
Penjara Bos Gila
Bab 3
''Sudah ku bilang jangan mengganggu!!''
Sean membuka pintu dengan marah, tapi tiba-tiba amarahnya tertahan karena melihat siapa yang datang.
''Ada apa?'' tanyanya begitu datar.
''Maaf Tuan, saya datang karena ingin memberikan apa yang Anda minta kemarin,'' jawab seorang pria yang wajahnya tak kalah dinginnya dari Sean.
Sean menoleh kebelakang, melihat Hana yang belum juga sadar. ''Kita bicara diluar!'' ajak Sean yang langsung melangkah keluar dan menutup pintunya dengan pelan.
Keanu Reeves, asisten dari Sean Anderson. Merasa heran dengan Tuannya yang terlihat peduli dengan gadis yang bahkan identitasnya saja belum diketahuinya.
Sean membawa Keanu kekursi yang ada di depan ruangan itu. Ia duduk dengan menunggu asistennya mengeluarkan beberapa berkas dari tasnya.
''Mau saya bacakan atau—''
''Hmm!'' Sean berdehem memotong ucapan Keanu memintanya untuk membacakannya saja.
Keanu menghela nafasnya, lalu mulai membuka lembaran pertama.
''Kim Hana, berusia 23 tahun. Hanya lulusan SMA di sekolah Pelita Bangsa. Siswi yang memiliki nilai terbaik dari semua siswa. Kim Hana hidup dari keluarga yang sederhana, Ibunya Julia dan ayahnya bernama Antonio. Julia memegang tanggung jawab penuh untuk mereka atau bisa dikatakan sebagai tulang punggung. Antonio, suaminya pernah menjadi karyawan swasta disalah satu anak perusahaan kita, tapi karirnya berkahir karena ketamakannya sendiri, yaitu menggelapkan dana yang berujung pemecatan tidak hormat. Kim Hana anak satu-satunya mereka, tapi dia tidak mendapatkan kasih sayang pada umumnya seorang anak semata wayang dari kedua orang tuanya. Bahkan Kim Hana kerap mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orang tuanya. Dan yang terakhir kami dapatkan informasi, bahwa Kim Hana nyaris di perkosah oleh Antonio, ayahnya sendiri. Berikut identitas orang tua dari Kim—''
Srrretttt
Informasi yang sedang dibacakan oleh Keanu tiba-tiba terhenti karena Sean merebut berkas tersebut begitu saja.
Sean membuka berkas itu dan melihat informasi lengkap Kim Hana dengan teliti. Namun tiba-tiba ia terdiam, tatapannya jauh kedepan dan kembali menatap Poto Kim Hana yang disana sudah ada potret dari semenjak Kim Hana remaja hingga sekarang.
''Ternyata dia …'' gumam Sean.
''Ada apa, Tuan?'' tanya Keanu yang merasa aneh dengan Tuannya itu.
''Tidak ada.''
Sementara kedua pria tampan nan gagah itu sedang berbincang. Didalam sana, Hana mulai membuka matanya. Ia memperhatikan sekelilingnya yang dia tahu itu adalah sebuah kamar rumah sakit, tapi nyatanya masih berada di rumah tempatnya terkahir kali ia terbangun.
Kim Hana menoleh kearah kirinya yang disana terdapat dinding kaca yang dapat melihat langsung pemandangan luar. Ia tidak mengharapkan hidup lagi, tapi kenapa usahanya lagi-lagi gagal. Bahkan saat ini ia tengah memikirkan lagi bagaimana cara dia mati dengan cepat.
Namun, selagi ia melamun, pintu pun terbuka- seseorang datang dan melangkah kearahnya.
''Kau sudah sadar?'' tanyanya tapi tidak membuat Kim Hana tertarik untuk merespon ataupun sekedar menoleh sejenak.
Hana dapat merasakan kalau orang itu berjalan kearahnya dan duduk disampingnya. Wangi parfum pria menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya.
''Apa sudah merasa lebih baik?'' tanya Sean lagi, tapi Hana tetap bungkam.
''Apa—''
''Apa Anda yang menyelamatkan saya, lagi?'' potong Hana, tanpa menoleh kearah Sean.
''Bukan menyelamatkan, tapi melihat kau masih bernafas membuat ku membawa mu kesini,'' jawab Sean berbohong. Karena nyatanya bukan dia yang membawa Hana kesana.
''Saya lelah, saya ingin mengakhiri semuanya. Kenapa takdir begitu kejam, aku ingin mati.''
