
Perangkap Cinta CEO
Bab 3
Rasanya Aidan Orlando benar-benar merasa beruntung hari ini. Ia tak pernah membayangkan akan berada satu kelas dengan gadis yang bersedia menanyakan keadaannya satu minggu lalu. Aidan jadi berterima kasih pada sabun yang membuatnya jatuh sehingga bisa bertemu dengan bidadari secantik itu.
Saat yang ditunggu pun tiba, yaitu ketika seluruh nama siswa di absen sebelum kelas berakhir. Aidan sangat ingin tau siapa nama gadis yang menarik hatinya. Ia menunggu dengan sabar, gadis yang berada tak jauh darinya itu menaikkan tangannya saat namanya dipanggil.
"Malikha Swan," panggil Miss Thundberg, guru Bahasa Perancis mereka. Gadis itu kemudian menaikkan sebelah tangannya. Saat itulah Aidan tau jika namanya ternyata adalah Malikha Swan.
"Namamu secantik wajahmu, Malikha Swan," gumam Aidan pelan pada dirinya sendiri sambil tersenyum melirik pada Malikha. Aidan lalu menundukkan kepala dan menikmati desiran tak biasa dalam hatinya. Semuanya hangat dan indah. Malikha tak menyadari jika ada seorang pengagum rahasia yang mencuri-curi pandang padanya.
Beberapa hari kemudian, sebelum ujian tengah semester, Aidan mengalami perundungan lagi. Kali ini tengah disiksa di ruang kamar mandi laki-laki, tepat di dekat basin cuci tangan dan cermin.
"Dasar pecundang, aku sudah bilang kerjakan PR ku! Kenapa kamu tidak melakukannya, HAH!" Jason berteriak di depan wajah Aidan yang sudah ia pukuli beberapa kali. Kali ini Aidan mencoba melepaskan diri dari Jason dengan tidak menuruti perintahnya.
"Aaakhh ... lepaskan aku!" pinta Aidan memohon tapi seseorang malah memukul perutnya. Ia meringis kesakitan dan punggungnya meluncur di dinding kamar mandi siswa pria. Aidan masih ditendang saat tasnya direbut dan diobrak abrik isi di dalamnya. Ia sudah tak sanggup melawan atau memang ia tak melawan karena terlalu takut.
"Jangan ... aku baru membeli buku itu!" ujar Aidan mencoba meraih buku barunya. Tapi Jason yang berang makin menaikkan buku itu lebih tinggi sehingga tak bisa diraih oleh Aidan.
"Oh ya! Aku rasa kamu tidak keberatan jika kubakar saja bukumu, bukan!" ancam Jason dengan wajah kesal.
"Jangan! Tolong!"
Tiba-tiba pintu terbuka, lalu siswa bernama Arjoona dan Mars masuk dengan santainya ke toilet laki-laki. Mereka melewati Aidan yang tengah disiksa oleh kelompok Jason dengan santainya dan hanya melirik seperti tak terjadi apa pun di sana. Jason yang melihat Mars dan Arjoona melewati dan berlaku tidak sopan padanya, mulai menegur.
"Hey, apa yang kalian lakukan disini!" hardiknya dengan angkuh.
"Buang air kecil, apa kamu buta tidak bisa melihat!" balas Mars lalu membuka resleting celananya dan menuntaskan keperluannya. Begitu pula dengan Arjoona yang hanya mendengus dan tersenyum saja.
"Aku sedang ada urusan di sini!" hardik Jason lagi makin kesal.
"Lalu urusan kami apa?" Arjoona balik bertanya pura-pura polos. Aidan sudah meringkuk kesakitan dan ikut bengong melihat Arjoona.
"Kalian berdua selalu menggangguku!" sahut Jason benar-benar kesal.
Arjoona dan Mars saling melihat satu sama lain dan dengan cueknya, mengancing celana lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan. Arjoona lalu sedikit melirik pada Aidan yang berada di dekat kakinya.
"Kenapa kamu duduk di lantai?" tanya Arjoona pada Aidan. Aidan menaikkan pandangan pada Arjoona tapi dengan wajah keheranan. Baru kali ini siswa transferan itu menyapanya. Arjoona lalu menjulurkan sebelah lengannya agar Aidan bangun dari lantai. Aidan yang awalnya ragu lalu kemudian meraih lengan Joona.
"Hey, jangan ikut campur urusanku!" tunjuk Jason dengan marah pada Joona. Dengan santai, Joona berbalik dan tersenyum mengejek.
