!”
“Sudah, Jang!”
“Tapi Nin. Ini memalukan!” Bram mulai merengek seperti anak kecil yang tak dapat bagian permen, dia terus merengek antara malu, menyesal dan kesal.
Enin yang begitu menyayangi Bram kemudian memeluk cucunya kemudian berbisik, “Percaya sama Enin. Di saat seperti ini, hanya Allah yang bisa tolong Ujang. Gak usah berharap sama manusia, Jang.”
“Tapi mereka kemana?”
“Tidak usah kau cari. Kita siapkan saja dirimu, agar saat kau disusul polisi, aku sudah siap secara mental!”
Tak punya pilihan, Bram akhirnya menangguk meyakinkan kalau dia tak akan lari seperti sebersit ide buruk dalam kepalanya saat ini.
Dengan berat hati dia kemudian menunggu hingga akhirnya…
Tok!
Tok!
Tok!
“Permisi,”
“Astaga itu mereka, Nin,” bisik Bram dengan mata yang terpejam dan sebenarnya tak pernah siap di susul polisi dengan kondisinya saat ini. “Aku kabur aja,” bisik Bram yang kali ini mulai melirik jalan yang sekiranya bisa digunakan untuk kabur.
Anda Mungkin Juga Suka





