Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PEMBALASAN DI KEHIDUPAN KEDUA

PEMBALASAN DI KEHIDUPAN KEDUA

Lima tahun Adelia Jalwa Bagaskara menderita sebagai istri yang diabaikan Bagas Radithya Wijaya akibat manipulasi saudara tirinya, Rosella. Tragisnya, pengkhianatan itu menghancurkan keluarga Bagaskara hingga Adelia tewas mengenaskan. Namun, keajaiban membawanya kembali ke masa enam tahun sebelum kematiannya. Dengan kesempatan hidup kedua, Adelia bertekad membalas dendam pada wanita yang menghancurkannya. Akankah ia berhasil menuntaskan dendamnya kali ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Adelia membuka mata dan melihat langit-langit kamarnya yang kusam. Tubuhnya terasa bagai di hantam ribuan batu setelah apa yang dilakukan Bagas semalam.

Perempuan itu mengangkat tangan dan meringis tatkala melihat luka memanjang menghiasi tangannya. Luka akibat cambukan yang diberikan oleh sang suami yang menderita sadomasokisme.

Kelainan yang hanya ditunjukkan nya pada Adelia, istri pertamanya. Pria itu tidak ingin Rosella, istri keduanya mengetahui kelainan yang di deritanya.

Jadi, sebelum berbagi ranjang dengan Rosella, ia akan mendatangi Adelia untuk memuaskan hasratnya terlebih dahulu.

"Anda sudah bangun rupanya." Terdengar sebuah suara, membuat Adelia menoleh.

Sarah masuk dengan membawa nampan berisi makan siang Adelia, meletakkannya dengan kasar di meja. Perempuan keturunan Sunda itu menarik tangan Adelia dan melihatnya dengan seksama kemudian menghempaskannya.

Setelah itu, ia menarik tangan Adelia, memaksa majikannya berdiri. Membuat Adelia terjatuh ke lantai karena tidak bisa menjaga keseimbangannya.

"Bersihkan diri Anda dan lekas makan. Jangan sampai Nona Rosalia melihat kondisi Anda yang mengenaskan!" seru Sarah sembari berjalan keluar dan membanting pintu kamar.

Adelia termangu sejenak, melihat makanan di nakas dengan mata nanar. Perlahan ia berdiri, menopang tubuhnya dengan berpegangan pada dinding.

Kaki Adelia bahkan tidak sanggup menopang tubuh kurusnya karena pukulan yang diberikan oleh sang suami. Namun, ia tidak berani membantah ucapan Sarah, takut wanita itu kembali menyiksa nya dengan membawakan cacing.

Membayangkan saja, membuat perempuan itu berdigik dengan napas tersengal. Adelia tidak sanggup lagi kalau harus berhadapan dengan mahkluk yang ditakutinya.

Tiga puluh menit kemudian, Adelia telah duduk di pinggir ranjang, mengenakan daster panjang untuk menutupi lebam di tubuhnya. Ia menyendok nasi dan sup yang sudah berbusa, mengeluarkan bau yang tidak sedap kemudian memasukkannya ke mulut.

"Bertahan, Lia. Kamu bisa!" gumam Adelia sembari memejamkan mata, berusaha menelan makanan basi di pangkuannya.

"Semangat, bukankah makan seperti ini sangat jarang kamu dapatkan!" lanjutnya kembali, berusaha menyemangati diri sendiri.

"Mama?" Terdengar suara panggilan, membuat Adelia menghentikan sendok nya.

Nafsu makannya hilang seketika, ia meletakkan nampan di meja dan tertatih berjalan ke jendela. Dadanya berdegup kencang, tatkala melihat seorang bocah empat tahun sedang bermain di halaman belakang bersama Rosella.

Adelia memegang jendela, dadanya terasa sesak ketika melihat kedekatan Ibu dan anak di bawah sana. Terlihat jelas senyum bahagia terkembang di wajah kedua insan beda generasi tersebut.

"Adrian...Mama di sini, Nak," isak Adelia. "Lihat ke atas, Adrian. Mama di sini."

Dada Adelia bergemuruh memendam kerinduan pada Adrian, putra yang dilahirkannya tiga tahun silam. Namun, nasib kembali tidak berpihak kepadanya, ia harus kehilangan sang putra tanpa bisa melihat wajah sang buah hati.

Rosella membawa pergi Adrian tepat setelah putranya lahir atas perintah suami mereka. Sejak itu dirinya terkurung di kamar paviliun belakang rumah mereka tanpa bisa keluar.

