
Penikmat Sepupu Sendiri
Bab 2
Setibanya di sebuah rumah mewah miliknya sendiri, Ethan dan yang lainnya turun dan tetap Ruby dengan wajah cemberutnya karena dia tidak ingin tinggal dengan Ethan.
"Dengar, aku masih banyak pekerjaan! Kau istirahat didalam rumah saja besok baru mulai ke kantor dan belajar bisnis denganku!" kata Ethan.
"Kak Han aku mohon izinkan aku tinggal sendiri saja di rumah momy dan dady," kata Ruby.
"Kenapa kau sangat memaksa tinggal sendirian di rumahmu? Oh aku tau, kau mau membuat party dan hidup bebas dengan membawa laki-laki kedalam rumah begitu?" tanya Ethan sambil berbicara dekat sekali dengan wajah Ruby dan menatap Ruby dengan tatapan serius.
"Pikiranmu picik sekali si kak Han, memangnya aku itu kau!" kata Ruby dengan ketus.
"Halah sudahlah aku sudah hafal betul wanita yang baru menginjak dewasa pasti menginginkan kebebasan, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu!"
"Kenapa si kak Han, kak Han saja bisa bebas melakukan apapun kenapa aku tidak, aku juga berhak!" kata Ruby berbicara menantang.
"Kalau ada laki-laki yang berani mendekatimu, dia harus menghadapku terlebih dahulu, dan party di rumah itu sangat berbahaya bagaimana jika kau mabuk lalu melakukan one night stand dengan laki-laki siapa yang rugi?" tanya Ethan.
"Terserah padaku lah!"
"Aku tidak akan membebaskanmu seperti itu Ruby dengar itu, kau adalah sepupuku menjagamu selama orangtuamu tidak disini adalah tanggung jawabku, camkan itu!" kata Ethan dengan tegas.
Domanick pergi meninggalkan kediamannya karena harus kembali berkutat dengan banyaknya pekerjaan dia yang sudah tertunda akibat menjemput sang sepupu ke bandara, sebenarnya bisa saja dia meminta anak buahnya yang lain untuk menjemput Ruby dan dia tidak ikut, namun karena amanat aunty Seraphina dan uncle Dimitri untuk menjaga Ruby, Ethan ingin memastikan sendiri jika Ruby aman sampai di rumahnya.
"Sial! Kenapa kak Han perhatian sekali denganku, kalau begini hati ini pasti semakin sulit menghapus seluruh perasaan terhadapnya! Kak Ethan, kenapa hatiku memilihmu, kenapa bukan laki-laki lain yang aku sukai?" tanya Ruby pada dirinya sambil mengutuk dirinya sendiri.
Sementara itu hingga sore harinya, Ethan masih duduk dikursi kebesarannya dengan setumpuk pekerjaan yang akhirnya membuat Ethan jengah dan akhirnya menyerah juga.
"Sial, kenapa pekerjaanku tidak selesai-selesai? Kenny!" teriak Ethan sambil kakinya menendang-nendang bawah meja.
Dia sampai lupa kalau ruangannya itu kedap suara, sekeras apapun dia berteriak Kenny Austin tidak akan mendengarnya.
"Aih brengsekk sekali, dimana asisten pribadiku itu?" tanya Ethan lalu menelpon Kenny dengan handphonenya.
Kenny yang sedang mengambil alih meeting dengan salah seorang klien di ruangan sebelah, mendapati handphonenya bergetar dan dia tau harus segera mengangkat telepon itu jika sampai Ethan dibuat menunggu lebih dari 30 detik, maka tamatlah riwayatnya.
Kenny segera izin keluar ruangan meeting lalu langsung mengangkat telepon masuk itu.
"Halo Tuan," kata Kenny.
"Dimana kau, cepat ke ruanganku!" titah Ethan.
"Baik Tuan, aku minta waktu lima menit untuk menyelesaikan meeting dengan klien dari perusahaan Zack Blue," kata Kenny.
"Oke, hanya lima menit!"
Setelah itu Ethan langsung mematikan teleponnya, dan melemparkan barang-barang yang ada dihadapannya hingga berjatuhan kelantai. Sedangkan Kenny langsung buru-buru mengakhiri meeting tersebut dan segera berlari ke ruangan Ethan Eduardo.
"Tuan!" dilihatnya barang-barang sudah berserakan dilantai dan Kenny tau jika sudah begini, itu artinya Ethan tidak akan bisa melanjutkan pekerjaannya karena sudah terlalu jenuh.
"Cepat carikan dua wanita sekaligus untukku malam ini!" ucap Ethan sambil satu tangannya menahan kepalanya yang sudah terlalu lelah.
"Ta-tapi kita masih ada pertemuan dengan,"
Belum selesai bicara tatapan tajam Ethan sudah membuat Kenny tidak mampu meneruskan perkataannya.
"Baik Tuan, aku akan pilihkan wanita-wanita terbaik untuk malam ini!" ucap Kenny.
