Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pemuas Menantu dan Besan

Pemuas Menantu dan Besan

Kisah romansa modern ini menyajikan narasi penuh kejutan yang dirancang khusus bagi pembaca yang memahami dinamika hubungan antara mertua dan menantu. Alur ceritanya membawa konflik emosional mendalam yang relevan dengan kehidupan rumah tangga saat ini. Pembaca akan dibawa menelusuri liku-liku hubungan keluarga yang kompleks hingga mencapai puncak cerita. Persiapkan diri Anda untuk menghadapi akhir cerita yang benar-benar tidak terduga dan sangat mengesankan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Terdengar suara anak-anak di halaman depan, langkah kecil berlari-lari menuju rumah, Erni dan Pak Bagas seketika tersentak. Tanpa berpikir panjang, Pak Bagas langsung bergegas ke kamar mandi, berusaha menutupi apa yang baru saja terjadi.

Sementara Erni dengan cepat merapikan diri, mencoba menenangkan debaran jantungnya, lalu melanjutkan membuat teh seperti tak ada yang terjadi.

Pintu terbuka, dan kedua anak Erni, Gita yang berusia enam tahun dan Aldi yang berusia empat tahun, berlarian masuk ke dalam rumah. "Mama! Mama!" seru mereka dengan penuh semangat.

"Eh, anak-anak mama sudah pulang dari rumah nenek?" Erni tersenyum, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Mainnya sudah selesai?"

"Iya, Mama! Kita mau main di sini sekarang," jawab Gita sambil memeluk kaki ibunya.

Aldi ikut tersenyum lebar, menunjukkan mainan barunya yang didapat dari nenek mereka. "Mama lihat! Ini mobil-mobilan dari nenek!"

Erni tertawa kecil, menunduk dan mengusap kepala kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. "Wah, bagus banget, Aldi. Main dulu, ya. Mama bikin teh dulu."

"Ma, Kakek Bagas kemana, itu sepedanya masih ada di depan."

"Oh, lagi di kamar mandi, ini mama lagi mau buatkan minum buat Kakek."

Tak lama kemudian, Pak Bagas keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah kembali tenang, seolah-olah tidak ada kejadian apapun. Melihat kedua cucunya, senyumnya langsung mengembang.

"Wah, Gita sama adik sudah pulang, ya? Main apa tadi di rumah nenek?"

"Main bola sama Kakek Purba," jawab Gita dengan riang sambil berlari mendekati kakeknya. Aldi ikut mendekat, menunjukkan mobil mainan barunya kepada Pak Bagas.

Pak Bagas duduk di ruang tamu bersama kedua anak Erni, bercengkrama dan tertawa kecil saat mereka menceritakan keseruan hari mereka di rumah nenek. Erni sesekali Melirik dari dapur, Melihat bagaimana anak-anaknya begitu akrab dengan Pak Bagas, seperti tidak ada hal yang mencurigakan.

Pak Bagas memainkan perannya dengan sempurna, memperlakukan cucu-cucunya dengan kasih sayang seperti biasa, sementara Erni berusaha mengatur kembali pikirannya, mencoba melupakan momen intim yang baru saja terjadi.

Setelah menghabiskan waktu bersama kedua cucunya, mereka pun berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan sederhana yang sudah disiapkan. Suasana makan sore terasa hangat dan penuh canda, seolah-olah tidak ada yang berubah di antara mereka.

Pak Bagas bercanda dengan Gita dan Aldi, membuat suasana menjadi lebih riang. Erni duduk di ujung meja, ikut tersenyum dan tertawa, meski dalam hatinya masih merasakan jejak keintiman yang terjadi sebelumnya.

Setelah selesai makan, Pak Bagas berdiri sambil tersenyum kepada Erni. "Ayah pulang dulu, ya. Sudah sore juga, Ayah harus istirahat. Besok ada jadwal kegiatan lagi."

Erni mengangguk, mengantar Pak Bagas hingga ke depan pintu. "Terima kasih, Yah, sudah menemani. Hati-hati di jalan."

Pak Bagas tersenyum hangat, lalu melirik ke arah Erni dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah pandangan yang mengingatkan keduanya akan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Tapi tidak ada kata-kata lain yang keluar.

