
Pengantin Pengganti Mafia Berdarah Dingin
Bab 3
Dooorr!!
"Aaaa!" Alessia menjerit terkejut, sementara Vincenzo dengan refleks cepat berbalik badan melihat situasi.
Brak!
Suara pintu yang terbuka dengan keras memecahkan keheningan. Sebelum Vincenzo sempat bereaksi, seorang pria bertopeng menerjang masuk, pistol di genggamannya, dan langsung menodongkan senjata itu ke arah Vincenzo.
Dooorr!!
Pria bertopeng melepaskan tembakan, tapi Vincenzo berhasil menghindar dengan sigap. Dengan napas memburu, Vincenzo bertanya, "Siapa yang mengirimmu?!"
"Kau tidak perlu tahu, De Luca. Aku hanya perlu memastikan kau tidak keluar hidup-hidup malam ini," sahut pria bertopeng itu, menekan pistol semakin keras ke arah Vincenzo.
Sadarkan diri, Vincenzo menyadari bahwa dalam situasi seperti ini, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Dia melirik lampu meja yang ada di dekatnya, dengan cepat merebutnya dan melemparkannya ke arah penyerang. Gerakan Vincenzo begitu lincah sehingga mengejutkan penyerang sampai tercekat dan sedikit kehilangan keseimbangan.
Pria bertopeng itu tersentak, matanya membelalak ke arah Vincenzo, sambil berusaha mengarahkan kembali pistolnya.
"Brengsek! Kau akan menyesal!" bentaknya dengan suara berat.
Doorr!! Doorr!! Doorr!!
Namun, Vincenzo telah bergerak lebih cepat. Dalam sekejap, dia menerjang ke depan, menggenggam erat pergelangan tangan penyerang yang memegang pistol. Tegak lurus di depan matanya, terlihat pria itu mengejan karena sakit ketika Vincenzo memelintir pergelangan tangannya dengan kekuatan penuh. Pistol itu terlepas dari genggaman penyerang, jatuh ke lantai dengan suara berdentang.
Mereka terlibat dalam perkelahian sengit, saling bertukar pukulan dan tendangan di tengah ruangan tersebut. Nafas Vincenzo terengah-engah, wajahnya memerah karena usahanya menahan serangan sambil mengangkat lengan kirinya untuk menangkis. Tetapi pria bertopeng itu kuat dan cekatan, memukul Vincenzo berkali-kali tanpa ampun.
Bugh! Bugh! Bugh!
Alessia, sementara itu, bingung dengan apa yang terjadi di depan matanya. Dadanya berdebar kencang, tak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia menolong Vincenzo, sang suami, atau membiarkannya saja agar ia juga bisa terhindar dari pernikahan yang tak diinginkannya ini?
Rasa gelisah dan keguncangan membayang di wajahnya, matanya melotot tak berkedip saat ia berpikir, 'Siapa sebenarnya pria bertopeng itu? Apakah dia berpihak kepadaku?'
Sembari gumam mengais-ngais rambutnya yang acak-acakan, Alessia bermonolog pada dirinya sendiri, matanya tetap terpaku memandangi pertarungan sengit antara kedua pria di depannya.
"Siapa yang mengirimmu, huh?" tanya Vincenzo, wajahnya merah padam kesal.
Penyerang hanya tertawa pelan, lalu tiba-tiba menendang Vincenzo dengan keras, membuatnya terhuyung ke belakang dan akhirnya jatuh terduduk. Penyerang itu segera meraih pisau yang tersembunyi di pinggangnya dan meluncurkan serangan ke arah Vincenzo. Namun, kali ini Vincenzo berhasil menghindar dengan gesit bergeser ke samping.
Sebelum pria bertopeng itu sempat menancapkan pisau lagi, Vincenzo menyapu kaki penyerang dengan cepat dan membuatnya terjatuh juga. Kedua pria itu bergumul di lantai, bergantian memegang kendali.
Di saat Vincenzo terpojok, penyerang berbicara sambil mengejek, "Ucapkan selamat tinggal, Tuan De Luca."
Namun, tiba-tiba terdengar pekik kesakitan. "Shit!" Pria bertopeng itu terpental ke samping hingga terbentur sudut ranjang dan keningnya mengucurkan darah.
"Alessia." Vincenzo tersenyum tipis, bangga melihat keberanian istrinya yang menendang pria bertopeng itu tanpa ragu.
"Pakai ini," ujar Alessia sambil mengeluarkan pisau yang ia sembunyikan di balik paha mulusnya. Dengan sigap, ia melemparkannya kepada Vincenzo yang langsung menangkapnya.
Tepat setelah Vincenzo menerima pisau tersebut, ia berbalik bersamaan dengan pria bertopeng yang hendak menyerangnya lagi.
Jleb!
Salah satu pisau menancap tepat di bagian perut salah satu diantara mereka. Alessia memejamkan mata, perasaannya tak menentu.
Langkah kaki seseorang terdengar mendekat, membuat Alessia membuka mata perlahan. "Rupanya kau sudah menyiapkan senjata, hm," ujar Vincenzo sambil menghapus sisa darah di pisau Alessia dengan kain.
Wajah Alessia menegang saat melihat suaminya sudah berada tepat di depan wajahnya. Vincenzo mengangkat lingerie Alessia dan menyelipkan kembali pisau yang telah ia bersihkan ke tempat asalnya.
