Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga

Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga

Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari pailit, Anya Pramudita terpaksa menikahi Reza Wijaya, pewaris Wijaya Corp. Meski orang tua Reza memuja kecerdasan Anya, mereka sebenarnya memanfaatkan krisis finansial Pramudita Global sebagai jerat. Di sisi lain, Reza masih terikat cinta rahasia dengan Kirana. Tanpa kasih sayang, Anya yang apatis pada cinta harus menjalani sandiwara pernikahan. Akankah perasaan tulus muncul, ataukah hubungan ini hancur akibat pengkhianatan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden mewah, menyinari kamar pengantin yang semalam terasa dingin. Anya terbangun dengan kepala berat, sisa-sisa tangisan semalam masih membekas di kelopak matanya yang bengkak. Ia melirik ke arah sofa. Kosong. Reza sudah tidak ada di sana. Ruangan terasa sunyi, hanya suara AC yang mendesau pelan.

Anya bangkit dari ranjang, merapikan selimut yang tak terpakai, seolah tak ada yang pernah tidur di sana. Ia melangkah ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menghapus jejak kesedihan. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya: seorang wanita yang baru saja menikah, namun tanpa sorot bahagia sedikit pun. Ia adalah Anya Wijaya sekarang, bukan lagi Anya Pramudita. Nama belakang itu terasa asing, seperti gaun pengantin yang ia kenakan kemarin, indah namun tak terasa pas di tubuhnya.

Setelah mandi dan berpakaian, Anya keluar dari kamar. Ia merasa bingung. Haruskah ia ke dapur? Haruskah ia menunggu dipanggil? Rumah ini terasa asing, meskipun ia tahu ini adalah bagian dari penthouse mewah milik Wijaya Corp, tempat ia akan tinggal bersama Reza.

Suara langkah kaki mendekat, dan tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Helena, Nyonya Besar Wijaya, masuk dengan senyum tipis di bibirnya. Ia mengenakan blus sutra berwarna pastel dan rok pensil yang rapi, tampak elegan seperti biasa.

"Sudah bangun, Sayang?" sapa Helena, suaranya terdengar ramah, namun ada nada pengawasan yang terselip di sana. "Reza sudah menunggu di ruang makan. Kita sarapan bersama."

Anya mengangguk. "Baik, Nyonya Helena."

"Panggil saja Mama," kata Helena, senyumnya semakin lebar. "Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami sekarang."

Kata "Mama" terasa haku dan aneh di lidah Anya. Ia tak bisa membayangkan memanggil wanita ini dengan sebutan sehangat itu. "Baik, Ma." Ia memaksakan senyum tipis.

Mereka berjalan menuju ruang makan. Ruangan itu besar dan mewah, dengan meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati ukiran. Reza sudah duduk di sana, membaca koran bisnis dengan wajah datar. Tuan Wijaya juga sudah ada, sibuk dengan tabletnya. Suasana pagi itu terasa sangat formal, jauh dari kehangatan keluarga.

"Selamat pagi, semuanya," sapa Helena, duduk di kursinya.

"Pagi," sahut Tuan Wijaya tanpa mengangkat kepala.

Reza hanya melirik sekilas, lalu kembali pada korannya. Seolah Anya tidak ada di sana. Anya merasakan hatinya berdenyut sakit, namun ia berusaha mengabaikannya. Ini adalah awal dari kehidupannya yang baru, dan ia harus terbiasa dengan kepalsuan ini.

Seorang pelayan muncul, membawa berbagai hidangan sarapan: roti panggang, telur, daging asap, buah-buahan segar, dan berbagai kue-kue kecil. Anya mengambil sehelai roti dan sedikit buah, selera makannya hilang entah kemana.

"Bagaimana tidurmu, Anya?" tanya Helena, suaranya renyah.

Anya merasakan tatapan Reza yang menusuknya. Ia tahu Reza sedang menunggu jawabannya. "Nyenyak, Ma. Terima kasih." Ia melirik Reza. Pemuda itu mengernyitkan dahi, seolah tak percaya.

Helena tersenyum puas. "Baguslah. Nanti sore, kita akan menjenguk orang tuamu, ya. Mereka pasti senang melihatmu."

