Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembalasan Dendam Istri TKI

Pembalasan Dendam Istri TKI

Mutia terpaksa memendam amarah saat bekerja di negeri orang, mengetahui suaminya berkhianat dengan menikah lagi. Penderitaannya kian memuncak ketika putri tercintanya menjadi korban penganiayaan di rumah. Sekembalinya ke tanah air, Mutia tidak lagi tinggal diam. Dengan tekad yang membara, ia merancang strategi untuk menuntut keadilan. Kini, saatnya bagi Mutia membalaskan semua rasa sakit dan pengkhianatan yang telah menghancurkan hidup keluarganya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jam baru menunjukkan pukul empat pagi saat Saka sudah keluar dari kamarnya. Ia berjalan ke dapur lalu membuka tudung saji. Tidak ada makanan sama sekali.

Cklek

Bu Jarmi baru keluar dari kamar mandi dengan wajah lega. “Kok nggak ada makanan Bu?”

“Lah, kamu malah nanya Ibu. Tiara kan yang tugasnya masak sarapan. Salah kamu sendiri tadi malam nyuruh Tiara tidur di luar. Jadi kabur kan anaknya.” Saka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar juga.

“Kalau gitu, Ibu tolong masakain Saka sarapan ya. Aku lagi nggak ada pegangan uang lagi makan di warung.” Bu Jarmi menggelengkan kepalanya.

“Suruh saja Sekar yang masak. Apa gunanya punya dua istri kalau yang satu nggak bisa masakin kamu sarapan.” Bu Jarmi kembali masuk ke dalam kamarnya. Saka mencuci wajah dan menggosok gigi lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.

Ia menepuk bahu Sekar agar bangun. Sekar menggeliatkan badan hingga kelopak matanya terbuka. “Ada apa sih mas? Sekarang masih terlalu pagi.”

“Tolong buatkan mas sarapan dek.” Wajah Sekar menjadi cemberut.

“Nggak mau. Buat aja sendiri. Lagipula salah kamu juga yang menyuruh Tiara tidur di luar. Harusnya kamu kurung di kamar mandi aja.” Sekar kembali menutup matanya. Saka menghela nafas sebal. Ia terpaksa memasak mie instan dengan telur yang tinggal satu.

Ia lalu mengambil kunci motor matic dan kembali menepuk bahu Sekar. “Ada apa lagi sih mas? Aku masih ngantuk.” Hardik Sekar marah.

“Aku cuma mau bilang. Suruh Dini periksa kelasnya Tiara. Terus kirim pesan ke aku.”

“Iya, iya. Udah sana berangkat.”

Saka lalu berangkat dengan menggunakan sepeda motor matic yang sudah ia beli sejak lama. Sebelum menikah dengan Mutia. Tidak lama kemudian, Saka memarkirkan motornya di depan pasar.

“Eh Saka. Cepat kesini.” Panggilan dari Yanto membuat Saka segera berlari.

“Tuh benerin motor yang di parkir sembarangan. Orangnya udah masuk ke dalam.”

“Iya sabar.” Saka lalu menata tujuh motor yang parkir tidak tentu arah. Setelah selesai memarkirkan motornya, Saka duduk di samping Yanto. Temannya yang menjaga wilayah parkir pasar di area timur.

“Minta rokoknya To.” Saka langsung mengambil rokok Yanto yang terletak di sebelah pemiliknya.

“Tumben lo minta. Biasanya lo nggak pernah kehabisan uang untuk beli rokok.” Saka menyemburkan asap rokok ke udara.

“Mutia belum kirim uang bulan ini karena anak majikannya lagi pergi ke Korea. Uang kiriman Mutia bulan lalu juga udah habis buat membayar biaya kuliah Ana. Terus sisanya buat bayar cicilan mobil.” Yanto tertawa geli.

“Teman lagi susah lo malah ketawa.” Saka mendengus sebal.

“Aneh aja Ka. Kayaknya cuma lo tukang parkir yang bisa renovasi rumah dan nyicil mobil.”

“Biarin aja, Uang dari bini gue.”

“Iya. Lo kan tukang morotin bini.” Saka hendak memukul kepala Yanto.

“Sialan lo.” Yanto berhasil menghindar karena ada pengunjung yang sudah keluar dengan membawa barang belanjanya.

Saka menghela nafasnya lalu menghubungi nomor Mutia. Jam segini Mutia sudah bangun untuk mengurus keperluan nenek yang di rawatnya. Tapi, sampai tiga kali panggilan, Mutia tidak tetap mengangkat telpon dari Saka.

“Mutia sialan.”

