Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengantin Pengganti Mafia Berdarah Dingin

Pengantin Pengganti Mafia Berdarah Dingin

Dominic Toretto tega menjual anaknya demi harta dengan menjanjikan pernikahan kepada keluarga De Luca yang kejam. Alessia Toretto akhirnya memilih maju demi menggantikan posisi adiknya untuk menikahi seorang bos mafia pembunuh berdarah dingin. Tanpa diduga, keputusan nekat ini justru menjerumuskannya ke dalam pusaran konflik hidup dan mati. Kini Alessia harus berjuang menemukan keberanian demi melawan nasib kelam yang telah dipaksakan padanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dooorr!!

"Aaaa!" Alessia menjerit terkejut, sementara Vincenzo dengan refleks cepat berbalik badan melihat situasi.

Brak!

Suara pintu yang terbuka dengan keras memecahkan keheningan. Sebelum Vincenzo sempat bereaksi, seorang pria bertopeng menerjang masuk, pistol di genggamannya, dan langsung menodongkan senjata itu ke arah Vincenzo.

Dooorr!!

Pria bertopeng melepaskan tembakan, tapi Vincenzo berhasil menghindar dengan sigap. Dengan napas memburu, Vincenzo bertanya, "Siapa yang mengirimmu?!"

"Kau tidak perlu tahu, De Luca. Aku hanya perlu memastikan kau tidak keluar hidup-hidup malam ini," sahut pria bertopeng itu, menekan pistol semakin keras ke arah Vincenzo.

Sadarkan diri, Vincenzo menyadari bahwa dalam situasi seperti ini, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Dia melirik lampu meja yang ada di dekatnya, dengan cepat merebutnya dan melemparkannya ke arah penyerang. Gerakan Vincenzo begitu lincah sehingga mengejutkan penyerang sampai tercekat dan sedikit kehilangan keseimbangan.

Pria bertopeng itu tersentak, matanya membelalak ke arah Vincenzo, sambil berusaha mengarahkan kembali pistolnya.

"Brengsek! Kau akan menyesal!" bentaknya dengan suara berat.

Doorr!! Doorr!! Doorr!!

Namun, Vincenzo telah bergerak lebih cepat. Dalam sekejap, dia menerjang ke depan, menggenggam erat pergelangan tangan penyerang yang memegang pistol. Tegak lurus di depan matanya, terlihat pria itu mengejan karena sakit ketika Vincenzo memelintir pergelangan tangannya dengan kekuatan penuh. Pistol itu terlepas dari genggaman penyerang, jatuh ke lantai dengan suara berdentang.

Mereka terlibat dalam perkelahian sengit, saling bertukar pukulan dan tendangan di tengah ruangan tersebut. Nafas Vincenzo terengah-engah, wajahnya memerah karena usahanya menahan serangan sambil mengangkat lengan kirinya untuk menangkis. Tetapi pria bertopeng itu kuat dan cekatan, memukul Vincenzo berkali-kali tanpa ampun.

Bugh! Bugh! Bugh!

Alessia, sementara itu, bingung dengan apa yang terjadi di depan matanya. Dadanya berdebar kencang, tak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia menolong Vincenzo, sang suami, atau membiarkannya saja agar ia juga bisa terhindar dari pernikahan yang tak diinginkannya ini?

Rasa gelisah dan keguncangan membayang di wajahnya, matanya melotot tak berkedip saat ia berpikir, 'Siapa sebenarnya pria bertopeng itu? Apakah dia berpihak kepadaku?'

Sembari gumam mengais-ngais rambutnya yang acak-acakan, Alessia bermonolog pada dirinya sendiri, matanya tetap terpaku memandangi pertarungan sengit antara kedua pria di depannya.

"Siapa yang mengirimmu, huh?" tanya Vincenzo, wajahnya merah padam kesal.

Penyerang hanya tertawa pelan, lalu tiba-tiba menendang Vincenzo dengan keras, membuatnya terhuyung ke belakang dan akhirnya jatuh terduduk. Penyerang itu segera meraih pisau yang tersembunyi di pinggangnya dan meluncurkan serangan ke arah Vincenzo. Namun, kali ini Vincenzo berhasil menghindar dengan gesit bergeser ke samping.

Sebelum pria bertopeng itu sempat menancapkan pisau lagi, Vincenzo menyapu kaki penyerang dengan cepat dan membuatnya terjatuh juga. Kedua pria itu bergumul di lantai, bergantian memegang kendali.

Di saat Vincenzo terpojok, penyerang berbicara sambil mengejek, "Ucapkan selamat tinggal, Tuan De Luca."

Namun, tiba-tiba terdengar pekik kesakitan. "Shit!" Pria bertopeng itu terpental ke samping hingga terbentur sudut ranjang dan keningnya mengucurkan darah.

"Alessia." Vincenzo tersenyum tipis, bangga melihat keberanian istrinya yang menendang pria bertopeng itu tanpa ragu.