"Tidak! Jangan pergi, Adrian! Jangan..." ucapan Adelia terhenti, tubuhnya luruh ke lantai.

Matanya nanar memandang rantai yang melingkar di kakinya. Ikatan yang di pasang setelah ia berusaha pergi ke rumah utama untuk bertemu dengan sang buah hati.

"Aku akan membujuk suami kita untuk mengizinkan mu bertemu dengan anak kita," ujar Rosella dua tahun silam ketika ia meminta untuk bertemu dengan Adrian.

Namun, sampai hari ini Adelia tidak bisa memeluk sang buah hati dan hanya bisa melihat dari kejauhan. Dia bahkan tidak yakin, jika Adrian akan mengenalinya saat mereka bertemu nantinya.

Adelia memukul dadanya yang terasa sakit, berharap maut segera menjemputnya agar tidak lagi merasakan penderitaan. Namun, harapannya hilang sekelip mata ketika melihat Sarah masuk dan mengernyit ketika melihat Adelia menangis.

"Dasar ratu drama! Apa lagi yang Anda tangisi, hah?" ketus Sarah sembari mengambil nampan.

"Anda seperti hewan ternak saja. Makanan saya bahkan lebih layak di bandingkan makanan Anda, Nyonya Lia." Sarah tertawa ketika melihat piring yang nyaris kosong.

Adelia menyandarkan kepalanya di lutut, enggan menjawab ucapan Sarah. Melihat majikannya enggan untuk berbicara dengannya, membuat perempuan berhidung mancung itu terbakar amarah.

Brak!

Sarah membanting nampan di nakas, mendekati Adelia dan mencengkram dagunya. Ia memaksa sang majikan untuk menatapnya.

"Anda mengabaikan saya, berani sekali!" desis Sarah.

"Ak-aku tidak..."

"Haruskah saya membawa teman tidur Anda kemari lagi? Kurasa...Anda butuh teman tidur," potong Sarah, membuat tubuh Adelia tersentak.

"Ti-tidak, jangan lagi. Kumohon jangan," cicit Adelia dengan keringat membasahi tubuhnya.

"Takut? Pengecut sekali!" Sarah melepas cengkramannya dan berdiri. "Jangan tunjukkan wajah Anda di jendela kalau Tuan Adrian bermain," ujar Sarah, berbalik dan mengambil kembali nampan di meja.

"Tetapi..."

"Anda mau Tuan Bagas menutup jendela itu, satu-satunya cahaya yang bisa Anda lihat?" tanya Sarah menunjuk jendela menggunakan dagu, membuat dada Adelia tergemap.

Adelia menggeleng. Jika jendela di tutup, maka ia tidak bisa lagi mendengar dan melihat wajah Adrian meski hanya dari jauh. Adelia mendongak, mendekati Sarah dan memegang lutut sang pelayan.

"Ak-aku janji tidak akan menunjukkan wajah lagi di jendela. Jangan tutup jendelanya, kumohon jangan lakukan itu," mohon Adelia dengan suara parau.

Sarah mengesah, menarik kakinya membuat Adelia tersungkur ke lantai. Ia memandang sang majikan yang tidak diakui dengan wajah jijik kemudian berbalik.

"Anda memang pantas mengemis seperti ini. Dasar tidak punya harga diri," ejek Sarah berjalan keluar kamar Adelia.

Sepeninggalan Sarah, Adelia tetap berbaring di lantai, meringkuk layaknya bayi di dalam rahim. Ia tersenyum sembari meraba perutnya yang rata, mengingat ketika Adrian masih dalam kandungannya.

Dalam hati Adelia membenarkan ucapan Sarah kalau dirinya tidak punya harga diri. Demi bisa melihat sang putra tumbuh sehat dan berkecukupan, Adelia rela berlutut di depan seseorang yang statusnya hanya pelayan.

Sepanjang hari, bayangan Adrian muncul di benaknya. Anak itu memberikan oase sekaligus neraka secara bersamaan.

Brak!

Pintu di buka secara kasar membuat Adelia tergemap dan terbangun dari pembaringan. Di depan pintu Bagas memandangnya datar kemudian mendekat dan mencengkram rambut Adelia.

"Sa-sakit!" cicit Adelia memegangi kepalanya yang terasa nyeri akibat tarikan sang suami.