Anya mengangguk. Ia tahu itu hanya formalitas belaka, sebuah cara untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka adalah keluarga yang harmonis.

Selama sarapan, percakapan didominasi oleh Tuan Wijaya dan Helena, membahas berita bisnis terbaru, merger perusahaan lain, dan rencana ekspansi Wijaya Corp. Reza sesekali menanggapi dengan singkat, sementara Anya hanya mendengarkan, mencoba mencerna semua informasi yang begitu asing baginya. Ia adalah orang luar di meja ini, di keluarga ini.

"Reza, nanti setelah ini kau temani Anya melihat-lihat rumah," perintah Helena. "Dia harus tahu di mana letak semuanya. Kalian akan tinggal di sini sementara, sebelum rumah baru kalian siap."

Reza menurunkan korannya. "Baik, Ma." Suaranya datar, tanpa antusiasme sedikit pun.

Setelah sarapan, Reza bangkit. "Ayo," katanya singkat kepada Anya.

Anya mengangguk, lalu mengikuti Reza. Mereka berjalan melewati koridor-koridor panjang, melewati ruang tamu yang mewah, ruang keluarga yang luas, hingga ke perpustakaan yang berisi ribuan buku. Reza menjelaskan setiap ruangan dengan nada tanpa emosi, seolah ia sedang memberikan tur kepada turis asing.

"Ini ruang kerjaku," kata Reza, membuka pintu sebuah ruangan. Di dalamnya, ada meja kerja besar, komputer canggih, dan rak-rak buku yang penuh dengan buku-buku bisnis dan hukum. "Kau bisa menggunakan ruangan ini jika kau butuh tempat untuk bekerja."

Anya melirik. "Aku punya ruang kerjaku sendiri di rumah. Tapi terima kasih."

Reza mengangkat bahu. "Terserah kau."

Mereka terus berjalan, hingga tiba di area kamar tidur. Ada beberapa kamar kosong di sana, dengan pemandangan kota yang menakjubkan.

"Ini kamar kita," kata Reza, menunjuk sebuah pintu ganda. "Dan ini... kamar tamu di sebelah, jika kau ingin tidur terpisah."

Anya menatapnya. "Kau serius?"

Reza mengangguk. "Aku tahu ini bukan pernikahan yang kita inginkan. Aku tidak akan memaksamu untuk... berbagi ranjang jika kau tidak mau."

Anya merasakan sedikit kelegaan bercampur dengan rasa hampa. Kelegaan karena ia tidak harus berpura-pura lebih jauh, hampa karena ia tahu betapa rusaknya hubungan mereka bahkan sebelum dimulai.

"Terima kasih," kata Anya pelan. "Aku akan menggunakan kamar tamu."

Reza mengangguk. "Baiklah. Jika kau butuh sesuatu, panggil saja pelayan. Mereka akan membantumu." Ia lalu berbalik. "Aku ada rapat. Sampai nanti."

Dan dengan itu, Reza pergi, meninggalkan Anya sendirian di lorong yang sunyi. Anya membuka pintu kamar tamu yang ditunjuk Reza. Kamar itu sama mewahnya dengan kamar utama, namun terasa lebih dingin dan sepi. Inilah realitasnya. Ia adalah istri Reza, namun mereka akan hidup terpisah, dalam satu atap yang sama.

Beberapa hari berikutnya, hidup Anya di rumah Wijaya terasa seperti berada dalam sangkar emas. Ia memiliki segala kemewahan yang bisa dibayangkan, namun kebebasannya sangat terbatas. Helena selalu punya jadwal untuknya: makan siang bersama sosialita, kunjungan ke acara amal, atau sekadar minum teh dengan kerabat jauh. Setiap pertemuan adalah kesempatan bagi Helena untuk memperkenalkan Anya sebagai menantu barunya yang "cerdas dan berkelas," seolah Anya adalah piala yang baru saja mereka menangkan.

Anya dengan sabar menjalani semua itu. Ia tersenyum, mengobrol, dan menjawab pertanyaan dengan anggun. Ia tahu ini adalah bagian dari perannya. Ia harus terlihat sempurna, tanpa cela, untuk menjaga citra keluarga Wijaya dan juga agar Pramudita Global bisa mendapatkan suntikan dana yang dijanjikan.

