
Perangkap Cinta CEO
Bab 2
Tak ada siswa yang mau duduk bersama pecundang seperti Aidan Orlando. Lebih parahny lagi, tidak ada satu pun siswa yang mengenal namanya atau tau siapa dia. Aidan nyaris tak memiliki teman sama sekali.
Kemana-mana ia hanya sendirian dan Aidan sudah biasa diperlakukan seperti itu. Seperti hari ini ia tengah menikmati sendiri makan siangnya di salah satu sudut kantin, sendirian.
Namun tak semua anak populer mau membully siswa lain. Siswa seperti Mars Callesthene King dan Caleb Konstantine yang selalu bersamanya, lebih tidak perduli daripada membully. Mereka terkenal dengan ketampanan dan kekayaannya.
Terutama Mars yang merupakan anak pengusaha kaya raya asal Seattle, Geovanni King. Mars dan Caleb lebih sering terlihat berkonfrontasi dengan siswa seangkatan mereka namun tak pernah satu kelas dengan Aidan, yaitu Jared Klaus Wright.
Di SMA itu, Mars dan Caleb yang terkenal seorang playboy lebih banyak ditakuti. Gosip tentangnya memimpin gangster di LA barat dan bukan orang memiliki belas kasihan jika sudah berkelahi. Namun pada gadis menyukai pria bad boy seperti Mars. Mereka kadang berkerumun hanya untuk melihat anak tampan itu lewat dengan penampilan model papan atas.
Seperti biasa, Mars dan Caleb berjalan berdua melewati kantin dan kerumunan tim football Eagle Wood yang sedang makan di salah satu sudut paling istimewa di kantin itu. Sama seperti Aidan, Mars selalu hanya terlihat dengan Caleb meski belakangan kabarnya dia dekat dengan salah seorang siswa pertukaran pelajar.
Setelah mengambil tray makanan, dengan santai keduanya duduk di salah satu bangku yang langsung kosong begitu Mars dan Caleb tiba. Keduanya terlihat mengobrol seperti biasa dan tak ada siswa yang berani menghampiri sampai si kapten Football datang.
"Hey, King!" panggil Jason sambil menyengir angkuh. Mars mendengus terlihat enggan menoleh sehingga Jason jadi kesal. Beberapa orang siswa mulai melihat ke arah bangku Mars dan Caleb.
"Aku bicara padamu!" hardiknya lagi. Aidan akhirnya ikut menaikkan pandangannya melihat sudut tempat Jason dan teman-teman se timnya berkumpul. Seluruh kantin mendadak senyap seolah akan terjadi perkelahian.
Mars terkenal gampang marah dan tak segan memukul sampai babak belur. Kabarnya membunuh adalah rutinitasnya karena ia dikenal sebagai pemimpin berandalan dan gangster. Bahkan para guru pun tak berani terlalu ikut campur kecuali memberikan hukuman biasa jika Mars berkelahi.
"Aku tidak tuli!" hardik Mars balik membalas. Aidan sedikit tersenyum. Satu-satunya siswa yang berani menghadapi Jason hanyalah Mars King. Setidaknya ia dapat lawan yang sepadan.
"Aku memberikan kamu tawaran sekali lagi. Masuklah ke timku, kamu akan kuberikan posisi Wide Receiver atau Tackle!" tawar Jason makin mengeraskan suaranya. Mars mendengus sambil melirik dengan pandangan sinis. Ia tau persis apa maksud Jason mengeraskan suaranya menawarkannya seperti itu.
Selain karena Jason pikir dirinya bisa mengatur orang lain tapi juga ingin menjebak Mars. Jika Mars menolak di depan semua orang, maka ia dengan leluasa dapat memanggilnya dengan sebutan "fedget" atau banci.
"Aku tidak tertarik," jawab Mars singkat lalu meneruskan makan. Caleb Konstantine tergelak mendengar jawaban Mars. Jason pun tertawa mengejek.
"Ayolah, Mars King. Aku pikir kamu pemberani!" ejek Jason lagi lalu disambut tertawaan teman-teman satu timnya.
"Kenapa kamu tidak menawarkan itu padaku!" tiba-tiba sebuah suara muncul dan seorang siswa dengan tubuh tinggi berambut hitam duduk di depan Mars. Mars menyengir lalu menoleh lagi pada Jason.