Bagas mengabaikan rintihan Adelia, memaksa perempuan itu berdiri dan menatapnya lekat. Pria itu melemparkan tubuh Adelia ke atas ranjang kemudian mengurung nya hingga membuat perempuan tersebut tidak dapat melarikan diri.

"Sudah kukatakan berulang kali, Lia. Jangan...pernah tunjukkan wajahmu di depan Adrian!" lirih Bagas penuh penekanan, membuat tubuh Adelia merinding.

"Ak-aku tidak sengaja. Ma-maafkan aku, Mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Adelia menangkupkan tangannya di depan dada dan memohon agar sang suami memaafkannya.

Plak!

Wajah Adelia berpaling, panas menjalari pipinya ketika Bagas menampar wajahnya. Ia bergeming bahkan ketika sang suami mencengkram rahangnya.

"Gara-gara kamu, Adrian menangis! Ia takut kepada nenek sihir sepertimu!" seru Bagas meludah di atas wajah Adelia.

"Kalau bukan wasiat laknat itu, sudah lama aku menyingkirkan mu!" Bagas turun dari ranjang dan memandang Adelia penuh kebencian.

Adelia bergeming, berusaha mencerna ucapan sang suami. Ia bahkan masih tidak mengerti dengan maksud perkataan pria yang sudah menikahinya empat tahun silam tersebut.

"Peringatan terakhir dariku! Jangan pernah tunjukkan wajahmu yang burik di depan anakku!" peringat Bagas.

Pria itu berbalik dan keluar dari kamar, mengabaikan tubuh membeku Adelia.

"...nakku..."

Suara tersebut menghentikan langkah Bagas dan membawanya berbalik. Ia menajamkan telinga, berusaha menangkap ucapan yang terlontar dari bibir istri pertamanya.

Adelia bangkit dari pembaringan dan duduk sembari menunduk, membuat Bagas mengernyit. Sedetik kemudian pria itu termangu ketika melihat Adelia menatapnya tajam.

Tatapan yang tidak pernah diberikan oleh wanita itu sebelumnya. Mata Adelia bahkan mampu membuat nyali seorang Bagas Radithya Wijaya ciut barang sejenak.

"Dia juga anakku!" Ulang Adelia dingin. "Daraj dagingku, dan kalian dengan kejam memisahkan Ibu dari anaknya! Di mana nurani mu!" Adelia menunjuk Bagas dengan emosi menggelegar.

Bagas terpaku sejenak dengan langkah lebar kembali ke ranjang dan menarik rambut Adelia kencang. Kali ini, tidak ada rintihan dari bibir perempuan itu, ia memandang Bagas dengan penuh kebencian.

Tatapan yang tidak pernah diberikan oleh Adelia selama menikah dengan Bagas Radithya Wijaya. Hal ini membuat Bagas terbakar amarah karena perlawanan yang diberikan oleh Adelia.

Bugh!

Tubuh Adelia terlempar ke samping tatkala Bagas menghantamkan tinjunya ke wajah perempuan cantik itu. Tidak cukup sampai di situ, pria tersebut menarik kerah baju Adelia dan kembali memukul wajahnya tanpa ampun.

"Berani kamu membangkang, hah! Kamu memang pantas diberi pelajaran, Lia!" geram Bagas terus memukuli wajah Adelia.

Sementara Sarah hanya berdiri sembari bersandar pada dinding kamar, melihat KDRT yang dilakukan oleh majikannya dengan senyum terkembang. Dirinya bahkan merekam, kejadian tersebut dan mengirimkannya pada seseorang.

Melihat Adelia yang tidak berdaya, membuat hasrat Bagas naik, perlahan ia melepaskan bajunya dan mengoyak pakaian perempuan yang berada di bawahnya tersebut. Menyadari itu, Sarah menghentikan rekamannya dan keluar dari kamar kemudian menutup pintu.

"Ti-tidak...aku tidak mau melayanimu, tidak," rintih Adelia susah payah sembari menggeleng.

"Jangan jadi istri pembangkang, Lia! Kamu suka kan aku melakukan ini padamu?" Bagas menyeringai, turun dari ranjang dan melepaskan pendeng yang dikenakannya.

"Tidak lagi..." Adelia menggeleng, turun dari ranjang, tertatih berusaha menjauh.

Ctaar!

"Aaargh!"