Namun, setiap malam, setelah semua kepalsuan itu berakhir, Anya kembali ke kamar tamunya yang sepi. Ia menghabiskan malam dengan membaca buku, atau terkadang, diam-diam menyelinap ke ruang kerja orang tuanya yang ia bawa serta, mengecek email dan laporan keuangan Pramudita Global. Kondisi perusahaan masih sangat kritis. Dana yang dijanjikan keluarga Wijaya belum juga cair sepenuhnya, hanya sebagian kecil yang mereka berikan sebagai "tanda jadi."

Reza, di sisi lain, sangat jarang terlihat. Ia pergi pagi-pagi sekali dan sering pulang larut malam. Jika pun ada, mereka hanya berpapasan di ruang makan saat sarapan atau makan malam, dan itupun hanya ada keheningan di antara mereka. Reza menjaga jarak, dan Anya pun tidak berusaha mendekat. Mereka adalah dua orang asing yang dipaksa hidup bersama.

Suatu sore, saat Anya sedang membaca buku di taman belakang, ia mendengar suara tawa riang dari kolam renang. Ia melirik, dan melihat Reza sedang berenang bersama seorang wanita. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna cokelat madu, tawanya renyah dan lepas. Kirana.

Hati Anya mencelos. Ia tahu Kirana adalah kekasih Reza, namun melihat mereka berdua begitu dekat, begitu bahagia, di rumahnya sendiri, rasanya tetap menyakitkan. Ada rasa terkhianati yang Anya sendiri tidak mengerti mengapa ia merasakannya. Ia tidak mencintai Reza, jadi mengapa ia harus merasa sakit?

Anya buru-buru memalingkan wajah, kembali pada bukunya, berpura-pura tidak melihat apa-apa. Ia merasakan pipinya memanas. Ini adalah realitas yang harus ia hadapi. Reza akan membawa Kirana ke rumah ini. Ini adalah rumah Reza, dan ia tidak memiliki hak untuk melarangnya.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar langkah kaki mendekat.

"Hai, Anya," sapa suara lembut.

Anya mendongak. Kirana berdiri di depannya, mengenakan gaun pantai yang tipis, rambutnya basah dan meneteskan air. Senyumnya ramah, namun ada gurat sedih di matanya.

"Hai, Kirana," balas Anya, berusaha terdengar setenang mungkin.

Kirana duduk di kursi di samping Anya. "Aku tahu ini mungkin canggung, tapi aku ingin bicara denganmu."

Anya menutup bukunya. "Silakan."

Kirana menarik napas dalam-dalam. "Aku tahu kau tidak mencintai Reza. Dan aku tahu Reza tidak mencintaimu. Dia mencintaiku." Suaranya bergetar. "Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak akan menyerah pada Reza. Aku akan berjuang untuknya."

Anya menatap Kirana, ada rasa kasihan yang tulus di hatinya. Kirana adalah korban lain dalam drama ini. "Aku tidak akan menghalangimu, Kirana," kata Anya lembut. "Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kau harus tahu itu. Aku hanya... terpaksa."

Air mata mulai menggenang di mata Kirana. "Aku tahu. Reza sudah menceritakan semuanya. Tentang perusahaanmu yang bangkrut, dan bagaimana orang tuanya menggunakan itu untuk memaksanya menikahimu."

Anya merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya Kirana tahu bahwa ia bukan penjahat dalam kisah ini. "Aku minta maaf atas semua ini. Aku tahu ini sulit bagimu."

Kirana mengusap air matanya. "Sulit itu understatement, Anya. Aku sudah bersama Reza sejak SMA. Kami punya begitu banyak rencana." Ia terdiam sejenak. "Aku hanya berharap... kau tidak akan jatuh cinta padanya. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus bersaing denganmu."

Anya tersenyum tipis, senyum yang getir. "Kau tidak perlu khawatir tentang itu, Kirana. Aku tidak percaya pada cinta. Dan bahkan jika aku percaya pun, aku tidak akan pernah jatuh cinta pada pria yang menganggapku sebagai beban, atau alat."

Kirana menatap Anya dengan sedikit keterkejutan, seolah baru pertama kali ia melihat sisi lain dari Anya yang selama ini terlihat sempurna dan tanpa cela. "Kau... kau terdengar sangat sedih."

