Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pendekar Kembara Semesta Seri 2

Pendekar Kembara Semesta Seri 2

Suro Joyo kembali memulai perjalanannya melintasi semesta. Usai menaklukkan Putri Siluman Alas Waru, sang pendekar justru terjebak dalam pergolakan politik di Kerajaan Karangtirta. Selain harus meredam pemberontakan, ia dituntut menghadapi ancaman bajak laut Selat Utara yang ganas. Bebannya kian berat saat harus menolong Ayumanis di Penginapan Melati Jingga, hingga akhirnya ia dihadang Sanggariwut, jawara tangguh pemilik Jurus Ular Api Neraka yang mematikan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tunggulsaka merenungi kenyataan yang terjadi di kota kerajaan. Ternyata ada mata-mata yang tinggal di wilayah dekat istana. Hal itu tak pernah dia duga sebelumnya. Bahkan tidak pernah terlintas sedikit saja tentang adanya mata-mata yang ada di jantung Kota Kerajaan Karangtirta.

Keberadaan mata-mata di dekat Istana Kerajaan Karangtirta sangat membahayakan bagi kelangsungan kekuasaan Raja Tiyasa. Adanya mata-mata, maka gerak apa pun yang akan dilakukan pihak Kerajaan Karangtirta bisa diketahui para pemberontak.

Olengpati sebagai pimpinan perampok yang menjalin hubungan rahasia dengan para pemberontak sangat diuntungkan dengan mata-mata ini. Mereka bisa leluasa bergerak di luar sana untuk mengacau. Kalau pihak Kerajaan Karangtirta akan menumpas, Olengpati dan gerombolannya bisa menahan dan menghancurkannya.

Brengsek! Ternyata ada mata-mata bagi perampok dan pemberontak. Rutuk Tunggulsaka dalam hati. Kalau aku bisa menemukan, maka aku sendiri yang akan memenggal kepalanya! Hanya ada satu hukuman paling tepat untuk pengkhianat. Hukuman mati!

”Senapati Tunggulsaka tidak tak usah mencari-cari siapa mata-mata yang kutanam di kota Kerajaan Karangtirta! Karena sebentar lagi kalian semua akan kutumpas habis sampai tak tersisa!” sesumbar Olengpati merasa telah berada di atas angin.

Tunggulsaka tak menggubris ejekan Olengpati. Sebagai seorang senapati yang telah kenyang makan asam garam pertempuran, kata-kata menekan seperti itu sudah biasa dia dengar dari musuhnya. Kata-kata bualan itu hanya untuk menjatuhkan mental lawan.

Namun Olengpati salah menakut-nakuti orang. Senapati Tunggulsaka kebal terhadap kata-kata gertakan semacam itu. Bagi Tunggulsaka, sesumbar loo itu hanya angin lalu yang tidak perlu dimasukkan ke dalam hati.

Olengpati ini satu-satunya sisa Gerombolan Iblis Barong. Tunggulsaka membatin. Dulu aku pernah mendengar selentingan kabar tentang gerombolan itu . Gerombolanitu itu mempunyai hubungan akrab dengan seorang punggawa Kerajaan Karangtirta. Walau kabar itu masih kabar burung, tetapi dengan adanya pengakuan Olengpati tadi berarti kuat dugaan kabar itu benar. Kemungkinan besar, ada punggawa Kerajaan Karangtirta yang menjalin hubungan rahasia dengan gerombolan Olengpati.

”Heh..., aku sekarang sudah tahu, siapa orang yang menjalin hubungan denganmu di kota Kerajaan Karangtirta,” kata Tunggulsaka dengan nada sinis dan senyum mengejek. ”Agaknya kalian telah menjalin hubungan sejak lama. Sejak Gerombolan Iblis Barong masih utuh. Karena hubungan kalian saling menguntungkan, maka kau meneruskan hubungan itu sampai sekarang. Walau keempat temanmu dalam Gerombolan Iblis Barong telah menjadi tanah dan tinggal tulang belulang!”

Tunggulsaka puas hatinya karena bisa mengungkapkan latar belakang Olengpati. Olengpati merasa tahu segalanya tentang Kerajaan Karangtirta. Tunggulsaka membalas dengan mengungkap latar belakang Olengpati, seolah-olah Tunggulsaka tahu segalanya tentang Olengpati!

Mata Olengpati terbelalak lebar. Tepatnya terbelalak lebar-lebar saking kagetnya. Dia kaget sekaligus marah. Kaget karena kemungkinan Tunggulsaka tepat dalam memberikan tebakan siapa orang yang bekerja sama dengan Olengpati selama ini. Kecerdasan otak senapati itu sungguh mengagumkan. Namun Olengpati merasa tersinggung dan marah karena Tunggulsaka menyebut keempat temannya yang sudah tewas itu ‘telah menjadi tanah dan tinggal tulang belulang’.