Tubuh Adelia limbung ke lantai, tatkala gasper mengenai tubuhnya. Ia tersentak ketika Bagas tanpa ampun melayangkan pendeng ke punggungnya, mengabaikan darah yang mulai menetes pada tubuh perempuan malang itu.

Tidak ada teriakan yang keluar dari bibir Adelia, hanya rintih kesakitan yang berusaha di redamnya sedaya upaya. Bagas yang merasa tidak puas karena Adelia hanya diam dan tidak memohon ampun seperti biasa, membuatnya kalap.

Ia menghentakkan kaki, menarik rambut Adelia dan menyeret perempuan tersebut kembali ke ranjang. Napas Adelia tersengal, matanya sayu memandang sang suami.

"Memohon lah, Lia. Memohon, maka aku akan menghentikan lecutan ku!" seru Bagas dengan wajah memerah menahan hasrat yang sudah tinggi.

Ctaar!

Tubuh Adelia tersentak kala gesper menyentuh dada telanjangnya. Ia memejamkan mata sembari menggigit bibirnya kuat agar tidak mengeluarkan suara.

Kali ini, Adelia tidak ingin memberikan Bagas kepuasaan seperti hari-hari sebelumnya. Dirinya ingin menghukum sang suami dengan caranya, meski hal tersebut dapat mengancam jiwanya saat ini.

"Memohon lah, Lia. Ayo, memohon!" teriak Bagas dengan napas memburu ketika Adelia tidak kunjung membuka mulutnya.

Bagas ingin menuntaskan hasratnya dengan teriakan sang istri, tetapi wanita itu memilih bungkam. Membuat hasratnya berganti amarah yang menggelegak.

Pria itu terus mencambuk tubuh Adelia yang sudah mengeluarkan banyak darah. Berharap sang wanita merintih dan memohon ampun. Tetapi Adelia tidak kunjung membuka suara.

"Brengsek!" umpat Bagas melempar pending kemudian naik ke atas tubuh Adelia yang telah bersimbah darah. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi istri pembangkang, Lia. Tidak akan!" Bagas melingkarkan tangannya ke leher Adelia dan menekannya kuat.

Adelia tersentak, matanya membola sempurna ketika napasnya tercekat akibat cekikan sang suami. Tangan lemahnya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Bagas, tetapi tenaganya yg sudah berkurang banyak tidak cukup kuat.

Tangan Adelia terkulai di kedua sisi tubuhnya dengan mata melihat sang suami sendu. Orang yang paling di hormati dan di takutinya secara bersamaan.

Adelia tersenyum tipis, sebelum kesadarannya benar-benar memudar. Ia tidak menyesal kalau harus mati di tangan Bagas, penyesalannya hanya lah ketika tidak bisa melihat buah hatinya tumbuh besar.

"Mas! Apa yang kamu lakukan?!!" pekik sebuah suara, menghentikan aksi Bagas.

Pria itu hanya melirik sang istri kedua sekilas kemudian melanjutkan aksinya mencekik Adelia. Ia sudah gelap mata benar-benar tidak terima ketika istri pertamanya abai akan perintahnya.

"Mas! Berhenti! Lia bisa mati!" jerit Rosella, berusaha melepas cekikan Bagas. "Dia sudah tidak sadarkan diri! Kamu bisa dalam masalah, Mas!"

Bagas terpaku ketika melihat Adelia yang sudah tak sadarkan diri dengan wajah lebam. Ia melepaskan tangannya dan turun dari ranjang sembari mengusap wajahnya kasar.

Sampai akhir, Adelia tetap diam, mengabaikan siksaan yang diberikan olehnya. Bagas tidak menyangka kalau Adelia bisa sekeras kepala itu.

"Lia! Astaga, Lia!" pekik Rosella, naik ke ranjang dan memangku kepala Adelia. "Sebenarnya apa yang membuatmu gila seperti ini, Mas!" Rosella memandang tajam wajah sang suami.

"Lia, bangun! Lia?" lanjut Rosella menepuk lembut pipi Adelia.

"Ak-aku...aku..." gagap Bagas tidak dapat berucap di depan Rosella.

"Pergi dari sini, Mas! Aku tidak mau mendengar pembelaan darimu!" seru Rosella dingin. "Sarah! Cepat obati Liaku!" Rosella memanggil Sarah, pelayan sekaligus orang yang selama ini merawat luka-luka Adelia.

"Sa-sayang..."

"Pergi!!" raung Rosella dengan wajah merah padam.

