
Perangkap Cinta Tuan CEO
Bab 2
Aurora menatap Rafael tajam, dadanya naik turun menahan emosi. Ia melangkah maju, berdiri di antara Rafael dan pintu keluar, menantang langsung sorot matanya.
"Kau tak bisa memaksaku begitu saja," ucapnya tegas. "Urusanmu dengan ayahku, bukan denganku. Jadi jika kau benar-benar ingin uangmu kembali, pergilah cari dia. Bukan datang ke sini dan mengancamku."
Suasana menjadi senyap sesaat. Mata Rafael menatapnya lekat, lalu perlahan ia tertawa keras dan penuh ejekan. Tawanya menggema di seluruh ruangan yang kosong, membuat Aurora makin membeku.
"Tepat sekali, Aurora Marvelo," kata Rafael sambil berjalan menjauh darinya, ke arah jendela besar yang menghadap danau. "Aku memang harus mengambil uangku dari ayahmu..."
Ia berhenti, berbalik. Tatapan matanya kini dingin, wajahnya keras. Ia mengangkat dua jarinya dan menjentikkannya sekali.
"...dan karena dia pengecut yang lari seperti anjing, maka aku akan mulai dari satu-satunya warisannya."
Pintu rumah terbuka serempak. Beberapa pria berseragam hitam masuk dengan cepat, rapi, dan terorganisir. Mereka langsung bergerak dan mulai membuka lemari, mencatat barang-barang, menyegel rak-rak, menggulung karpet mahal, menurunkan lukisan keluarga.
"Apa yang kalian lakukan?!" pekik Aurora panik. Ia berlari ke tengah ruangan, menghadang salah satu pria yang membawa vas antik. "Berhenti! Ini rumahku! Kalian tidak berhak!"
"Atas perintah Tuan Rafael Valentino, properti ini disita," ucap salah satu pria dingin.
Aurora menghalangi mereka, tapi tubuhnya yang ramping tak sanggup menghentikan mereka semua. Salah satu dari mereka bahkan menarik koper yang masih tergeletak di tangga, koper Aurora yang belum sempat dibuka sejak ia pulang dari luar negeri.
"Jangan! Itu milikku! Koper itu milikku, bukan ayahku!" teriak Aurora sambil berlari dan meraih koper itu.
Namun pria berbadan besar itu mendorongnya ke belakang dengan kasar. Aurora terjatuh, kedua kopernya terlempar ke depan pintu. Nafasnya tercekat, rasa sakit menjalar di siku dan lututnya yang membentur lantai.
Saat itulah Rafael berjalan tenang ke arahnya, lalu berhenti di ambang pintu, menatapnya dari atas.
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sesuatu, lalu melemparkannya ke lantai sebuah kartu nama miliknya.
"Kalau kau berubah pikiran, kau tahu ke mana harus menghubungiku," ucapnya dingin, sebelum berbalik dan melangkah keluar.
Aurora menatapnya dengan mata membara, penuh luka dan amarah.
"Aku akan menuntutmu, Rafael. Kau akan membayar semua ini."
Rafael berhenti sejenak, lalu menoleh setengah, menyeringai.
"Coba saja, Aurora. Tapi pastikan kau bisa bayar pengacara terlebih dulu."
Ia pun masuk ke dalam mobil hitamnya dan melaju pergi, meninggalkan Aurora yang terpuruk di ambang rumah, rambutnya berantakan, napas tersengal, matanya menatap penuh tekad dan dendam.
Aurora menatap kartu nama itu sekilas. Ia meraihnya dengan tangan gemetar, lalu tanpa ragu merobeknya tepat di tengah, serpihannya jatuh seperti debu kehinaan yang tak ingin ia simpan lebih lama.
"Kau pikir aku akan mengemis padamu? Mimpi," desisnya lirih, penuh tekad.
Masih dengan tubuh yang terasa nyeri akibat dorongan tadi, Aurora menyeret kedua kopernya keluar dari halaman rumah yang dulu menjadi tempat ia dibesarkan. Tak ada lagi pelayan yang menyambut, tak ada lagi kehangatan. Hanya dingin malam dan sepi yang menghantui langkahnya.
Ia duduk sebentar di bangku halte tak jauh dari gerbang. Tangannya meraba saku kecil di jaket, menarik dompet lusuh. Isinya tipis. Tabungannya hampir habis. Rumah itu adalah satu-satunya sandaran, dan sekarang hilang begitu saja.
Desahan lelah keluar dari bibirnya. Tapi ia tak menangis. Matanya tetap tajam, meski lelah jelas membayang.
