Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perceraian: Jangan Berharap Kembali

Perceraian: Jangan Berharap Kembali

Pasca memergoki perselingkuhan Deo, Tari memilih bercerai dan fokus mengelola toko kue miliknya. Meski Deo terus memohon kesempatan kedua hingga rela dipermalukan, hati Tari telah tertutup rapat. Di tengah gangguan sang mantan, Tari terlibat kedekatan dengan Noah, tetangganya yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tari memanfaatkan Noah untuk menghindari Deo, namun sebuah insiden di ranjang mengubah segalanya. Kini, Noah justru menuntut pertanggungjawaban darinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tari menyatukan rambutnya dalam satu kepalan, lalu mengambil karet yang dia selipkan di bibir. Rambut panjangnya dia ikat erat, agar tak mengganggu aktifitasnya. Baju dan celana tidur hitam dengan motif bibir berwarna merah melekat di tubuhnya.

Tari keluar dari kamar dan menuju dapur. Kontrakan berukuran 7×7 meter ini sudah dia tempati kurang lebih dua bulan. Yang pasti setelah memergoki Deo dan Nadine malam itu, Tari tidak pulang ke rumah. Dia menginap di tempat temannya, Vania. Esoknya ia langsung mengemasi pakaian dari rumahnya, bahkan sebelum Deo pulang.

Sekarang dia hidup seorang diri. Tak ada siapapun yang harus dia urus, bagus juga. Tapi, walau begitu cucian piring dan baju tetaplah banyak. Tari berkacak pinggang, menatap tumpukan piring di wastafel dapur. Tak ada noda bumbu apapun karena dia biasanya hanya menggoreng atau merebus bahan masakan. Tari tak bisa memasak makanan berbumbu.

"Lama-lama gue pake kertas minyak biar nggak perlu cuci piring. Makan juga cuma dua kali, kadang satu kali malahan. Kok bisa sampe numpuk gini?"

Dia memakai sarung tangan karet khusus untuk mencuci piring. Dia meminggirkan gelas, lalu memilih sebuah piring yang hanya ditempeli

sedikit kerak nasi. Busa yang sudah dia beri sabun cuci piring pun dia gosokkan ke bagian permukaan, sedikit diberi tekanan agar kerak nasi itu menghilang.

Tari membersihkan alat makannya dengan sungguh-sungguh. Kurang lebih tiga puluh menit, semua piring maupun gelas sudah terbalur busah tertumpuk rapi menunggu dibilas. Tari memutar keran, tapi air tak kunjung mengalir.

"Kenapa lagi ini gusti?"

Tangannya memutar-mutar keran walau tak juga berhasil. Air yang dia dan piring-piring itu tunggu tak kunjung mengalir. Menyerah. Tari melepas sarung tangan karetnya dan melemparnya ke atas tumpukan piring. Dia menghela napas frustasi.

"Gue udah berusaha ngalahin rasa malas buat cuci piring loh, Ran. Tapi lo malah macet kayak gini, mau ngajak berantem?" tanyanya, pada benda mati berwarna silver itu.

"Masak dibiarin gini aja? Atau gue beli kotak nasi, biar piring-piring ini gue buang," monolognya

Tari menggaruk kepala, membuat beberapa helai rambut keluar dari ikatan. Namun, hal itu membantunya mendapat solusi. Matanya sedikit membesar, senang. Dia berdecih pada keran air yang mempersulit hidupnya, lalu pergi begitu saja keluar dari rumah.

Tujuannya adalah rumah tetangga yang berada tepat di sampingnya. Pintu rumah itu tertutup, tapi di dalamnya pasti ada orang. Karena rumah Tari pun selalu tertutup walau dia ada di dalamnya.

Tari mengetuk pintu dengan tulang di punggung tangannya, sehingga bisa mengeluarkan bunyi yang lumayan nyaring. Salah satu keahliannya adalah mengetuk pintu tanpa merasa ngilu, bahkan setelah bermenit-menit berlalu.

Namun, belum juga dua menit Tari sampai di teras rumah itu, pintu sudah dibuka oleh si tuan rumah. Pria yang mengenakan kaus polos dan celana pendek selutut itu muncul di ambang pintu, mengundang senyum di wajah Tari.

"Mas Noah. Gue mau minta tolong buat benerin keran gue yang mati. Katanya Mas lulusan SMK, kan?"

Alis Noah naik. "Gue lulusan SMA," ujarnya santai.

Tari berkedip-kedip polos. Bodoh. Bisa-bisanya dia berkata dengan begitu yakin tanpa tahu kebenarannya. Padahal dia sudah berharap Noah bisa membantunya untuk memperbaiki kerannya.

