Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pemuas Nafsu Sang Casanova

Pemuas Nafsu Sang Casanova

Aletta Casandra, gadis cantik dengan fisik sempurna, harus menghadapi kenyataan pahit saat pamannya sendiri menjadikannya sebagai alat penebus hutang. Masa mudanya hancur seketika saat ia dipaksa menjadi pemuas nafsu bagi Leonardo Pradungganegara. Leonardo adalah pengusaha muda ternama yang kaya raya namun memiliki kepribadian yang sangat kejam. Kini, Aletta terperangkap dalam kehidupan kelam sebagai budak dari pria berdarah bangsawan tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Berhentilah menagis!” bentak Leo dengan suara nayaring bak petir, membuat tubuh Aletta yang meringkuk di atas kasur  terperanjat.  

“Pakai bajumu cepat!” perntah Leo pada Aletta, lelaki itu sendiri dengan santainya memakai bajunya sendiri tanpa rasa malu sedikitpun.

 Aleta  mencoba bangkit namun area bawahnya sangat terasa nyeri, sampai ia mengeluarkan suara rintihan kesakitan. Leo yang menyadari itu  menghampiri Aletta.

“ Kenapa?” tanya Leo dengan suara datar.

“Sa-sakit Tuan.” Cicit Aleta pelan dengan kepala yang menunduk. 

Tangan Leo tergerak menyingkap bedcover yang menutupi tubuh polos Aletta, namun tangan Aletta dengan kuat menahannya.

“Lepas!”  

“Tu-tuan-“

 “Lepas!”

Mau tidak mau Aletta menyingkirkan tangannya dari bedcover, dan Leo pun langsung menyingkap bedcover itu hingga terpampang  lah tubuh polos Aletta.

Glek!

‘Ck! sial! Kenapa aku bisa terangsang lagi mlihat tubuhnya, sebelumnya tidak pernah seperti ini.’ batin Leo gusar, susah payah ia mengendalikan  nafsunya sendiri saat ini.  

Sedangkan Aletta bersaha menutupi bagian bawah dan dadanya menggunkan tangan. Malu? Tentu saja, meskipun dia sudah di gagahi oleh lelaki di hadapannya itu, tetap saja ia merasa sangat malu.

 Leo duduk di tepi ranjang, dengan sedikit kasar ia merentangkan kedua kaki Aletta hingga terpampang jelas lah  kupu-kupu Aletta yang membengkak dan merah.

 “Awww sa-sakit Tuan.” Rintih Aletta ketika Leo menyentuh miliknya di bawah sana.

 Leo menatap wajah Aletta yang sedang menahan sakit, terbesit rasa kasihan di diri lelaki itu. “Tunggu sebentar! Saya akan membelika mu obat.” Ucap Leo sembari bangkit.

Aleta hanya diam. Aletta membuang pandangannya ke lain arah, ia  ragu-ragu untuk menegur lelaki yang kini berjalan menuju pintu kamar. Namun ia mencoba memberanikan diri

“Tu-tuan,” panggil Aletta cepat.

Leo yang memegang gagang pintu kembali berbalik menatap Aletta dengan wajah datarnya, “Hm? Ada apa?” tanyanya dingin tanpa ekspresi.

“Emm i-itu Tu-tuan belum pakai celana.” Cicit Aletta pelan menunjuk ke arah bawah Leo yang memang belum memakai celana, rupanya ia tadi hanya baru memakai baju sudah teralihkan pada sosok Aletta yang kesakitan.

Leo yang di tegur langsung membuang pandangannya ke lain arah, menahan malu, namun ia langsung kembali dan mengambil celananya yang tergeletak di lantai, dengan wajah datar lelaki itu memakai celananya dan kembali berjalan keluar.

 ‘Ck! bagaimana bisa lupa!’ gerutu Leo di dalam hati sembari berjalan pergi. 

**

“Tuan, mau kemana?” tanya anak buahnya.

“Saya mau ke Apotek.” Jawab Leo.