Tunggulsaka tersenyum simpul melihat kekagetan Olengpati. Benar-benar Olengpati kaget. Bahkan sangat kaget. Saking kagetnya, dia tak sempat menyembunyikan kekagetannya. Dari perubahan wajah Olengpati bisa diketahui kalau pimpinan perampok tersinggung. Bahan bisa saja dia marah. Namun Olengpati berusaha menahan kemarahannya.

”Senapati Tunggulsaka..., memang benar kamu senapati berotak cerdas,” Olengpati berkata sambil memandangi wajah Tunggulsaka. “Sayang sekali, kecerdasan otakmu tidak berguna saat ini. Sekarang ini, kecerdasan otakmu tidak bisa menolongmu dari kematian. Kamu dan prajuritmu tak bakalan lolos dari tanganku!”

Tunggulsaka kembali tersenyum. Dia merasa heran dengan orang-orang semacam Olengpati ini. Kata-kata gertakannya yang itu-itu saja. Gaya bicaranya seperti itu-itu terus. Bagi yang biasa mendengar gertakan kelas coro seperti itu pasti akan tersenyum. Bahkan malah bisa tertawa-tawa.

”Aku sudah tahu watakmu Olengpati. Selama hidupmu, kamu tak pernah bertarung secara jantan!” ejek Tunggulsaka. “Kamu bisanya hanya menggertak lawan dengan kata-kata yang mengancam. Hanya itu yang bisa kamu lakukan supaya kamu terlihat hebat di depan teman-teman atau anak buahmu.”

Tunggulsaka berjalan pelan mendekati Olengpati. Olengpati mundur beberapa langkah. Olengpati seperti waspada, mungkin juga takut kalau tiba-tiba diserang oleh Senapati Tunggulsaka. Olengpati tahu bahwa Tunggulsaka merupakan senapati andalan Kerajaan Karangtirta. Tunggulsaka dikenal sebagai senapati yang pilih tanding. Selain ilmu silatnya tinggi, juga ahli memainkan berbagai macam senjata. Pedang adalah senjata yang paling dia kuasai, sehingga ketika Tunggulsaka bertarung menggunakan pedang, senjata harus lebih waspada kalau tidak mau celaka.

“Hahaha…, ketahuan kan sekarang!” kata Tunggulsaka menyertai tawa ejekannya. “Beranimu hanya keroyokan dengan mengandalkan anak buah yang berjumlah banyak. Dengan nyalimu yang kecil kalau bertarung satu lawan satu dan jiwamu yang kerdil itu, mana mungkin mampu mengalahkan kami?”

Tubuh Olengpati bergetar menahan marah yang meluap-luap. Ejekan yang dilontarkan Tunggulsaka sangat manjur untuk memancing kemarahan Olengpati. Tunggulsaka tidak peduli ejekannya tadi sesuai dengan kenyataan atau tidak. Yang penting, tujuan utamanya untuk memancing rasa marah dari Olengpati, telah berhasil.

Akibat ejekan itu, Olengpati tidak bisa menahan kemarahan. Orang yang berada dalam kemarahan, nantinya tidak akan bisa bertarung secara baik. Dia pasti akan menyerang tanpa menggunakan pemikiran yang bersih. Ketika seseorang marah, akalnya kurang bisa berfungsi dengan baik.

Nah, saat seorang petarung dikuasai kemarahan, maka serangannya akan asal-asalan dan tidak terarah. Bila lawannya berada dalam keadaan seperti itu, Tunggulsaka berharap dapat memperolah keuntungan. Keuntungan yang diharapkan Tunggulsaka yaitu bisa keluar dari situasi yang menyulitkan dirinya sebagai senapati dan para prajuritnya yang masih tersisa.

“Tunggulsaka! Kamu jangan asal ngomong!” bentak Olengpati dengan suara bergetar. “Jelek-jelek begini aku pernah menjadi anggota andalan Gerombolan Iblis Barong! Kalau aku seorang pengecut, mana mungkin aku bisa bertahan hidup? Kamu berani menghinaku sama saja cari mati. Bangsat elek! Rupanya kamu ingin segera menemui ajalmu.”

Olengpati mengedarkan pandangan ke seluruh anak buahnya, ”Serbuuu...!”

Olengpati mencabut golok andalannya. Golok Wojogeni! Golok sakti yang terbuat dari baja yang menebarkan hawa panas ketika dicabut dari sarungnya. Dia bersama ratusan anak buahnya segera merangsek ke depan untuk menghabisi lawan!

Tunggulsaka dan anak buahnya menghadapi serangan lawan dengan segala kemampuan yang dimiliki. Namun karena kalah banyak, beberapa prajurit Karangtirta tewas dikeroyok anak buah Olengpati. Mereka tewas secara mengenaskan akibat tusukan golok-golok gerombolan Olengpati.

