
Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin
Bab 8
Nama asli Master Higa adalah Higa Rayana. Sebenarnya, dia memang adalah seorang pendeta yang punya sedikit kemampuan. Hanya saja, alih-alih tekun berlatih dan mendalami ilmu, dia lebih gemar berkeliling ke kota-kota besar dan menawarkan jasa fengsui pada para konglomerat demi meraup keuntungan.
Ucapan barusan tentang "Dewa Dapur" jelas hanya omong kosong yang dia karang di tempat, agar nanti bisa menagih bayaran besar dari Robby.
Kenyataannya, dapur ini memang dipenuhi aura negatif jahat yang mengerikan. Rasa sakit di leher para pekerja dapur sebagian besar juga disebabkan oleh aura negatif jahat itu.
Saat Higa membakar jimat dan memainkan pedang kayu, memang benar dia menyingkirkan sebagian besar aura negatif tersebut. Karena itu, dia merasa masalahnya sudah selesai.
Namun tanpa diketahuinya, semua perbuatannya dan bahkan apa yang ada di pikirannya, sudah terbaca jelas oleh Bradford yang berdiri di samping.
Andai Higa hanyalah pendeta setengah matang yang datang sekadar untuk mengeruk uang lalu pergi, Bradford mungkin takkan mengungkapkan kelemahannya. Sekalipun diungkap, dia tidak akan turun tangan menghukumnya.
Namun masalah utamanya, aura negatif yang muncul di dapur ini justru bersumber dari tata letak fengsui yang dirancang Higa dua tahun lalu saat dia menata Restoran Hardara. Hal itu meninggalkan celah besar yang kini menjadi bencana.
Dengan kata lain, rasa sakit di leher para pekerja dapur ... semua itu akibat ulah Higa sendiri!
Melihat Higa masih berlagak seolah masalah sudah selesai dan siap menagih upah besar, mana mungkin Bradford membiarkannya begitu saja?
Bradford meraih sisa aura negatif jahat yang masih melayang di udara dan menggenggamnya, lalu menghantamkannya ke tubuh Higa. Dia membuat Higa merasakan sendiri penderitaan para pekerja yang seakan-akan lehernya ditebas dengan kapak tajam!
Higa tidak pernah membayangkan Bradford punya kemampuan seperti itu. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, dia merasa panik dan segera berlutut memohon Bradford melepaskannya. Aura negatif yang dipaksa masuk ke tubuhnya jauh lebih pekat. Jika pekerja lain hanya merasakan sakit di level satu, maka Higa kini menanggung level sembilan!
Walau dirinya seorang praktisi ilmu fengsui, Higa tetap tidak sanggup menahan rasa sakit yang luar biasa itu.
Melihatnya tergeletak di lantai dan berguling kesakitan hingga hampir pingsan, Bradford menilai bahwa hukuman itu sudah cukup. Dia lalu mengangkat tangannya dan menarik keluar aura negatif jahat dari tubuh Higa.
Ajaibnya, begitu Bradford mengibaskan tangannya, rasa sakit yang dialami Higa langsung hilang. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan tergeletak di lantai dengan napas tersengal-sengal. Penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti pertapa yang berwibawa lagi.
Robby, Husein, dan yang lain melihat adegan itu dengan mata kepala sendiri. Tanpa sadar, sorot mata mereka terhadap Bradford seolah-olah sedang menatap sosok dewa yang turun ke dunia!
Di mata mereka, Higa sebelumnya sudah dianggap layaknya setengah dewa. Namun kini, dia dibuat tak berdaya oleh Bradford dalam sekejap. Siapa yang sebenarnya pantas disebut "dewa", jawabannya sudah jelas sekali.
"Clayden, menurutmu, di mana letak masalah dapur ini? Dan bagaimana seharusnya diselesaikan?" Robby melangkah ke depan dan bertanya dengan tulus pada Bradford.
Saat ini hatinya dipenuhi kegembiraan, sekaligus rasa syukur atas keputusannya yang terlebih dulu menunjukkan niat bersahabat dengan Bradford. Dia sadar, jika tadi dia baru memberikan kartu anggota royal setelah melihat kemampuan Bradford, kesannya pasti akan sangat berbeda.
Husein dan yang lain juga merasa sangat kagum pada Robby. Mereka berpikir dalam hati, 'Kakek Hardara memang hebat sesuai reputasinya. Kemampuannya menilai orang ini benar-benar tidak ada tandingannya.'
Bradford menjawab tenang, "Masalahnya bermula dari Master Higa ini. Waktu menata fengsui Restoran Hardara dua tahun lalu, dia membuat kesalahan kecil dan meninggalkan celah yang menjadikan dapur ini sebagai tempat berkumpulnya aura negatif jahat."
"Setiap kali ada penyembelihan, kalau yang dibunuh adalah makhluk dengan tingkat spiritualitas tertentu, maka bisa timbul 'sisa kesadaran' yang akhirnya memengaruhi orang-orang yang bekerja lama di dapur."
Bradford terdiam sejenak, lalu menoleh pada salah satu koki dan bertanya, "Orang pertama di antara kalian yang pertama kali mulai sakit leher ... apakah dia membunuh seekor labi-labi?"
Mata koki itu langsung membelalak dan dia buru-buru mengangguk. "Betul, aku ingat jelas. Beberapa hari lalu, kami memang membunuh seekor labi-labi yang sangat besar di dapur. Waktu itu semua orang bahkan sempat bercanda, bilang hewan itu hampir saja jadi siluman."
Bradford kembali bertanya, "Bagaimana cara kalian membunuhnya?"
Anda Mungkin Juga Suka





