Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Janda Talak Tiga

Pembalasan Janda Talak Tiga

Hanya beberapa menit usai ijab kabul, seorang pengantin wanita harus menelan pil pahit saat suaminya menjatuhkan talak tiga secara mendadak. Di tengah riuh tamu dan hidangan yang belum tersentuh, riasan serta henna di tangannya seolah menjadi saksi bisu kehancuran martabatnya. Rasa sakit yang mendalam seketika berubah menjadi api dendam kesumat. Tak mau terus terpuruk, sang janda kini bangkit dan bertekad membalas perbuatan keji yang telah menghancurkan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Irene membopong tubuhku menelusuri lorong rumah sakit.

"Maaf pasiennya mau di bawa kemana?" seorang suster menghentikan langkah kami.

"Saya mau ke pemakaman Ibu saya, Sus" jawabku.

"Tetapi kondisi Ibu masih belum stabil, jika Ibu paksakan kami takut terjadi hal yang tak diinginkan."

"Gak usah kuatir, Sus. Saya siap menerima konsekuensinya. Saya gak punya banyak waktu, jadi jangan halangi saya!" ucapku tegas.

"Tunggu sebentar ya, Bu. Saya panggil Dokter dulu untuk memastikan kondisi Ibu!" Suster itu melenggang meninggalkan aku dan Irene.

"Ayo, Ren!"

"Tapi, Kak. Kita tunggu Suster dulu ya" pinta Irene dengan sedikit mengiba.

"Kita gak punya banyak waktu! Kakak gak mau pas sampai nanti hanya melihat gundukan tanah kuburan Ibu. Kamu bisa mengerti perasaan Kakak?" Irene akhirnya menurut.

Sebuah mobil sudah menunggu di pelataran parkir. Tidak beberapa lama meluncurkan menuju TPU tempat pengistirahatan terakhir Ibu.

Aku melangkah gontai, kini Ibu dan Bapak sudah istirahat berdampingan. Tak pernah aku menyangka semua akan terjadi secepat ini. Mas Dion benar-benar telah sukses menghancurkan kehidupanku.

Tidak ada lagi air mata yang keluar, padahal dada terasa sangat sesak. Bernafas pun terasa sangat berat. Hanya saja air mata seolah-olah sudah kering kerontang.

Aku menatap datar gundukan tanah merah milik Ibu, sebegitu cepat Ibu menyusul cintanya. Tanpa memperdulikanku yang juga butuh cinta Ibu, apalagi dalam keadaan seperti ini.

"Sabar, Nak!" Paman sesekali mengusap lembut punggungku. Begitu juga dengan Bibi yang senantiasa memeluk tubuhku.Tak ada respon dariku, hanya diam.

Aku memperhatikan rumah yang menyimpan berjuta kenangan antara aku dan ke dua orang tuaku.

"Apa kamu tidak mau nginap dulu?" tanya Bi Asih yang membuyarkan lamunanku.

"Tidak, Bi. Besok Zafi ada meeting penting dengan klien" ucapku sambil tersenyum.

"Semenjak Bapak dan Ibumu tiada, kamu enggan sekali untuk menginap di sini, Nak. Kamu harus benar-benar ikhlas!"

"Zafi ikhlas, Bi. Tapi untuk menginap belum lagi saatnya. Akab tiba masanya, Bi. Terima kasih Zafi ucapkan karena Bibi mau merawat rumah ini" Bi Asih mengangguk, memeluk tubuhku. Setelahnya aku pamit, menuju apartemen yang sudah aku beli 5 tahun terakhir.

Di dalam perjalanan menuju apartemen, aku sempatkan singgah untuk menyapa Bapak dan Ibu, mengirim do'a agar mereka tenang di alam sana.

Beranjak dari pemakaman Bapak dan Ibu, ponsel yang aku pegang berbunyi. Telepon dari Najwa asisten pribadi ku.

"Ya!"

"Gue udah nemuin alamat mantan suami lo!" ucapan dari Najwa membuat mataku berbinar seketika.

"Lo kirim ke gue lokasinya! Gue akan langsung ke sana!" aku mematikan sambungan telepon. Tidak lama sebuah alamat di kirim Najwa ke ponselku.

Tunggu aku Dion, aku akan datang! Membuatmu hancur, seperti apa yang kau lakukan padaku!

Aku memarkirkan mobil tak jauh dari sebuah rumah minimalis dengan desain modern. Memastikan lagi dengan mengecek ulang pesan dari Najwa.

Apa ini rumahnya?

Tak lama kemudian seseorang yang ku kenal keluar dari rumah itu. Mengandeng perempuan yang ku yakin bernama Sherly.

Perempuan tersebut mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, setelahnya sebuah mobil keluar dari garasi dan perlahan meninggalkan rumah itu.

Entah kenapa aku masih betah berdiri melihat perempuan yang masih memadai suaminya tersebut.

