
Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum
Bab 2
Pagi itu matahari terbit dengan cahaya pucat, menembus celah pepohonan di pinggiran kota kecil bernama Caldera. Udara dingin menusuk tulang, dan aroma tanah basah memenuhi udara. Di antara semak belukar, seorang perempuan berjalan tertatih sambil memeluk perutnya yang besar. Langkahnya lemah, setiap gerakannya penuh perjuangan. Dialah Liana Ardelia - perempuan yang seharusnya sudah tidak bernyawa jika saja takdir sedikit lebih kejam.
Tiga hari lalu, ia berhasil kabur dari rumah Revan setelah diselamatkan oleh seorang wanita tua penjaga toko roti yang iba padanya. Namanya Ibu Maren - sosok yang tak tahu apa-apa tentang masa lalu Liana, tapi cukup punya hati untuk menolong. Liana dibawa ke gubuk tua di belakang toko, diberi makanan seadanya dan tempat untuk beristirahat. Namun kini, kontraksi mulai datang. Bayi dalam kandungannya menuntut untuk lahir, sementara tubuhnya nyaris tak kuat lagi menahan sakit.
"Aku mohon, tunggu sedikit lagi," bisiknya pada bayi di perutnya. Nafasnya berat, keringat membasahi kening. Ia menatap langit, berharap bantuan datang. Tapi yang terdengar hanya suara angin dan burung gagak di kejauhan.
Ketika rasa sakit itu makin hebat, Liana jatuh berlutut di tanah berlumpur. Dunia di sekitarnya berputar. Ia berusaha menahan teriakan, tapi air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Tuhan... tolong aku," lirihnya.
Dan seolah doa itu didengar, langkah kaki mendekat. Ibu Maren muncul dari balik pepohonan, wajahnya panik. "Astaga, Liana! Kau di sini rupanya!" teriaknya. Ia berlari menghampiri, membantu Liana berdiri. "Cepat, kau akan melahirkan!"
Beberapa menit kemudian, Liana sudah berbaring di atas kasur jerami di dalam gubuk kayu. Ibu Maren menyiapkan air hangat dan kain bersih, sementara Liana berjuang di antara hidup dan mati. Teriakannya menggema, bercampur dengan suara hujan yang mulai turun lagi di luar.
Setelah sekian lama berjuang, tangisan bayi pecah memecah udara. Liana menangis bersamaan. "Anak laki-laki," bisik Ibu Maren sambil tersenyum haru. "Dia sehat, Liana. Lihatlah, anakmu cantik."
Liana meraih bayinya dengan tangan gemetar. Tubuh mungil itu dibalut kain putih. Wajahnya tenang, matanya tertutup, tapi di pipinya ada lekuk yang membuat dada Liana sesak. "Halo... Nak," bisiknya. "Aku ibumu."
Tangannya membelai kepala bayi itu, lembut dan penuh cinta. "Aku janji, aku akan melindungimu. Tidak ada seorang pun yang akan menyentuhmu seperti mereka menyakitiku."
Namun janji itu baru diucapkan beberapa menit sebelum kenyataan kembali mengguncang. Dari kejauhan, suara deru mobil terdengar mendekat cepat. Liana langsung tegang. Nalurinya berkata bahaya sedang datang.
Ibu Maren menatap keluar jendela kecil. "Ada dua mobil hitam... mereka menuju ke sini!" katanya dengan nada panik.
Liana memeluk bayi itu erat. "Mereka menemukanku," suaranya parau. "Tolong, Bu... sembunyikan kami."
Tanpa banyak bicara, Ibu Maren membuka lantai papan di sudut ruangan, memperlihatkan ruang bawah tanah kecil. "Masuklah. Cepat!"
Liana turun dengan susah payah sambil memegang bayinya. Begitu pintu ditutup, ia hanya bisa mendengar langkah-langkah kasar dan suara pintu depan yang ditendang terbuka.
"Cari dia!" Suara berat seorang pria menggema dari atas. "Bos bilang perempuan itu masih hidup!"
