Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PEMBALASAN DI KEHIDUPAN KEDUA

PEMBALASAN DI KEHIDUPAN KEDUA

Lima tahun Adelia Jalwa Bagaskara menderita sebagai istri yang diabaikan Bagas Radithya Wijaya akibat manipulasi saudara tirinya, Rosella. Tragisnya, pengkhianatan itu menghancurkan keluarga Bagaskara hingga Adelia tewas mengenaskan. Namun, keajaiban membawanya kembali ke masa enam tahun sebelum kematiannya. Dengan kesempatan hidup kedua, Adelia bertekad membalas dendam pada wanita yang menghancurkannya. Akankah ia berhasil menuntaskan dendamnya kali ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Adelia membuka mata dengan perasaan tidak karuan, memandang cairan infus yang berada di sisi kiri. Ia mengerjap, berusaha melihat dalam kegelapan dan mencelus tatkala melihat ke arah jendela.

Jendela tersebut tertutup rapat dari luar tanpa menyisahkan cahaya sedikit pun. Pupus sudah harapannya untuk melihat Adrian walaupun hanya sebentar sekilas.

Bagas telah menutup aksesnya untuk melihat dunia luar dan mengurungnya dalam kegelapan. Tanpa disadari air matanya mengalir deras sehingga membuatnya mengernyit karena perih yang dirasakannya.

"Oh, sudah bangun? Baguslah!" ketus sebuah suara.

Tanpa harus menjawab, Adelia sudah tahu siapa yang datang, Sarah. Ia memejamkan mata ketika lampu kamar dinyalakan dan membuat matanya terasa perih.

Sarah mendekat, memandang Adelia dengan wajah datar kemudian mengangkat tangan perempuan yang terbaring tersebut. Ia memeriksa denyut nadi Adelia dan menghempaskan tangannya kasar.

"Berapa lama?"

Sarah melirik Adelia sejenak. "Tiga hari, beruntung Anda masih hidup," sahut Sarah, mengecek jalannya infus.

"Aku merasa sebaliknya," desah Adelia putus asa.

"Tentu saja Anda merasa sebaliknya, Nyonya," ujar Sarah, menopang tubuhnya dan memandang Adelia sembari mengernyit.

"Tetapi untuk saya, sebuah keberuntungan. Hidup Anda membuat saya mendapat pundi-pundi uang yang cukup banyak." Sarah menjauh dan menyeringai.

Adelia membalas tatapan DmSarah, mengerti maksud dari ucapan sang pelayan. Suaminya ingin dia tetap hidup dan kembali merasakan siksaan yang tidak ada akhirnya, bisa jadi seumur hidupnya.

Hukuman yang sudah ditetapkan Bagas adalah sebuah perintah yang tidak bisa dilawan oleh siapa pun juga, termasuk Adelia. Perempuan itu menarik napas dalam dan meringis ketika merasa sakit dan mencium bau yang pesing.

"CK, bisa muntah saya kalau lama-lama di sini," gerutu Sarah dengan ekspresi jijik dan keluar dari kamar.

"Basah," lirih Adelia dengan dada sesak.

Kasur Adelia basah karena ia mengompol di tempat tidur. Tentu saja dirinya tidak dapat bergerak karena rasa sakit mendera.

Sayangnya, Sarah juga enggan untuk membersihkan kotoran Adelia dan memilih pergi. Adelia termangu, mengangkat tangannya dan tertegun ketika melihat cairan kuning pada bekas lukanya.

Adelia mendesah, pantas saja lukanya tidak kunjung sembuh dan merasakan sakit yang teramat sangat. Rupanya, tubuhnya mengalami infeksi.

"Rose kamu di mana? Aku membutuhkanmu," lirih Adelia putus asa. "Cuma kamu yang bisa membantuku, Ros. Tolong aku."

Tentu saja harapan Adelia sia-sia, Rosella tidak pernah mengunjunginya setelah waktu berlalu cukup lama. Sementara luka yang di deritanya semakin parah karena tidak mendapat pengobatan yang layak.

Bekas cambuk kan Bagas mulai menghitam disertai cairan kuning dengan bau menyengat yang membuat Adelia semakin tersiksa. Dia berharap bisa segera mati, tetapi Sarah selalu memastikan Adelia tetap hidup.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tetapi Rosella tidak kunjung datang. Tubuh Adelia semakin kurus, hanya tulang berbalut kulit dengan bau tidak sedap.