"Pakai ini," ujar Alessia sambil mengeluarkan pisau yang ia sembunyikan di balik paha mulusnya. Dengan sigap, ia melemparkannya kepada Vincenzo yang langsung menangkapnya.

Tepat setelah Vincenzo menerima pisau tersebut, ia berbalik bersamaan dengan pria bertopeng yang hendak menyerangnya lagi.

Jleb!

Salah satu pisau menancap tepat di bagian perut salah satu diantara mereka. Alessia memejamkan mata, perasaannya tak menentu.

Langkah kaki seseorang terdengar mendekat, membuat Alessia membuka mata perlahan. "Rupanya kau sudah menyiapkan senjata, hm," ujar Vincenzo sambil menghapus sisa darah di pisau Alessia dengan kain.

Wajah Alessia menegang saat melihat suaminya sudah berada tepat di depan wajahnya. Vincenzo mengangkat lingerie Alessia dan menyelipkan kembali pisau yang telah ia bersihkan ke tempat asalnya.

"Siapa orang itu?" tanya Alessia, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Vincenzo berjalan ke arah meja kecil di dekat ranjang, mengambil sepotong kue dan melahapnya dengan santai. "Sepertinya hadiah pernikahan," sahutnya sambil tersenyum sinis.

"Kenapa kau bisa sesantai itu?" tanya Alessia dengan wajah cemas.

Vincenzo tertawa pelan, "Aku sudah terbiasa menerima hadiah dadakan seperti ini."

Alessia menggelengkan kepala, tak habis pikir bagaimana nasibnya nanti, apa ia bisa hidup tenang di tengah kehidupan yang penuh bahaya bersama suaminya? Ia sendiri, meski lahir dan tumbuh di keluarga mafia, belum pernah merasakan hidupnya terancam seperti saat ini. Dahulu, banyak anggota keluarganya yang melindunginya, tetapi sekarang, di lingkungan baru bersama suaminya, ia tak tahu mana kawan, mana lawan.

Tangan Alessia bergerak tidak sadar, menggenggam erat pisau yang tadi sudah diletakkan lagi di pahanya. Melihat itu, Vincenzo tersenyum dan mendekat, meraih dagu istri cantiknya yang tampak berkeringat karena tegang. Alessia hanya bisa diam, menahan napas saat merasakan hembusan napas hangat Vincenzo menyapu wajahnya.

"Kau boleh menyimpan benda itu dan menggunakannya dalam situasi berbahaya, tapi aku tidak mengizinkanmu menggunakannya untukku," bisik Vincenzo tepat di telinga Alessia, membuat seluruh tubuhnya bergidik.

Wanita bermata bulat itu mendongak dengan wajah waspada, "Aku hanya berjaga-jaga dari bahaya, bisa saja kau tiba-tiba akan membunuhku."

Vincenzo menjauhkan wajahnya, kemudian tertawa lepas. "Tenang saja, Sayang. Kau tidak akan dalam bahaya selama bersamaku."

Alessia mendesis, "Berikan aku alasan untuk mempercayaimu."

Tangan Vincenzo terulur, membelai lembut rambut Alessia hingga menyentuh wajahnya yang sedikit pucat. "Karena aku tidak akan pernah mengizinkan bahaya itu datang padamu," jawab Vincenzo tegas.

Dia mengangkat dagu Alessia, memastikan tatapan mereka bertemu. "Dan aku juga tidak akan membunuhmu."

Alessia menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Wanita itu sempat terlena oleh ucapan manis suaminya yang terdengar begitu meyakinkan sesaat kemudian ia kembali memfokuskan diri agar tidak percaya begitu saja.

"Sekarang istirahatlah." Vincenzo lantas menyuruh istrinya menuju tempat tidur.

Meski menurut tapi Alessia tetap waspada, Vincenzo memandanginya pergi, seraya berkata, "Aku akan tidur di sofa."

***

Pagi yang cerah dengan cahaya mentari yang mulai memanjat di ufuk timur menghangatkan dunia. Matahari mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, membangunkan Alessia yang terlelap dalam tidurnya. Perlahan ia membuka matanya dan menatap sekeliling, mencari sosok suaminya, Vincenzo. Namun, ruangan itu tampak kosong tanpa kehadiran pria itu.

Ingatannya kembali melayang ke kejadian semalam, sikap Vincenzo yang lembut dan perhatian terhadapnya seolah bertolak belakang dengan reputasi yang diberikan orang-orang bahwa Vincenzo adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Alessia merasa bimbang, sebagian hatinya ingin mempercayai Vincenzo, namun keraguan masih menggelayut di benaknya.

Drrtt! Drrtt! Drrtt!

Tiba-tiba, ponsel Alessia bergetar di atas nakas, membuatnya terkejut. Ia meraih ponsel itu dan melihat layar yang menyala.