Liana menahan napas. Bayinya menggeliat kecil, hampir menangis. Ia menggigit bibir, menimang anaknya pelan agar diam. Langkah-langkah di atas makin mendekat, dan suara perabot dilempar berserakan. Ibu Maren berusaha bicara dengan nada datar, berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Tidak ada siapa-siapa di sini," katanya. "Cuma aku dan toko roti tua."
"Bohong!" suara itu menggelegar. "Kami tahu dia disembunyikan di sini."
Beberapa detik kemudian, papan lantai di atas kepala Liana diguncang. Ia menutup mata, berdoa dalam hati agar mereka tidak membuka papan itu. Dalam keheningan yang menegangkan itu, waktu terasa berhenti.
Namun keajaiban kecil terjadi. Salah satu pria berteriak dari luar, "Bos! Kami menemukan jejak darah ke arah sungai!"
Pemimpin kelompok itu segera keluar, meninggalkan gubuk dengan cepat. Langkah-langkah mereka menghilang, disusul suara mesin mobil menjauh.
Liana menangis terisak, memeluk anaknya erat. "Kita selamat, Nak... untuk sekarang."
Dua hari kemudian, Liana memutuskan untuk pergi dari Caldera. Ia tahu mereka akan kembali. Dengan bantuan Ibu Maren, ia mendapatkan pakaian baru dan sedikit uang hasil tabungan tua itu. "Pergilah ke kota barat," kata Ibu Maren sambil menggenggam tangan Liana. "Ada biara kecil di sana. Mereka akan menolongmu. Jangan sebutkan nama siapa pun."
"Terima kasih, Bu Maren. Saya berhutang nyawa pada Ibu," ujar Liana pelan.
"Yang penting, jaga bayi itu," jawab perempuan tua itu lirih. "Aku tidak tahu siapa ayahnya, tapi dari cara kau menjaganya, aku tahu anak ini akan tumbuh menjadi orang besar."
Liana mengangguk, memeluk wanita itu sekali lagi, lalu berjalan pergi dengan langkah pelan tapi tegas. Bayi kecilnya tidur di dekapan, wajahnya damai meski dunia di luar begitu kejam.
Di sisi lain, jauh dari ketenangan Caldera, Dominic Valente duduk di ruang kerjanya dengan wajah kelam. Di meja, ada foto lusuh seorang perempuan dengan mata sedih - Liana. Tangannya mengepal kuat. Selama dua bulan, ia telah mengerahkan semua jaringan bawah tanah untuk mencarinya. Setiap kaki lima kota, setiap rumah sakit, setiap tempat persembunyian, sudah diperiksa. Tapi hasilnya nihil.
"Bos," suara anak buahnya memecah lamunan. "Kami menemukan sesuatu."
Dominic mendongak cepat. "Apa?"
Pria itu menyerahkan map cokelat. "Seorang saksi di daerah Caldera mengaku melihat wanita mirip Liana bersama seorang bayi. Tapi mereka menghilang setelah sekelompok orang mencarinya."
Dominic berdiri, matanya menyipit. "Kelompok siapa?"
"Kemungkinan besar orang-orang Revan."
Nama itu membuat rahangnya mengeras. "Revan," gumamnya pelan tapi mematikan. "Si bangsat itu masih hidup?"
"Ya, Bos. Kami melacaknya. Dia sekarang bersembunyi di pelabuhan timur, di bawah perlindungan kartel kecil."
Dominic berdiri tegak. Aura kemarahan menyelimuti ruangan. "Siapkan pesawat malam ini. Kita ke sana."
Anak buahnya menelan ludah. "Bos... pelabuhan itu dijaga oleh polisi dan beberapa sindikat lokal."
Dominic memandangnya datar. "Apakah aku pernah peduli?"
Tak ada yang berani menjawab.
Sementara itu, Liana tiba di biara tua di tepi kota barat. Bangunannya sederhana, berdinding batu abu-abu dengan halaman penuh bunga liar. Di sana, para suster menerima Liana dengan ramah setelah ia memohon perlindungan. Ia diperkenankan tinggal di kamar kecil di belakang biara, bekerja membantu di dapur sebagai balasannya.
