Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perihnya Jalan Taubatku

Perihnya Jalan Taubatku

Bramasta, gitaris andalan sebuah band populer, harus merelakan karier musiknya hancur total setelah terjerat kasus narkoba dan berakhir di penjara. Dalam keterpurukan, ia berjuang menerima kenyataan pahit bahwa istrinya, Widi, serta sang mertua, Hartono, adalah sosok yang melaporkannya ke pihak berwajib. Kini, Bramasta menghadapi rintangan berat untuk memulihkan kepercayaan keluarga sekaligus membangun kembali kejayaannya yang telah sirna.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Bram! Sudah, tak usah takut. Enin akan ada di sisimu, Jang. Tak apa, ya Enin bukakan pintu untuk mereka?”

“Tapi, Nin!” Bram kembali terlihat cemas.

“Kamu harus tanggung jawab, Jang. Kamu tau kalau kamu salah kan,”

Bram memanggil yakin dan Enin kemudian berdiri menuju pintu untuk menyambut tamunya. Dengan berani Enin kemudian membukakan pintu.

 “Selamat siang, kami dari kepolisian. Benar Bramasta Araya tinggal disini?” sapa seorang polisi berbaju preman yang tersenyum ramah pada nenek tua itu.

 “Benar, Pak. Cucu saya ada di dalam,” tegas Enin lalu membuka pintu rumahnya lebar untuk tiga orang anggota polisi yang berdiri di depan pintu rumahnya.

“Terima kasih kerjasamanya. Kami harus bawa Bram ke kantor polisi sekarang,”

“Iya!” Enin meraih tangan polisi yang berjalan paling awal. “Pak, tapi Ujang Bram saya jangan digebugin, ya!”

“Digebukin?” Polisi itu menatap Enin dengan wajahnya yang tertunduk.

“Iya, Pak. Enin sayang sekali sama ujang sholeh ini, mungkin dia nakal tapi Enin mau jadi jaminan untuk dia. Dia gak akan kabur, Pak. Sudah Enin marahi dia tadi!” tutur Enin dengan polos dan tulus.

Tentu wajah tulus Enin yang tergambar begitu jelas membuat tiga orang anggota polisi langsung terenyuh karena nya. Mereka yang tadinya bersiap dengan wajah gahar berubah jadi lembut untuk menghormati wanita paruh baya ini.

“Iya, Nin. Dia gak akan kami gebukin. Kami juga percaya kalau dia gak akan kabur. Tapi dia harus tetap kami bawa,”

“Mangga,” ( Mangga adalah permisi dalam bahasa Sunda.). “Enin gak akan halangi,”

Polisi itu lalu mendekat ke arah Bram kemudian menyiapkan borgol untuk tangan gitaris ini.

‘Ya, Allah, kenapa aku begitu bodoh sehingga membiarkan Enin begitu terluka karena tingkahku,’ ucap Bram dalam hati namun dia tak bisa lari lagi dari hadangan tiga orang polisi yang berdiri tegak di depannya.

“Ikut kami ke polisi,” tutur polisi yang menyusul Bram dengan tegas namun tetap lembut. “Kami punya bukti kalau kamu pengguna sabu,”

“Iya!” jawab Bram lalu membiarkan polisi itu memasangkan borgol tanpa perlawanan.

“Pak, ingat, ya. Saya mau jadi jaminan untuk cucu saya. Dia gak akan kabur jadi jangan pukuli dia. Saya mohon!” ulang Enin sekali lagi.

“Iya, Nin Kami ngerti. Tapi nanti ada teman kami yang akan bantu Enin beres-beres rumah, ya. Mohon di terima baik seperti kami ini!”

“Eh, kenapa bantu Enin beres-beres rumah? Rumah Enin walau di pinggiran gini tetap rapi, kok?”

“Iya, kami tau. Rumah Enin emang rapi. Tapi mereka mau nyari tambahan barang bukti tambahan. Takut aja ada yang ketinggalan, gitu. Jadi kamar Ujang jangan dirapiin dulu, ya,”

“Oh, nyari barang bukti. Iya atuh kalau gitu, Enin nurut aja. Tapi janji ujang sholehnya Enin jangan dipukul, ya. Enin gak mau dia babak belur, Pak!” pinta Enin dengan polosnya.

“Ujang sholeh,” kekeh salah seorang polisi sambil menatap wajah Bram yang tertunduk malu karena panggilan neneknya itu.

