
Pendekar Petualang Cinta
Bab 2
Dalam pikiran si gadis bertanya-tanya. Namun, dia sudah menduga sesuatu. Mendadak saja sikapnya tampak ketakutan. Sementara Anjasmara sudah paham dengan apa yang lihatnya.
"Benar, kan? Gadis itu dijual dan kemungkinan akan dijadikan wanita penghibur," batin Anjasmara.
Dia harus bertindak menyelamatkan gadis itu dan gadis-gadis sebelumnya yang dijadikan tumbal. Lalu dia segera turun dan mendarat di halaman rumah itu.
Kemudian Anjasmara masuk ke rumah itu lewat pintu depan. Kehadirannya yang tiba-tiba, sangat mengejutkan seisi rumah. Bagaimana tidak, tak ada satu pun yang mengenal si pemuda.
"Siapa kau?" Dewi Gedeng Permoni langsung berdiri dengan mimik permusuhan bahkan sudah siap melancarkan serangan.
"Aku Dewa Gedeng Permoni yang akan menyelamatkan dia dan mengirim kalian ke neraka!" Anjasmara asal menyebut nama dengan maksud menakuti sambil menunjuk si gadis.
"Lancang!" maki Dewi Gedeng Permoni menatap tajam seraya berkelebat ke depan sambil melepaskan satu pukulan tapak.
Tenaga dalamnya cukup besar. Serangannya ini membawa segelombang angin cukup kuat.
Anjasmara diam menanti datangnya serangan. Tatapannya menembus bola mata wanita berpakaian mewah itu.
Seketika jantung Dewi Gedeng Permoni berdesir mendapat tatapan setajam itu. Apalagi memandang postur si pemuda yang ternyata menggoda jiwa. Sesuatu dalam lubuk hatinya tiba-tiba meronta kuat.
Sudah terkesima tambah terkejut lagi karena tiba-tiba musuhnya menghilang tak berbekas, Anjasmara menggunakan Ilmu yang bernama Raga Angin.
Dewi Gedeng Permoni mendapati tempat kosong. Bahkan dia tak bisa menahan laju tubuhnya hingga terdorong ke depan.
Dirinya hampir menubruk sebuah pohon kalau tidak segera mengimbangi diri. Dewi Kalahenget memutar badan, mencari-cari Anjasmara, tapi tidak menemukan juga.
"Siapa orang itu, kenapa tiba-tiba saja ada di sini?"
Sementara itu tiga lelaki berpakaian bangsawan hendak menangkap gadis bernama Wuni. Namun, mereka langsung terpental menghantam dinding sebelum bisa menyentuh si gadis.
Mereka hanya orang biasa yang tidak memiliki kepandaian silat. Tendangan yang dilepaskan Anjasmara membuat perut mereka terasa sangat mual. Jeroan mereka seperti hancur.
Ketiganya jatuh bergulingan di lantai susah bergerak karena kesakitan dan napas sesak. Bahkan untuk menjerit pun tidak bisa.
"Kalian jangan kabur!" seru Anjasmara yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Kemudian dia berbalik mengejar Dewi Gedeng Permoni yang kini berada di luar rumah. Wanita itu tampak kebingungan.
Seandainya Anjasmara manusia biasa yang dapat disentuh mungkin dia masih bisa melawan, tapi melihat sosok pemuda yang tidak bisa disentuh itu membuat pikirannya benar-benar menyangka dia sedang berhadapan dengan dewa.
"Sudah saatnya aku menghentikanmu!"
Dewi Gedeng Permoni kaget mendapati Anjasmara hendak menyerangnya. Dia segera siapkan ilmu andalannya.
Wanita ini masih penasaran dengan Anjasmara. Benarkah dia dewa yang turun ke bumi.
Pertarungan pun terjadi, tetapi hanya beberapa jurus saja. Karena Anjasmara langsung menguasai.
Ternyata Dewi Gedeng Permoni bukanlah lawan yang berat baginya. Tidak seperti namanya yang mirip tokoh sakti dalam pewayangan.
Sementara Dewi Gedeng Permoni, mendapati lawan yang lebih tangguh segara saja dia bergerak mundur lalu berbalik cepat.
Dia sudah merasakan hawa sakti si pemuda sangat kuat dan menyimpulkan dia tidak akan bisa melawan Anjasmara.
Anjasmara tahu wanita ini hendak kabur. Sebelum itu terjadi, si pemuda segera berkelebat menghadang.
Dua tangannya yang seperti sedang mendorong secara tidak sengaja menyentuh sepasang gundukan gunung kembar milik Dewi Gedeng Permoni yang tak bisa menghentikan laju gerak tubuhnya.