"Bagus, sekarang aku akan pulang ke rumah! Jam 19.00 malam jangan sampai telat, karena aku sudah tidak tahan lagi," ucap Ethan sambil tersenyum.
Ethan akhirnya pergi meninggalkan kantor, tidak peduli jika ada pekerjaan yang harus dia selsaikan hari itu juga karena urusan ranjang adalah panggilan alam yang membuatnya tidak akan bisa berkonsentrasi jika belum dia tuntaskan keinginannya.
Begitulah Ethan Eduardo, dia terlalu sibuk akhir-akhir ini mengurus semua bisnis-bisnis keluarganya yang legal maupun yang ilegal karena dialah andalan Tuan Diego Eduardo sang ayah untuk nantinya mengambil alih seluruh perusahaan milik ayahnya tersebut, Ethan sering kelelahan tapi dia tidak pernah mengeluh pada orangtuanya, namun cara lain melampiaskan kelelahannya yaitu dengan bercinta dengan para wanita.
Setelah bercinta dengan wanita maka semangatnya akan kembali terisi full dan pekerjaan apapun akan mudah dia tangani, pukul 18.00 Ethan sudah tiba di kediamannya, dan hal yang pertama dia cek adalah keberadaan sepupunya Ruby.
Ethan langsung masuk kedalam kamar Ruby, namun gadis itu tidak ada didalam kamarnya.
"Ruby! Dimana kau? Ruby!" panggil Ethan.
"Dimana gadis itu, jangan-jangan dia kabur!"
Tapi alangkah terkejutnya Ethan saat melihat Ruby keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk hingga membuatnya memperlihatkan tubuh mulus dan seksi dihadapan Ethan Eduardo.
Glek.
Ethan yang sudah terlanjur memandangi tubuh seksi Ruby langsung menelan salivanya, lalu sesegera mungkin dia memalingkan wajahnya agar tidak melihat lagi tubuh sepupunya itu.
"Kakak, kenapa tidak ketuk pintu dulu si? Sana keluar dari kamarku!" ucap Ruby yang dia juga sebetulnya terkejut ketika keluar dengan hanya memakai handuk dan dilihat oleh Ethan.
Menuruti perintah Ruby adalah jalan terbaik untuk menghindari pikiran yang aneh-aneh. Ethan langsung keluar dari kamar sepupunya itu dan menepis pikiran tidak masuk akal yang sempat terlintas dalam otaknya, yaitu seksi dan mulus.
"Kenapa gadis nakal itu malah hanya memakai handuk, dasar otakku gila kenapa terbesit pikiran seperti itu! Hentikan pikiran gilamu itu Han, dia adalah sepupumu!" Gumam Ethan.
Ruby yang sudah selesai memakai pakaiannya, kembali membuka pintu kamarnya dan melihat Ethan yang masih berdiri dihadapan pintu kamarnya.
"Kak Han, pokoknya lain kali ketuk pintu kamarku dulu!" protes Ruby.
"Memangnya kenapa, aku kan sepupumu!" kata Ethan yang berusaha bersikap biasa-biasa saja.
"Tentu saja aku malu, kau tidak lihat aku tadi hanya mengenakan handuk saja?"
"Halah, meskipun kau mengenakan handuk tubuhku sama sekali tidak menarik, rata begitu!" kata Ethan.
"Kakak," Ruby memukul dada bidang Ethan.
"Lagipula kau ini aneh-aneh saja masa malu dengan sepupumu sendiri, aku tidak akan pernah melihatmu sebagai wanita! Jadi jangan berpikir aneh-aneh," ucap Ethan.
Deg..
Kenapa mendengar Ethan dengan kata-kata tidak akan pernah tertarik pada sepupunya sendiri, membuat hati Ruby selalu terluka. Apa karena hatinya terlalu berharap untuk sesuatu yang memang tidak mungkin, terlebih lagi dengan prinsip teguh Ethan yang tidak akan pernah memiliki perasaan cinta terhadap wanita manapun.
"Hei Ruby, malah melamun. Kau sudah makan belum? Ayo makan bersamaku!" kata Ethan.
"Aku kenyang, aku mau istirahat saja!" jawab Ruby.
"Ya sudah kalau begitu, istirahatlah! Hah aku tidak menyangka ternyata Rubyku sudah besar ya sekarang!" ucap Ethan sambil mengacak-acak rambut Ruby..
Padahal perutnya sedang lapar tapi entah kenapa setelah mendengar perkataan Ethan yang tidak akan tertarik padanya, membuat rasa lapar itu hilang mendadak.
Pukul 19.00 malam, Kenny tiba di kediaman Ethan dengan dua wanita cantik dan seksi sesuai pesanan sang Cassanova yang sedang menginginkan sebuah kenikmatan malam ini.
Author mohon dukungannya ya untuk karya author yang baru ini! Apalah arti sebuah novel bila tidak menemukan pembacanya.
Anda Mungkin Juga Suka