Adelia menjadi kembang ranjang dan bertahan hanya dari cairan infus yang diberikan oleh Dina. Perempuan itu bahkan tidak dapat menghitung hari-hari yang dilewatinya dalam kegelapan.

Bagi Adelia, tidak ada bedanya siang dan malam di dalam kamar yang ia tempati saat ini. Hanya kegelapan, rasa sakit dan bau menyengat dari tubuhnya yang menemani.

"Adelia." Terdengar sebuah suara membuat Adelia membuka mata dan mengernyit karena silau lampu yang mengenai matanya.

Sejenak Adelia mengerjap, membiasakan diri pada cahaya lampu yang berada tepat di atasnya. Ia melihat sekeliling dan terpaku pada sosok yang duduk dengan anggun di kursi di dekat ranjangnya.

Mata Adelia berembun, merasa secercah harapan yang datang dengan hadir sosok tersebut. Ia terisak pelan, merasakan kelegaan yang luar biasa dalam hatinya.

"Rose, akhirnya..."

"Bau. Aku tidak tahu ada manusia yang bisa hidup di tempat seperti ini," potong Rose sembari melihat sekitar membuat Adelia bungkam.

Ia memandang Rose sejenak, ada yang berbeda dari saudara tirinya tersebut. Matanya datar, terkesan dingin ketika memandang Adelia.

Rose beranjak dari duduknya, memegang teralis jendela yang tertutup papan dari luar. Ia tersenyum kemudian berbalik dan memandang Adelia.

"Bagas tidak lagi menginginkan mu, Lia," ujar Rose.

"Bagus, dengan begitu dia nggak akan lagi menyiksaku," lirih Adelia, masih memandang Rose. "Ka-kalau begitu, bisakah kau membawaku keluar dari sini, Ros?"

"Kelua?" Rose tertawa keras, membuat Adelia termangu. "Mau ke mana? Tidak ada tempat untukmu kembali," lanjutnya sembari tersenyum.

"L-lio..."

"Ah...aku lupa. Lio mu sudah lama mati," ujar Rose enteng, membuat dada Adelia bagai di timpah batu. "Dan harta Bagaskara otomatis jatuh ke tanganku. Satu-satunya anak yang tersisa." Rosella menyeringai sembari menepuk dadanya.

"Tidak...kamu bohong, Rose. Kamu pasti berbohong, Lio tidak akan meninggalkan ku," lirih Adelia sembari menggeleng.

Adelia tidak bisa mempercayai ucapan Rosella yang mengatakan kalau saudara kembarnya sudah tidak ada. Beberapa bulan lalu, Rosella bahkan masih berbicara dengan Lio.

"Terserah mau percaya atau tidak." Rosella mengedikkan bahunya. "Adelio meninggal dalam kecelakaan mobil, otomatis harta Bagaskara jatuh ke tanganku," lanjut Rosella.

Mendengar ucapan Rosella membuat Adelia terisak kencang, bayangan Adelio ketika terakhir mereka bersama lima tahun silam. Kini hanya kenangan yang tersisa dari pria yang pernah satu rahim dengannya tersebut.

"Apa maksudmu? Aku masih hidup, aku berhak..." Adelia menghentikan ucapannya. "Aku tidak perlu harta itu, Rose. Ambil, tetapi tolong keluarkan aku dari sini," pinta Adelia mengiba pada wanita yang berdiri di depannya.

Adelia menatap Rose dengan tatapan memohon, dirinya tidak perlu harta. Ia bisa mencari uang sendiri tanpa harta dari Bagaskara, satu-satunya keinginannya saat ini adalah terbebas dari neraka yang diciptakan oleh sang suami.

"Tentu saja harta itu milikku, Lia Sayang. Itu juga alasan aku dan Mama mengirim mu ke neraka ini," bisik Rosella di telinga Adelia, membuat tubuh wanita itu menegang.

Rosella menjauh dan kembali duduk di kursi tadi dan memandang Adelia dengan jijik. Ia mengambil masker dan mengenakannya, berusaha menghalau bau tidak sedap dari perempuan yang berbaring di ranjang keras tersebut.

"Rose, aku tidak..."