"Eh!"
Anjasmara terkesiap, tapi sudah terlanjur. Wajah Dewi Gedeng Permoni memerah. Tubuhnya bergetar.
Wanita itu seperti menjadi orang linglung. Pesona Anjasmara membuat pikirannya melayang.
Sentuhan tangan yang tidak sengaja itu membuatnya merasakan sesuatu yang sudah lama tak dia dapatkan.
Akhirnya Anjasmara segera melepaskan telapak tangannya yang menempel ke gundukan indah milik wanita itu.
Dewi Gedeng Permoni terhuyung kehilangan tenaga lalu roboh dengan ekspresi yang aneh. Dia seperti kehilangan kekuatannya. Tubuhnya lemah. Apa yang terjadi padanya? Pikiranya antara sadar dan tidak.
Padahal Anjasmara tidak menggunakan ilmu apa pun saat menyentuh gunung kembar itu. Sifat angkuh yang ditunjukkan Dewi Gedeng Permoni sebelumnya seketika lenyap berganti menjadi wanita yang merasakan hidup hampa.
Anjasmara menghampiri Wuni yang masih tampak ketakutan. Dia menyuruh gadis itu pulang dan membawa warga desa ke bukit ini untuk menangkap orang-orang yang telah menipu warga selama setahun ini.
"Dewi Gedeng Permoni bukan siluman atau manusia setengah siluman. Dia manusia biasa. Gadis-gadis yang telah dijadikan persembahan aslinya dijual dijadikan wanita penghibur,"
Begitulah Anjasmara meyakinkan Wuni agar berani mengungkapkan kebenarannya. Tiga lelaki yang sedianya akan membawa Wuni itu diikat jadi satu di sebuah pohon.
Kemudian Anjasmara menggendong Dewi Gedeng Permoni yang terbaring lemah ke dalam rumah. Wanita itu dibaringkan di lantai kayu yang sudah mengkilap.
Dewi Gedeng Permoni yang masih setengah sadar merasakan tatapan lembut pemuda gagah itu.
Bahkan senyum Anjasmara menyeruak mengobrak-abrik sanubari sang Dewi. Seketika kesadarannya pulih.
Debaran jantung wanita dewasa yang bertubuh molek ini bagaikan menghentak hendak menembus keluar tatkala wajah Anjasmara begitu dekat dan merasakan hembusan napasnya.
Dewi Gedeng Permoni sudah lupa segalanya. Saat ini dia menginginkan sentuhan yang sudah lama tak ia nikmati. Sampai-sampai lirih suaranya mendesah pelan.
Bagaimana tidak, karena saat itu tangan Anjasmara sudah menyusup ke balik kemben yang kini longgar dan meraba sesuatu yang kenyal di dalamnya.
Si pemuda terkesiap sekejap mendapati buah bulat yang begitu kencang dan tegang, tapi selanjutnya dia malah menikmati bahkan meremas agak lebih keras membuat wanita bertubuh sintal ini merintih keenakan.
Rupanya Anjasmara tidak tahan melihat tubuh indah Dewi Gedeng Permoni sejak tidak sengaja menyentuh buah montoknya.
Sintal, sepasang gunung yang besar. Lebih besar dari wanita yang pernah dia temui sebelumnya.
Padahal usia Dewi Gedeng Permoni jauh lebih tua, tapi lekuk tubuhnya masih menggoda. Kulit mulus dan kencang.
Wanita itu menggelinjang kegelian. Bahkan kedua tangannya bergerak menarik punggung Anjasmara sehingga pemuda ini menindih tubuhnya.
Kembennya telah terlepas begitu saja sehingga bagian atas tubuhnya terpampang bebas tanpa penghalang.
Anjasmara mengatur perasaannya. Kulit tubuh Dewi Gedeng Permoni memberikan sensasi nikmat yang beda. Apalagi dua bulatan yang mengganjal di dada.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu," bisik Anjasmara di telinga Dewi Gedeng Permoni sambil memeluk erat tubuh wanita tersebut sampai agak sesak napasnya. "Asalkan kau memenuhi permintaanku!" Lalu menghembuskan napasnya ke leher wanita itu.
"Apapun permintaanmu... Ahhh!... Aku akan berikan... Owh!"
Dewi Gedeng Permoni merasakan sensasi yang tak tergambarkan ketika menerima hembusan napas dan sentuhan yang membuat urat-uratnya menegang.
Secara refleks tangannya menarik pakaian yang melekat di bagian bawahnya sehingga terlepas dan tubuhnya polos tanpa sehelai benang.
Anda Mungkin Juga Suka





