
Perempuan dan Kuasanya
Bab 2
"Sayang, terima kasih atas jasa besarmu."
Suamiku, Sandi Atmojo, mengarahkan ponselnya ke arahku sambil berlinang air mata.
Kedua tangannya terlihat gemetaran.
Dia lalu memberikan seikat mawar dan meletakkannya di samping tempat tidurku.
Aku merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuh. Tubuhku lemah tanpa daya.
Aku baru tersadar kalau diriku terlahir kembali setelah melihat pria di depanku menangis tersedu-sedu.
Aku kembali ke waktu di mana diriku baru saja melahirkan.
Di kehidupanku sebelumnya, Sandi bersikeras ingin menemani proses persalinanku.
Dokter sudah memposisikanku di atas meja persalinan.
Aku terbaring tanpa ada sehelai benang yang menutupi tubuh bagian bawahku. Aku sibuk berjuang di antara hidup dan mati demi melahirkan anakku.
Tulang rusukku rasanya mau patah setiap kali menarik napas dalam-dalam.
Sandi memegang ponsel dan mengarahkannya padaku. Dia terlihat sangat emosional.
Dengan bangga, dia mengatakan bahwa dirinya ingin merekam momen tersulit dalam hidupku.
Agar kelak bisa ditunjukkan ke anak-anak kami sebagai pelajaran.
Supaya mereka bisa menghormatiku.
Aku sendiri merasa sangat senang, karena mengira kalau suamiku sangat mencintai dan memerhatikanku.
Tapi tidak kusangka.
Begitu aku keluar dari rumah sakit, aku melihat momen memalukan. Rekaman saat aku melahirkan, tersebar di situs porno yang sering suamiku akses.
Ada jutaan orang yang sudah menonton video itu.
Bahkan ada orang yang sengaja mengunggah ulang video itu ke platform video pendek.
Aku benar-benar dipermalukan sampai kehilangan harga diri. Perhatian publik tertuju padaku.
Kerabat, teman, keluarga, dan warganet yang tidak tahu apa-apa, terus membicarakanku di belakang.
"Aku rasa ini pasti karena wanita itu yang nggak tahu diri. Makanya, ada orang yang merekam dan mengunggahnya ke internet. Wanita baik-baik mana mungkin mau direkam begitu!"
"Benar! Wanita zaman sekarang memang benar-benar tidak tahu malu demi dapat uang!"
"Siapa tahu dia memang murahan. Kalau memang dia mau punya anak, kenapa nggak sekalian tidur sama gelandangan saja!"
"Kasihan suaminya, istrinya ternyata nggak setia!"
"Teman-teman, apa kalian ada yang punya kontaknya?"
"...."
Informasi pribadiku bahkan berhasil dilacak oleh para warganet.
Pesan masuk serta kolom komentar di akun media sosialku penuh dengan hinaan kotor dan keji dari mereka.
Ada banyak notifikasi yang terus masuk ke ponselku.
Aku merasa duniaku benar-benar sudah berakhir.
Aku menarik suamiku sambil menangis.
Kumaki-maki dia dengan menyebut nama-nama hewan.
Aku menuntut penjelasan kenapa dia mengunggah video itu ke internet.
Suamiku malah menjawab dengan santai, "Aku kan melakukan semua ini supaya dapat uang?"
"Kalau nggak, bagaimana kamu bisa tinggal di Pusat Perawatan Ibu dan Bayi? Bahkan menyewa pengasuh pribadi?"
"Belum lagi menyediakan susu formula untuk anak kita."
"Semua itu kan kamu sendiri yang minta."
"Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?"
Aku marah hingga tubuhku yang masih lemah ini gemetaran. Dengan sisa tenaga yang ada, kupukul saja Sandi dengan lemah tidak berdaya.
"Sandi, hanya karena alasan itu kamu tega merendahkanku sampai seperti ini?"
Ibu mertuaku tiba-tiba datang dan langsung menamparku keras.
Tamparan itu nyaris membuatku pingsan.
Dia menunjuk hidungku sambil memaki, "Dasar wanita murahan! Beraninya kamu memukul anakku!"
Ipar perempuanku bahkan berani meludah ke arahku.
Dia lalu memanggil kerabat suaminya untuk datang dan melihat keadaanku di kamar rumah sakit.
"Lihatlah, ini dia adik iparku yang suka menggoda pria."
"Sudah kubilang kalau wanita cantik itu memang pembawa sial! Siapa pun yang menikahinya pasti akan berakhir dipermalukan!"
Di hari ketiga aku dirawat.
Berita tentangku makin menyebar tidak terkendali.
Aku dicap sebagai wanita tidak bermoral, dan mendapat hujatan dari orang-orang.
Sementara suamiku, dia hanya diam sejak awal.
Dia hanya seorang pengecut yang terus-menerus bersembunyi.
Dia enggan mengucapkan satu kalimat pun demi membelaku.
Anda Mungkin Juga Suka





