Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perangkap Tuan CEO

Perangkap Tuan CEO

Dalam jeratan obsesi sang CEO, tidak ada jalan untuk melarikan diri. Baginya, memiliki dirimu bukanlah pilihan melainkan sebuah keharusan yang mutlak. Ia menuntut pengabdian penuh atas tubuh, jiwa, hingga setiap jengkal kulitmu tanpa sisa. Di bawah kendalinya yang dominan, kamu terkunci dalam kepemilikan eksklusif yang tidak membiarkan siapa pun mendekat. Setiap napasmu kini menjadi milik sang penguasa yang hanya menginginkan dirimu seorang diri.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Sudah pukul tujuh. Aduh, itu berarti aku harus sudah pergi menuju ke kantor Tuan Arthur saat ini,” bisik Eva. Atau seharusnya gadis itu sudah berada di dalam kantor Arthur demi menyerahkan laporan bulanan yang baru selesai dia kerjakan itu. “Apalagi Tuan Arthur adalah CEO yang sangat perfeksionis, yang sangat disiplin, dan juga sangat mematikan. Huh, aku tidak berani membayangkannya.”

Dengan gerakan tergopoh-gopoh dan juga kebingungan, Eva menyambar hasil laporan bulanan miliknya. Lalu dengan langkah kaki secepat kilat gadis itu segera menuju pada satu-satunya undakan tangga di ruangan tersebut. Tangga itu akan mengantarkan Eva secara langsung menuju ke kantor milik Arthur.

Sempat tersandung, dan juga lutut menghantam pada tangga besi di bawahnya. Beberapa kali Eva juga terseok seperti terkena serangan lumpuh dalam sekejab. Saat itu dia sudah hampir menangis.

“Aku mau pulang saja,” erang gadis itu menyeka matanya yang masih kering. “Aku ingin tinggal saja bersama Ibu.” Akan tetapi itu hanya impian belaka karena saat ini dia harus berhadapan dengan seorang pemimpin perusahaan paling diktator di perusahaan di mana dia bekerja.

Di puncak tangga, Eva sempat tersengal kelelahan. Rasanya, semua udara di dalam paru-paru miliknya telah terenggut dari dalam tubuhnya. Rasanya, Eva ingin pingsan di tempat, bersama tubuhnya yang lemah dan berkeringat yang kini bersandar pada tembok kantor berwarna putih di belakangnya.

Di tengah itu tiba-tiba saja pintukantor milik Arthur terbuka. Nampaklah Arthur yang berdiri angkuh di luar pintu. Kedua lengan jatuh bebas di udara, dan mata memandang keji pada Eva yang tiba-tiba merasakan aura dingin menusuk pada tulang belakangnya.

“Tu-Tuan Arthur!” gagap Eva tanpa sadar di posisinya berdiri saat ini. Setelah pundaknya melompat karena terlalu kaget, kini Eva sudah berjalan cepat dengan wajah menunduk demi mendekati Arthur. ‘Bersikaplah biasa saja, Eva! Jika kau ingin segera keluar dari ruangan itu dan jika kau tidak ingin berlama-lama dengan CEO-mu yang galak itu, maka kau harus bersikap seperti biasa saja!’

“Masuk!” singkat Arthur pada gadis itu. Gila, bahkan suaranya saja seperti petir yang sudah menghancurkan keberanian Eva.

Eva benar-benar bisa menjadi gadis paling pengecut di depan Arthur, tapi justru itulah hal yang paling wajar. Tidak ada yang akan berani melawan kebengisan Arthur yang sangat keji.

“Ini laporan harian bulan ini, Tuan.” Setelah masuk dengan mengekori langkah tegap dan tegas milik Arthur, Eva menyerahkan laporan itu di atas meja Arthur. Dorongan pelan dan patah-patah milik Eva menggambarkan ketakutan terdalam milik gadis muda itu.