"Neraka ini adalah hasil kerja ku menyingkirkan mu, Lia. Tidak kah kamu tahu kalau Bagas sebelumnya adalah pacar ku," potong Rosella. "Ya. Dia pacarku dan aku menyodorkan mu padanya dan membuat Bagas menjadi penerus Wijaya." Rosella melanjutkan ketika melihat ekspresi wajah Adelia.

"Kamu tahu kalau Mas Bagas punya kelainan?"

"Tidak. Sarah yang memberitahu ku, kamu tidak tahu betapa senangnya aku ketika Bagas menyiksamu."

Adelia termangu, tidak menyangka jika orang yang paling di percayanya ternyata ular. Padahal selama ini dia memberikan seluruh kepercayaannya pada saudara tirinya tersebut, tetapi menjadikannya bunga ranjang adalah perbuatan Rosella.

"Aku juga lah yang memintamu untuk di simpan di sini, menjadi boneka demi tujuan yang lebih besar."

"Kamu gila, kalian gila!" desis Adelia berlinang air mata.

"Salahmu lahir di keluarga Bagaskara, Lia. Jangan salahkan kami, aku dan Mama hanya menggunakan kesempatan yang ada," sahut Rosella enteng. "Bukankah kamu sendiri yang meminta Mama menikah dengan Papamu?"

Dada Adelia terasa sesak, benar apa yang dikatakan oleh Rosella. Dirinya lah yang meminta sang Papa menikah dengan Risma, Mama Rosella.

Berharap, pria itu dapat menemukan kebahagiaannya seperti ketika bersama sang Bunda. Akan tetapi, semua berubah saat setahun kemudian Papa sakit keras dan meninggal dunia.

Risma, Mama tiri Adelia menjadi wali atas Adelia dan Adelio Bagaskara sampai mereka cukup umur. Wanita itu mengirim Adelio untuk bersekolah asrama di luar negeri kemudian menikahkan Adelia dengan Bagas dua bulan setelah kelulusannya.

Di paviliun kamar ini, Adelia menghabiskan waktunya setelah menikah dengan Bagas. Ia bahkan menerima Rosella sebagai madunya, berharap kehidupannya akan berubah.

"Sakitkah?" tanya Rosella melihat luka-luka Adelia dengan jijik. "Bagas bahkan tidak tahu kalau kamu masih hidup." Rosella melanjutkan sembari tertawa.

Adelia bergeming, hanya memandang Rosella dengan bersimbah air mata. Perempuan cantik yang sedang duduk tersebut melihat ke arah jendela yang tertutup rapat.

"Kalau dia tahu, pasti akan datang dan menyiksamu lagi. Seharusnya kamu lega, aku masih berbesar hati merawatmu, Liaku Sayang," lanjutnya tersenyum menunjukkan giginya yang putih.

"Haruskah?"

"Ya. Dengan begitu aku baru merasa puas," ujar Rosella. "Melihatmu meraung kesakitan ketika Bagas memukul mu, membuatku bahagia."

"Sudah puas?"

Rosella tersenyum penuh arti beranjak dari duduknya dan berbalik. "Tahukah kamu, kalau aku yang membuatmu terisolasi di sini."

"Kamu sudah mengatakannya tadi."

"Aku nggak mau Adrian kita...ups, Adrianku melihat wajah burukmu dari sini." Rosella menyusuri pinggiran jendela. "Aku juga belum puas kalau belum melihatmu tersiksa," lanjutnya, membuat Adelia menggeram.

Jika saja tubuhnya tidak dalam kondisi lemah dan tidak dapat bergerak, Adelia ingin mencabik-cabik seorang Rosella. Sayangnya, untuk menggerakkan satu jari saja sudah membuat Adelia kepayahan, tidak mungkin ia bisa membalas rubah tersebut.

Akhirnya Adelia tahu siapa musuhnya, tetapi ia terlambat menyadari hal tersebut. Ia bahkan percaya jika Rosella menikah dengan Bagas karena ingin membuatnya keluar dari neraka Wijaya.

Namun sebaliknya, Rosella dan Risma yang membuatnya terjebak di tempat terkutuk ini. Mereka tertawa bahagia di atas penderitaan Adelia dan Adelio, demi gila harta mereka.

"Apa masih belum cukup?" tanya Adelia dengan suara parau.

"Aku..." Rosella menjeda ucapannya. "Karena itulah aku berada di sini, Lia." Rosella tersenyum manis.