“Biar saya saja yang pergi Tuan,”

“Saya tidak menyuruh mu!” Lelaki yang berpakaian serba hitam itu hanya menunduk.  Dan Leo langsung pergi sendiri menggunkan mobilnya.

“Kira-kira Tuan mau ngapain ke Apotek?” tanya Aldi salah satu anak buah Leo.

“Ya sudah pasti mau beli obat lecet lah, kan biasanya emang gitu, tapi anehnya kenapa yang sekarang dia gak nyuruh kita ya? Biasanya kan kita yang di suruh beli obat lecet .” Heran Aldo.

Aldi dan Aldo adalah kembar dan keduanya sama-sama sudah lama mengabdi pada Leo.

 “Heh itu Tuan mau kemana?” tanya Amel pada Aldo.

“Ih kamu kenapa kenpo gitu sih, udah sana beres-beres.” Suruh Aldi pada Amel.

“Kenapa emangnya kalau aku kepo hah?! Masalah buat kamu!” sahut Amel Sarkas.

“Dih songong banget!!” 

“Udah-udah, Tuan pergi ke Apotek Amel.” Ucap Aldo menengahi pertengkaran keduanya.

“Ngapain?” tanya Amel penasaran.

“Ya udah pasti beli obat lecet!  Kamu gak pernah ya? makanya perawan biar ngerasain.” Sahut Aldi lagi, yang sukses membuat Amel naik pitam.

Amel menatap tajam ke arah Aldi yang berucap.

“Kamu ya! sini kamu! Aku bejek-bejek!” Aldi tentu langsung lari dari sana, dan Amel megejarnya.

Aldo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik yang tak pernah akur dengan Amel.  

****

Aletta berusaha bangkit dari posisi baringnya, namun tak dapat. Rasa pedih dan nyeri di bawahnya sana sangatlah menyiksa.

 ‘Iss dasar Tuan tak berperasaan, lagian Paman tega banget sama Letta, masa iya Letta di kasih sebagai penebus hutangnya, mana sama lelaki tak berperasaan lagi.’ Gerutu Aletta mengingat betapa kasarnya Leo menggagahinya tadi.

“Huaaa Ayah Ibu kenapa Letta harus mendapatkan ini? Letta salah apa sih?” tangis gadis itu kembali pecah mengingat nansibnya yang sangat malang.  

**

 Ceklek!

Leo masuk ke dalam kmar, di lihatnya Aletta yang tertidur, Leo pun berjalan mendekat dengan salep lecet di tangnnya, lelaki itu mendekati Aletta yang masih setia terpejam.’Apa dia menangis? Apa aku terlalu kasar padanya?’ batin Leo melihat jejak air mata di pipi mulus  Aletta, tangannya tergerak menghapus jejak air mata itu.

 “Jangan nangis terus, semakin kau menangis semakin aku suka melihatnya.” Monolog Leo sembari menghapus pelan pipi Aletta.  

Namu beberapa menit kemudian, tangannya yang tadinya mengelus tiba-tiba menampar pipi Aletta hingga gadis itu terbangun.

“Siapa yang menyuruh mu tidur hm? Bangun!” ucapnya dingin. Kembali di tariknya kasar bed cover yang menutupi tubuh telanjang Aletta.

“Buka!” perintahnya  menunjuk kaki Aletta. Dengan perlahan Aleta membuka kakinya.

“Tu-tuan saya bisa sendiri kok.” Cegah Aletta.

“Diam!”

Leo tetap melakukannya, mengoles salep itu pada milik Aletta yang lecet.  

Glek!

 Satu tegukkan ludah membuat Leo langsung  memalingkan wajahnya ke arah lain.

‘Sial! jangan sekarang!’  rutuknya pada burung miliknya yang bisa-bisanya berdiri di saat seperti ini.

 “Obati sendiri!” suruhnya pada Aletta dan berenjak pergi begitu saja.

Kening Aletta berkerut.“Dasar Om-om aneh!” kesal Aleta melihat punggung Leo berjalan pergi.

“Apa kamu bilang?!”  