“Duduk!” perintah Arthur. Wajahnya masih tidak berekspresi sama sekali, seakan dia memiliki kelainan pada syaraf wajahnya. Akan tetapi jika memang begitu lalu kenapa Arthur bisa terlihat sangat bengis dan kejam? Belum lagi matanya yang sangat dingin dan beku, dan seringai mengerikan yang selalu dia tampilkan di depan Eva.

Sekarang hanya keheningan yang tersisa dan menyelimuti. Itu justru terdengar lebih mengancam lagi, apalagi napas Eva yang sedari tadi tidak bisa ditahan agar tidak tersengal. Pacuan jantungnya semakin menggila apalagi kala dia diam-diam melihat telapak tangan kekar milik Arthur yang kini sibuk membolak-balik kertas laporan miliknya, seolah mencoba mencari celah untuk membunuh Eva.

Eva tau bahwa laporan itu belum selesai diperiksa, akan tetapi jemari Arthur berhenti untuk membaliknya.

GLEK! Ini pasti ada masalah. Eva ingin menanyakan apa kesalahannya. Akan tetapi, sial, suaranya terlalu susah untuk dikeluarkan. Bahkan hanya untuk mendongak dan menatap langsung pada mata Arthur saja dia tidak berani.

“Napasmu,” gerung Arthur, yang saat ini membuat Eva seperti mendapat hantaman kapak di kepalanya.

‘Napasku? Ada apa dengan napasku?’ Eva menggigil di dalam hati.

“Terlalu keras,” sambung Arthur. “Aku tidak bisa berkonsentrasi. Apa kau sengaja melakukan itu untuk menggodaku?”

HAH?

Eva mendongak secara reflek. Secara mendadak gadis itu melupakan betapa takut dirinya pada sosok CEO yang berada di depannya untuk saat ini. Wajah Eva masih pucat pasi, dengan kepalanya yang kini menggeleng keras. “Ti – tidak. Bukan begitu. Saya….”

Eva terbatuk, karena kesulitan bernapas. Gadis itu megap-megap dan matanya melirik sekilas pada Arthur yang duduk tak peduli sembari melihatnya. ‘Apa dia gila? Aku bisa saja mati di depannya. Kenapa dia tidak terlihat cemas sedikit pun?’

Tak lama kemudian Eva bisa menenangkan dirinya sendiri, batuk sudah reda akan tetapi sebagai konsekuensinya tenggorokannya kini serasa perih. Sembari memegang tenggorokannya dengan canggung Eva berkata, “Ma – maaf, Tuan. Saya – saya sedang tidak enak badan.”

Hening kembali.

‘Tamat sudah,’ pikir Eva. ‘Aku pasti akan dikeluarkan dari perusahaan ini. Tidak ada yang lebih masuk akal dari itu, apalagi jika CEO-ku itu memang tidak menyukaiku sejak awal.’

Mungkin Eva yang kurang kompeten dan maka dari itu Arthur berusaha menyingkirkan Eva secara terselubung.

Diam-diam gadis itu sudah mempersiapkan diri. Eva juga sudah memikirkan barang-barang apa yang akan dia kemas terlebih dahulu, dan kemana dia akan mencari lowongan selanjutnya.

Di tengah itu semua tiba-tiba Arthur meletakkan laporan Eva di atas meja. Lelaki itu menyingkirkan laporan itu, menggesernya ke tepi sampai di ujung sikunya. Kini dia mengatupkan kedua tangan di atas meja, itu pose yang sangat mengancam.

Tengkuk Eva merinding dan tulang punggungnya tiba-tiba menggigil.

“Tanggal berapa besok?” tanya Arthur tiba-tiba. Di tengah kesenyapan ini, suaranya yang serak dan berat terdengar seperti genderang perang bagi Eva.

Gadis itu segera menegakkan tubuhnya yang layu dan gemetar. “Tanggal empat belas, Tuan.”