Adelia tergemap mendengar ucapan Rosella, sejenak dirinya berharap akan bebas dari tempat terkutuk ini dan dapat menghirup udara segar. Namun, kedatangan Sarah yang membawa sesuatu pada nampan kayu kecil dan usang membuatnya ragu.

Rosella mengangguk mengambil alih nampan dari Sarah dan membawanya mendekati Adelia. Wanita cantik itu mengelus pipi tirus Adelia secara lembut, menyusuri tubuh berbalut kulit di depannya menggunakan matanya.

"Kamu akan membebaskanku?" tanya Adelia hati-hati dengan dada berdegup kencang.

Biasanya Adelia akan senang berada dekat dengan Rosella seperti saat ini. Namun, perempuan itu merasakan hal yang berbeda pada Rosella.

Adelia berniat menggeser tubuhnya dan pergi menjauh dari Rosella, tetapi bahkan tangannya terlalu berat untuk di gerakkan. Tidak ayal, ia takut dengan bayangan di depan mata karena kehadiran Rosella di kamar baunya.

"Tentu saja aku akan membebaskan mu, Liaku Sayang," desah Rosella. " Dengan rasa sakit tentunya, di sini, tempat ini akan jadi peristirahatan terakhirmu." Rosella mengangguk dan mengenakan sarung tangan.

"Ti-tidak...ja-jangan, Rose. Kumohon ja-jangan, ak-aku belum mau mati," iba Adelia dengan keringat membasahi tubuhnya.

Rosella membuka wadah kecil dari tanah liat yang berada di pangkuannya. Mengeluarkan pil kecil dari dalam, mencengkram rahang Adelia dan memaksanya membuka mulutnya kemudian memasukkan obat berwarna hitam itu ke dalam mulutnya.

"Aku akan menemanimu, Lia. Sampai ajal menjemputmu," bisik Rosella kemudian tertawa dan menjauh, mengabaikan gelengan Adelia.

Adelia tidak mau mati dalam kondisi mengenaskan seperti ini. Di temani oleh musuh dalam selimut yang membuat dirinya berada di dalam neraka ini.

Dalam kondisi seperti sekarang, ia menyesal telah membuat sang Papa menikah dengan Risma, Mama tirinya. Jika saja saat itu dia tidak menginginkan pelukan dari seorang wanita yang bernama Mama, mungkin saat ini dirinya masih bahagia bersama dengan Adelio dan Papa.

Detak jantung Adelia mulai berdetak cepat, ia merasa nyeri pada dada serta pusing, membuatnya meringis kesakitan. Tidak lama kemudian penglihatannya memburam di sertai tidak dapat bernapas.

"Acconite, kamu pintar, Sar. Tidak akan ada yang mencurigaiku kalau Adelia mati," ujar Rosella yang masih terus memandangi Adelia yang mulai merasakan efek racun yang di minumkannya.

"Tidak ada yang akan tahu kalau Nyonya Adelia di racun. Semua orang akan mengira dia terkena serangan jantung," sahut Sarah.

"Benarkah? Ah...sungguh malang nasibmu, Lia. Harus mati dalam kondisi menyakitkan seperti ini," desah Rosella terdengar sendu. "Tidak apa, dengan begini aku akan bahagia. Bukankah sejak dulu kamu mengharapkan kebahagiaanku, Lia?"

Adelia memandang Rosella sendu, ia memang mengharapkan wanita itu mendapatkan bahagianya. Akan tetapi, dirinya tidak menduga kebahagiaan Rosella harus ditukar dengan kehancuran keluarga Bagaskara.

Tangan Adelia terulur ke arah Rosella dan Sarah. "Rose...tolong aku tidak dapat..." ucapan Adelia terhenti dengan tangan menggantung di tepi ranjang.

Adelia meninggalkan dalam kesakitan yang teramat sangat, ia dapat melihat senyum kemenangan terpancar di wajah Rosella ketika nyawanya tercabut. Kemudian gelap yang menyelimuti tubuhnya yang serasa seringan kapas.

"Mimpi yang indah, Lia. Terima kasih telah membuatku berada di titik ini," ujar Rosella terdengar begitu jauh, sebelum tubuhnya tenggelam dalam kegelapan yang terasa begitu pekat.

