Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengabdian dan Cinta

Pengabdian dan Cinta

Ardi dan Bara, dua polisi tangguh, berusaha keras menjatuhkan jaringan mafia yang kebal hukum. Namun, tragedi melanda saat Bara tertembak dalam pengintaian hingga misi mereka berujung kegagalan fatal. Situasi kian pelik ketika Ardi menemukan fakta mengejutkan bahwa Arkana, sang gembong kriminal, adalah ayah kandungnya sendiri. Terjepit antara loyalitas keluarga dan tugas negara, Ardi akhirnya memilih melepaskan tembakan maut demi pengabdiannya pada hukum.
Bab
Bagikan

Bab 3

Selamat Membaca

"Bagaimana keadaan sampean?" tanyaku setiba dalam ruangan.

"Alhamdulillah, mulai membaik."

Aku mengangguk mendengar jawaban temanku Bara. Selepas lelaki itu menyapa, aku urung meninggalkan bangsal rawat inap ini, memilih masuk ruangan, lalu berbasa-basi menanyakan keadaannya.

"Tidak ada sakit di bagian dalam? Area kepala? Bahu? Atau lainnya?" tanyaku lagi.

"Tidak ada. Kalau ada, hanya bekas benturan aja. Insya Allah saya baik-baik saja, Ar ... maaf. Bu Dokter." Bara tersenyum, pandangannya mengarah pada snelli di genggaman dokter wanita yang cantik itu.

Dokter wanita itu tersenyum simpul membalas, dalam hati bersyukur, setidaknya tak butuh waktu lama untuk Bara segera pulih. "Oh ya, saya benar-benar minta maaf soal kecelakaan itu. Saya ceroboh."

"Tidak apa, saya juga ceroboh karena tidak konsen bekerja ."

Dokter wanita cantik itu bergumam sambil mengangguk. Entah kenapa aku canggung, mungkin karena gaya bicara Bara yang singkat dan tenang membuatku mendadak kehabisan kosakata. Mungkin juga aku tidak biasa berbicara dengan orang baru apalagi lawan jenis.

Sekalipun pekerjaan dokter itu membawanya menemui banyak orang, tetapi mayoritas adalah kaum perempuan, bayi, balita juga remaja di bawah 18 tahun. Lagi-lagi gambaran masa lalu lah hal yang mendasarinya.

Bahkan untuk Bara, butuh satu tahun lebih membuatku percaya dia orang baik, dan menjadikannya teman. Selebihnya, untuk dokter wanita lain, aku menyapa formal dan bila ada kepentingan saja.

Tak lama, seorang suster datang membawa nampan berisi makan sore. Suster bernama Nia itu menyapa Bara sebelum meletakkan makanan di nakas. "Makan sorenya, Pak Bara," ucapnya.

Bara mengangguk dan berterima kasih. Setelahnya Suster Nia melakukan pengecekan tensi darah, infus dan luka di kepala Bara.

"Saya bisa pulang hari ini, Sus?" tanya Bara. Membuat Suster Nia mengerut dahi.

Aku sendiri tak kalah mengerut dahi, heran. Baru semalam dirawat sudah bertanya pulang? Aku meyakini keadaannya belum stabil, mengingat lukanya termasuk luka sedang. Lebam dan lecet di wajahnya saja masih kentara dan luka bekas tembakan di kakinya.

"Belum, Pak. Luka di kepala Pak Bara butuh pengawasan dokter biar tidak infeksi, juga bahu Pak Bara yang butuh terapi supaya kembali seperti semula. Kalau Pak Bara mau tanya kepastian kapan pulang, nanti nunggu dokter saja." Penjelasan Suster Nia membuat wajah Hayyid terlihat kecewa, ia mengembus napas.

"Ya, terima kasih, Sus."

Suster Nia berpamit bersamaan dengan dokter cantik itu. Tak lama, dering ponsel Bara terdengar, lelaki itu hanya menilik lalu memilih mengabai, mengamati sampai dering berakhir dengan sendirinya.

Tidak ingin terjebak situasi yang tidak enak, di mana Bara benar-benar tampak gelisah dan sepertinya mempunyai masalah, aku pun berdeham.

"Saya ... pamit dulu, Pak Bara. Saya harus bertugas," pamit dokter wanita cantik itu.