"Eh, maaf Mas. Kayaknya gue salah inget. Yaudah kalo gitu, maaf udah ganggu malam-malam, ya. Good night."

Tari menunduk singkat, lalu hampir berlalu pergi. Tetapi tangan Noah menahan tangannya, membuatnya kembali berbalik menatap pria itu dengan alis bertaut.

"Tunggu, gue pake celana dulu."

Setelah mengatakan itu Noah melepas tangan Tari. Dia bergegas masuk kembali ke dalam rumahnya, meninggalkan Tari seorang diri di teras. Tak berselang lama, hanya lima menit tepatnya, Noah sudah kembali dengan kaki yang sudah terpasang celana jeans.

Dia mengunci pintu. "Ayo," ajaknya.

Mereka berdua kembali ke rumah Tari. Tari memimpin jalan menuju dapur, menunjukkan kerannya yang rusak. Piring yang tertumpuk sudah bersih dari busah. Pasti butiran buih-buih itu sudah menguap, hanya meninggalkan tekstur lengket pada permukaan piring.

"Lo ada alat-alatnya?"

Tari mengangguk. Dia mengambil kotak kayu di gudang dan memberikannya pada Noah. Di dalamnya ada berbagai macam peralatan seperti paku, palu, obeng, dan beberapa lainnya. Noah berjongkok di depan saluran keran yang menempel di dinding meja dapur. Pria itu terlihat begitu fokus, membuat Tari yang berjongkok di sampingnya ikut menatap palaron yang tengah dia perbaiki.

"Mas, jadi masalahnya ap—"

Saat tengah memutar kunci inggris, tiba-tiba air menyembur dari celah paralon. Semburannya begitu besar, mampu membasahi sekujur tubuh Tari dan Noah. Keduanya hingga jatuh terduduk di atas lantai yang kini tergenang air.

"Mas Noah! Kenapa kok gini?" teriak Tari, beringsut menjauh.

"Matiin saluran utamanya Tar!" teriak Noah, berusaha mengencangkan kembali celah palaron yang merenggang.

Tari bergegas lari ke luar. Dia menghampiri flow meter yang ada di bagian pojok rumah. Walau panik, akhirnya Tari bisa mematikan laju air. Menghela napas lega, dia kembali ke dapur untuk melihat keadaan Noah. Pria itu sedang duduk dengan satu kaki ditekuk sedang satunya diluruskan. Tangannya masih menggenggam kunci inggris, sedangkan sekujur tubuhnya basah.

Tari meringis. Walau lebih baik, tapi pakaiannya pun sama basahnya. "Mas …."

Noah mendongak. Saat melihat keberadaan Tari, dia tersenyum. Senyumnya semakin lebar, hingga berubah menjadi sebuah tawa. Layaknya virus, tawa Noah kini menular pada Tari. Keduanya menertawakan keadaan mereka, basah sekujur tubuh seperti orang bodoh.

Noah menatap dirinya di pantulan cermin. Pakaiannya sudah berganti dengan kemeja hitam milik Tari. Perempuan itu tadi begitu senang saat menemukan kemeja dengan ukuran besar di dalam lemarinya, dan langsung menyuruh Noah berganti di kamar tamu, atau yang lebih pantas disebut gudang karena dipenuhi tumpukan barang-barang.

Noah mengedar pandang, lalu menatap sebuah figura yang sedang dalam keadaan tertelungkup di atas laci usang. Dia menghampirinya, membalik figura itu karena penasaran. Di dalam figura kayu itu, Tari terlihat begitu cantik dibalut oleh gaun pengantin. Senyum indah dan matanya yang dilapisi cairan bening mampu menyentuh hati Noah.

Namun, di samping Tari ada seorang pria asing. Senyumnya sama lebarnya, matanya bahkan sampai menyipit seakan ikut tersenyum juga. Keduanya memakai pakaian pengantin, saling menautkan lengan layaknya pasangan paling berbahagia di dunia.

"Mantan suami Tari?"

Noah tahu bahwa Tari sudah bercerai, tapi dia tidak pernah melihat wajah mantan suami perempuan itu. Dia berdecak, lalu memasukkan figura itu ke dalam laci. Siapapun pria itu, dia sangat bodoh karena melepaskan Tari.

"Ganteng gue," ucapnya pongah.

Noah mencebikkan bibir, lalu keluar dari kamar itu. Dia menghampiri Tari di ruang tamu. Perempuan itu juga sudah berganti pakaian. Menggunakan kaus dan kulot yang memiliki pita di bagian perut.