“Ada perayaan?”

“Eh…” Di dalam pikiran Eva, Arthur mungkin sedang menanyakan mengenai perayaan perusahaan, atau perayaan hari nasional negara yang berhubungan dengan kepahlawanan, atau bisa jadi mengenai perayaan soal bisnis dan hal-hal ekononi. Jadi gadis itu berkata, “Tidak, Tuan.”

“Lalu kenapa aku melihat banyak orang sibuk membeli cokelat dan benda-benda warna merah muda?”

“Ooooh, pasti – pasti maksud Anda hari valentine. Eh, iya – iya besok adalah perayaan valentine, Tuan.” Eva berdeham demi menurunkan air ludahnya yang mengganjal di tenggorokan.

Mata dalam dan pekat milik Arthur menyisiri sosok Eva di depannya. Masih tanpa ekspresi CEO itu tidak melepaskan Eva sedikit pun yang saat ini gemetar seperti anak ayam yang kedinginan. “Kau punya kekasih?”

Heh? Eva mulai gelagapan sendiri. Ada apa sebenarnya ini? Arthur pasti memiliki sebuah tujuan terselubung. Oh, mungkinkan Arthur menangkap kinerja Eva yang tidak memuaskannya, maka dari itu CEO tersebut menduga bahwa semua ini terjadi karena Eva lebih fokus pada asmaranya? Iya, bisa saja begitu. Bisa saja Arthur menganggap Eva tidak bisa memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Ini tidak bisa dibiarkan. Eva harus menjelaskan.

“Tidak, Tuan. Saya tidak memiliki kekasih,” jelas Eva mulai menggelora. Sepanjang dia masih bisa mempertahankan pekerjaan bergengsi ini maka dia akan melakukan apa pun yang dia bisa. Masih banyak uang yang harus dia tabung, dan masih banyak anggota keluarga yang harus dia hidupi. “Selama ini saya masih lajang. Jika Anda berpikir bahwa….”

“Bagus,” sela Arthur. Dia tidak ingin mendengarkan jawaban atau penjelasan lanjutan dari Eva. Kini wajahnya condong ke depan sedikit, terlihat sangat tertarik.

Dan tak lama kemudian Arthur pun berdiri, berjalan menuju ke arah Eva. Gerakan tubuh tinggi semampainya saja seperti penguasa yang mematikan. Eva masih mempertahankan penilaiannya soal Arthur mengenai yang satu itu, dan Eva tidak sendirian.

Melihat Arthur yang mendekat tentu memberikan ancaman bagi Eva. Gadis itu beringsut mundur walau dia sama sekali tidak bisa bergerak banyak di atas kursi itu.

‘Ke-kenapa ini?’ gagap Eva di dalam hati. ‘Kenapa Tuan Arthur mendekatiku seperti itu?’

Apalagi saat menemukan Arthur sudah duduk di tepian mejanya sendiri dan kini berada pada jarak sangat dekat dengan Eva. Ujung lutut Arthur sendiri sudah menyentuh lengan ramping sebelah kanan milik Eva.

Eva menelan ludah dengan gugup. Matanya yang setengah mati melirik pada sepatu mengkilap milik Arthur. ‘Dia tidak akan mencekikku tiba-tiba kan?’ gagap Eva di dalam hati.

Tangan kekar Arthur terulur, meliuk dan jatuh pada dagu milik Eva. Dalam gerakan pelan CEO itu mencubit dagu tersebut, memaksa Eva untuk menatap mata Arthur secara langsung, memaksa Eva untuk menghilangkan kesenjangan di antara mereka berdua.

Dalamnya mata Arthur terlihat mengerikan untuk diarungi, jadi Eva menunduk tak berani mendongak. Akan tetapi karena keputusannya itu, justru membuat Arthur semakin memaksa wajah Eva untuk mendongak ke atas, memaksa gadis itu untuk menancapkan pandangannya pada mata Arthur.