"Iya, kamu juga istirahat, ya. Kalau butuh apa-apa, tinggal hubungi ayah."

"Iya, Yah. Terima kasih," jawab Erni lembut.

Pak Bagas pun melangkah keluar, berjalan menuju sepedanya yang terparkir di depan rumah. Erni berdiri di depan pintu, menatap punggung mertuanya yang semakin menjauh menggoes sepedanya.

Erni lantas menutup pintu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa lega momen itu sudah berlalu, tetapi di sisi lain, perasaan yang tumbuh di dalam dirinya membuatnya semakin bingung.

Pak Bagas bergegas mengowes sepeda agar bisa segera sampai di rumahnya. Sudah tak tahan ingin segera masuk ke kamar mandinya, bukan karena gerah atau tubuhnya merasa lengket, namun ingin segera mandi sore.

Air hangat mengalir perlahan dari shower, membasahi tubuh Pak Bagas yang berdiri diam mematung di bawahnya. Butiran air menetes dari rambutnya yang sudah mulai memutih, meluncur di sepanjang wajah dan dada yang masih tampak kekar untuk lelaki seusianya.

Suara gemericik air seharusnya membawa ketenangan, namun pikiran Pak Bagas sedang jauh dari damai. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang. Sebelah tangannya memegangi batang kontolnya yang sejak tadi tak pernah mau tidur kembali. Kebiasaan yang susah dihindari. Andai saja Bu Siska, istrinya sudah pulang dari rumah makan, mungkin dia bisa menyalurkannya dengan baik dan benar.

Bayangan keliaran permainan Bu Soraya dan Badri, serta wajah Erni muncul bergantian seolah tak mau lepas dari benaknya. Ekspresi gugupnya, napas tersengal saat tubuh mereka begitu dekat. Dan ciuman bersama Erni yang masih terasa hangat di bibirnya.

Semua itu seperti adegan yang diputar ulang tanpa jeda. Tangan Pak Bagas semakin kencang maju mundur mengocok batang kontolnya saat kembali membayangkan goyangan pelan namun bermakna pantat Erni yang menekan-nekan kontolnya.

"Oooh, Erni... Ayah ini siapa sebenarnya?" gumamnya lirih.

"Oooh Soraya...mengapa kamu mencari pelampiasan sama preman..." lanjutnya.

Di satu sisi, ia merasa seperti pria biasa, yang tak bisa menghindari daya tarik perempuan yang lemah dan rapuh dalam pelukannya. Tapi di sisi lain, ia juga ayah dari Yudis, lelaki yang saat ini sedang berjuang di negeri orang demi masa depan yang lebih baik. Anak yang pernah ia banggakan setengah mati. Anak yang menitipkan istrinya, Erni dengan kedua buah hati mereka. Dengan kepercayaan yang sepenuhnya.

"Anak sendiri, Bagas... itu anakmu sendiri..." ucapnya dalam hati, suara itu tajam seperti pisau. Namun tangannya tetap tak bisa berhenti mengocok batangnya hingga akhirnya mencapai pucak kenikmatan yang semu.

"Ooooohssss Sorayaaaa...." Lenguhan panjang mendesis dari mulutnya bersamaan dengan meluncurnya sperma dengan sangat kencang dari ujung batang kontolnya.

Ia mengguyur wajahnya dengan air, berharap bisa menyapu bersih rasa bersalah yang mulai tumbuh seperti jamur di dadanya. Tapi sia-sia. Rasa itu justru semakin mengendap, bercampur dengan perasaan yang lebih berbahaya. Hasrat kuat untuk bisa saling memuaskan bersama menantunya.

Ia tahu, Erni tak pernah benar-benar memprovokasi. Tapi ia juga tahu, dirinya yang terlalu dalam membaca isyarat. Setiap sorot mata ragu, setiap tarikan napas yang berat, setiap lirih suara Erni saat mereka bicara sendirian-semuanya terasa seperti pintu yang setengah terbuka. Dan Pak Bagas, alih-alih menutupnya, justru perlahan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.

