
Pembalasan Silvia
Bab 2
Silvia adalah anak pertama dan satu-satunya dari pernikahan yang sah dari tuan Wijaya Hargono dan nyonya Emma Ningtias. Tuan Wijaya Hargono adalah keturunan bangsawan, begitu pula dengan nyonya Emma Ningtias, selain mewarisi darah bangsawan, Emma Ningtias juga memiliki wajah blasteran, itu sebabnya wajah oriental Sivia berpadu dengan wajah orang-orang Eropa. Di satu sisi, dia begitu cantik dengan wajah blasteran, di sisi lain, mata sipit Silvia membuat wajahnya terlihat lembut dan manis.
Orang tua Silvia sangat memanjakannya. Namun, tidak lama setelah Silvia berusia sepuluh tahun, ibunya meninggal karena kecelakaan pesawat. Setelah beberapa bulan kematian ibunya, Tuan Wijaya membawa pulang seorang wanita bersama seorang anak perempuan yang berbeda dua tahun dengannya. Sejak saat itu, perhatian ayahnya kepada Silvia berkurang.
Silvia juga sering bertengkar dengan Helena, namun ibu tirinya tentu saja lebih membela Helena. Helena sangat iri dengan semua yang dimiliki oleh Silvia. Namun, dirinya tidak bisa berbuat banyak, karena dirinya bukanlah anak dari tuan Wijaya. Perasaan benci dan iri ini bertahan hingga mereka dewasa. Helena semakin membenci Silvia, ketika Silvia akhirnya berpacaran dengan tuan muda David. Seorang CEO muda dari perusahan FH yang menaungi artis-artis kelas B. Ayah Silvia merupakan kolega dari ayah David. Pertemuan pertama antara Silvia dan David terjadi sejak dua tahun yang lalu. Hingga akhirnya, mereka berpacaran dan melangsungkan pertunangan. Namun, Helena tahu bahwa di antara mereka tidak pernah ada hubungan biologis, hanya sentuhan-sentuhan mesra sebatas kecupan. Akhirnya Helena nekat menggoda David, awalnya David menolak. Namun, karena sering bertemu di rumah Silvia, godaan Helena berhasil. Sejak saat itu, Helena sering menggunakan kekuasaan David untuk mendapatkan iklan ataupun peran dalam film-film. Padahal, akting Helena masih terbilang kurang bagus. Helena juga meminta pada David hanya fokus padanya seorang.
Itulah sebabnya, manajer Silvia terkadang pontang-panting dalam mencari peran untuk Silvia. Perusahaan menjadi kurang perhatian pada Silvia sejak Helena masuk dan berhasil mendapatkan peran utama. Namun, dengan polosnya Silvia menganggap ini adalah bakat murni dari Helena. Padahal orang-orang di sekitarnya sudah banyak menyarankan agar dirinya protes pada David. Silvia tetap tidak bergeming dan menganggap David pasti memiliki penilaian lain. Kini, setelah dia mengetahui faktanya, Silvia menganggap dirinya benar-benar bodoh telah di butakan oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan. Mulai hari ini, Silvia akan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dia tidak akan mengalah lagi pada Helena.
Pagi ini, Silvia menghubungi manajernya, memintanya untuk mengikuti audisi peran utama Film Bintang di Langit Malam.
"Silvia, sekarang masih jam tujuh pagi, untuk apa kau menelponku pagi-pagi begini?" tanya manajernya dengan mata yang masih tertutup.
"Apa kau mau mengantarku untuk audisi peran utama film Bintang di Langit Malam?" tanya Silvia.
Manajernya terdiam sejenak, dia bangun dari tidurnya lalu menggosok matanya dan melihat layar ponselnya, dia ingin memastikan bahwa yang menelponnya benar-benar Silvia.
"Silvia?" panggil manajernya sekali lagi.
"Aku di sini" jawab Ji Yue.
"Apa ini benar-benar Silvia?" tanyanya sekali lagi.
"Mona, apa otakmu tersiram air sewaktu kecil?" tanya Silvia.
"Oh Tuhan, ini benar-benar kau? Aku tidak percaya, bukankah David melarangmu mengikuti audisi itu? Apa yang terjadi? Kenapa kau ingin mengikuti audisi itu?" tanya Mona.