Aletta kelabakan sendiri di buatnya, “Emm e-enggak kok Om, emm maksud saya Tuan.” Ralat Aletta cepat.  

“Obati dengan benar!”

Aletta hanya menganggukkan kepalanya.

Huh! ‘Lega!’ lirih Aleta setelah Leo sudah keluar dari kamarnya.  

Baru saja gadis itu hendak mengobati miliknya sendiri , suara ketukan di pintu membuatnya dengan cepat menutupi tubuhnya dengan bed cover. Masukklah seorang wanita paruh baya dengan senyuman.

Aletta pun membalas senyuman wanita itu.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya wanita itu.

Aletta menganggukkan kepalanya pelan, “Sedikit baik dan banyak buruknya.” sahut Aletta.

Wanita itu terkekeh dan duduk di tepi ranjang, “Saya di suruh Tuan Leo untuk membantu mu mengobati lecetnya.”

 Aleta pun menganggukkan kepalanya, namun sedetik kemudian matanya membola. Yang benar saja? Mau di taruh di mana wajahnya saat ini.

“Tidak usah malu.”

Bella menyengir kuda. “Em emangnya Ibu siapa?” tanya Aletta pelan.

 “Saya kepala ART di sini,  nama saya Narti, tapi mereka di sini memanggil saya dengan sebutan Bi Ati, kamu boleh panggil saya Bi Ati juga.” Ucap Bi Narti ramah.

“Oh begitu. Bi Ati, boleh Aletta bertanya?”

“Tentu, kamu pasti mau bertanya mengenai Tuan ‘kan?”  tebak Bi Ati.

Aletta pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum malu-malu.

“Tanya saja, saya akan menjawab semampu saya.”

Aletta menarik nafas dalam sebelum berbicara. “Saya ke sini karena Paman saya yang tiak bisa bayar hutang Bi, apa saya setelah ini akan di jual?” tanya Aletta ragu. 

Bi Narti tersenyum pilu. “Cerita mu tidak jauh berbeda dengan kami semua, di rumah ini banyak pembantu yang memiliki cerita sama seperti kamu, mereka di jadikan penebus hutang oleh orang -orang terkasih mereka, ada yang dari orang tuanya , Paman, Tante. Dan semua yang menjadi penebus hutang itu akan di jadikan Tuan pembantu di rumah ini, bukan hanya pembantu dalam berberes rumah tapi pembantu dalam memuaskan nafsu Tuan, seperti yang di lakukannya pada mu tadi.”

Mulut Aletta  terbuka lebar. “Ja-jadi semua pembantu di-‘’

Bi Narti terkekeh pelan. “Tidak, tidak semua, hanya beberpa pembantu muda yang di minatinya, saya juga sangat kaget melihat  mu yang baru tapi sudah di pakai oleh Tuan, biasanya tidak seperti ini.”

Kening Aletta berkerut heran.

 “Emm lupakan soal itu, nama mu siapa?”

 “Aleta  Casandra Bi.”

“Cantik seperti orangnya.”

Aleta tersenyum malu.

“Ayo Bibi bantu obatin ya, jangan malu, anggap Bibi adalah Ibu kamu.” Aletta mengangguk sembari tersenyum, Ia merasa Bi Ati adalah orang yang sangat baik.  

***

Di dalam kamarnya Leo mati-matian berusaha meredam nafsunya sendiri, “Aiss sialan! Kenapa hanya dengan melihatnya nafsuku begitu bergejolak! Akhh kenapa selalu terbayang tubuhnya yang indah itu!” monolog Leo di dalam kamarnya sendiri.

Lelakki itu di buat frustasi mengingat kegiatan panasnya dengan Aletta, padahal sebelumnya ia sering malakukannya namun tak  pernah secandu ini.

“Sialan!” lelaki itu berjalan keluar kamar, dan turun ke bawah.

 Matanya tertuju pada sosok Amel yang membersihkan meja dengan badan di lenggok-lenggokkan, bahkan dengan sengaja ia menyingkap rok pendek yang di pakainya.