"Siapa orang itu?" tanya Alessia, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Vincenzo berjalan ke arah meja kecil di dekat ranjang, mengambil sepotong kue dan melahapnya dengan santai. "Sepertinya hadiah pernikahan," sahutnya sambil tersenyum sinis.
"Kenapa kau bisa sesantai itu?" tanya Alessia dengan wajah cemas.
Vincenzo tertawa pelan, "Aku sudah terbiasa menerima hadiah dadakan seperti ini."
Alessia menggelengkan kepala, tak habis pikir bagaimana nasibnya nanti, apa ia bisa hidup tenang di tengah kehidupan yang penuh bahaya bersama suaminya? Ia sendiri, meski lahir dan tumbuh di keluarga mafia, belum pernah merasakan hidupnya terancam seperti saat ini. Dahulu, banyak anggota keluarganya yang melindunginya, tetapi sekarang, di lingkungan baru bersama suaminya, ia tak tahu mana kawan, mana lawan.
Tangan Alessia bergerak tidak sadar, menggenggam erat pisau yang tadi sudah diletakkan lagi di pahanya. Melihat itu, Vincenzo tersenyum dan mendekat, meraih dagu istri cantiknya yang tampak berkeringat karena tegang. Alessia hanya bisa diam, menahan napas saat merasakan hembusan napas hangat Vincenzo menyapu wajahnya.
"Kau boleh menyimpan benda itu dan menggunakannya dalam situasi berbahaya, tapi aku tidak mengizinkanmu menggunakannya untukku," bisik Vincenzo tepat di telinga Alessia, membuat seluruh tubuhnya bergidik.
Wanita bermata bulat itu mendongak dengan wajah waspada, "Aku hanya berjaga-jaga dari bahaya, bisa saja kau tiba-tiba akan membunuhku."
Vincenzo menjauhkan wajahnya, kemudian tertawa lepas. "Tenang saja, Sayang. Kau tidak akan dalam bahaya selama bersamaku."
Alessia mendesis, "Berikan aku alasan untuk mempercayaimu."
Tangan Vincenzo terulur, membelai lembut rambut Alessia hingga menyentuh wajahnya yang sedikit pucat. "Karena aku tidak akan pernah mengizinkan bahaya itu datang padamu," jawab Vincenzo tegas.
Dia mengangkat dagu Alessia, memastikan tatapan mereka bertemu. "Dan aku juga tidak akan membunuhmu."
Alessia menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Wanita itu sempat terlena oleh ucapan manis suaminya yang terdengar begitu meyakinkan sesaat kemudian ia kembali memfokuskan diri agar tidak percaya begitu saja.
"Sekarang istirahatlah." Vincenzo lantas menyuruh istrinya menuju tempat tidur.
Meski menurut tapi Alessia tetap waspada, Vincenzo memandanginya pergi, seraya berkata, "Aku akan tidur di sofa."
***
Pagi yang cerah dengan cahaya mentari yang mulai memanjat di ufuk timur menghangatkan dunia. Matahari mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, membangunkan Alessia yang terlelap dalam tidurnya. Perlahan ia membuka matanya dan menatap sekeliling, mencari sosok suaminya, Vincenzo. Namun, ruangan itu tampak kosong tanpa kehadiran pria itu.
Ingatannya kembali melayang ke kejadian semalam, sikap Vincenzo yang lembut dan perhatian terhadapnya seolah bertolak belakang dengan reputasi yang diberikan orang-orang bahwa Vincenzo adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Alessia merasa bimbang, sebagian hatinya ingin mempercayai Vincenzo, namun keraguan masih menggelayut di benaknya.
Drrtt! Drrtt! Drrtt!
Tiba-tiba, ponsel Alessia bergetar di atas nakas, membuatnya terkejut. Ia meraih ponsel itu dan melihat layar yang menyala.
"Halo, Marco?" sapa Alessia pada saudara laki-lakinya, anak pertama dari keluarga Toretto.
"Alessia?" balas Marco dengan napas lega, "Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkanmu."
"Kenapa kamu tidak menjawab panggilanku?" cecar Marco dengan cemas yang terpancar dalam suaranya.
Alessia menghela nafas sejenak sebelum menjawab, "Maaf, aku sepertinya tertidur sangat lelap hingga tak sadar ada panggilan darimu."
Sejenak suasana hening..
Alessia mengusap pelipisnya, "Oh, shit! Aku lupa ada acara makan siang bersama siang ini," desahnya panik.
"Bagaimana keadaan di sana? Apa acaranya sudah dimulai?" tanyanya penasaran.
"Ya, tapi itu bukan masalah utamanya," sahut Marco.
"Aku ingin kamu datang ke sini sekarang. Elena mencoba melarikan diri tadi malam dan dia berhasil di tangkap oleh anak buah Papa." Wajah Marco tampak gusar, ia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan sambil menggigit bibir.
Sebagai kakak tertua, dia merasa frustrasi, namun tak bisa berbuat banyak karena kedua orang tuanya cenderung memihak pada anak yang memberikan keuntungan bagi mereka, sementara dia dan Elena dianggap tak berguna.
"Aku tak tahu apa yang akan Papa lakukan pada Elena," lanjutnya dengan nada khawatir.
***
Anda Mungkin Juga Suka