Sean tergemap, hatinya mencelos mendengar ucapan Hana. Tapi sebisa mungkin Sean bersikap dingin didepannya.
''Kau wanita bodoh! seharusnya kau berusaha untuk membalas semuanya. Tapi malah mencoba bunuh diri. Cih! pengecut!'' cela Sean dengan sangat tajam.
Kim Hana perlahan menoleh dan menatap datar Sean, yang Sean sendiri terkejut karena melihat Hana yang sudah menangis sejak tadi tapi tidak terlihat menangis karena tidak ada pergerakan bahu.
''Apa Anda pernah merasakan disulut api rokok yang menyala? apa Anda pernah makan sisa makanan binatang? Apa Anda pernah merasakan minum air seni Anda sendiri? Apa Anda— hiks!'' Hana tidak dapat meneruskan ucapannya, ia terisak begitu lirih. Sungguh penderitaannya sangatlah berat, hingga membuat dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Sean mengepalkan tangannya kuat-kuat, giginya menggeletuk, rahangnya begitu tegang. Ia marah mendengar itu. Sebenernya ia juga tidak pantas mengatai Hana dengan kata pengecut, tapi tujuannya adalah agar Hana lebih bersemangat ingin hidup.
Tapi ternyata memang penderitaan Hana memanglah berat, dan sangat wajar jika percobaan pengakhiran hidup lah jalan ninjanya.
Sean berlalu begitu saja meninggalkan Hana yang terisak seperti wajahnya yang dia buang ke arah lain.
''Beri pelajaran untuk Antonio!'' titah Sean pada anak buahnya.
Sean berjalan melewati para anak buahnya, wajahnya yang terlihat marah membuat semaunya tertunduk tidak berani menatap langsung wajah Sean.
''Panggil poli interna, aku mau dia mendapatkan pemeriksaan organ dalam tubuhnya!'' titahnya tanpa tolakan pada seorang dokter yang tadi menangani Hana.
''Baik Tuan!'' sahut kedua Dokter itu.
Sean pergi keruang kerjanya, ia duduk dikursi pribadi miliknya. Memijat pelipisnya dengan tidak nyaman dan, Brakkkk!
Sean melemparkan semua barang-barangnya yang ada diatas meja kesembarangan arah. Sungguh ia sangat ingin melampiaskan amarahnya. Maka ia mengambil sebuah senjata dari laci meja lalu melepaskan peluruh kesebuah boneka kayu khusus untuk melampiaskan amarahnya. Dor Dor Dor !
Tiga tembakan Sean lepaskan, tapi belum juga membuat emosinya reda. ''Siapapun diluar, masuk!!!'' teriak Sean dan beberapa detik kemudian seorang pria berbadan tegap dan besar masuk dengan ragu. Tapi baru saja ia masuk dan menutup pintunya, Sean sudah menarik pelatuknya lagi lalu menembakkan peluruhnya pada punggung anak buahnya dengan membabi buta, sehingga membuat pria malang itu tewas dalam sekejap. Gila, memang gila. Sean memang pria Gila!
Amarah Sean memang tidak bisa terkontrol. Ia tidak segan-segan melepaskan amunisinya ke orang yang sudah ia kehendaki. Terlebih lagi ia mengetahui kalau hal yang sangat menyedihkan terjadi pada Hana sebelumnya.
Dia marah bukan hanya pada Antonio, melainkan dengan dirinya sendiri. Ia merasa bodoh karena terlambat bertemu dengan Hana, yang seharusnya ia tidak perlu repot-repot menyalahkan dirinya sendiri, karena memang itu sudah menjadi garisan takdir.
Sedangkan dikediaman Antonio, dua mobil hitam sudah bertengger di depan rumah. Beberapa pria berbaju hitam keluar dan salasatu dari mereka mengetuk pintu beberapa kali.
Antonio yang ternyata baru saja terbangun dari tidurnya menatap tajam pada para pria itu. ''Siapa yang berani mengganggu ku!'' pekiknya.
Dan … Bugh!
Pria berbadan besar itu memukul pundak Antonio hingga pria pemabuk itu tidak sadarkan diri. Dan dengan segera mereka membawa Antonio masuk kedalam mobil.
Keadaan perkampungan yang padat penduduk, membuat semua melihat kejadian itu, tapi anehnya tidak ada yang berminat untuk menolong Antonio atau sekedar bertanya. Mereka hanya melihat dari halaman rumah masing-masing.
''Pasti dia sudah berhutang dari rentenir untuk judi. Biar dia mendapatkan ganjarannya,'' ucap salasatu warga disana.
Anda Mungkin Juga Suka