“Kami harus pergi sekarang,” pamit polisi tadi dengan wajahnya yang ramah. “Nanti kami hubungi lagi jika ada data yang harus dilengkapi pihak keluarga sebagai tanda Nenek bersedia jadi jaminan,”

“Iya, Pak! Enin bersedia dihubungi kapan saja. Silahkan bawa anak ini sekarang,”

Polisi lalu menggiring tubuh Bram menuju mobil polisi yang terparkir di depan rumah sederhana Enin tanpa diikuti wanita paruh baya yang memang sejak awal tak bersedia melihat cucunya pergi dengan pengawalan dari polisi.

Mobil yang membawa Bram kemudian melaju kencang menuju kantor polisi terdekat.

Selama pemeriksaan gitaris yang bandnya sedang naik daun itu terus menunduk hingga akhirnya seorang wanita yang  mengaku sebagai pengacara yang ditunjuk label untuknya datang dengan wajahnya yang ramah.

“Selamat siang, saya Swarna,” ucap pengacara muda bersetelan jas biru tua itu sambil mengulurkan tangannya kepada Bram.

“Swarna? Siapa?”

“Saya dapat mandat dari label rekaman yang menaungimu, Bram. Saya diminta untuk membantumu dalam kasus ini,”

Bram menghela nafasnya panjang lalu menatap Swarna yang baru kali ini dia lihat. “Katakan padaku siapa yang melaporkan kami ke polisi?”

“Mmmm, saya tak mengurusi masalah itu. Saya hanya ditugaskan label mengurusi kalian sampai kalian semua mendapatkan keringanan berupa rehabilitasi,”

“Tak mungkin,” Bram terkekeh lalu berdiri menghadap Swarna yang begitu anggun meski dia adalah seorang pengacara yang identik dengan kesan sangar dan tak bersahabat. “Pasti ada yang melaporkan kami,”

“Saya sungguh tak tau. Tapi kalau boleh saya bertanya, kira-kira siapa yang kau duga melakukan hal ini pada kalian,”

“Widi!” tegas Bram dengan wajah datar.

“Mmm, sepertinya bukan,”

“Hah! Berarti kau tau siapa pelakunya?”

“Teh!” Swarna terkekeh menyadari blundernya sendiri. “Hahahaha! Aku keceplosan,”

“Katakan saja!” desak Bram.

“Baiklah, tapi kau jangan kaget, ya,”

“Siapa? Katakan saja, aku tak mau menjalani semua ini dengan penasaran,”

“Pelakunya adalah ayah mertuamu,”

“Astaga! Tega sekali dia,” Bram terduduk mendengar nama itu terucap.

“Ya, ini dunia yang kejam. Kau tak akan bisa percaya pada siapapun dan bahkan tak tau kenapa lawanmu menyakitimu,”

“Kau benar, Swarna. Sekarang karirku sudah hancur dan aku tak tau lagi harus berbuat apa.”

Swarna tersenyum simpul lalu menepuk bahu Bram yang begitu kaku karena tau yang sebenarnya.

“Pokoknya kamu harus mau direhab, itu satu-satunya cara agar kau bisa kembali membangun karirmu yang harus terhenti karena tangan jahat musuhmu,”

Bram mengangguk, hanya itu satu-satunya cara untuknya menjawab permintaan Swarna saat ini.

Setelah pertemuannya dengan pengacara yang dikirimkan label rekaman, Bram akhirnya melanjutkan proses hukumnya.

Dia harus mulai melakukan pemeriksaan dengan dokter hingga dinyatakan dia adalah orang yang positif menggunakanan narkoba jenis sabu namun hanya sebagai pemakai bukan pengedar.

Tak cuma proses pemeriksaan dokter, Bram juga harus melakukan sesi jumpa pers yang membuatnya sangat tak siap.

“Kau siap?” tanya Swarna saat semua anggota grup band terkenal ini sudah berkumpul di sebuah ruangan dekat lapangan belakang kantor polisi tempat mereka ditahan sementara.

“Ayo, Bram. Semakin cepat, semakin bagus,” bisik Kholil yang juga sudah ada di ruangan itu.

“Iya!”

Setelah semuanya siap, Swarna meminta polisi untuk membantu kelima anggota band dan managernya itu menuju tempat jumpa pers.

Cahaya blitz kamera mulia menyala dan Bram semakin ketakutan dibuatnya.

“Bram!” panggil beberapa wartawati yang memang sangat mengidolakan gitaris yang terkenal begitu piawai memainkan senar-senar gitarnya. “I love you! Semangat, ya!”

“Duh!” keluh Bram tak menyangan masih saja ada orang yang memujanya di saat seperti ini.

Konferensi pers segera dimulai setelah semua anggota band berjajar rapi membelakangi para wartawan.

Bram berdiri paling kiri dan paling tertunduk karena kejadian ini.

Setelah semua siap, satu persatu wartawan pun mulai bertanya dan Bram semakin tertunduk malu karena nya.

