
Penolakan Sang Luna: Hancurnya Hati Alpha Vincent
Bab 2
Sofia POV:
Ruang gerakku semakin menyempit, dan itu terjadi secara harfiah.
Jejak keberadaan Isabel kini menodai setiap sudut mansion. Syal sutranya tersampir sembarangan di kursi bacaku, botol-botol kosmetiknya menganeksasi rak kamar mandi yang dulu kugunakan, bahkan anjing pudel kecilnya tidur di atas bantal sulam peninggalan ibuku.
Invasi ini bukan sekadar tentang benda. Ini tentang penghapusan eksistensiku.
Dan Vincent membiarkannya.
Malah, pagi ini, dia menyuruh pelayan memindahkan sisa barang pribadiku ke gudang penyimpanan di dekat dapur. Alasannya terdengar begitu logis sekaligus kejam: kamar lamaku akan direnovasi untuk "tamu penting".
Tamu penting itu, tentu saja, Isabel.
Wanita itu berjalan mengelilingi mansion dengan gaun-gaun mewah, memerintah para pelayan seolah mahkota Luna sudah bertengger di kepalanya.
Siang itu, rapat strategi Pack digelar di aula besar.
Sebagai putri seorang Alpha—meskipun ayahku memiliki reputasi korup—aku memiliki naluri dan pengetahuan tentang manajemen logistik. Aku berdiri di sudut, memegang berkas laporan persediaan pangan musim dingin yang telah kusiapkan semalaman.
"Alpha," aku mencoba bersuara saat ada jeda dalam diskusi. "Laporan logistik untuk..."
"Aduh!"
Suara Isabel memotong kalimatku bagaikan pisau. Dia memegang kepalanya, tubuhnya limbung secara dramatis ke arah Vincent.
"Kepalaku pusing sekali, Vin. Mungkin efek dari racun *Rogue* waktu itu masih ada," rintihnya.
Semua mata di ruangan itu—para Beta dan Gamma—langsung beralih padanya, melupakan eksistensiku seketika.
Vincent dengan sigap menangkap pinggangnya. "Kau butuh istirahat, Bel."
Aku berdiri terpaku.
Inilah segitiga kekuasaan yang menyedihkan. Vincent, sang raja. Isabel, ratu palsu yang manja. Dan aku, orang asing yang tak terlihat.
Isabel melirikku dari balik bahu Vincent, seringai tipis terukir di bibirnya.
"Maaf ya, Sofia," katanya dengan nada yang dibuat-buat lemah. "Bisa kau ambilkan air? Laporanmu pasti membosankan untuk didengar saat kepalaku sakit begini."
Kuku jariku memutih mencengkeram berkas. Harga diriku tercabik, tapi aku menunduk, berpura-pura merapikan kertas.
"Tentu," jawabku datar.
Aku menggunakan pekerjaan sebagai perisai. Jika aku sibuk, mungkin aku tidak perlu merasakan pedihnya diabaikan.
*
Malam itu, bulan purnama menggantung tinggi.
Udara terasa bermuatan listrik. *Inner Wolf* di dalam diriku gelisah, mencakar-cakar dinding kesadaranku ingin keluar.
Pintu gudang—kamar baruku—terbuka kasar.
Vincent berdiri di sana. Matanya gelap, pupilnya membesar menelan warna irisnya. Bau alkohol bercampur dengan feromon Alpha yang kuat menguar darinya, mendominasi ruangan sempit itu.
Dia melangkah masuk, menutup pintu dengan tendangan kaki.
"Vincent?"
Tanpa kata, dia mendorongku ke dinding. Tangan besarnya mencengkeram bahuku, menahan segala bentuk perlawanan.
Napasnya panas menerpa leherku. "Baumu..." geramnya rendah, suaranya bergetar. "Kenapa baumu selalu membuatku gila?"
Itu adalah insting *Mate*. Biologi sialan yang tidak peduli pada hati yang patah.
Tubuhku mengkhianatiku. Kulitku meremang saat dia menekan tubuhnya padaku. Ada sengatan listrik yang menjalar di tulang punggungku—tanda ikatan yang tak terbantahkan.
Tapi pikiranku menjerit.
*Tidak. Bukan begini.*
Dia mendekatkan wajahnya ke leherku, gigi taringnya memanjang, siap untuk mengklaim.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam perut bagian bawahku.
Rasanya seperti ada api cair yang dituangkan paksa ke dalam rahimku.
"Argh!" Aku tersentak, mendorong dadanya sekuat tenaga. Wajahku pucat pasi.
Vincent terhuyung mundur, bingung. "Apa yang—"
*Wiuuuuung!*
Sirine bahaya Pack meraung memecah keheningan malam.
Suara lolongan serigala penjaga terdengar bersahutan. *Rogue attack!*
Mata Vincent langsung jernih. Kabut nafsu menghilang, digantikan oleh kewaspadaan naluriah seorang Alpha.
"Sial," umpatnya.
Dia berbalik, melupakan aku sepenuhnya dalam sekejap mata. Tugas memanggil.
Saat dia bergegas keluar, kertas kontak Yarunica yang kusimpan di balik bantal terjatuh ke lantai karena guncangan tadi.
Langkah Vincent terhenti di ambang pintu. Matanya menangkap kertas itu.
Dia memungutnya. Membacanya sekilas.
Tatapannya beralih padaku, dingin dan tajam. "Yarunica? Kau berencana lari ke sana?"
Dia mendengus, tertawa kecil yang menyakitkan. "Tempat itu keras, Sofia. Omega manja sepertimu tidak akan bertahan sehari pun di sana tanpa perlindunganku."
Aku menatapnya lurus. Rasa sakit di perutku masih menyiksa, tapi aku menegakkan punggung.
Mataku berkata: *Itu bukan urusanmu.*
"Vincent!" Suara Isabel terdengar dari lorong, panik dan manja. "Aku takut! Suara sirine itu!"
Vincent meremas kertas itu, lalu melemparnya kembali ke arahku seperti sampah.
Dia memilih pergi. Dia memilih Isabel. Lagi.
Mereka menghilang di ujung lorong, Vincent merangkul bahu Isabel, menenangkannya.
Aku tertinggal sendiri dalam kegelapan.
Perlahan, aku memungut kertas yang kusut itu.
Aku mengambil pena dari meja, mencoret nama kontak di sana, dan menulis satu kata besar di sampingnya: KEBEBASAN.
Tanganku beralih ke perutku yang masih berdenyut nyeri.
*Inner Wolf*-ku tidak lagi hanya mencakar. Dia menggeram.
Ada sesuatu yang bangkit di dalam darahku. Sesuatu yang purba. Sesuatu yang berwarna putih.
Anda Mungkin Juga Suka