Pandangan Bars yang tadinya mengarah ke ponselnya beralih pada dokter itu. Ia mengangguk menanggapi. "Silakan, Bu Dokter," ucap Bara.

"Ya, cepat sembuh. Assalamualaikum."

"Aamiin. Waalaikum salam."

Dokter wanita itu meninggalkan ruang ini menuju ruangannya di lantai bawah. Sesampai poli, kudapati sudah ada beberapa pasien yang mengantre. Dokter itu mengangguk sebelum masuk ruangan.

Di dalam ada asisten dokter yang membantunya tengah menyiapkan dan menata alat-alat penunjang. Juga ada seorang lelaki.

"Hai," sapanya yang bangkit dari duduk di depan meja kerjaku.

"Hai," sapa ku. Lelaki tersenyum.

"Ditunggu Dokter Azlan dari tadi, Dok," ucap Yuna asisten dokter wanita sembari tersenyum.

"Kamu mau konsultasi apa, Azlan ? Perihal Gizi?" tanyanya sembari duduk, merapikan meja, memindahkan beberapa map ke sisi lain.

Dari ekor mata, dokter yang memakai snelli itu tertawa kecil. "Ini." Sesuatu Azlan letakkan di meja lalu menggeser ke hadapannya .

Gerakan tangannya terhenti, menatap sebuah kotak berukuran kurang lebih 10×9 senti. "Apa ini?" tanya dokter wanita.

"Open it!"

Dokter meraih kotak itu, membuka lalu melihat sebuah jam tangan merk ternama, yang harganya jangan ditanya berapa, pun untuk mendapatkannya harus memesan jauh-jauh hari. "Azlan , ini--"

"Yes. Just for you."

"Kamu -"

"Bintang . Jangan tanya kenapa. Untuk hari ini hanya itu yang bisa kuberikan."

Suasana mendadak hening, beberapa saat sempat terpecah saat Hanggini berpamit mengecek daftar pasien di luar. Setelah itu hening lagi.

"Azlan , sudah jam-nya aku bertugas, pasienku menunggu." Dokter wanita itu mengalihkan pembicaraan.

"Wait. Beri aku kesempatan bicara." Azlan menarik napas dalam. "Aku berharap segera tiba waktunya memberi hadiah yang bagiku sangat berarti. Di mana aku bisa memberikan cincin bukti--"

"Azlan . Udah, ini bukan waktunya bahas hal seperti itu."

"Aku bukan anak Kiai, Bin. Ayahku orang Semarang, Ibuku dari Jerman. Mungkin itu salah satu alasanmu tidak bisa menerimaku sampai hari ini."

"Bukan, Azlan . Aku juga bukan anak Kiai. Kamu tahu itu. Aku hanya anak seorang perempuan yang berhasil mendirikan pesantren dengan jerih payahnya sendiri, dengan keringat dan kekuatan tanpa siapa-siapa yang mendukung."

Azlan mengangguk, sedang aku langsung menunduk, merasai sesuatu di pelupuk hampir luruh. Dada dokter itu mendadak serasa menyempit hingga susah bernapas. Ingat perjuangan Ibu untuk sampai di titik ini.

Ini tidak seperti kisah Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso dan Candi Prambanannya yang bisa dibangun dalam satu malam. Butuh waktu nyaris 20 tahun bagi Ibu benar-benar melihat impiannya terwujud, mendirikan bangunan yang awalnya hanya musala tempat anak-anak mengaji berubah menjadi Pondok Pesantren Darussolah. Berbekal harta warisan kakek nenek, dan gaji yang dulunya beliau pernah menjadi seorang dosen Ibu berusaha.

Pesantren itu memang tidak besar, tidak banyak pula santrinya, sekitar 150 orang, putra dan putri, tapi setidaknya tempat itu alasan Ibu tetap bisa tersenyum sampai hari ini. Ganti dari Allah untuk kesabaran dan keikhlasan yang belum bisa kucontoh sampai hari ini.

"Bintang ." Panggilan Azlan terdengar. Aku lekas menyeka buliran air mata di pipi. "Maaf sudah membuatmu bersedih."

"Ya, tidak apa, Azlan ," sahut Bintang tanpa menatapnya.

"Aku masih menunggumu terbuka, Bin. Membagi alasan apa yang membuatmu bersedih seperti ini."