“Iblis laknat padha gegojekan,” umpat Tunggulsaka di dalam gumaman lirih. “Mereka berperang menggunakan cara ampyak-ampyak awur-awur. Mereka bertarung seperti tidak mengenal aturan. Mengeroyok lawan dengan biadab asalkan bisa menang!”

Melihat kematian para prajuritnya, senapati Karangtirta itu segera mencari akal. Dia saat ini sedang berhadapan dengan Olengpati. Kalau diukur dalam kepandaian memainkan senjata, Tunggulsaka merasa mampu mengalahkan lawan. Namun kalau diukur dalam jumlah anak buah, Olengpati lebih unggul.

Secara cepat Tunggulsaka bersalto melompati tubuh Olengpati. Kedua kaki Tunggulsaka menapak tepat di belakang Olengpati. Dengan gerak cepat pula, pedang Tunggulsaka tersebut menempel di leher Olengpati. Pedang menyilang di depan leher Olengpati. Tubuh Tunggulsaka berada di belakang pimpinan perampok itu. Gerakan kecil saja dari pedang di tangan Tunggulsaka bisa berakibat sangat buruk bagi Olengpati!

”Suruh anak buahmu mundur dan meninggalkan hutan ini!” perintah Tunggulsaka dengan nada lirih dan dingin. ”Kalau tidak mau menyuruh mereka mundur, kepalamu akan berada di telapak kakimu! Setelah itu, seluruh anggota gerombolan perampok itu akan kutumpas dengan pedangku, sendirian!”

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MFU" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MFU
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ADA DARAH DI DALAM AIR
8.8
Seorang pemuda bertekad menuntut balas atas kematian tragis ibunya yang dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri. Namun, targetnya bukanlah orang biasa, melainkan pemimpin MBR, organisasi mafia paling kuat dan ditakuti di seluruh Asia. Di tengah bayang-bayang kekuasaan besar sang ayah, mampukah ia menuntaskan dendam membara tersebut? Ataukah perlawanan nekat ini justru akan berbalik menjadi bumerang mematikan yang menghancurkan hidupnya selamanya?
Sampul Novel Destination Reveange
8.3
Jiang Shiqi kembali ke Kekaisaran Ming demi menuntut balas pada keluarga yang pernah mengadopsinya. Di tengah intrik kekuasaan, ia berhadapan dengan Xuan Ming, pangeran paling bengis dan kejam yang tak mengenal rasa bersalah. Meski Xuan Ming mencoba menahannya dengan paksa, Shiqi tetap teguh menolak cinta sang pangeran. Di malam pernikahan yang dingin, Shiqi justru meminta surat cerai dan bersumpah akan menghilang selamanya dari hidup pria jahat tersebut.
Sampul Novel Gerhana
9.6
Gerhana Putri Alam tak menyangka perselisihannya dengan preman garang bernama Tangguh Langit Ramadhan justru menumbuhkan benih cinta. Meski Tangguh bersikap dingin dan merasa tidak pantas bersanding dengan putri seorang jenderal, Gerhana tetap yakin ada perasaan tulus di balik sikap acuh tersebut. Tangguh bersikeras menepis kenyataan itu, namun Gerhana balik menggoda rahasia sang pria yang diam-diam sering menatap fotonya. Akankah perbedaan status menyatukan mereka?
Sampul Novel Hidden Tea
8.2
Saat menghadiri pesta di Negeri Suwarna, Putri Mahkota Manggalya menerima kabar duka atas wafatnya sang ayah. Karena takhta tak boleh kosong, Pangeran Rahagi yang berusia sepuluh tahun pun naik takhta menggantikannya. Sang Putri yang terpukul memilih mengasingkan diri demi menenangkan jiwa. Namun, di bawah kuasa raja muda yang baru, Manggalya justru berubah menjadi kerajaan agresif yang terus memperluas wilayah kekuasaannya secara membabi buta.
Sampul Novel Istri Penguasa Tak Terlihat
8.5
Hidup Roxelle Clementia Evelyn berubah total saat Hendrik Ou Gang mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris Ou Gang Grup. Setelah bertahun-tahun menderita akibat kemiskinan dan penghinaan, wanita Asia-Amerika ini ternyata cucu yang selama ini dikira telah tiada. Kehadirannya memicu ketegangan besar bagi Margarita dan Donna yang selama ini berkuasa. Mampukah Roxelle memimpin perusahaan finansial raksasa di Kota Luo dan menghadapi intrik keluarga tersebut?
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Damian Verano, bos mafia tangguh, nyaris tewas setelah dikhianati dalam perebutan wilayah. Terhanyut di sungai selama tiga hari, ia ditemukan oleh Alira, gadis desa berusia delapan belas tahun yang sangat sederhana. Meski Damian masih terbayang sosok Sierra, pesona polos Alira justru memicu getaran cinta yang tak terduga di hatinya. Akankah sang penguasa dunia bawah tanah yang kejam mampu bersatu dengan gadis dusun yang buta akan masa lalunya yang kelam?