"Manajerku adalah kau, bukan David" jawab Silvia.
"Bagaimana jika dia marah kalau sampai kita ketahuan?" Tanya Mona.
"Biarkan saja, semua orang berhak mengikuti audisi itu, kenapa dia dengan seenaknya melarangku. Dia pasti sudah gila" ujar Silvia.
"Waaaaah, kau sangat keren, dia pasti sudah gila karena selalu memprioritaskan artis yang tidak berbakat itu dan menyingkirkan mu perlahan-lahan. Sejak kapan kau mulai membantah si sialan itu? Aku sudah sangat lama muak dengannya. Silvia, tidak bisakah kita keluar dari perusahaan brengs*k itu?" tanya Mona.
"Aku juga berpikir demikian, apakah semua pekerjaan kita sudah selesai di perusahaan FH? Jika belum, kita bisa kena penalti karena keluar sebelum kontrak selesai dikerjakan" tanya Silvia.
"Hanya tinggal dua pemotretan majalah saja minggu depan. Sebaiknya kita menyelesaikan pekerjaan kita di FH dulu, karena film itu ingin langsung berurusan dengan perusahaan yang menaungimu. Jika kita masih di bawah naungan FH, akan semakin sulit untuk kita lepas dari perusahaan itu" jawab Mona.
"Minggu depan itu adalah hari terakhir audisi film itu, bisakah kita datang tepat waktu ke tempat audisinya?" tanya Silvia.
"Jika tidak berulang kali mengambil gambar, maka kita bisa tiba tepat waktu disana. Aku akan berusaha sekuat tenaga mengaturnya, jangan sampai peran utama itu dicuri lagi oleh Helena" jawab Mona.
"Tentu, aku yakin alasan David melarangku mengikuti audisi itu pasti agar Helena memiliki peluang besar untuk memenangkannya. Aku sudah muak melihat mereka berdua" ujar Silvia.
"Sebaiknya ku hajar saja wajahnya yang sok tampan itu. Bagaimana menurutmu?" tanya Mona.
"Aku juga ingin melakukan hal sama denganmu, tapi nanti akan muncul berbagai macam artikel tentang kita berdua. Aku benar-benar muak melihat wajahnya" ujar Silvia.
"Bagus, ini benar-benar berita bagus. Hah, akhirnya kau sadar juga dari perasaan konyolmu itu. Tunggu sebentar, kau yakin akan membantahnya? Selama ini kau selalu patuh pada David. Aku terkadang ingin membenturkan kepalamu agar kau sadar bahwa karirmu sedang di sabotase secara halus" tanya Mona meyakinkan dirinya lagi.
"Percayalah padaku, kali ini aku tidak ingin siapapun menghancurkan karir yang sudah ku bangun dengan susah payah. Termasuk tunanganku sendiri" jawab Silvia.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi? Kau tidak mungkin berubah dalam satu malam. Kau pasti memiliki penjelasan yang masuk akal padaku kenapa kau berubah bukan?" tanya Mona.
"Ya, begitulah. Mona, maukah kau berjuang denganku dari nol lagi? Setelah kita keluar dari perusahaan FH, belum tentu kita bisa mendapatkan perusahaan yang sebagus itu di luar sana, karena aku kurang mendapat promosi dari perusahaan" tanya Silvia.
"Begitu bahkan lebih baik, daripada kita harus menjadi orang bodoh di perusahaan itu. Kita harus keluar dari sana, aku yakin dengan bakatmu yang luar biasa itu kita pasti akan mendapatkan perusahaan yang akan berjuang bersama kita" ujar Mona.
"Tidak peduli itu perusahaan kecil?" tanya Silvia.
"Ya, tidak peduli itu perusahaan kecil, yang penting kita memiliki orang-orang yang berjuang bersama kita" jawab Silvia mantap.
"Baiklah, aku akan berlatih di rumah secara diam-diam agar mendapatkan peran utama dari film itu" ujar Silvia.
"Tentu, jangan sampai ketahuan oleh mereka. Aku yakin mereka akan menyebutmu pemalas, karena kau terus berada di kamarmu. Tunggu dulu, bukankah kau dan David akan menikah dalam waktu dekat?" tanya Mona.
"Ya, tapi, kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti" jawab Silvia.
Anda Mungkin Juga Suka