Hari-hari di biara terasa damai. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan hidup dalam ketakutan, Liana bisa bernapas lega. Ia menamai anaknya Adrian - nama yang berarti "kuat dalam badai".
Setiap kali menatap mata bayi itu, Liana merasa seolah menatap sebagian dari Dominic. Tatapan tajam itu, bentuk wajahnya, bahkan caranya tersenyum saat tidur - semuanya mengingatkan pada lelaki itu. Kadang, di malam yang sunyi, ia duduk di dekat jendela, memandangi langit, dan berbisik, "Kalau kau masih hidup, aku ingin kau tahu... anakmu ada di sini, Dominic. Dia kuat, seperti kau."
Namun di dunia lain, Dominic sedang membakar kota demi mencari mereka.
Pelabuhan timur malam itu dipenuhi api. Jeritan, suara tembakan, dan bau mesiu bercampur di udara. Dominic berjalan di antara reruntuhan gudang, tubuhnya berlumur darah musuh. Revan berusaha melarikan diri lewat kapal kecil, tapi dua anak buah Dominic sudah menangkapnya.
Lelaki pengecut itu dipaksa berlutut di depan Dominic. "Valente, kumohon... aku tidak tahu dia di mana! Aku benar-benar tidak tahu!" teriaknya panik.
Dominic menatapnya tanpa emosi. "Kau menjual istrimu. Kau memukulnya. Kau membuatnya kabur sambil hamil. Dan sekarang kau bilang tidak tahu?"
"Aku... aku menyesal," Revan tergagap. "Aku hanya butuh uang, aku-"
Dominic menembak kaki Revan tanpa ragu. Suara tembakan memecah udara, disusul jeritan nyaring. "Itu bukan jawaban yang kuinginkan," katanya dingin.
Revan menangis. "Aku bersumpah! Aku tidak tahu! Ibuku... dia yang menyembunyikannya!"
Dominic mendekat, mencengkeram kerah bajunya. "Kalau begitu, kau akan kubiarkan hidup. Tapi jika aku tahu kau berbohong, aku akan pastikan kau mati dengan cara yang bahkan iblis pun takut melihatnya."
Ia melempar Revan ke anak buahnya. "Bawa dia. Pastikan ibunya bicara."
Malam itu, Dominic menghapus satu keluarga dari muka bumi. Tapi Liana tetap tak ditemukan.
Waktu berjalan. Tiga bulan berlalu. Liana hidup tenang di biara. Adrian tumbuh cepat, matanya sudah bisa mengikuti cahaya, tangisnya makin keras. Liana belajar menulis dan membantu para suster membuat roti. Ia mulai belajar tersenyum lagi, meski masih menyimpan luka di hati.
Sampai suatu hari, seorang tamu datang ke biara. Lelaki berjas hitam, bertubuh tinggi, dengan tatapan tajam. Ia memperkenalkan diri sebagai Eros, orang yang katanya mencari perlindungan dari kelompok jahat. Para suster menerimanya tanpa curiga, tapi Liana merasa aneh sejak pertama kali menatap matanya. Ada sesuatu yang dingin di sana - sesuatu yang ia kenal dari masa lalunya.
Malamnya, Eros diam-diam memperhatikan Liana menyusui Adrian di dapur. Tatapannya penuh perhitungan. Setelah beberapa hari, barulah topengnya terbuka. Ia adalah salah satu mata-mata yang bekerja untuk kelompok Revan sebelum hancur. Ia menemukan keberadaan Liana melalui rumor di Caldera dan ingin menjual informasi itu - pada siapa pun yang berani membayar paling tinggi.
Namun keberuntungan berpihak pada Liana kali ini. Suster Agnes, kepala biara yang bijaksana, mencurigai gerak-gerik Eros dan melaporkannya pada pihak luar. Sebelum ia sempat mengirim kabar, Dominic sendiri sudah mengendus keberadaan orang itu.
Sore itu, ketika Eros mencoba melarikan diri dari biara sambil membawa potret Liana dan Adrian, ia mendapati jalan keluar sudah dipenuhi pria bersenjata. Dominic berdiri di depan, wajahnya dingin seperti batu.