"Syukur deh Mas kemejanya pas. Maaf ya Mas, gara-gara bantuin gue sampe basah semua tadi bajunya."

"Santai aja Tar. Lo juga nggak papa, kan? Takutnya nanti masuk angin karena tadi sempet keluar juga."

Tari menggelengkan kepala. "Aman, Mas. Oh iya, makasih Mas udah perbaikin kerannya. Besok gue buatin Burning eyes cake spesial sebagai balasan."

Noah mendekat ke sofa panjang di hadapan sofa yang Tari duduki. "Gue duduk dulu, ya?"

Tari langsung berdiri. "Sampe lupa nyuruh duduk," katanya.

Noah hanya tertawa. Dia mengayunkan tangan, menyuruh Tari kembali ke posisinya. "Kuenya lo buat sendiri, kan? Kan spesial," tanyanya, kembali membahas janji Tari.

"Iya, dong Mas. Gue buatin langsung di rumah. Khusus buat Mas Noah."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BUKAN KISAH SEMPURNA
8.8
Demi membiayai pengobatan Alvaro yang koma, Adinda terpaksa menikahi Alvin. Konflik memuncak saat ia tahu Alvin belum melajang dan tugasnya adalah membuat pria itu melupakan sang istri. Saat misi menaklukkan hati Alvin berhasil, Alvaro justru tersadar. Adinda terjebak dilema besar: tetap bersama Alvin sebagai yang kedua, atau kembali ke pelukan Alvaro namun harus menghadapi penolakan keras dari keluarganya. Sebuah pilihan sulit di tengah takdir yang rumit.
Sampul Novel CEO YANG MENKUJGKIRBALIKKAN DUNIAKU
8.3
Delia, mahasiswi sederhana, terjerat asmara dengan Arkan, sang pewaris konglomerat. Namun, kebahagiaan itu sirna saat tunangan Arkan muncul dan mempermalukan Delia. Sikap Arkan yang diam membisu meninggalkan luka dalam. Empat tahun berselang, takdir membawa Arkan kembali sebagai CEO di kantor baru Delia. Di tengah bayang masa lalu, Delia harus memilih antara mengundurkan diri, bertahan, atau menuntut balas atas rasa sakitnya yang belum usai.
Sampul Novel Desah Di Kamar Sebelah
8.2
Terbangun mendadak usai meminum jamu pemberian adik ipar, seorang istri mendapati sisi ranjangnya kosong. Suaminya menghilang tanpa jejak di tengah malam yang sunyi. Kegelisahannya kian memuncak saat ia mendengar suara desahan misterius yang berasal dari kamar adik iparnya sendiri. Teka-teki pun muncul menyelimuti benaknya. Ke mana perginya sang suami? Apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu kamar sebelah? Rahasia kelam mulai mengintai di balik keheningan.
Sampul Novel Godaan Desah Majikan
8.1
Kisah romansa modern ini menyajikan narasi provokatif yang secara spesifik ditujukan bagi pembaca dengan pengalaman masa lalu dalam pengkhianatan cinta. Melalui alur yang emosional, cerita ini menggali sisi gelap hubungan antara majikan dan bawahan, di mana godaan terlarang menjadi pusat konflik utama. Sebuah bacaan dewasa yang mengeksplorasi konsekuensi perselingkuhan serta dinamika hasrat yang sulit dikendalikan di tengah komitmen yang seharusnya dijaga.
Sampul Novel Istri Cadangan
9.8
Nadia hancur saat memergoki suaminya, Reza, bermesraan dengan Karina di kamar tamu rumah mereka sendiri. Alih-alih menyesal, Karina dengan angkuh mengklaim cinta Reza, sementara Reza justru meminta izin untuk menikahinya. Meski dikhianati secara keji, Nadia menolak untuk hancur dan menyerah. Dengan tekad yang membara, ia bangkit menghadapi penghinaan itu dan bersumpah akan membalas rasa sakit hati serta pengkhianatan mereka dengan tuntas.
Sampul Novel Mantan Kekasihku Menjadi Bosku
8.5
Nina terkejut saat takdir mempertemukannya kembali dengan mantan kekasih yang sangat ia benci. Meski sudah pindah kota demi memulai hidup baru, pria dari masa lalunya itu kini justru muncul sebagai bos di kantornya. Hubungan mereka hancur akibat kesalahpahaman pahit yang menyisakan kebencian mendalam. Di tengah tekanan pekerjaan dan konflik batin, Nina bimbang antara melarikan diri lagi atau bertahan menghadapi pria yang dahulu sangat ia cintai itu.