Sementara itu di klinik, Mutia baru saja bangun. Tubuhnya terasa pegal karena ia duduk di kursi. Matanya tertuju pada tangan Tiara yang terus menggenggam tangannya sejak tadi malam. Dengan hati-hati, Mutia melepaskan pegangan tangan Tiara. Ia mengecup dahi putrinya lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Mutia mengambil wudhu lalu menggelar sajadahnya di sampir tempat tidur Tiara.

“Ibu.” Mutia beranjak bangun lalu kembali duduk di kursi samping tempat tidur Tiara. Mukena berwarna biru langit belum sempat di lepas Mutia.

“Iya sayang. Ibu di sini.” Tiara kembali menggenggam tangan Ibunya.

“Aku takut Bu.” Mutia mengusap kepala sang putri. Air mata sudah menggenang di puluk mata. Tapi, Mutia mencoba tegar. Ia menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Tiara nggak perlu takut lagi. Ada Ibu di sini.”

“Ibu nggak akan pergi ke Jepang lagi kan?” Mutia menggelengkan kepalanya.

“Nggak sayang. Ibu akan membangun usaha di kampung kita agar bisa menemani kamu dan Uti.” Kening Tiara tampak berkerut bingung.

“Emang Ibu masih ada uang? Uang Ibu kan udah habis buat di kirim ke Bapak dan Lek Zaki.” Mutia menggelengkan kepalanya.

“Kamu tenang saja sayang. Ibu punya tabungan sendiri yang tidak Ibu kirimkan pada Bapak dan Lek Zaki.” Tiara menghela nafas lega.

“Syukurlah kalau Ibu punya tabungan. Nanti uang dari Bapak juga bisa Ibu pakai untuk tambahan modal.” Mutia menjadi bingung. Air mata sudah kembali mengalir di pipi Tiara, Mutia langsung mengusap air mata sang putri yang mengalir deras.

Mutia naik ke atas tempat tidur lalu membawa Tiara dalam pelukannya. Tiara mengeluarkan semua sesak yang ia rasakan selama empat tahun terakhir. Sejak Bapaknya, Saka, menikah lagi dengan Sekar.

“Ibu nggak perlu uang dari Bapak kembali. Asalkan Tiara bisa selamat dari kekejaman keluarga Bapak. Itu sudah lebih dari cukup untuk Ibu.” Tangis Tiara perlahan reda karena usapan tangan sang Ibu di punggungnya.

“Tapi, aku yang nggak rela Bu. Karena itulah aku mencuri buku tabungan dan kartu ATM milik Bapak.” Mata Mutia membulat mendengar pengakuan sang putri.

“Apa itu penyebab Tiara di pukul sampai babak belur begini?” Tiara menganggukan kepalanya.

“Walaupun aku sering makan enak karena uang kiriman Ibu ke Lek Zaki, tapi tetap saja melihat Bapak menghambur-hamburkan uang hasil kerja keras Ibu membuatku sangat kesal. Apalagi untuk Tante Sekar dan Dini.” Mutia mendekap kepala Tiara ke dadanya.

“Terima kasih sudah peduli sama Ibu sayang. Setelah kita pulang ke rumah Uti, Tiara nggak perlu lagi capek kerja. Tiara juga nggak akan di pukul lagi. Urusan buku tabungan dan kartu ATM milik Bapak, serahkan pada Ibu.” Tangan Tiara semakin erat memeluk pinggang sang Ibu.

“Bapak itu pelit banget Bu. Uang sepuluh juta yang Ibu kirim cuma di tabung. Buat biaya sehari-hari pakai uang dari Bapak yang jadi tukang parkir dan Tante Sekara yang kerja di Koperasi. Setelah tabungannya dapat banyak, malah di pakai buat beli keperluannya Dini dan renovasi rumah Mbah Jarmi.” Mutia hanya bisa menahan kegeramannya dalam hati. Tangannya masih sibuk mengusap punggung sang putri.

“Aku nggak rela kalau mereka tinggal di rumah yang di renovasi dari hasil kerja keras Ibu. Aku juga nggak rela Tante Sekar pamer perhiasan emas dan tas bagus. Ibu harus mengambil semua barang itu.” Seru Tiara kesal. Mutia hanya bisa menghela nafasnya.

“Iya sayang. Besok biar Ibu sendiri yang ambil semua barang milik Tante Sekar dan Dini dari hasil uang kiriman Ibu ya. Tiara udah kuat bangun atau belum?” Tiara menganggukan kepalanya.

“Udah Bu.”

“Kalau begitu Tiara tayamum ya. Terus sholat subuh dulu biar tenang. Ibu udah bawab mukena baru untuk Tiara.”

“Beneran Bu?” Mutia menganggukan kepalanya. Tiara lalu mengambil tayamum dari debu di atas nakas. Mutia mengulurkan sebuah tas berisi mukena berwarna kuning. Warna kesukaan Tiara.