Tangannya mengepal, menghantam pelan dinding kamar mandi yang basah.

"Apa yang sebenarnya kamu cari, Bagas? Kasih sayang? Pelarian? Atau sekadar pembuktian kalau kau masih diinginkan? Masih perkasa?"

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam kepalanya, membenturkan rasa haus akan keintiman dengan rasa bersalah yang kian menyesakkan. Ia tak bisa mengabaikan bahwa dirinya telah menodai garis yang tak seharusnya disentuh. Tapi saat ia mengingat sentuhan Erni, tatapannya yang bingung tapi tidak sepenuhnya menolak, hatinya bergemuruh.

"Erni... kamu juga nggak benar-benar melawan, kamu juga menginginkan ayah kan?" bisiknya pelan, entah sedang menyalahkan, atau sedang mencari pembenaran.

Air terus mengalir, namun tak cukup deras untuk membawa pergi kekusutan dalam dadanya.

Pak Bagas menunduk, memejamkan mata, membiarkan dirinya larut beberapa saat dalam keheningan. Tapi ia tahu, ketika ia keluar dari kamar mandi nanti, dunia akan tetap sama. Dan Erni... tetap akan ada menjadi menantunya, sementara Bu Soraya mungkin akan tetap menjadi misteri.

Malamnya udara di kamar anak-anak terasa hangat, namun dada Erni justru dingin dan sesak. Gita dan Aldi sudah tertidur pulas, tubuh kecil mereka meringkuk nyaman di balik selimut bergambar tokoh kartun kesayangan. Lampu tidur berwarna kuning temaram memantulkan cahaya lembut di dinding, menciptakan suasana yang seharusnya membawa tenang. Tapi tidak malam ini.

Erni duduk di tepi ranjang, menatap wajah kedua anaknya satu per satu. Nafas mereka teratur, damai, seakan dunia luar tak mampu menjamah ketenangan kecil itu. Dengan tangan gemetar, ia menyeka air mata yang sejak tadi mengalir diam-diam di pipinya. Isaknya nyaris tak terdengar, hanya getaran lembut di bahunya yang memperlihatkan betapa rapuh dirinya saat ini.

"Susah sekali..." bisiknya lirih, nyaris seperti doa yang tak ingin didengar siapa pun. "Susah sekali menahan gejolak ini..."

Ia menggigit bibirnya sendiri, mencoba mengurung gelombang rasa bersalah yang membuncah dari dalam dada. Bukan hanya karena ciuman itu, bukan juga karena pelukan ayah mertuanya, bukan hanya karena sentuhan yang tak sengaja tapi terasa terlalu dalam. Tapi karena sesuatu yang lebih menakutkan: bahwa hatinya... sempat bergetar.

Ia tahu, dirinya masih istri Yudis. Ia tahu, Pak Bagas adalah ayah mertuanya. Tapi perasaan itu-yang datang tiba-tiba, di sela sunyinya rumah dan sepinya komunikasi dari Jepang-perasaan itu datang seperti arus deras, menariknya ke arah yang salah namun terasa begitu hangat.

"Mas Yudis... maafin istrimu ini..." Erni menunduk, menatap tangan Gita yang menggenggam boneka kecilnya dengan tenang. Seandainya anak-anak ini tahu... seandainya mereka tahu ibunya hampir tergelincir ke dalam sesuatu yang tidak bisa dimaafkan oleh siapa pun.

Tapi yang lebih menakutkan dari rasa bersalah... adalah keinginan untuk mengulanginya. Untuk merasakan lagi kedekatan yang aneh tapi memabukkan itu.

Erni menggeleng cepat, mencoba mengusir pikirannya sendiri. Ia lalu mencium kening Gita dan Aldi satu per satu, berbisik, "Mama janji... mama nggak akan bikin kalian kecewa."

Tapi janji itu terasa hampa di hatinya sendiri.

Karena ia tahu, godaan itu belum selesai. Kini bahkan sebelah tangannya mulai sedikit bergerak meraba-raba selangkangannya yang sejak tadi terasa terus berdenyut-denyut. Dia bahkan sudah mengganti celana dalamnya, karena saat bercumbu dan berpelukan tadi dengan ayah mertuanya, vaginanya sudah banjir. Dua belan lebih sawahnya sama sekali tak teraliri.

