
Perceraian & Kesuksesan Amara
Bab 3
Matahari mulai merendah di ufuk barat, menciptakan langit berwarna jingga kemerahan yang mendinginkan hati yang panas. Siska duduk di balkon kantor yang menghadap ke pusat kota Jakarta, tempat di mana gedung-gedung tinggi berdiri dengan angkuh, bersinar di bawah sinar matahari senja. Ruang yang tadinya terasa seperti tempat perlindungan kini terasa hampa, seakan-akan seberkas angin membawa pergi semua yang penting baginya. Rafael, dengan segala kenangan dan penyesalannya, masih menghantui pikirannya, seperti bayangan yang tak pernah pudar.
Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan itu. Siska kembali sibuk dengan pekerjaannya, meluncurkan koleksi terbaru yang sukses besar, menarik perhatian dunia mode dengan keahlian dan inovasinya. Namun, di balik senyuman yang menawan dan pujian yang diterimanya, ada rasa sepi yang mendalam, seolah-olah setiap tawa yang terdengar di sekitarnya hanya mengisi kekosongan yang semakin lebar di dalam hati.
"Tidak ada yang lebih sepi daripada meraih semua impianmu tapi tetap merasa kosong di dalam," pikirnya, sambil memandangi secangkir teh yang belum disentuh di tangannya. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, ke saat di mana Rafael masih menjadi satu-satunya alasan ia bangun setiap pagi. Pria itu, dengan mata yang bisa menembus jiwa dan senyum yang mampu membuatnya merasa di rumah, telah menjadi bagian penting dari ceritanya. Namun, di akhir hari, dia lah yang memilih untuk meninggalkannya, memilih ambisi dan dunia luar yang jauh lebih besar, meninggalkan Siska yang merindukan satu-satunya hal yang pernah membuatnya utuh.
"Sudah malam, Nona Siska. Apakah Anda tidak ingin pulang?" suara Rina, asisten setia yang selalu tahu kapan Siska membutuhkan waktu sendiri, menyadarkannya dari lamunannya. Rina berdiri di ambang pintu, membawa tas kerja dan catatan-catatan penting yang harus diselesaikan.
Siska tersenyum kecil, seolah tidak ingin mengecewakan Rina. "Aku akan pulang sebentar lagi, Rina. Terima kasih."
Rina mengangguk, tidak memaksa, tetapi Siska tahu dia khawatir. Ada kesunyian dalam keheningan Rina, seolah-olah asisten itu tahu bahwa Siska sedang berjuang melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari pekerjaan dan kesuksesan.
Ketika Rina meninggalkan ruangan, Siska menutup matanya dan menghirup udara malam yang sejuk. Ada bau hujan di udara, dan dengan cepat, pikirannya terlempar ke malam ketika mereka berteduh di bawah hujan yang turun deras, Rafael memeluknya dengan hangat dan berkata, "Selama hujan ini, aku akan selalu di sini, Siska." Suaranya, seolah-olah diambil dari lembaran kenangan yang terbuat dari emas, membuat dadanya sesak.
Tapi malam itu berlalu, hujan berhenti, dan mereka berdua berpisah di persimpangan jalan yang sama sekali berbeda. Siska membuka mata, mencoba menepis bayangan itu. Ia tidak ingin kembali ke tempat yang penuh dengan rasa sakit. Ia ingin melihat masa depan, dan tidak ada ruang untuk masa lalu yang menghantui.
Suara dentingan ponsel mengalihkan perhatian Siska. Dia melihat layar yang menampilkan nama yang membuat darahnya serasa beku: Rafael Prabowo. Tanpa sadar, tangan Siska menggigil, dan untuk sejenak, hatinya hampir melompat keluar dari dadanya. Apa yang dia ingin katakan? Apakah dia benar-benar ingin berbicara dengannya lagi? Mungkin, hanya satu percakapan untuk meredakan rasa sakit yang sudah lama terpendam. Namun, Siska tahu dia harus kuat, bahkan jika hatinya terus meronta.
"Tidak," bisiknya, menatap ponsel itu seolah ingin menghancurkannya. "Aku tidak butuh itu. Aku tidak butuh dia."
Dia menatap ke luar jendela, melihat ke arah gedung-gedung tinggi yang mengitari kota, menunggu momen saat ia bisa melepaskan semua rasa sakit itu. Namun, saat itulah, pintu terbuka dan langkah-langkah cepat terdengar di koridor. Siska menoleh, dan tiba-tiba jantungnya berdegup kencang saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Rafael berdiri di ambang pintu, mengenakan jas hitam dan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Perasaan bingung dan emosi yang campur aduk memenuhi ruangan. Seperti malam itu, pria itu seolah datang dari kegelapan, hanya untuk mengingatkan Siska tentang segala yang ia coba lupakan.