Beberapa jam kemudian, Aurora berhasil menemukan sebuah kamar sewa kecil di daerah pinggiran kota, murah dan sederhana. Dindingnya tipis, perabotnya tua, tapi setidaknya ia punya atap untuk bermalam.
Saat ia duduk di ranjang mungilnya yang berderit, Aurora membuka ponselnya yang sejak tadi mati karena baterai habis. Setelah mencolokkan charger, layar menyala, beberapa notifikasi bermunculan.
Salah satunya membuat matanya membesar.
[Selamat! Anda telah diterima bekerja di RV Group . Harap hadir besok pukul 09.00 di kantor pusat kami.]
Jantung Aurora melonjak.
"Ya Tuhan," bisiknya, perlahan senyum kecil merekah di wajah yang sejak tadi dipenuhi luka. "Setidaknya ada satu hal yang berjalan sesuai rencana."
Dengan cepat, ia berdiri dan membuka koper. Dikeluarkannya satu-satunya setelan formal yang masih rapi. Disetrika seadanya di kamar itu. Sementara di kepalanya, ia mulai menyusun rencana baru.
Rafael boleh mengambil rumah dan nama keluarganya.
Tapi masa depan? Itu miliknya. Dan ia akan merebutnya kembali dengan tangannya sendiri.
***
Keesokan harinya.
Langkah Aurora menyusuri koridor lantai atas RV Group, gedung kaca menjulang yang terlihat terlalu mewah untuk suasana hatinya pagi itu. Ia mengenakan blazer hitam sederhana dan rok pensil yang dijepit seadanya dengan pin, hasil modifikasi dadakan semalam.
Seorang sekretaris menyambutnya di depan pintu ruangan paling ujung. "Silakan masuk. Pak Presiden Direktur sudah menunggu Anda."
Aurora menarik napas panjang, memperbaiki kerah blazernya, lalu mengetuk pintu sekali sebelum membukanya.
"Selamat pagi. Saya Aurora Marvelo, pegawai baru untuk bagian pemasaran. Saya diminta-"
Kata-katanya terhenti seketika saat pria di kursi eksekutif itu berbalik dengan lambat, tersenyum lebar, dan menyilangkan tangan santai.
"-untuk langsung melapor pada saya," potong Rafael, suaranya rendah dan penuh kemenangan. "Selamat datang, Aurora."
Aurora membeku di tempat. Matanya menyipit, dadanya bergemuruh karena kejutan dan kemarahan yang mendadak kembali membuncah.
"Kau? Bagaimana bisa? Kalau aku tahu ini perusahaanmu, aku tidak akan datang," katanya tajam, nyaris meludah.
Rafael terkekeh pelan, lalu berdiri, mendekatinya perlahan seperti singa yang melihat rusa masuk kandang. "Sayangnya, kamu sudah datang. Dan lebih sayang lagi, kamu tidak punya pilihan lain sekarang."
Aurora berbalik, hendak keluar begitu saja. Namun suara Rafael menghentikannya tepat di ambang pintu.
"Perusahaan cabang kami hampir bangkrut, Aurora. Karena ulah ayahmu, Edgar Marvelo. Aku bisa bawa ini ke pengadilan, dan kamu... akan ikut diseret sebagai ahli waris."
Aurora perlahan berputar, wajahnya memucat namun tetap garang. "Kau tak bisa menyalahkanku atas dosa ayahku."
"Aku tak menyalahkanmu. Aku hanya membuatmu bertanggung jawab," Rafael menjawab, suaranya tenang namun dingin. "Jika kau keluar sekarang, aku pastikan tak satu pun perusahaan di industri ini akan mau menerima namamu di resume. Dan... polisi akan tertarik memanggilmu."
Aurora menggertakkan giginya, gemetar bukan karena takut, melainkan karena kesal yang nyaris meledak.
"Ini pemerasan."
"Ini bisnis," Rafael menjawab dengan senyum puas. "Tapi jangan khawatir, aku tetap akan menggajimu. Setengah gaji dari standar posisi marketing senior."
Aurora menahan napas. "Setengah? Itu bahkan tidak cukup untuk bayar kamar kos dan makan!"
"Karena itu aku siapkan kompensasi tambahan," katanya dengan smirk di wajahnya.
Aurora menatap pria itu dengan sorot yang membara, ia tahu telah masuk ke medan perang, dan satu-satunya jalan keluar adalah menang.
Bersambung ...
Anda Mungkin Juga Suka