Dan malam pun masih akan sangat panjang. Terlebih buat Pak Bagas yang isi kepalanya sudah benar-benar terkontaminasi racun birahi. Bukan hanya oleh Erni, namun juga Bu Soraya, yang seolah menempel kuat di kelopak matanya, hingga susah tidur, walau sudah lampiaskan pada istrinya.

^*^

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintamu Seperti Uang Kecil
8.4
Rani merasa tertekan menghadapi kenaikan harga pangan yang mencekik. Meski Dimas, suaminya, rutin menyiapkan kebutuhan pokok di rumah, ia hanya memberi Rani jatah harian sebesar 25 ribu rupiah untuk lauk pauk. Rani merasa nominal tersebut sangat tidak masuk akal dan menganggap suaminya sangat pelit. Saat Dimas memberikan uang itu dengan santai, Rani menerimanya dengan ketus. Baginya, uang sekecil itu bahkan tidak cukup untuk membeli bedak, apalagi memenuhi gizi keluarga.
Sampul Novel ISTRI YANG TERSISIHKAN
9.5
Aisyah Zuhaira, wanita berhijab yang menentang restu orang tua demi hidup bersama suaminya, Andre. Ia mendambakan kebahagiaan, namun realita pahit menghantam saat suami dan mertuanya berubah menjadi sangat kejam karena alasan tertentu. Di tengah penderitaan itu, sebuah fakta menyakitkan akhirnya terungkap ke permukaan. Kini Aisyah terjepit dalam dilema besar; apakah ia akan terus bertahan dalam pernikahan ini atau memilih pergi meninggalkan segalanya?
Sampul Novel Lost In Heart
9.7
Kehidupan Pricila Putri Patty hancur saat sang suami berselingkuh, mengulang luka lama ayahnya yang pergi demi wanita lain. Di tengah keputusasaan, ia memulai perjalanan ke Bromo demi mencari ketenangan jiwa. Tak disangka, ia bertemu Yohan Pratama, pria dewasa yang pernah menolongnya dulu. Melalui berbagai peristiwa dan pelajaran hidup dari Yohan, benih cinta mulai tumbuh di hati Cila. Mampukah Cila menemukan kedamaian sejati dan kebahagiaan baru dalam petualangan ini?
Sampul Novel My Absurd Ning
9.4
Zora Alifia dikenal sebagai santriwati pembuat onar yang kerap memicu kekacauan di pesantren. Kelakuannya sering kali membuat Emir, sepupunya yang juga seorang Gus, merasa sangat kewalahan. Meski sering ditegur, Zora tetap membangkang hingga hubungan keduanya diwarnai ketegangan. Emir pun melontarkan ancaman pernikahan untuk menertibkan Zora. Ajaibnya, gertakan itu mulai mengubah sikap Zora menjadi lebih rajin dan taat menjalani kehidupan di pondok.
Sampul Novel Pancaroba
8.8
Dunia Aretha yang awalnya tenang dan sederhana mendadak berubah drastis setelah ia bersinggungan dengan seorang pemuda yang dianggap aneh oleh teman-teman sekolahnya. Sosok misterius ini memiliki pola pikir yang sulit dipahami dan menyimpan banyak rahasia tentang kehidupannya yang tak terduga. Pertemuan tersebut membawa Aretha ke dalam situasi penuh tanda tanya, saat ia mencoba menyelami sisi lain dari lelaki yang sulit ditebak tersebut.
Sampul Novel Perangkap Cinta CEO
7.9
Dahulu, Aidan Orlando Caesar adalah remaja obesitas yang menjadi korban perundungan kejam di SMA Woodstone Private. Luka terdalamnya disebabkan oleh Malikha Swan, gadis yang ia sukai namun justru menjebaknya hingga trauma. Dua belas tahun berlalu, Aidan bertransformasi menjadi CEO tampan yang tak lagi dikenali. Ia kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang menyakitinya, termasuk Malikha. Kini, jebakan cinta dimulai demi membalaskan dendam masa lalunya.