
Pengobatan Khusus Tabib Desa
Bab 2
Melihat keraguanku, Paman Tobi menjawab dengan tenang, "Tadi kamu sudah minum obat, aku perlu membantunya mengalir ke perut agar efeknya terasa."
Setelah berkata demikian, salah satu tangannya menyentuh leherku.
Sambil menekan dadaku, telapak tangannya meluncur perlahan ke bawah, seolah ada sesuatu di tenggorokanku yang didorong menuju perut.
Mungkin obat yang kuminum tadi mulai bereaksi, karena perut bagian bawahku berangsur-angsur menjadi panas.
Hanya saja, teknik Paman Tobi ini ... sepertinya ada yang salah.
Kedua tangannya meremas sepasang benda kenyal yang kini terekspos itu dengan bertenaga.
Uh!
Sensasi ini terasa sangat nyaman.
Seluruh tulangku terasa lemas, dan darahku mulai mendidih.
Tidak boleh, aku ke sini untuk mengobati sakit perut, kenapa malah jadi seperti sedang melakukan "hal itu"?
Untungnya, aku masih mengenakan bra, jadi tidak terlalu vulgar.
Namun detik berikutnya, tangan Paman Tobi justru menjangkau punggungku untuk melepas pengait bra tersebut.
Aku tidak tahan lagi. Aku segera menahan tangannya dan menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Yang ini jangan dilepas! Kalau dilepas, aku nggak pakai apa-apa lagi di dalam."
Melihat itu, Paman Tobi tetap berkata dengan santai, "Kalau mau sembuh total, nggak boleh ada kain yang menghalangi. Harus bersentuhan langsung dengan kulit, nanti baru ada efeknya."
Sikapnya yang begitu mahir membuatku merasa bahwa dia bukan pertama kalinya melakukan hal ini.
Entah mengapa, aku justru menurut saja pada tindakannya.
Paman Tobi dengan cepat melepaskan braku. Sepasang "bukit putih" itu pun meloncat keluar dengan kenyal.
Bahkan dua "buah ceri" di puncaknya mulai mengeras.
Paman Tobi tetap menekan leherku dan perlahan turun ke bawah.
Tangannya sedikit demi sedikit mendekati area puncakku. Jantungku berdegup kencang.
Detik berikutnya, dia langsung meremas keduanya dan memelintir ujungnya yang merah.
Seketika, aliran listrik merambat hingga ke sumsum tulangku. Seluruh tubuhku terasa lemas seolah kehilangan tenaga, membiarkan Paman Tobi mempermainkan tubuhku sesuka hati.
Aku mau tak mau bertanya, "Paman Tobi, apa ini benar-benar ada gunanya?"
Paman Tobi menatapku sambil tersenyum.
"Reaksi tubuhmu sebesar ini, biasanya kamu pasti sangat haus, ‘kan? Aku sekalian membantumu mengeluarkan hawa nafsu yang terpendam, supaya nanti nggak merasa tersiksa lagi."
Hasratku yang dibongkar langsung oleh Paman Tobi, membuat rasa malu menjalar di hatiku.
Aku refleks menjepit kedua kakiku dengan rapat.
Sepertinya Paman Tobi ini memang punya kemampuan hebat, dengan mudahnya dia tahu bahwa tubuhku sedang membara.
Dia kembali mengambil minyak esensial dan meneteskannya pada dadaku.
Telapak tangannya menekan puncaku, lalu perlahan meluncur turun melewati pusar hingga ke perut bawah.
Merasakan licinnya minyak ditambah hangatnya telapak tangan Paman Tobi yang lebar, aku merasa api di perut bawahku berkobar semakin hebat hingga napas pun menjadi memburu.
"Uh ... Ah! Paman Tobi ... a-aku merasa makin panas!"
Gerakan tangan Paman Tobi tidak berhenti, dia kembali mendorong dari perut bawah ke atas.
"Merasa panas itu bagus, artinya hawa jahatnya sedang dikeluarkan. Buka kakimu, jangan dijepit."
Sambil berkata demikian, kedua tangannya memegang pinggang celanaku dan menyentaknya ke bawah dengan kuat.
Aku tersentak kaget dan berusaha menahan celanaku, tapi separuh area pribadiku sudah terlihat.
"Paman Tobi, apa pijat itu memang harus melepas celana juga?"
Meski aku seorang istri yang kesepian, aku masih punya moral. Apalagi ini di kampung halaman suamiku, jika sampai tersebar, aku akan sangat malu.
Tiba-tiba, Paman Tobi menyusupkan tangannya ke sela-sela kakiku dan menekan titik sensitifku dengan jari tengahnya. Seketika, rasa nikmat yang luar biasa meledak dari bawah sana.
Saat itu juga, rasanya seluruh tulangku mencair. Teknik Paman Tobi sangat akurat, tepat mengenai bagian paling sensitifku. Melihatku gemetar karena kenikmatan, Paman Tobi kembali menarik celanaku.
"Kamu sudah segatal ini, jangan dipaksakan lagi. Aku akan membantumu mengeluarkan semua hawa jahat itu."
Setelah berkata begitu, dia menarik celanaku dengan paksa.
Tulang-tulangku rasanya sudah meleleh karena kenikmatan, aku tidak punya tenaga sama sekali untuk melawan.
Seluruh tubuhku kini terpampang polos di hadapan Paman Tobi.
Rasanya seperti ditelanjangi di tengah jalan. Sangat memalukan, tetapi rasa gairah di hatiku tidak bisa lagi ditekan.
Aliran hangat terus-menerus merembes keluar.
Paman Tobi menekan perut bawahku dengan kedua tangannya.
"Melepas celana itu sudah benar. Dengan begitu, hawa jahatmu bisa mengalir keluar dari bawah. Kalau terhalang, pengobatannya nggak akan manjur."
Aku agak ragu dengan perkataannya, tetapi kekuatan tangannya benar-benar pas. Kenyamanan yang kurasakan membuatku tidak bisa berpikir jernih tentang benar atau salah.
Tak lama kemudian, aku merasakan air mengalir keluar dari bawah sana.
Paman Tobi membuka lebar kedua kakiku, memperlihatkan pemandangan indah itu sepenuhnya.
"Hawa jahatnya mengalir terlalu lambat, aku harus membantumu melancarkannya."
Setelah bicara, dia mengeluarkan "sesuatu" yang ukurannya sebesar "bagian bawah" keledai dan mengarahkannya tepat padaku.
Astaga! Ukuran sebesar itu bisa menghancurkanku!
Aku panik bukan main. Ini bukan berobat, ini namanya berselingkuh!
Aku berusaha menjepit kakiku sekuat tenaga, tetapi tenaga Paman Tobi jauh lebih besar.
Dia membuka paksa kakiku dan menyampirkannya di bahunya.
Posisi ini seketika memancing gairahku, hingga aku justru secara sadar mengangkat bokongku.
Anda Mungkin Juga Suka