Hingga sebuah kejadian yang di luar dugaanku terjadi. Tak lama setelah kepergian Dion, sebuah motor sport mewah masuk ke halaman rumah yang masih belum di kunci pagarnya.

Perempuan tadi menyambut dengan sangat ramah, bahkan aku melihat kerlingan manja matanya. Sebuah adegan membuatku menutup mulut ketawa. Laki-laki tersebut mendaratkan ciuman di bib*r Sherly. Tidak perlu menunggu lama segera ku abadikan adegan mesra tak tahu malu mereka dengan ponsel pribadi milikku.

Kehancuran mu akan di mulai Dion!

Setelah berhasil mengambil beberapa gambar, aku tersenyum puas. Tidak sia-sia memiliki benda canggih ini.

Kembali menghidupkan mesin mobil, meninggalkan rumah yang sebentar lagi akan sering ku singgahi.

Ketika hampir sampai di apartemen, aku melihat mobil Dion sedang terparkir di tepi jalan. Cepat mobil ini mendahuluinya, dan berhenti tidak jauh dari tempat mobil Dion terparkir.

Tak lama mobil itu kembali berjalan, segera aku keluar dari mobil melambaikan tangan meminta pertolongan. Semoga Dion termakan umpanku. Dan untung saja dia berhenti. Turun dari mobil dan melangkah ke arahku.

"Kenapa, Mba?" tanya Dion ketika mendekat, memicingkan mata seperti mengenalku.

"Oh, ini Mas. Mobil saya mogok" ucapku lembut.

"Saya rasa kita pernah bertemu sebelumnya, tapi lupa dimana. Baiklah, coba saya cek dulu!" berlalu meninggalkanku dan mencoba menyalakan mobil.

"Ini nyala kok, Mbak!" teriak Dion dari kaca mobil.

"Wah bisa ya! Tadi gak bisa lo, Mas. Terima kasih" aku mendekat. Dion keluar dari mobil.

"Sama-sama, Mba! Tapi wajah kamu gak asing lo!" sekali lagi Dion mengatakan itu.

"Mungkin mirip kali, Mas. Padahal wajah saya gak pasaran lo!" aku tertawa.

"Tawa kamu benar-benar mengingatkan saya sama seseorang. Boleh kita kenalan?" Dion mulai termakan umpanku.

"Boleh, Mas. Saya Zafi, Zafira Hanan" aku mengulurkan tangan, sedangkan Dion hanya menatapku tak percaya.

"Z-zafi?" ucapannya memastikan.

"Iya, Mas! Kamu?"

"Kamu lupa denganku, Fi?" aku berlagak seperti tengah mengingat seseorang.

"Aku Dion, Fi! Mantan suamimu?" aku membulatkan mata sempurna.

"Mas Dion? Ya Allah, aku pangling lo!" tertawa kecil dengan menepuk lembut dadanya.

"Hmm, kamu sibuk?"

"Gak, Mas? Kenapa?"

"Kita mampir dulu ke Cafe di depan sana" menunjuk sebuah Cafe yang tidak jauh dari tempat berdiri kami sekarang. Aku mengangguk setuju.

"Bagaimana kabar kamu, Fi?" tanya Dion setelah kami sampai di Cafe dan memesan minuman.

"Aku baik, Mas? Kamu bagaimana?" aku masih menampilkan senyum terbaik.

"Aku baik. Bagaimana kabar Bapak dan Ibu?" pertanyaan ini membuatku tak bisa lagi menampakkan senyum. Dendam yang ku simpan rapi kini seolah berkobar kembali.

"Fi?" Dion melambaikan tangan di wajahku.

"Eh, oh. Iya, Mas! Bapak dan Ibu baik-baik saja, Alhamdulillah. Bagaimana dengan orang tuamu, Mas?" Dion menunduk, seperti menyimpan duka mendalam. Aku tahu, tak lama setelah kepergiannya mantan Ibu mertuaku sakit-sakitan hingga meninggal dunia.

"Ibu telah berpulang, Fi. Bahkan aku belum sempat meminta maaf" matanya berkaca. Tangan ini mengusap lembut punggung tangan Dion. Dion sedikit terkejut dengan perlakuan ku, tetapi setelahnya dia menerima.

"Apa kamu membenciku, Fi?" kini tangan Dion menggenggam erat tanganku. Sedikit risih, tetapi akting ku harus perfect.

"Tidak, Mas!"

"Atas semua perlakuanku?"

"Tentu saja! Karena memang sudah takdirnya seperti ini. Bagaimana kabar istrimu?" Dion melepaskan genggaman tangannya.

"Dia baik-baik saja. Tetapi setelah lima tahun pernikahan, kami belum juga di karunia buah hati!" ucapnya jujur.

"Kalau itu urusan Allah, Mas. Kita tidak bisa memaksakannya, kamu hanya perlu berikhtiar. Jangan lupa berdo'a setelahnya" nasehatku.

