
Penjara Bos Gila
Bab 2
''Buka!!'' teriak Hana meminta dibukakan pintu tapi tidak ada seorangpun yang menyahutinnya.
Mata melirik kearah jendela besar yang ada dikamar itu, entah setan apa yang bersemayam dipikirannya. Sehingga ia berniat melompat dari sana.
Dengan tertatih, Hana berjalan kearah jendela tersebut. Ia membuka tirai itu dan berusaha membuka jendelanya, dan berhasil.
Tapi sebelum itu, Hana melongok terlebih dahulu ke bawah yang ternyata ia berada dilantai 3 sebuah bangunan. Namun, ada yang aneh. Pada umumnya pasti orang akan merasa ngeri atau ketakutan karena berada diatas jendela setinggi itu, tapi berbeda dengan Hana. Ia bahkan sudah meletakkan kedua kakinya dan bersiap akan melompat dari sana.
Hana tidak takut lagi untuk mati, ia bahkan ingin sekali mati untuk mengakhiri penderitaan yang dia alami. Dia juga merasa hidupnya tidak lagi berharga karena pelecehan yang dilakukan Antonio padanya.
Daaann....
Aaaakkkkk! Bruggkkk!!
Teriakan Hana membuat penjaga pintu kamar yang ternyata sejak tadi ada di sana dan mendengar gedoran Hana, terjingkat kaget dan langsung masuk ke kamar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Betapa terkejutnya pria berbadan besar itu, ketika melihat jendela yang terbuka lalu ia segera berlari dengan cepat untuk melihat ke bawah yang ternyata di sana sudah ada Hana yang terbaring dengan berlumuran darah.
''Astaga! Pengamanan 1!!!!'' teriak pria penjaga itu.
Dan hanya mendengar teriakan pria bernama Deri semua pun berkumpul pada titik dimana terdapat tubuh Hana yang berdarah-darah.
Dengan cekatan mereka langsung mengangkat tubuh Hana lalu membawanya masuk kerumah yang ternyata disana pula terdapat ruangan dengan alat rumah sakit yang sangat lengkap berserta dia orang dokter pribadi.
''Kalian sudah mengabari Tuan Anderson?!'' tanya dokter wanita dengan khawatir.
''Belum, kau urus saja Nona muda dulu. Nanti kami akan mengabari Tuan Anderson!''
''Hiissshh! aku hanya kasihan pada kalian. Kalian pasti tidak akan lolos begitu saja darinya!''
Karena ucapan dokter itu, beberapa pria itu tertunduk lemas. Ya mengingat Tuan-nya yang tempramen tentu tidak akan membuat mereka tenang karena telah membuat tawanannya terluka.
''Dimana dia?!'' teriak seseorang yang datang dengan tiba-tiba. Yang membuat semua orang gemetar takut walau hanya mendengar suaranya saja.
''Brengsek!!'' Bugh!
Seorang pria berbaju hitam yang tadi bertugas berjaga didepan pintu Hana, terkena pukulan cukup kuat diarea perutnya. Yang langsung membuatnya tersungkur hampir kehilangan nyawanya.
''Kalian juga ikut bertanggung jawab!'' ucapnya penuh peringatan.
Brakkk!
Sean Anderson nama pria itu. Pria yang datang dan menyelamatkan nyawa Hana saat ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Dengan cara menyuntikkan obat penenang yang membuat Hana seketika kehilangan kesadarannya.
Kala itu, Sean yang tidak sengaja sedang melintas melihat seorang gadis yang menangis di pembatas jembatan dan akan menaiki pembatas itu, dan Sean pun sudah menebak kalau gadis itu akan mengakhiri hidupnya.
Ketika berhasil membuat Hana pingsan, Sean segera membawa Hana kerumahnya.
''Cari tahu latar belakang gadis ini!'' perintah Sean pada seorang kepercayaannya.
''Baik!''
Sean memanggil beberapa dokter pribadi untuk memeriksanya, yang kemudian ia tahu terdapat banyak luka beberapa bagian tubuh Hana.
Merasa iba juga merasa ada sesuatu yang aneh pada perasaannya. Entah kenapa ia tidak ingin Hana pergi darinya.
Sean meminta penjaga menjaga kamar Hana agar nanti saat Hana sadar, Hana tdiak akan pergi. Lantas, sekarang justru keadaan Hana sangat mengkhawatirkan yang pastinya membuat Sean sangat marah.
Brakkk!!