“Jadi benar semua anggota grup band D’Klok menggunakan narkoba?” pertanyaan pertama itu sungguh membuat Bram yang berdiri membelakangi para wartawan tak bisa lagi berkata-kata.

“Benar! Semua anggota band dituntut sebagai pemakai saja, sedang Kholil, managernya sebagai peyuplai!”

“Apa mereka akan dihukum?”

“Tidak semua! Sesuai  pasal 127 undang-undang nomor 35 tahun 2009, para pengguna narkoba ini akan menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO,”

“Lalu yang mengedarkan?’

“Nah! Sedang pengedarnya yaitu saudara Kholil akan kami jerat pasal 115 undang-undang narkoba dengan hukuman minimal 4 tahun dan maksimalnya 12 tahun,”

Deg!

Bram tersentak mendengarkan hukuman yang akan diterima managernya itu. Meski semua ini adalah ulah Kholil, tapi rasanya hukuman itu akan sangat berat dijalani sang manager yang akan lama berpisah dengan kedua anaknya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Setelah Menikah
9.4
Bunga, wanita cantik dengan bayang-bayang masa lalu, dipertemukan dengan Rio Xen Zhin. Rio adalah CEO asal Jepang yang kaya, berwibawa, namun sangat dingin. Sosoknya sangat mirip dengan mendiang mantan tunangan Bunga yang telah tiada. Rio memutuskan untuk menikahi Bunga hanya demi membalas sebuah jasa. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, mampukah Bunga merelakan masa lalunya dan menghadapi kenyataan bersama pria yang memiliki wajah serupa?
Sampul Novel Gairah Sang Pelakor
8.9
Kehidupan rumah tangga seorang istri hancur saat menemukan kontak bernama si buruk rupa di ponsel suaminya. Pedihnya, label menghina itu ternyata ditujukan untuk dirinya sendiri. Sang suami tega melakukan hal tersebut demi menutupi perselingkuhannya dengan wanita idaman lain. Pengkhianatan ini mengungkap betapa rendahnya posisi sang istri di mata lelaki yang ia cintai, sementara sang suami justru asyik menjalin hubungan gelap di belakangnya.
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta Pada Sugar Daddy
8.6
Terdesak kebutuhan finansial, Anggita yang berusia 20 tahun nekat mendaftar di aplikasi Sugar Baby. Meski sempat diabaikan karena fisiknya, pengacara sukses bernama Devano Abimanyu justru tertarik padanya. Devano bersedia membiayai hidup Anggita dengan syarat ketat: dia memegang kendali penuh, menjanjikan kenikmatan luar biasa, dan melarang Anggita jatuh cinta. Akankah Anggita mampu bertahan tanpa melibatkan perasaan, atau justru terjebak dalam aturan yang sengaja dilanggar?
Sampul Novel Missing You Like Crazy
8.0
Kebahagiaan Rania bersama suaminya, Adipati, hancur seketika saat kecelakaan pesawat tragis merenggut pria itu. Di tengah duka dan kondisi hamil, Rania harus menghadapi kenyataan bahwa Adi dinyatakan hilang. Namun, titik terang muncul beberapa bulan kemudian saat ia melihat sosok yang sangat mirip dengan Adi bersama wanita lain. Rania pun terjebak dalam misteri besar: apakah pria itu benar suaminya yang selamat, ataukah hanya orang asing yang memiliki wajah serupa?
Sampul Novel Obsesi Liar Mantan Bosku
8.3
Hidup Cindy Andriana Halim hancur seketika saat suaminya kalah judi dan menjadikannya sebagai jaminan utang. Kini, ia terperangkap dalam ancaman Sebastian Arson, mantan bosnya yang menuntut kepatuhan ranjang sebagai pelunasan. Sebastian kembali ke Indonesia dengan obsesi gelap untuk memiliki Cindy sepenuhnya. Terjepit antara kewajiban membayar utang besar atau menyerahkan kehormatannya, mampukah Cindy melarikan diri dari jeratan pria yang haus kekuasaan tersebut?
Sampul Novel Permainan Cinta Hartawan Misterius
9.1
Dibuang sejak kecil, Celia Kane dipaksa keluarga ayahnya menjadi pengantin pengganti bagi Tyson Shaw. Demi menolak nasib, Celia melarikan diri dan terlibat cinta satu malam dengan pria asing sebelum akhirnya tetap tertangkap dan dipaksa menikah. Namun, di luar dugaan, Tyson memperlakukannya dengan sangat baik. Di balik kemesraan mereka, tersimpan rahasia besar tentang identitas asli Tyson sebagai hartawan misterius dan pria yang menemui Celia di malam pelariannya.