Anya mengangkat bahu. "Memang. Siapa yang tidak sedih jika harus menikah dengan cara seperti ini? Tapi, hidup harus terus berjalan, kan?"

Reza muncul dari dalam rumah, memakai kaus dan celana pendek. Ia melihat Anya dan Kirana sedang berbicara, dan ekspresinya sedikit tetidur. "Ada apa?" tanyanya.

Kirana buru-buru berdiri. "Tidak ada apa-apa, sayang. Aku hanya mengobrol dengan Anya."

Reza melirik Anya. Anya hanya mengangguk, tanpa berkata apa-apa. Ia tak ingin memperkeruh suasana.

"Kalau begitu, aku harus pergi sekarang," kata Kirana, memaksakan senyum pada Reza. "Sampai nanti."

Kirana pergi, meninggalkan Anya dan Reza dalam keheningan yang canggung.

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Reza, suaranya terdengar dingin.

"Tidak ada yang penting," jawab Anya. "Hanya obrolan perempuan."

Reza menghela napas. "Dengar, Anya, aku tahu ini sulit. Tapi aku tidak ingin kau mengganggu hubunganku dengan Kirana. Dia adalah segalanya bagiku."

Anya merasakan amarah membuncah di dadanya. "Mengganggu? Aku tidak melakukan apa-apa! Aku sudah bilang padanya bahwa aku tidak akan menghalangimu. Dan lagi, siapa yang mengganggu siapa? Aku yang dipaksa menikah denganmu, Reza! Aku yang terjebak dalam semua ini!"

Reza terdiam, matanya menatap tajam ke arah Anya. Ada kilatan penyesalan di sana, atau mungkin hanya kelelahan. "Aku tahu," katanya pelan. "Aku tahu ini semua salah. Tapi... aku tidak bisa mengubahnya."

"Jadi, kau akan terus membawa Kirana ke sini?" tanya Anya, suaranya bergetar. "Ke rumah ini? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan orang tuamu? Bagaimana perasaan orang lain jika melihat ini?"

Reza mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tidak peduli apa kata orang lain! Dan orang tuaku... mereka yang memulai semua ini!" Ia berhenti sejenak, lalu menatap Anya. "Lagipula, kita sudah sepakat, kan? Ini hanya perjanjian. Kita tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing."

Anya terdiam. Kata-kata Reza menamparnya. Ia memang yang mengatakan itu. Ia yang mengatakan bahwa mereka harus menjalani ini sebagai sebuah perjanjian, tanpa melibatkan perasaan. Tapi entah mengapa, melihat Reza dan Kirana begitu dekat, begitu mesra, membuatnya merasa lebih sakit dari yang ia bayangkan.

"Baiklah," kata Anya, suaranya lirih. "Aku mengerti."

Reza mengangguk, lalu berbalik dan pergi. Anya ditinggalkan sendirian lagi di taman, dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Pramudita Global tetap menjadi beban pikiran utama Anya. Meskipun ia telah menyandang nama Wijaya, dan keluarga Wijaya telah menjanjikan suntikan dana, kenyataannya tidak semudah itu. Setiap kali Anya bertanya kepada Tuan Wijaya tentang progres pencairan dana, ia selalu mendapatkan jawaban yang sama: "Sedang dalam proses, Anya. Ada banyak prosedur yang harus dilewati."

Sementara itu, perusahaan keluarganya semakin terpuruk. Anya mencoba mencari solusi lain. Ia diam-diam menghubungi beberapa kenalan lama di dunia startup teknologi, meminta saran dan peluang. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menyelamatkan perusahaannya sendiri, tanpa bergantung sepenuhnya pada belas kasihan keluarga Wijaya.

Suatu malam, Anya sedang bekerja di ruang kerjanya yang ia bawa dari rumah. Ia sedang menyusun proposal bisnis baru, mencari celah untuk Pramudita Global. Ia ingin mengubah lini bisnis, mungkin fokus pada teknologi yang selama ini ia kuasai, daripada terpaku pada bisnis manufaktur tradisional yang kini lesu.

Pintu terbuka, dan Reza masuk. Anya terkejut. Ini adalah pertama kalinya Reza datang ke ruang kerjanya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Reza, mendekati mejanya.