Arjoona Harristian menyengir pada Jason. Ia adalah siswa yang sama yang menantang Jason Holland melempar bola football melewati tiang pembatas gol minggu lalu di kelas PE (physical exercise). Tapi ia kalah sebagai Quarterback, hal itu sangat memalukan. Kini Arjoona menantang agar Jason untuk memasukkannya dalam tim.
"Aku tidak punya urusan denganmu!" wajah Jason berubah saat melihat siswa pertukaran pelajar dari Indonesia itu. Tapi Arjoona malah makin menyengir lebar.
"Ayolah, aku tau kamu takut jika aku akan mengambil posisi Quarterback mu kan!" sahut Arjoona memukul dengan kata-katanya. Caleb tertawa keras dan menepuk tangannya ke udara.
"Aku dengar tak ada yang mau memberinya beasiswa. Dia bahkan tidak bisa melempar dengan baik. Seluruh siswa disini bisa mendapatkan beasiswa karya ilmiah dengan mudah, dia bahkan mendapat F untuk pelajaran Mr. Luther," ujar Caleb makin menambah masalah.
"Jika aku jadi pelatih McCarrath, aku lebih suka mengambil anak lugu di belakang sana menjadi Quarterback. Aku rasa dia bisa berlari lebih kencang dari pecundang itu, hahaha," ejek Mars menambah dengan tawa yang keras.
Mars malah menunjuk Aidan yang duduk di belakangnya sehingga satu kantin kini melihatnya. Padahal Mars tidak mengenal Aidan sama sekali. Aidan jadi menunduk dan memilih pergi dari kantin itu.
Terdengar tawa keras Arjoona, Mars dan Caleb yang bisa balik mengejek Jason. Aidan sempat tersenyum sebelum keluar kantin. Ia tidak bisa membalas Jason dan secara tidak langsung, Mars, Caleb dan Arjoona tak sengaja melakukan untuknya.
Keesokan hari semuanya memang masih sama saja. Berangkat sekolah dan dibully sepanjang hari. Namun ada yang berbeda hari ini. Aidan terpeleset karena bola sabun yang sengaja dilemparkan ke lantai tempatnya berjalan. Kepala belakang Aidan terbentur cukup keras dan terasa sakit.
"Kamu baik-baik saja?" tanya seorang gadis tiba-tiba berdiri di atas kepalanya. Mata Aidan membesar saat melihat wajah gadis yang berdiri melihatnya di terlentang di lantai. Sesaat Aidan tak bergerak melihat wajah gadis itu, dia sangat cantik seperti boneka. Gadis itu masih menatap Aidan dengan pandangan heran namun tersenyum. Aidan yang menyadari lalu bangun dan langsung berdiri.
"A-aku baik-baik saja," jawab Aidan dengan nada gugup. Ia tak berani memandang gadis itu terlalu lama. Gadis itu masih tersenyum tipis lalu pergi bersama dua orang teman-temannya. Ia meninggalkan Aidan yang terpaku tak berkedip melihat gadis secantik itu. Aidan malah tersenyum merona lalu meringis karena kepalanya masih sakit.
Bertemu dengan gadis misterius yang cantik dan imut adalah hal yang tak pernah dibayangkan Aidan sebelumnya. Tapi kini ketika ia pergi sekolah, ia memiliki semangat lain. Ia ingin bisa melihat gadis berambut pendek dengan wajah imut seperti boneka itu. Gadis itu kini berada tiga meter dari loker Aidan. Ia sedang berbicara dan tertawa dengan teman-temannya.
Dari lokernya, Aidan mencuri-curi pandang untuk bisa melihat gadis pujaan hatinya. Dan jika gadis itu melihat ke arahnya, Aidan membuang mukanya dan langsung pergi. Ia gadis yang modis dan ceria, temannya banyak dan yang tak Aidan tau adalah gadis itu menyukai sang Quarterback, si pirang Jason Holland.
Hari ini di kelas pelajaran Bahasa Perancis, Aidan memilih duduk di sudut belakang. Dua meja di sebelah kanan di depannya, gadis pujaannya duduk disana memperhatikan penjelasan guru di depan kelas. Sedangkan Aidan mengambil kesempatan itu untuk melukis sketsa wajah gadis cantik itu dari samping. Aidan diam-diam menggambarkannya di buku tulisnya sambil tersenyum. Lalu menggambarkan emoji hati.
'Mungkin aku sudah jatuh cinta,' ujar benaknya sambil tersenyum menundukkan wajah.
Anda Mungkin Juga Suka