"Terima kasih, Azlan "

Tampak Azlan bangkit dari duduknya, ia mengucap salam sebelum meninggalkan ruangan ini. Bintang menatap punggung Azlan yang kemudian menghilang di balik pintu.

Bintang menghela napas, memejam sesaat merutuk diri. Sampai kapan aku akan seperti ini? Aku wanita normal, yang juga bisa merasai suka pada seseorang, tapi kenapa semuanya tertahan saat trauma itu datang? Seketika melebur semua dan berakhir pada sebuah kata 'pengkhianatan'.

Aku yang melihat semuanya itu tersenyum dan ada kesedihan mendalam pada dokter wanita itu.

Aku pun melanjutkan menengok Bara, dan membicarakan tentang penyelidikannya tentang sang bos mafia, Bara tertembak dan Ingin segera bertugas kembali, namun aku melarangnya untuk beristirahat dulu sampai keadaannya membaik.

Bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95EVS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95EVS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARANJO
8.1
Aranjo, dewi muda keturunan iblis, harus menjalani hukuman sepuluh kehidupan fana demi melewati bencana cinta. Meski tumbuh di alam langit, ia terus dikucilkan dan dijebak oleh ibu tiri serta saudarinya. Namun, Kaisar Langit memiliki rencana terselubung di balik sanksi ini. Sang Kaisar ingin Aranjo kehilangan perasaannya agar bisa meraih kekuatan absolut sebagai Dewi Agung. Akankah takdir berjalan sesuai ambisi sang penguasa, atau justru sebaliknya?
Sampul Novel Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya
8.9
Pasca kematian sang ayah oleh Rufus Black, Calista Kaz menyadari warisan darah penyihir dan psikokinesis dalam dirinya. Bersama Brisa, Ness, dan Darren, ia menuju Lembah Crystal demi memenuhi ramalan sebagai pembangkit naga. Namun, kegagalan Calista justru membuat lembah itu hancur diserang Zorca. Kini, di tengah perlindungan bangsa Elf Amorilla, Calista harus berjuang membangkitkan roh Arkhataya demi memenangkan pertempuran terakhir sekaligus mengurai kisah cintanya.
Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh kini memegang misi baru sebagai pelindung seorang ilmuwan jenius. Keselamatan sang ilmuwan terancam setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang sangat krusial. Namun, di tengah situasi berbahaya yang mengintai nyawa mereka, benih-benih asmara justru mulai tumbuh. Pertemuan intens ini memaksa sang gadis menghadapi konflik batin saat perasaan profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam.
Sampul Novel Dimanja Suami Psikopat
8.8
Menikah dengan pria penderita sindrom XYY membuat hidupku penuh obsesi. Setelah dipaksa menikah melalui ancaman, suamiku yang miliarder memasang cip pelacak di tubuhku, namun ia juga sangat memanjakanku tanpa ragu menyingkirkan siapa pun yang menggangguku, termasuk keluarganya sendiri. Demi mendapatkan bayi yang sehat, ia bahkan mendanai teknologi medis khusus. Namun, saat kehamilanku terwujud, ibu mertuaku memfitnahku berselingkuh dan menyiksaku hingga sekarat tepat sebelum suamiku tiba.
Sampul Novel My Sweetheart is Nerd?
9.6
Shenia Ereshva, putri konglomerat, diam-diam terlibat dalam geng motor yang menentang shadow economy. Ia jatuh hati pada Rafka, pemuda genius korban perundungan, dan bertekad memenangkan hatinya. Namun, Rafka ternyata menyimpan rahasia serupa sebagai anggota geng motor. Keduanya pun dipertemukan kembali dalam misi besar untuk menjatuhkan organisasi R Black yang sangat kuat. Di tengah tumpukan rahasia ini, mampukah cinta mereka bertahan tanpa mengancam misi?
Sampul Novel Pendekar Pedang Terhebat
9.1
Zero, bocah yatim piatu berusia sepuluh tahun, kerap dirundung karena ambisinya menjadi pendekar pedang hebat meski kemampuannya sangat buruk. Statusnya yang misterius di bawah asuhan Master Pedang juga memicu rasa iri kawan-kawannya. Namun, semangatnya terbakar hebat setelah mengetahui bahwa sang ayah ternyata adalah salah satu pendekar legendaris. Kini, Zero harus membuktikan kekuatannya melewati berbagai rintangan demi meraih gelar tertinggi tersebut.