"Sudah lama aku mencarimu," katanya pelan.
Eros gemetar. "Bos Valente... aku hanya ingin-"
Satu peluru menembus dadanya sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat. Dominic berjalan pelan ke tubuh yang terjatuh, mengambil foto yang masih digenggamnya.
Dan di sana, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia melihat wajah Liana memeluk bayi kecil.
Dominic terdiam lama. Matanya bergetar, napasnya tersendat. Ia menatap foto itu seperti menemukan kembali separuh hidupnya yang hilang. "Dia hidup," gumamnya, nyaris tak percaya. "Dia benar-benar hidup..."
Hari-hari berikutnya menjadi badai baru. Dominic mengerahkan seluruh jaringan internasionalnya untuk menuju kota barat. Ia tidak peduli siapa yang menghalangi. Para suster yang menjaga biara mendapati rombongan bersenjata datang mendadak, memeriksa setiap ruangan. Liana yang saat itu sedang menidurkan Adrian di halaman belakang, merasakan firasat aneh.
Langkah berat mendekat. Suara teriakan dalam bahasa asing terdengar. Para suster panik, mencoba menenangkan semua orang. Liana segera berlari ke hutan kecil di belakang biara, membungkus bayinya dengan selimut tebal.
Namun sebelum ia sempat jauh, sebuah suara berat memanggil dari kejauhan.
"Liana!"
Langkahnya berhenti. Suara itu - ia mengenalnya. Dada Liana berdegup kencang. Ia berbalik, dan di antara kabut sore, berdiri sosok lelaki yang selama ini menghantui pikirannya.
Dominic Valente.
Ia tampak berbeda: lebih kurus, wajahnya keras, matanya penuh kelelahan. Tapi tatapan itu masih sama. Tatapan yang dulu menembus relung jiwanya.
"Dominic..." suaranya nyaris tak keluar.
Pria itu melangkah mendekat perlahan. Di belakangnya, anak buahnya menjaga jarak. "Aku sudah mencari ke setiap sudut dunia," katanya pelan. "Dan sekarang kau di sini."
Liana menatapnya dengan campuran bahagia dan takut. "Kau... bagaimana kau tahu aku di sini?"
Dominic mengangkat foto dari sakunya. "Aku tidak pernah berhenti mencari."
Udara di antara mereka terasa berat. Liana ingin berlari ke pelukannya, tapi sesuatu di dalam dirinya menahan. Terlalu banyak luka, terlalu banyak kehilangan.
"Kau datang terlambat, Dominic," katanya akhirnya. "Aku sudah tidak sama."
Dominic terdiam. Pandangannya turun ke bayi di pelukannya. Adrian membuka mata, menatapnya polos. Tatapan abu-abu kecil itu membuat Dominic nyaris tak bisa bernapas. Ia tahu tanpa perlu bertanya - anak itu miliknya.
"Dia... anak kita?" suaranya bergetar untuk pertama kalinya.
Liana menatapnya lama sebelum mengangguk pelan. "Ya."
Dominic menatap bayi itu lama, lalu menatap Liana lagi. Ada ribuan kata di matanya, tapi tak satu pun keluar. Hanya air mata tipis yang menetes di sudut mata lelaki yang konon tak pernah menangis.
"Aku janji, Liana," katanya dengan suara dalam. "Kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kalian."
Namun di antara janji itu, Liana tahu satu hal - cinta dengan dunia sekejam Dominic bukan cinta yang damai. Ia memeluk anaknya erat, menatap lelaki di depannya dengan getir.
"Kau datang membawa perlindungan... atau badai baru?"
Dominic tidak menjawab. Angin berembus pelan di antara mereka, membawa sisa hujan dan masa lalu yang belum usai.
Dan di sanalah, dua jiwa yang pernah dipisahkan oleh dosa bertemu kembali - bukan untuk berakhir, tapi untuk memulai babak baru dari cerita yang jauh lebih berbahaya.
Anda Mungkin Juga Suka