"Bekerja," jawab Anya singkat, mencoba menyembunyikan dokumen-dokumennya.

Reza melirik layar laptop Anya. Ada beberapa grafik keuangan dan analisis pasar yang terbuka. "Kau masih mengurus Pramudita Global?"

Anya mengangguk. "Tentu saja. Itu adalah tanggung jawabku."

Reza terdiam sejenak. "Aku dengar dari Ayah, kau sering bertanya tentang dana perusahaan."

"Ya. Karena dana itu belum cair sepenuhnya," kata Anya, ada nada kesal dalam suaranya. "Perusahaan kami sedang sekarat, Reza. Mereka berjanji akan membantu."

Reza menghela napas. "Ayah memang sengaja menunda-nunda. Dia ingin memastikan kau benar-benar patuh. Dan juga... dia ingin melihat seberapa jauh kau bisa berusaha sendiri."

Anya menatap Reza tak percaya. "Jadi, ini adalah ujian? Mereka mempermainkanku?"

Reza mengangguk pelan. "Itulah cara mereka. Mereka suka menguji orang. Dan jujur saja, mereka ingin kau fokus pada Wijaya Corp. Mereka melihat potensimu. Mereka ingin kau bekerja di sini."

Anya mengepalkan tangannya. Ia merasa marah, sangat marah. Mereka tidak hanya memperjualbelikan dirinya, tapi juga bermain-main dengan nasib perusahaannya.

"Aku tidak akan menyerah pada Pramudita Global," kata Anya tegas. "Dan aku tidak akan berhenti mencari cara untuk menyelamatkannya. Aku tidak akan membiarkan mereka memanfaatkanku dan perusahaan keluargaku seperti ini."

Reza menatap Anya, ada kilatan kekaguman di matanya, meskipun ia berusaha menyembunyikannya. "Kau... kau sangat gigih."

"Aku harus," jawab Anya. "Ini adalah kehormatan keluargaku. Dan aku tidak akan membiarkannya hancur."

Reza terdiam, lalu duduk di kursi di hadapan Anya. "Apa yang sedang kau coba lakukan? Kau punya rencana?"

Anya ragu sejenak, namun ia memutuskan untuk terbuka. Mungkin Reza, dengan segala koneksinya, bisa sedikit membantu. "Aku sedang menyusun rencana restrukturisasi. Aku ingin mengalihkan fokus Pramudita Global ke sektor teknologi, menggabungkan pengalaman manufaktur kami dengan inovasi teknologi. Aku yakin itu bisa berhasil."

Reza mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk. "Itu ide yang berani. Dan berisiko."

"Aku tahu," kata Anya. "Tapi kita tidak punya pilihan lain. Aku sudah menghubungi beberapa mantan rekan kerjaku, mereka bersedia membantu sebagai konsultan."

Reza berpikir sejenak. "Bagaimana jika aku membantumu?"

Anya menatapnya, terkejut. "Membantuku? Kau?"

"Ya," kata Reza. "Aku punya beberapa koneksi di dunia investasi teknologi. Dan aku juga tahu sedikit tentang restrukturisasi perusahaan. Aku bisa membantumu menyusun proposal yang lebih kuat, atau bahkan mencarikan investor lain di luar keluarga Wijaya."

Hati Anya berdebar. Tawaran Reza sangat menggiurkan. Namun, ia juga merasa curiga. Mengapa Reza tiba-tiba ingin membantunya?

"Mengapa kau ingin membantuku?" tanya Anya curiga. "Bukankah kau tidak peduli?"

Reza menghela napas. "Aku memang tidak peduli dengan pernikahan ini, Anya. Tapi aku tidak suka melihat bagaimana orang tuaku memperlakukanmu. Aku tidak suka melihat mereka bermain-main dengan nasibmu dan perusahaan keluargamu. Dan lagi... aku tahu kau serius. Kau berbeda dari kebanyakan orang yang pernah kutemui."

Anya menatapnya, mencari kebohongan di matanya, namun ia tidak menemukannya. Ada kejujuran di sana. Atau setidaknya, Reza sedang mencoba untuk jujur.

"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu," kata Anya. "Aku tidak akan bertanya tentang Kirana. Tapi jika kau bersedia membantuku dalam masalah ini... aku akan sangat berterima kasih."