Bagas termangu sejenak kemudian keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu sadar kalau dia sudah kelewatan pada Adelia, membuat perempuan itu berada dalam bahaya.

Bagas menoleh ke arah Adelia yang terbaring tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh darah dan mengepalkan tangan. Ia menyalahkan Adelia yang melawan sehingga membuat dirinya kalap dan gelap mata.

"Salahkan dia yang membangkang, pastikan dia meminta maaf setelah sadar nanti," ujar Bagas dingin kemudian pergi bertepatan dengan Dina yang masuk ke dalam kamar.

"Suamiku itu benar-benar!" Rosella menggeleng tidak percaya dengan apa yang diucapkan sang suami.

"Salah Nyonya Lia, Nona," ujar Sarah, mengeluarkan alkohol 95% dan membersihkan luka cambukan Adelia. "Kalau dia tidak menjawab ucapan Tuan Bagas, tentu tidak akan separah ini."

Rosella memandang wajah Adelia datar, menghempaskan kepala adik tirinya dan turun dari ranjang. Ia menunduk, memandang jijik gaun yang terkena sedikit darah Adelia dan berbalik.

"Hais! Aku harus membeli baju baru!" gerutu Rosella kesal. "Pastikan dia hidup Sarah, aku belum puas menyiksa nya." Rosella menghentakkan kaki keluar kamar, mengikuti jejak Bagas suaminya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel  Birahi Janda Binal
9.3
Widya Ayu Ningrum harus menghadapi kenyataan pahit sebagai janda di usia yang sangat muda, yakni 24 tahun. Sejak suaminya, Harjo, meninggal dunia akibat kecelakaan tragis saat pulang merantau tiga tahun lalu, Widya berjuang menjalani perannya sebagai orang tua tunggal. Kini, ia mendedikasikan hidupnya demi membesarkan putra semata wayangnya, Evan Dwi Harjono. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup Widya dalam melewati lika-liku sebagai ibu rumah tangga tanpa pendamping.
Sampul Novel Birahi Kadang Tak Ada Logika
9.3
Kisah ini ditujukan bagi pembaca dewasa yang mampu menggunakan logika secara mendalam. Dalam dinamika asmara, cinta dan birahi sering kali muncul melampaui nalar manusia. Mengapa fenomena ini terjadi? Ikuti narasi ini hingga tuntas agar Anda tidak melewatkan pemahaman baru mengenai logika birahi yang terus berkembang. Jangan sampai menyesal karena berhenti di tengah jalan, sebab setiap babnya menawarkan sudut pandang penting agar Anda tidak menjadi pembaca yang merugi.
Sampul Novel CINTA SEJATI SANG PESULAP
8.5
Jaime bekerja sebagai pelayan restoran cepat saji meski memiliki bakat sulap luar biasa. Ia memilih menyembunyikan kekuatannya demi mendukung impian wanita yang ia cintai. Perjuangan itu membawanya pada takdir besar yang menembus ruang dan waktu. Namun, meski telah mencapai puncak kejayaan, Jaime tetap terobsesi mengejar cinta lamanya tanpa memedulikan risiko. Ia tidak menyadari ada seseorang yang setia menanti dan tulus menerima dirinya apa adanya.
Sampul Novel Gairah Pewaris Hanya Untuk Pengantin Penggantinya
8.2
Selena Hart terpaksa menerima tawaran gila dari Damian Jorch demi melunasi biaya medis tantenya. Ia dibayar satu juta dolar hanya untuk menjadi pengantin pengganti karena wajahnya sangat mirip dengan tunangan Damian yang hilang, Elsie Sonata. Rencana awalnya sederhana: Selena cukup berdiri di altar dan mengucapkan janji suci. Namun, kendali Damian runtuh saat ia mabuk dan menyentuh Selena. Kesepakatan kontrak itu kini berubah menjadi hubungan yang jauh lebih rumit.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel Istriku Cacat, Istriku Malang
9.7
Dendam membara menyelimuti hati Ellard Willard setelah kecelakaan tragis merenggut nyawa tunangannya. Ia meluapkan amarah kepada Emily Laura, sosok yang dituding sebagai dalang di balik tragedi tersebut. Terjebak dalam jerat kebencian, keduanya terikat dalam hubungan kompleks yang penuh penderitaan. Namun, di tengah konflik yang kian memanas, Ellard justru tersesat dalam keintiman yang membingungkan, membuat batas antara benci dan obsesi menjadi kian kabur.