"Aku tidak mencampuri urusanmu, aku hanya membantunya berdiri," jawab Arjoona santai makin membuat Jason kesal. Jason benar-benar kehilangan akal jika menghadapi dua orang itu, Arjoona dan Mars. Jason yang tak tau harus berbuat apa lagi kemudian mengambil buku-buku Aidan dan merobeknya. Ia lantas mengambil korek dari balik saku celananya dan mengancam seperti akan membakar buku-buku itu.
"Jangan ... kumohon!" ujar Aidan masih meminta. Arjoona menghalangi tubuh Aidan yang hendak menghampiri Jason dengan sebelah tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" hardik Mars menunjuk pada Jason dengan nada kesal.
"Aku mau membakarnya!"
"Kamu sudah gila ya! Kamu bisa menyulut api maka alarm asap dan air akan keluar. Lalu pemadam kebakaran akan datang dan aku akan bilang kamu yang menyulut api!" sahut Mars dengan nada tinggi.
Jason yang tak berpikir sejauh itu, akhirnya menghentikan aksinya. Ia membuang buku tersebut lalu menginjaknya dan menunjuk wajah Aidan sambil mengancam.
"Lihat saja, jika PR itu tidak ada besok, akan ku buat kamu babak belur. Dasar gendut jelek!" umpat Jason lalu keluar bersama teman-temannya. Arjoona menghela napas dan menggeleng melihat tingkah Jason. Mars lalu memungut tas dan buku Aidan yang berserakan lalu sedikit membereskannya. Ia mengembalikannya pada Aidan sambil tersenyum tipis.
"Jangan diam saja, jika dia membully-mu, pukul saja kepalanya," ujar Mars asal sambil memberikan tas Aidan. Arjoona tergelak dan menepuk pundak Aidan sedangkan Mars berjalan lagi ke wastafel untuk mencuci tangannya.
Aidan masih tertegun dan syok dengan hal yang terjadi dengannya baru saja. Sekarang ia makin tertegun karena seorang Mars King dan si genius yang terkenal SMA Woodstone, Arjoona Harristian menolongnya.
"Aku sering sekali melihatmu dipukuli oleh si Quarterback itu, kenapa tidak melawan atau melapor pada sekolah?" tanya Arjoona mencoba bicara pada Aidan. Aidan nampak introvert dan sering kali menunduk.
"Aku tidak mau membuat orang lain dalam kesulitan," jawab Aidan dengan suara rendah. Mars mendengus tersenyum sambil bergeleng.
"Bantulah dirimu sendiri." Mars menyahut lalu meneruskan cuci tangan.
"Siapa namamu?" tanya Arjoona dengan nada ramah.
"Aidan ... Aidan Orlando." Arjoona mengangguk.
"Namaku Arjoona Harristian dan dia adalah Mars King."
"Aku tau siapa kamu, kamu adalah satu dari dua siswa tergenius di Woodstone. Dan Mars King adalah siswa paling populer," jawab Aidan masih dengan suara kecil dan tersenyum. Mars dan Arjoona saling berpandangan. Mars kemudian menaikkan bahunya tanda tidak perduli.
"Ayo kita keluar!" ajak Arjoona pada Aidan dan Mars yang sudah keluar lebih dulu. Aidan tak lupa berterima kasih pada Arjoona dan Mars yang sudah menolongnya.
“Terima kasih sudah menolongku tadi, Arjoona Harristian!” ujar Aidan begitu ia keluar dan Arjoona masih merangkul bahunya. Arjoona tersenyum menoleh ke samping sedangkan Mars lebih memilih berjalan di belakang Aidan sambil memeriksa ponselnya.
“Panggil saja aku Joona!” Aidan masih tersenyum dan mengangguk.
Namun sebuah cekikikan menghentikan langkah Arjoona, Aidan dan Mars yang hendak kembali ke kelas.
Perasaan kecewa langsung masuk ke dalam hati Aidan saat melihat gadis pujaannya, Malikha Swan berada di depannya. Ia terlihat berciuman dengan Jason Holland yang baru saja memukulnya.
Mars menggelengkan kepala dan mengajak Arjoona serta Aidan mengambil jalur lain. Aidan tidak bisa berhenti melihat ciuman yang menghancurkan cinta pertamanya.
"Gross!" (menjijikkan) ujar Mars sambil berbalik mendorong Aidan menjauh dari lorong tempat Jason dan Malikha berciuman.
Anda Mungkin Juga Suka





