
PENGANTIN TITIPAN
Bab 2
Aku menangis sejadi-jadinya di atas tempat tidur. Di antara isakan kudengar Kak Mirna mengomel.
"Kakak sudah bilang berkali-kali! Dion itu anak orang kaya! Kamu gak pantes sama dia! Keluarga kita gak pantes buat mereka!"
Mendengar hal itu aku semakin menyesali diri. Mengapa dengan begitu mudah memberikan hati kepada pemuda yang baru beberapa bulan dikenal. Bang Dion ... awalnya dia hanya menggoda kami, aku dan kawan-kawan sesama remaja masjid di kampung. Lama-kelamaan dia semakin mendekatiku dan bilang jatuh cinta kepadaku. Wajahnya manis, ini pertama kalinya aku ... jatuh cinta.
Bang Dion bilang, semenjak berkenalan denganku, dia menjadi lebih baik. Tidak lagi shalat bolong-bolong. Dia lebih semangat untuk mempelajari Islam. Hal itu membuat aku terkesan.
Ketika dia datang ke rumah, ayah bilang bahwa sebenarnya aku sudah dipinang oleh Mas Sugeng, seorang pedagang sukses dan duda beranak dua. Dia pernah meminjamkan sejumlah uang dulu ketika ibu masuk rumah sakit. Sampai saat ini, utang itu belum lunas. Sehingga ayah sebenarnya bingung ingin beralasan apa, agar Mas Sugeng memaklumi penolakannya. Ayah minta waktu untuk bicara padaku, kata beliau.
Aku lalu menceritakan hal itu kepada Bang Dion sepekan lalu sebelum lelaki tersebut berangkat kembali ke kota. Dia pun bilang kepada ayah, kalau akan segera menikahiku.
Aku bahagia mendengar keseriusannya. Karena aku juga tidak mau berhubungan dengan lelaki di dalam status yang tidak jelas. Aku tidak pernah berniat pacaran. Karena itu tidak diperbolehkan dalam agama, kata Pak Ustadz.
Bang Dion pun membantu mencicil utang ayah dengan uang tabungannya. Belum lunas sepenuhnya, hanya sebagian saja. Namun, itu cukup memberikan harapan dan membuat aku semakin percaya atas keseriusannya. Itu juga menjadikan alasan ayah menolak Mas Sugeng. Beliau bilang kepada pria beranak dua itu, bahwa putrinya ini sudah ada calon rupanya dan sudah berniat menikah akhir bulan ini.
***
Pintu kamar berderit. Terdengar suara langkah mendekat.
"Kamu belum makan dari tadi siang, Dek. Ini makanlah," suruh Kak Mirna.
Aku bergeming, tertelungkup dengan kepala di atas bantal. Sejak kembali dari rumah Bang Dion tadi, aku mengurung diri di kamar ini. Tangis sudah mereda, tapi hati ini masih resah dan gundah.
"Kamu ini masih terlalu muda, Mila .... Ini hanya cinta monyet," ujar Kak Mirna.
Huh! Cinta monyet? Aku sudah hampir sembilan belas tahun! Ya ... mungkin ini memang cinta pertamaku. Akan tetapi, ini cintaku yang sejati. Aku tak menyahuti kakakku, tetapi hanya mendumal di dalam hati, tidak terima dengan perkataannya.
"Hei ...." Kak Mirna membelai punggungku.
Aku beringsut dan bangkit. Lalu duduk berhadapan dengannya. Kutundukkan dalam-dalam kepala ini.
"Kalau dia memang jodohmu, dia pasti datang. Kalau dia beneran cinta, dia pasti menghubungi." Kak Mirna mengangkat daguku, bibirnya dilipat, kemudian tersenyum kecil.
Aku pun mengangguk menjawabnya. Pasrah.
"Makan!" suruhnya lagi sembari bangkit dan melirik sepiring nasi yang tergeletak di atas meja di samping tempat tidur.
Kutatap setumpuk nasi dan sepotong ayam goreng krispi di sana.
Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel Kak Mirna. Aku terkesiap. Mungkin itu ....
"Dion," bisik Kak Mirna kepadaku.
Sontak aku pun berdiri. Namun, kakakku menunjukkan lima jarinya. "Sshhh ...!"
Aku menahan langkah.
"Halo, Dion!" seru Kak Mirna.
" .... "
"Oke, selesaikan dulu urusanmu di sana."
Aku menatap dengan cemas ke wajah Kak Mirna yang tengah bercakap dengan lelakiku. Tak berapa lama, Kak Mirna pun menutup sambungan teleponnya.
Kembali kutatap wanita cantik di hadapanku itu dengan lekat, berharap tanggapannya.
Apa yang dikatakan Bang Dion?
.
.
Anda Mungkin Juga Suka