Reza mengangguk. "Deal. Anggap saja ini sebagai... bentuk kompromi di antara kita. Kita akan bekerja sama untuk menyelamatkan perusahaanmu, dan kau akan berpura-pura menjadi istriku yang sempurna di depan orang tuaku."

Anya tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus sejak pernikahan itu. "Deal."

Malam itu, untuk pertama kalinya, Anya dan Reza bekerja sama, bukan sebagai suami istri, melainkan sebagai rekan kerja. Mereka membahas strategi, menganalisis data, dan bertukar pikiran. Anya menemukan bahwa Reza, di balik sikap dinginnya, sebenarnya cukup cerdas dan memiliki pemahaman yang baik tentang dunia bisnis. Ia juga menyadari bahwa Reza tidak seburuk yang ia kira. Ia hanya terjebak, sama seperti dirinya.

Hari-hari berikutnya, hubungan Anya dan Reza mulai berubah, sedikit demi sedikit. Mereka masih tidur di kamar terpisah, dan Reza masih sesekali bertemu Kirana, namun mereka mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama untuk membahas proyek Pramudita Global. Diskusi mereka tidak lagi canggung atau dipenuhi ketegangan. Mereka mulai berbicara tentang hal-hal lain di luar bisnis, tentang buku, tentang musik, tentang impian yang mereka miliki sebelum kehidupan membelokkan mereka.

Anya menemukan bahwa Reza memiliki selera humor yang gelap, dan ia bisa membuatnya tertawa, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia juga melihat sisi lain dari Reza, sisi yang peduli dan protektif, terutama ketika Reza membela ide-idenya di hadapan Tuan Wijaya yang skeptis.

"Ide Anya ini cukup inovatif, Yah," kata Reza suatu sore, saat mereka makan malam bersama Tuan dan Nyonya Wijaya. Anya baru saja mempresentasikan garis besar rencana restrukturisasi Pramudita Global. "Transformasi ke teknologi adalah langkah yang tepat. Banyak perusahaan tradisional yang gagal karena enggan beradaptasi."

Tuan Wijaya mengerutkan kening. "Tapi itu risiko besar, Reza. Pramudita Global tidak punya pengalaman di bidang itu."

"Anya punya," sahut Reza cepat. "Dia sudah membangun startup teknologi yang sukses. Dia punya visi dan kemampuan untuk mewujudkannya."

Helena menatap Anya dengan sedikit kejutan. Ia tidak menyangka Reza akan membela Anya sekuat itu. "Tapi Reza, bukankah lebih baik jika Anya fokus pada Wijaya Corp saja? Kita bisa menyelamatkan Pramudita Global dengan cara lain."

"Kita tidak bisa terus-menerus menunda pencairan dana, Ma," kata Reza. "Mereka butuh kepastian. Dan Anya berhak memperjuangkan perusahaannya."

Anya menatap Reza, hatinya menghangat. Ia merasa Reza benar-benar ada di pihaknya. Itu adalah perasaan yang menyenangkan, dan asing.

Tuan Wijaya akhirnya mengalah. "Baiklah, Anya. Jika kau yakin, kami akan mendukungmu. Tapi kau harus membuktikan bahwa idemu ini bisa berhasil."

Anya tersenyum lega. "Saya akan membuktikannya, Tuan Wijaya. Terima kasih."

Malam itu, saat mereka kembali ke penthouse, Anya menatap Reza. "Terima kasih, Reza. Kau sudah membantuku."

Reza mengangguk. "Itu sudah menjadi janji kita, kan?" Ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang berbeda dari senyum palsu yang sering ia tunjukkan.

"Aku tidak tahu mengapa kau bersedia melakukan ini untukku," kata Anya pelan.

Reza menatap Anya, matanya lembut. "Mungkin karena aku melihat sesuatu yang istimewa dalam dirimu, Anya. Kau berbeda. Dan aku tidak suka melihat bakatmu terbuang sia-sia."

Hati Anya berdebar kencang. Ia tidak tahu bagaimana menanggapi pujian itu. Ia hanya tahu bahwa ada sesuatu yang mulai berubah di antara mereka. Sebuah ikatan tipis mulai terbentuk, bukan dari cinta, tapi dari rasa hormat dan pemahaman, dan mungkin... persahabatan yang tak terduga.