"Rafael..." suara Siska terputus. Dia tidak tahu harus berkata apa, dan tatapan pria itu yang penuh penyesalan membuatnya merasa seolah seluruh tubuhnya dibekukan.
"Maaf telah datang tanpa pemberitahuan," Rafael mulai, suaranya lebih lembut dari yang Siska bayangkan. "Tapi aku tidak bisa meninggalkan kota tanpa melihatmu, Siska. Aku harus memastikan kau tahu bahwa aku masih di sini, bahkan jika kau tidak ingin aku di sana."
Siska menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Kau tidak punya hak untuk datang seperti ini, Rafael. Kau sudah meninggalkanku dan memilih jalanmu. Kenapa sekarang, setelah semua waktu ini?"
Rafael menggigit bibirnya, seolah kata-kata itu seberat batu besar di tenggorokannya. "Aku tahu, dan aku tidak bisa menyesali cukup dalam. Tapi hidupku tidak akan lengkap jika aku tidak tahu bagaimana kau sekarang. Kau... kau terlihat bahagia. Itu semua yang aku ingin tahu."
Siska mengalihkan pandangan ke arah jendela, menatap ke luar tanpa melihat. Kenyataan itu mengoyak hatinya. Betapa dalamnya dia merindukan pria ini, namun betapa dalamnya rasa sakit yang dia bawa. Rafael, dalam segala kekurangannya, selalu memiliki kemampuan untuk membangkitkan emosi yang sama sekali tidak bisa dia kendalikan. "Kau ingin tahu jika aku bahagia, Rafael?" Suaranya bergetar. "Aku tidak tahu jawabannya. Aku hanya tahu aku sudah jauh lebih baik tanpa dirimu."
Ada kesunyian yang tebal di ruangan itu, seperti segala sesuatu berhenti untuk mendengarkan. Rafael, dengan mata yang penuh dengan kesedihan dan penyesalan, berjalan lebih dekat, mendekatkan diri pada Siska. Ada jarak di antara mereka yang tak terjembatani, tetapi di saat itu, Siska merasakan getaran yang membangkitkan kenangan lama, perasaan yang sulit dijelaskan.
"Jika kau hanya ingin memastikan bahwa aku tidak menderita, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak membutuhkanmu untuk mengawasi kehidupanku," kata Siska, mencoba melawan perasaan yang hampir menyeretnya ke dalam pelukan pria itu.
Tapi Rafael hanya berdiri di sana, menatapnya seolah ingin menghapus semua rasa sakit itu dengan kehadirannya. "Siska, aku tidak bisa berjanji bahwa aku akan bisa melepaskanmu. Karena aku masih mencintaimu. Aku hanya ingin kau tahu itu."
Siska menatap pria di hadapannya, matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia menahan air matanya. "Rafael, aku tidak bisa. Aku tidak bisa seperti dulu. Aku sudah memilih jalanku, dan aku tidak ingin terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu."
Rafael menutup mata, merasakan berat kata-kata itu menghantam jiwanya. Dia tahu bahwa apapun yang dia lakukan, dia tidak bisa mengubah keputusan Siska. Tapi di dalam hatinya, dia tahu satu hal: dia tidak akan pernah berhenti berharap, bahkan jika itu berarti mengorbankan segalanya, termasuk kebahagiaannya sendiri.
"Maafkan aku, Siska," bisiknya, suara yang hampir hilang. "Aku hanya ingin tahu jika kau sudah benar-benar melupakan semua yang kita miliki."
Siska memalingkan wajahnya, menatap pemandangan malam yang sepi di luar. Langit yang gelap dan bintang-bintang yang berkilauan tampak seperti simbol dari rasa sakit dan kebahagiaan yang saling bertaut. "Rafael, beberapa kenangan mungkin tidak akan pernah hilang, tetapi aku akan terus berjalan. Aku harap kau juga begitu."
Rafael mengangguk pelan, perasaan hancur di dadanya terasa lebih nyata daripada sebelumnya. Ada kenyataan yang harus dia terima, bahwa hidupnya tidak akan pernah sama tanpa Siska, tetapi mungkin, suatu hari nanti, dia akan menemukan jalannya kembali ke kebahagiaan, entah dengan Siska atau tanpa dia.
"Selamat tinggal, Siska," katanya, meninggalkan ruang itu, meninggalkan wanita yang selalu dicintainya, tetapi yang tak bisa lagi menjadi miliknya.
Anda Mungkin Juga Suka