Adelia merasa terombang ambing di dalam kegelapan yang ditemani kenangan semasa hidupnya. Di awali ketika ia terlahir ke dunia dan tumbuh besar hingga akhirnya dirinya mati dalam kesakitan.

Adelia meringkuk dan terisak merasa ketidakadilan pada hidupnya. Bagaimana bisa takdir mempermainkan dirinya sedemikian rupa hingga membuat dirinya harus menderita sampai akhir hayat.

Adelia berharap dapat membalas semua perbuatan Rosella dan Risma. Ia merasakan kebencian yang teramat sangat pada kedua wanita tersebut.

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Rosella! Tidak akan!" desis Adelia dengan tangan terkepal.

Adelia tersentak ketika merasakan sesuatu yang hangat membelai tubuhnya. Perlahan ia membuka mata dan mengernyit ketika merasakan sinar matahari memasuki indra penglihatannya.

Adelia duduk, melihat sekitar dan tergemap ketika ia terbangun di kamarnya dulu. Kamar penuh kenangan yang ditinggalkannya selama begitu lama.

Adelia turun dari ranjang dan termangu ketika berdiri dan terjatuh tepat di depan kaca besar. Ia meraba wajahnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

"Bagaimana bisa..."

Terdengar ketukan pintu membuat Adelia tergemap dan berbalik, melihat sosok yang membuka pintu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel  Birahi Janda Binal
9.3
Widya Ayu Ningrum harus menghadapi kenyataan pahit sebagai janda di usia yang sangat muda, yakni 24 tahun. Sejak suaminya, Harjo, meninggal dunia akibat kecelakaan tragis saat pulang merantau tiga tahun lalu, Widya berjuang menjalani perannya sebagai orang tua tunggal. Kini, ia mendedikasikan hidupnya demi membesarkan putra semata wayangnya, Evan Dwi Harjono. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup Widya dalam melewati lika-liku sebagai ibu rumah tangga tanpa pendamping.
Sampul Novel Birahi Kadang Tak Ada Logika
9.3
Kisah ini ditujukan bagi pembaca dewasa yang mampu menggunakan logika secara mendalam. Dalam dinamika asmara, cinta dan birahi sering kali muncul melampaui nalar manusia. Mengapa fenomena ini terjadi? Ikuti narasi ini hingga tuntas agar Anda tidak melewatkan pemahaman baru mengenai logika birahi yang terus berkembang. Jangan sampai menyesal karena berhenti di tengah jalan, sebab setiap babnya menawarkan sudut pandang penting agar Anda tidak menjadi pembaca yang merugi.
Sampul Novel CINTA SEJATI SANG PESULAP
8.5
Jaime bekerja sebagai pelayan restoran cepat saji meski memiliki bakat sulap luar biasa. Ia memilih menyembunyikan kekuatannya demi mendukung impian wanita yang ia cintai. Perjuangan itu membawanya pada takdir besar yang menembus ruang dan waktu. Namun, meski telah mencapai puncak kejayaan, Jaime tetap terobsesi mengejar cinta lamanya tanpa memedulikan risiko. Ia tidak menyadari ada seseorang yang setia menanti dan tulus menerima dirinya apa adanya.
Sampul Novel Gairah Pewaris Hanya Untuk Pengantin Penggantinya
8.2
Selena Hart terpaksa menerima tawaran gila dari Damian Jorch demi melunasi biaya medis tantenya. Ia dibayar satu juta dolar hanya untuk menjadi pengantin pengganti karena wajahnya sangat mirip dengan tunangan Damian yang hilang, Elsie Sonata. Rencana awalnya sederhana: Selena cukup berdiri di altar dan mengucapkan janji suci. Namun, kendali Damian runtuh saat ia mabuk dan menyentuh Selena. Kesepakatan kontrak itu kini berubah menjadi hubungan yang jauh lebih rumit.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel Istriku Cacat, Istriku Malang
9.7
Dendam membara menyelimuti hati Ellard Willard setelah kecelakaan tragis merenggut nyawa tunangannya. Ia meluapkan amarah kepada Emily Laura, sosok yang dituding sebagai dalang di balik tragedi tersebut. Terjebak dalam jerat kebencian, keduanya terikat dalam hubungan kompleks yang penuh penderitaan. Namun, di tengah konflik yang kian memanas, Ellard justru tersesat dalam keintiman yang membingungkan, membuat batas antara benci dan obsesi menjadi kian kabur.