Sean membuka paksa pintu ruang pemeriksaan yang lebih persis seperti rumah sakit mini yang ada dirumah Tuan Sean Anderson.
''Bagaimana keadaannya?!'' tanyanya dengan khawatir.
''Tuan Anderson? ka—kami akan memeriksanya lebih teliti,'' sahut seorang dokter pria.
Mata elang Sean menatap tajam pada dokter pria itu. ''Siapa yang meminta mu ikut memeriksanya? hah!'' bentak Sean.
''Kalau kau berani menyentuhnya, ku pastikan jemari tangan mu hilang satu persatu!''
Blamm!!!
Sebuah peringatan dan pengancaman sekaligus itu membuat dua dokter itu merinding disko. Jelas-jelas ia hanya memeriksa kenapa harus mendapatkan peringatan seperti itu. Sangat gila bukan!
Sean teringat sesuatu, ia terdiam lal keluar lagi dari sana. Para anak buahnya gemetaran karena tatapan tajam Sean.
''Siapa yang tadi menyentuhnya?'' tanyanya pelan tapi tidak ada yang menjawabnya. ''Siapa yang menyentuhnya tadi?!!!'' suara Sean naik beberapa oktaf sehingga membuat semua orang terjingkat kaget.
Dua orang mengangkat tangannya dengan ragu-ragu, mengaku kalau memang tadi mereka yang mengangkat tubuh Hana sampai ke ruang pemeriksaan.
Mata Sean melirik kearah sebuah lemari kecil yang di sana terdapat sebuah jambuk buntut seekor kuda yang diawetkan.
Cetassss! Cetasss!
Dengan kejamnya ia mencambuk tangan kedua pria itu begitu kuat, sehingga meninggalkan luka yang menganga karena kuatnya cambukan Sean.
Cetassss Cetassss
Semua orang hanya diam, diam bukan berarti tidak ingin tahu, mereka diam karena mencari aman. Takut kegilaan Sean semakin menjadi.
''Dengar! ini peringatan untuk siapapun! selain wanita tidak ada yang boleh menyentuhnya dengan sengaja. Ataupun menatapnya selama 3 detik. Karena ku pastikan bola mata kalian akan ku congkel dan ku berikan pada dua anjing dibelakang! paham?!''
''Paham!!!''
''Good!''
Klik!
Sean menoleh dengan cepat mendengar pintu ruangan pemeriksaan dibuka. Dan dengan segera ia menghampiri seorang dokter wanita yang sepertinya akan bicara kepadanya.
''Bagaimana?''
''Nona muda selamat, hanya saja ada tulang tangan yang patah, tapi Anda tenang saja saya sudah memasangkan pen,'' jelas dokter wanita itu.
''Kau yakin hanya itu?''
''Yakin Tuan Anderson.''
''Kerja Bagus. Kalian keluar lah!'' Kedua dokter itupun patuh, keluar dari sana meninggalkan Sean yang hanya ingin berdua saja disana dengan Hana yang masih tidak sadarkan diri.
Sean berdiri depan ranjang. Tangannya dilipat diatas perutnya. Menatap Hana dengan tatapan teduh. ''Kau ini gadis seperti apa sih! kenapa ingin sekali mati?'' ucapnya dengan suara yang begitu pelan.
Sean mengambil duduknya disebelah ranjang. Tangannya terulur menyentuh tangan Hana yang di gips. Mengusap-usap dengan pelan seraya bergumam, ''Pasti sakit, jangan mengulanginya lagi, hmm?'' senyum tipis Sean muncul begitu saja. Senyuman yang begitu manis yang bahkan tidak pernah ia perlihatkan pada semua orang.
Dan memang seingatnya, dia belum pernah tersenyum walaupun dengan menonton sebuah drama komedi yang diputarkan oleh pamannya.
Wajah Hana yang begitu cantik, tertidur begitu damai dan tenang disana. Sean tidak mengalihkan matanya sedikitpun dari wajah cantik Hana. Bahkan ia pun tidak rela untuk berkedip.
''Ada apa dengan diriku?'' gumamnya yang berusaha mengalihkan pandangannya tapi tidak bisa karena ia akan kembali menatap Hana.
Tok tok tok!
Sebuah ketukan terdengar cukup keras membuat Sean menggertakkan gigi-giginya karena kesal.
''Sudah kubilang jangan mengganggu! rupanya mereka bosan hidup!'' gerutu Sean yang berjalan kearah pintu dan bersiap akan memberikan Bogeman mentah untuk si pengganggu.
Anda Mungkin Juga Suka