Sambil menunggu Tiara selesa sholat, Mutia mengambil Al Quran lalu membaca di bawah. Matahari perlahan naik saat perawat masuk ke ruang perawatan untuk memeriksan selang infus Tiara.

***

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Sinar matahari yang tepat berada di atas kepala membuat Saka terus mengusap peluhnya. Ia membawa pesan dari Dini jika Tiara hari ini tidak masuk sekolah.

“Ini uang parkir bagian lo Ka. Ayo kita pulang.” Saka mengantongi uang yang berjulah tiga ratus ribu itu.

“Ayo. Udah nggak ada motor parkir juga.” Pasar tempat Saka bekerja hanya sebagai tukang parkir buka selama dua hari pasaran Jawa. Saat hari sudah mulai siang, maka pasar sudah sepi. Penjual juga membereskan barang dagangan mereka.

Motor yang di naiki Saka menuju rumah Bu Surti, Ibu Mutia. Langkahnya berderap cepat hingga ia membuka pintu. “TIARA KELUAR KAMU DASAR ANAK SIALAN.”

“Apa maksud kamu mengatakan kalau Tiara anak sialan mas?” Saka jatuh terjengkang ke belakang.

“Mu, mutia. Kamu sudah pulang?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bermandikan Api: Kisah Reinkarnasi Seorang Putri
8.0
Terlahir kembali di tubuhnya yang berusia delapan tahun, Putri Yun Shang kini membawa beban ingatan dari masa depan yang kelam. Di kehidupan sebelumnya, ia hancur akibat pengkhianatan suami, kehilangan anak tercinta, dan kekejaman kakak perempuannya sendiri. Berbekal trauma dan pengetahuan masa lalu, Yun Shang bersumpah untuk membalikkan takdir. Ia tidak akan lagi menjadi korban yang lemah, melainkan sosok yang siap menuntut balas pada semua musuhnya.
Sampul Novel Dalam Genggaman Sang Penguasa
7.9
Jonathan Smith berhasil mengubah nasibnya dari kemiskinan menjadi orang terkaya di kota Rivera berkat kecerdasan dan kerja kerasnya. Meski banyak rival bisnis dan musuh berusaha menjatuhkannya, ia tetap tak tergoyahkan di puncak kekuasaan. Kerajaan bisnisnya justru kian perkasa dan tak tersentuh setelah ia resmi menjabat sebagai Perdana Menteri. Kini, Jonathan berdiri angkuh mengendalikan segalanya dari kursi kepemimpinan tertingginya.
Sampul Novel Destination Reveange
8.3
Jiang Shiqi kembali ke Kekaisaran Ming demi menuntut balas pada keluarga yang pernah mengadopsinya. Di tengah intrik kekuasaan, ia berhadapan dengan Xuan Ming, pangeran paling bengis dan kejam yang tak mengenal rasa bersalah. Meski Xuan Ming mencoba menahannya dengan paksa, Shiqi tetap teguh menolak cinta sang pangeran. Di malam pernikahan yang dingin, Shiqi justru meminta surat cerai dan bersumpah akan menghilang selamanya dari hidup pria jahat tersebut.
Sampul Novel I'm The Queen
8.2
Ratu Elea yang bijak menghadapi kehancuran saat Raja Flynn lebih memilih Beatrice, selir ambisius yang sedang mengandung. Di tengah fitnah kejam dan gugatan cerai yang memalukan, posisi Elea di Istana Landbird terancam runtuh. Namun, Raja Alaric dari Veridion hadir menawarkan perlindungan dan dukungan tak terduga. Kini, Elea terjebak dalam intrik politik dan pengkhianatan, memaksanya memilih antara mempertahankan takhta atau menempuh jalan hidup baru yang penuh risiko.
Sampul Novel Legenda Tombak Halilintar
9.7
Riki awalnya hanyalah pemain pemburu terlemah, namun takdirnya berubah drastis setelah meraih Dragon Spear, senjata legendaris tingkat tertinggi. Kini, ia bertekad melindungi keluarganya dari hinaan sambil mengejar ambisi menjadi legenda di realitas Sky Legend. Namun, tanggung jawab besar menantinya saat bumi terancam bahaya yang tersembunyi di balik sistem gim. Riki pun berjuang demi kehormatan keluarga, Indonesia, dan dunia untuk mencapai puncak kejayaan.
Sampul Novel Mystical Item User
8.6
Main adalah pemuda lemah yang sangat sensitif terhadap cahaya matahari. Ia mengemban misi berat untuk kembali ke desa demi menghancurkan mustika ular hijau yang berbahaya. Namun, perjalanannya penuh rintangan saat ia harus bertarung melawan para pengguna piranti mistik. Main juga terjebak dalam berbagai konflik sengit melawan manusia dan makhluk gaib. Ia harus berjuang mencari informasi demi menemukan lokasi mustika itu dan menuntaskan tugasnya.