Namun, di tengah semua ini, bayangan Kirana selalu ada. Anya tahu, cepat atau lambat, ia harus menghadapi kenyataan bahwa hati Reza masih milik wanita lain. Dan pertanyaan itu terus menghantui Anya: akankah ikatan tipis ini cukup untuk menopang mahligai emas yang berkarat ini, ataukah akan hancur ketika diuji oleh realitas yang pahit?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Palsu Miliarder
8.7
Vivienne mengkhianati Soren Blackwood dengan berselingkuh dan mencoba membunuhnya. Namun, bawahan Soren justru salah menangkap Kira, saudara kembar Vivienne. Kini Kira terjebak menjadi istri palsu sang CEO kejam yang lumpuh akibat insiden tersebut. Di tengah pusaran kebohongan dan dendam, Soren mulai menaruh hati pada sosok Kira yang berbeda. Akankah rahasia ini bertahan saat Vivienne asli kembali? Sebuah kisah romansa penuh misteri dalam lingkaran pengkhianatan.
Sampul Novel Malaikat Cinta: Jadilah Mamaku yang Baru
7.8
Lima tahun pernikahan Daryl hanya menyisakan luka hingga suaminya tega menyerahkannya pada pria lain. Di tengah kehancuran, muncul bocah laki-laki berumur lima tahun yang mengembalikan keceriaannya. Ketegangan memuncak saat hasil tes DNA mengungkap fakta mengejutkan bahwa anak itu adalah darah dagingnya bersama Zack, sang CEO dingin, dari kenangan malam masa lalu. Kini Daryl harus menghadapi takdir baru yang mengubah seluruh jalan hidupnya yang kelam.
Sampul Novel Mendadak Presdir
9.7
Melly Sabira hidup dalam kekangan finansial oleh suaminya, Alan, serta penindasan dari kakak iparnya, Lian. Di tengah penderitaan tersebut, Melly diam-diam membangun bisnis kecantikan hingga sukses secara nasional. Konflik memuncak saat Lian mencoba menjodohkan Alan dengan Siska, yang ternyata bawahan Melly. Merasa terhina, Siska melakukan aksi kejam yang merenggut nyawa orang-orang terdekat Melly. Kini, Melly harus menghadapi tragedi besar di balik kesuksesannya.
Sampul Novel My Possessive Husband Book 1
9.7
Aleina Xavinzo merasa terganggu oleh obsesi mantan kekasihnya, Richard, yang terus mengejar. Di tengah rasa frustrasi, sebuah insiden mabuk di kelab malam membawanya ke pelukan pria asing bernama Adrianus James Verona. Hubungan satu malam itu berujung kejutan besar saat mereka bertemu kembali sebulan kemudian sebagai pasangan tunangan pilihan orang tua. Kini, Aleina harus menghadapi babak baru dalam pernikahan kontrak yang penuh dengan teka-teki cinta.
Sampul Novel Pasangan Pengganti
8.5
Alana Nefertari adalah istri sabar yang memimpikan perubahan sikap Vicky Xavier demi buah hati mereka. Sayangnya, kekejaman Vicky justru memuncak saat ia menjadikan Alana jaminan utang kepada atasannya sendiri, Bryan. Kini, sang istri terpaksa bekerja sebagai pelayan di rumah sang Direktur akibat ulah suaminya yang tak berperasaan. Mampukah Alana bertahan di tengah pengkhianatan ini, ataukah pernikahan toxic tersebut akhirnya akan hancur selamanya?
Sampul Novel Penghinaan Saudari Tiri, Dusta Kekasih
7.9
Anindya Larasati, violinis berbakat, hancur saat video pribadinya disebar di gala megah. Pengkhianatan ini didalangi Bima Wiratama, kekasihnya, yang bekerja sama dengan kakak tiri Anindya, Safira. Setelah disiksa secara keji oleh rekan Bima hingga meninggalkan bekas luka permanen, Anindya menyadari cintanya hanyalah permainan balas dendam. Di tengah obsesi gelap Bima yang menginginkan kehancurannya, Anindya bertekad bangkit dari penderitaan dan menghilang demi kebebasannya.