"Apa kamu masih sendiri, Fi?"

"Sampai sekarang masih, Mas. Banyak hal yang ingin ku gapai" aku memandang ke arah luar. Salah satunya menghancurkan mu.

"Bisakah setelah ini kita sering bertemu?" tatapnya penuh harap saat aku kembali memalingkan wajah ke arahnya.

"Aku tidak bisa janji, Mas. Aku sedang sibuk mengembangkan bisnis" Dion kecewa mendengar jawabanku.

"Bagaimana dengan bertukar kontak?" aku mengangguk.

Setelah pertemuan yang tidak bisa di bilang singkat itu, Dion pamit karena ada urusan. Sedangkan aku masih betah di Cafe. Menikmati alur permainan yang sebentar lagi akan aku mainkan.

"Najwa! Tolong kirim salah satu orang kepercayaan lo buat ngikutin perempuan itu! Lapor ke gue setiap gerak geriknya, gue juga perlu dokumentasi!" perintah ku pada asisten pribadi saat telpon telah tersambung.

"Oke!"

"Satu lagi! Selidiki setiap usaha milik apapun yang tengah di kelola oleh Dion!"

"Siap, Bos! Percayakan sama gue!"

Telpon ku matikan, aku tak sabar dengan semua permainan ini.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KRS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KRS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Code Name Amaryllis
8.6
Indonesia tahun 2050 hancur akibat korupsi yang melumpuhkan hukum. Demi memulihkan keadilan, Presiden membentuk lembaga rahasia berisi pemuda berbakat dengan peralatan mutakhir. Mereka bergerak di balik bayang-bayang untuk menghancurkan konspirasi para pejabat korup. Cerita ini berfokus pada agen muda berkode Amaryllis yang mempertaruhkan nyawa dalam misi penuh intrik dan aksi berbahaya. Sebagai harapan terakhir bangsa, mampukah Amaryllis menumpas akar kejahatan di tanah air?
Sampul Novel Devano Lauder
9.1
Kisah Devano Lauder mengungkap beban masa lalu yang memicu dendam membara dari musuh lama. Selama dua dekade, sang tokoh utama berjuang menyelesaikan konflik yang tak kunjung usai. Di tengah perselisihan dan pembantaian, ia pun terjebak cinta segitiga saat remaja. Memasuki usia dewasa, ia mengambil tanggung jawab penuh dan nyaris tewas demi mengakhiri segalanya. Meski musuh terus mengintai, takdir akan membawa semua pada titik penyelesaian yang semestinya.
Sampul Novel Hidden Tea
8.2
Saat menghadiri pesta di Negeri Suwarna, Putri Mahkota Manggalya menerima kabar duka atas wafatnya sang ayah. Karena takhta tak boleh kosong, Pangeran Rahagi yang berusia sepuluh tahun pun naik takhta menggantikannya. Sang Putri yang terpukul memilih mengasingkan diri demi menenangkan jiwa. Namun, di bawah kuasa raja muda yang baru, Manggalya justru berubah menjadi kerajaan agresif yang terus memperluas wilayah kekuasaannya secara membabi buta.
Sampul Novel Kenangan Obsidian
9.3
Pasca pelarian dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien bersembunyi di Pegunungan Broken. Di sana, misteri Penjaga kuno terungkap saat Asha bergulat dengan kekuatan abu dan memori yang menyiksanya. Sementara itu, tubuh Kael perlahan membatu, mengancam sisi manusianya. Konflik antarras ternyata hanyalah manipulasi belaka. Di tengah pengkhianatan dan pengorbanan, Asha harus memilih: menjadi senjata mematikan atau pelindung dunia dengan harga yang sangat mahal.
Sampul Novel (NOT) Your Ordinary Lab Girl
8.3
Meha, asisten lab mikrobiologi di Universitas Elephas, mendadak jadi tersangka pembunuhan berantai karena mayat ditemukan di tempat kerjanya. Bersama rekannya, Remi, mereka terjebak fitnah dan konspirasi politik kampus yang pelik. Demi membersihkan nama baik dan kelanjutan studinya, Meha terpaksa turun tangan memecahkan misteri tersebut. Namun, keberhasilannya justru memicu kasus baru, seolah ia adalah magnet bagi para pembunuh yang haus untuk diungkap aksinya.
Sampul Novel Pejuang Restu
8.5
Basti berusaha keras melindungi ibunya dari ancaman Aldri, pria yang tega menyudutkan Helen demi harta kekuasaan. Meski Aldri bersikeras mengungkit rencana masa lalu mereka untuk menguras kekayaan Jonas, Helen kini justru menunjukkan sikap yang berbeda. Di tengah tekanan fisik dan intimidasi mental, Helen tetap bungkam seraya terus meronta. Aldri yang terbakar amarah dan nafsu mencoba memaksa Helen kembali ke sisinya demi ambisi pribadi yang licik.