 ‘Ayo dong seret aku ke kamar Tuan, pengen banget di gagahin sama Tuan yang perkasa itu’ batin Amel penuh harap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos, Jangan! Nanti Ketahuan
8.0
Terjebak dalam aturan suami yang melarangnya bekerja, hidup Selena berubah setelah kedatangan Haris, bos besar suaminya. Pesona sederhana Selena memikat sang miliarder, yang kemudian menawarinya posisi sebagai sekretaris pribadi. Pekerjaan ini menjadi pelarian sekaligus awal hubungan terlarang di antara mereka. Demi ambisi promosi jabatan, sang suami memilih menutup mata. Kini, mereka semua terseret dalam pusaran gairah dan intrik yang siap menghancurkan pernikahan Selena.
Sampul Novel Buy One Get You
8.4
Audia terpaksa membatalkan niat resign setelah ayahnya, Pak Sapto, tertipu rekan bisnis. Demi melunasi utang, sang ayah menjual rumah beserta isinya kepada Ibu Sosro seharga 1,5 miliar. Sialnya, Audia yang tertidur di dalam ikut terjual sebagai aset. Sang bos, Affangga, yang masih patah hati dan membenci Audia karena mirip mantan tunangannya, tak punya pilihan. Ibu Sosro langsung memanfaatkan momen ini untuk menyeret mereka berdua ke pelaminan.
Sampul Novel Kehadirannya Membuatku Tersiksa
9.8
Hidup Arlena berubah total pasca perjodohan mendadak dengan pria asing. Alih-alih pernikahan datar, suaminya justru sangat perhatian dan selalu hadir menuntaskan masalahnya secara misterius. Rahasia besar terungkap saat Arlena melihat siaran televisi tentang miliarder tampan yang sangat memuja istrinya. Arlena syok menyadari pria di layar adalah suaminya sendiri. Ternyata, di balik kesederhanaan mereka, tersimpan kekuasaan besar dan cinta tulus sang suami.
Sampul Novel Ketika Karma Berbicara
8.5
Setelah delapan tahun menempuh pendidikan di Jerman, kepulanganku untuk memimpin Cakra Group justru disambut kekacauan. Di lobi perusahaan keluarga, seorang wanita tiba-tiba menyerangku secara fisik dan menuduhku menggoda kekasihnya, Bakti Rahadi, yang kini menjabat sebagai direktur di sana. Tak hanya mempermalukanku di depan umum, ia bahkan merusak tas edisi terbatas serta segel berharga dari ayahku, sambil meremehkan barang-barangku sebagai barang palsu. Mereka tidak menyadari bahwa ganti rugi atas seluruh barang asli milikku itu tak akan pernah sanggup mereka bayar seumur hidup.
Sampul Novel Keturunan Rahasia
8.5
Akibat jebakan licik pamannya, Rajendra Antariksa melakukan kesalahan fatal terhadap Amara Lucia Haidar di masa lalu. Setelah sepuluh tahun hidup dalam penyesalan mendalam, pewaris Antariksa Group ini terkejut saat mengetahui Amara mengalami trauma berat dan telah melahirkan putranya secara rahasia. Namun, upaya Rajendra untuk menebus dosa tidaklah mudah. Ia justru menghadapi penolakan keras dari Amara, orang tuanya, bahkan anak kandung yang baru diketahuinya itu.
Sampul Novel Mantan Istri Saya Seorang Konglomerat?
8.3
Tiga tahun Loraine setia mengabdi, namun Marco justru memperlakukannya dengan hina. Muak dengan pengkhianatan suaminya, Loraine memilih cerai demi mengejar warisan triliunan rupiah. Publik awalnya mengira ia gila, hingga identitasnya sebagai miliarder termuda terungkap. Saat Marco melihat mantan istrinya dikelilingi pria tampan, ia menyesal dan memohon untuk rujuk demi aliansi bisnis. Namun, Loraine hanya menatapnya penuh rasa jijik dan sudah tak lagi mencintainya.