"Halo, Marco?" sapa Alessia pada saudara laki-lakinya, anak pertama dari keluarga Toretto.

"Alessia?" balas Marco dengan napas lega, "Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkanmu."

"Kenapa kamu tidak menjawab panggilanku?" cecar Marco dengan cemas yang terpancar dalam suaranya.

Alessia menghela nafas sejenak sebelum menjawab, "Maaf, aku sepertinya tertidur sangat lelap hingga tak sadar ada panggilan darimu."

Sejenak suasana hening..

Alessia mengusap pelipisnya, "Oh, shit! Aku lupa ada acara makan siang bersama siang ini," desahnya panik.

"Bagaimana keadaan di sana? Apa acaranya sudah dimulai?" tanyanya penasaran.

"Ya, tapi itu bukan masalah utamanya," sahut Marco.

"Aku ingin kamu datang ke sini sekarang. Elena mencoba melarikan diri tadi malam dan dia berhasil di tangkap oleh anak buah Papa." Wajah Marco tampak gusar, ia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan sambil menggigit bibir.

Sebagai kakak tertua, dia merasa frustrasi, namun tak bisa berbuat banyak karena kedua orang tuanya cenderung memihak pada anak yang memberikan keuntungan bagi mereka, sementara dia dan Elena dianggap tak berguna.

"Aku tak tahu apa yang akan Papa lakukan pada Elena," lanjutnya dengan nada khawatir.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MZT" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MZT
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu
7.9
Alana nyaris tewas setelah diserang tiga pemuda di Gunung Lawu hingga terperosok ke jurang. Beruntung, ia diselamatkan oleh Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan dan bersembunyi di hutan. Di tengah pemulihan luka fisik dan traumanya, Alana terjebak dalam dilema antara keinginan balas dendam atau bangkit kembali. Hubungannya dengan Arga yang keras namun protektif pun kian intens, memicu emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sampul Novel DENDAM MERTUA MAFIA
8.2
Akibat kebencian mendalam, Ratih Darmi menukar janji masa lalu ayahnya demi melenyapkan cucunya sendiri, Farid Abdullah. Bocah itu diculik oleh raja mafia kejam, Razzore, untuk dieksekusi di istana bawah tanah. Diandra Safaluna, sang ibu yang memiliki masa lalu sebagai mafia, harus berjuang di tengah kehancuran jiwanya demi menyelamatkan Farid. Luna bersumpah akan menembus istana monster tersebut meski harus mengorbankan nyawanya sendiri demi sang putra.
Sampul Novel Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
8.2
Pasca memergoki perselingkuhan sang suami, seorang wanita menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Alih-alih menyerah, ia menyusun rencana balas dendam yang kejam demi memberikan rasa sakit yang setimpal kepada para pengkhianat. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria misterius masuk ke hidupnya secara tiba-tiba. Siapa sangka, sosok tersebut adalah psikopat berdarah dingin yang terobsesi dan jatuh cinta padanya. Akankah ini membantu atau menghancurkan tujuannya?
Sampul Novel Kaisar Muda, Jangan Menggodaku!
8.5
Yun Xiaowen, calon ratu iblis, terjebak dalam nestapa usai bertemu Liuu Qiang Wen. Kaisar manusia berjuluk The Cyanide King itu membantai orang tua Xiaowen demi ambisi menguasai tujuh dunia. Tanpa cinta, ia menikahi Xiaowen hanya untuk memanfaatkan kelemahannya sebagai pion politik. Di tengah mimpi buruk yang seakan tak berakhir, Xiaowen meratapi nasibnya yang hancur sambil mempertanyakan apakah masih ada sisa kasih sayang di hati sang kaisar yang kejam.
Sampul Novel Legenda Tombak Halilintar
9.7
Riki awalnya hanyalah pemain pemburu terlemah, namun takdirnya berubah drastis setelah meraih Dragon Spear, senjata legendaris tingkat tertinggi. Kini, ia bertekad melindungi keluarganya dari hinaan sambil mengejar ambisi menjadi legenda di realitas Sky Legend. Namun, tanggung jawab besar menantinya saat bumi terancam bahaya yang tersembunyi di balik sistem gim. Riki pun berjuang demi kehormatan keluarga, Indonesia, dan dunia untuk mencapai puncak kejayaan.
Sampul Novel Para Pria yang Diculik ke Desa Wanita
8.8
Kisah menegangkan dalam Para Pria yang Diculik ke Desa Wanita mengungkap sisi gelap sepasang kekasih. Sang pria menggunakan kedok hubungan asmara untuk menculik dan menjual gadis-gadis ke desanya. Di sisi lain, sang wanita ternyata menyimpan niat yang sama buruknya. Dengan modus pacaran yang serupa, ia menjebak dan menggiring para pria masuk ke dalam perangkap di desanya sendiri. Pertemuan dua penculik ini menghadirkan misteri aksi yang penuh intrik dan bahaya tak terduga.