Eva menurut. Dengan tenggorokan tercekat gadis itu melihat langsung pada mata Arthur, dan rasanya adalah mengerikan.

Arthur mendekatkan wajahnya perlahan. Dalam jarak sepuluh senti sebelum dia bisa menyentuhkan kulit wajahnya dengan kulit wajah Eva, CEO itu berbisik, “Jadilah pacarku!”

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Fake Marriage
9.3
Dikhianati calon suaminya tepat sebelum hari bahagia, Lunar melarikan diri hingga sebuah insiden menyeretnya ke dalam pernikahan kontrak dengan Arkan, pebisnis kaya raya. Di sisi lain, Arkan terpaksa membatalkan rencana lamaran bagi kekasihnya demi kesepakatan ini. Saat sandiwara mereka perlahan berubah menjadi perasaan tulus, keduanya terjebak dalam dilema emosi yang rumit. Akankah ikatan palsu ini berakhir menjadi kebahagiaan sejati bagi mereka?
Sampul Novel I'am Sorry, I love You
8.6
Liu mencari Jia, cinta monyetnya yang hilang selama delapan tahun, hingga bertemu Mianhua di Universitas Tsinghua. Mianhua, yang amnesia dan menjadi kekasih Lay, ternyata adalah Jia yang menyamar. Saat ingatan Mianhua pulih lewat hipnotis, konflik batin muncul karena Liu telah bertunangan. Meski Lay berusaha mengikatnya, Mianhua memilih pergi demi kebahagiaan semua orang. Takdir mempertemukan mereka kembali di makam Chen, hingga restu ayah membawa mereka ke pelaminan.
Sampul Novel Istriku Janda Kaya
8.4
Dicampakkan sang istri karena kemiskinan, Dimas terpuruk dalam kesulitan ekonomi hingga ditinggalkan tanpa belas kasihan. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Luna di kelab malam yang menawarkan pernikahan kontrak dengan tiga syarat khusus. Namun, saat Dimas mulai menata hidup barunya, sang mantan istri mendadak muncul kembali untuk mengusik kebahagiaannya. Akankah kehadiran masa lalu tersebut berhasil menghancurkan rumah tangga barunya bersama Luna?
Sampul Novel Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya
9.8
Dikhianati oleh Devan dan Siska, aku bertekad membalas dendam dengan mendekati Raditya, atasan Devan yang kaya. Menggunakan identitas Anya, aku menyamar jadi pengasuh putri kecilnya, Kirana. Rencanaku berjalan lancar hingga kehangatan keluarga ini mulai meluluhkan hatiku. Sosok Raditya yang penyayang dan keceriaan Kirana membuat niat jahatku goyah. Di tengah kemewahan rumah itu, kebencianku perlahan sirna dan berganti menjadi perasaan cinta yang tak terduga.
Sampul Novel Mencari Seorang Gadis Selama 20 Tahun
8.0
Axel Narendra, CEO tampan berdarah campuran, kembali ke Indonesia demi mencari gadis yang memikat hatinya dua puluh tahun lalu. Namun, misinya terhambat saat ia dikhianati dan ditawan oleh anak buahnya sendiri. Kini, Axel harus berjuang menyelamatkan diri di tengah konspirasi besar. Akankah ia berhasil membasmi pengkhianat di seluruh jaringan perusahaannya yang menggurita ke mancanegara sekaligus menemukan cinta masa kecil yang dicarinya?
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian pernah bersumpah takkan menikah karena menganggap wanita hanya teman tidur. Namun, prinsip itu goyah sejak ia bertemu sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang sama sekali tidak tertarik menggodanya. Xavier merasa pertemuan ini adalah anugerah terindah, sementara Adeeva sempat menganggap Xavier sebagai hal terburuk dalam hidupnya. Kini, kebencian itu berubah menjadi hari-hari penuh keindahan bagi mereka berdua.