
Pembalasan Carly Hamilton
Bab 3
Carly bergegas untuk pulang setelah mendapatkan bonus dari pak Halbert. Dia berencana mengajak istrinya untuk makan malam.
"Bianca, ayo ganti bajumu. Aku ingin membawa kamu makan malam diluar beserta berbelanja kebutuhanmu." Ajak Carly.
"Apakah kamu memiliki uang? Bahkan kamu saja belum gajian."
"Aku mendapatkan bonus dari pak Halbert karena sudah menaikkan penjualan produknya."
"Benarkah? Sungguh baik sekali atasanmu itu."
"Iya. Sekarang cepatlah kamu mengganti pakaian."
"Baiklah."
Carly sangat merasa bangga karena sudah bisa membahagiakan istrinya. Sudah hampir satu tahun, Bianca tak pernah menikmati hidup mewahnya seperti dahulu.
"Ayo kita pergi." Ajak Bianca yang telah selesai mengganti pakaiannya.
"Kamu terlihat sangat cantik malam ini." Puji Carly ketika melihat Bianca memakai dress berwarna pink dengan tambahan aksesoris anting beserta kalung.
Kecantikan Bianca tidak bisa dipungkiri. Apalagi, ia terlahir memang dari keluarga kaya raya. Jadi wajar, sejak dahulu Bianca bisa merawat dirinya.
"Ayolah... Aku tak butuh bualanmu. Saat ini, aku hanya ingin menikmati suasana luar. Sudah lama, aku tak berjalan-jalan."
"Yasudah." Carly memasang wajah melas. Bianca memanglah orang yang tidak mudah terbuai dengan pujian siapapun. Bahkan, banyak lelaki kaya yang ingin hidup bersama Bianca. Tapi, takdir Bianca berkata lain. Ia harus hidup bersama Carly yang terlahir dari keluarga miskin.
"Kita mau perginya dengan apa?" Tanya Bianca.
"Aku sudah memesan taksi online. Mungkin sebentar lagi sampai."
"Baiklah."
Carly tak bisa membohongi pandangannya. Ia sangat terpana dengan kecantikan Bianca yang sangat indah.
"Taksinya sudah datang. Ayo kita pergi."
Carly tak fokus dengan ucapan Bianca. Ia terlalu fokus memandangi istrinya sehingga tak menyadari jika taksi pesanannya sudah sampai.
"Carly?!"
"Hah?!" Respon Carly yang terkejut.
"Ayo! Mau sampai kapan kamu berdiri seperti patung disana?"
"Oh iya! Ayo kita pergi."
Tujuan awal Carly yaitu membawa Bianca berbelanja kebutuhannya disebuah mall yang tak cukup jauh dari rumah mereka.
"Carly! Bolehkah aku membeli sebuah kado untuk ayahku? Lusa ayahku berulangtahun. Aku ingin mengajakmu menghadiri pestanya." Ungkap Bianca.
"Kamu beli saja barang apa yang ingin kamu belikan pada ayahmu."
"Terimakasih."
Saat tengah asik mengelilingi mall untuk mencari pakaian dan kebutuhan lainnya. Carly dan Bianca bertemu dengan Matteo Abraham. Anak sulung keluarga Abraham, yang tak ialah kakak kandung dari Bianca.
"Hai Bianca! Sudah lama sekali aku tak bertemu denganmu." Sapa Mattheo.
"Hai bang."
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Bianca.
"Aku sedang berjalan-jalan sembari mencari kado untuk ayah."
"Oh ya... Kamu pasti akan menghadiri pesta ulangtahun ayah kan?"
"Iya... Aku akan menghadirinya dengan Carly."
"Ohh... Kalau begitu, jangan sampai lelaki miskin ini berpenampilan seperti gelandangan dipesta ayah. Aku tak ingin dia merusak reputasi ayah kembali."
"Dan ya... Jangan lupa membelikan kado mewah untuk ayah. Gak mungkin kan, seorang Bianca putri Jason Edric Abraham membelikan kado murahan." Sindir Mattheo.
"Hmm... Kamu tak perlu merisaukan hal itu. Aku sudah mempersiapkannya."
"Baiklah. Sampai jumpa lagi."
Bianca memang sekarang hidup tak semewah dahulu. Tapi ia tau cara menyetarakan kelas hidupnya dengan kalangan orang kaya.
Setelah selesai berbelanja, Carly mengajak Bianca makan disebuah resto ternama yang tak jauh dari mall.
"Bianca? Apakah kamu yakin akan membawaku diacara ulangtahun ayahmu?" Tanya Carly yang sedikit ragu.
"Ya... Aku yakin akan membawamu."
"Tapi..."
"Kamu tak perlu memikirkan semuanya. Cukup hadiri dan menikmatinya."
"Baiklah."
Tanpa perbincangan yang cukup banyak, Bianca dan Carly menikmati makan malamnya. Saat pukul 9 malam, mereka berdua memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
[Hari ulangtahun Jason Abraham]
Carly dan Bianca menghadiri pesta dengan mengenakan gaun dan jas yang berwarna senada. Tampilan mereka berdua tak kalah jauh dari tamu undangan lainnya.
"Wahh... Bukankah itu Bianca, anak bungsu keluarga Abraham?" Ucap para tamu yang terkesima dengan kecantikan Bianca.
"Benar... Itu Bianca Abraham! Saya sangat ingin menikahi perempuan secantik itu." Sambung tamu lainnya.
"Percuma kamu berbicara seperti itu bro. Apakah kamu tidak melihat lelaki yang berada disampingnya itu? Dia adalah suami dari Bianca Abraham." Imbuh temannya.
"Benarkah? Berasal dari keluarga mana dia, saya tak pernah melihat lelaki itu."
"Saya juga tak terlalu mengetahui itu."
"Hmm... Sungguh sangat menarik." Ucap seorang lelaki muda tampan yang berada dikumpulan lelaki yang memuji kecantikan Bianca.
"Apa maksudmu Lucas?"
"Jangan bilang, ini permainan barumu?" Tanya lelaki yang duduk disampingnya.
"Jangan sebut namaku Lucas Maddison, jika aku tak bisa mendapatkan wanita itu." Ungkapnya dengan sangat sombong.
"Baiklah, bagaimana kita taruhan. Jika kamu mendapatkan wanita itu dalam waktu sebulan, aku akan memberikan 5 juta dollar untukmu." Tantang Axelio, sahabat dekat Lucas.
"Oke... Tantanganmu saya terima."
Dengan wajah sinis, Lucas memandangi kecantikan Bianca dari kejauhan sembari meneguk segelas wine.-
Carly tampak merasa gugup dengan keramaian orang yang sebagian memandangi kedatangannya.
"Ayo kita temui ayah." Ajak Bianca.
"Baik."
Mereka berdua menghampiri Jason Abraham yang tengah berbincang dengan rekan kerjanya.
"Hai Carly, kamu juga menghadiri pesta ini?" Tanya seorang yang kenal dengan Carly.
"Halo pak Halbert... Ternyata anda juga berada disini." Sapa Carly kembali.
"Benar... Saya rekan kerja pak Jason."
"Ohh... Siapa wanita cantik yang berada disampingmu ini?" Tanya Halbert.
"Dia istri saya pak."
"Tunggu... Kalian berdua sudah saling kenal?" Tanya Jason.
"Iya pak... Carly ini yang mengelola gudang minuman saya."
"Ohh... Sangat beruntung sekali kamu Carly, bisa bertemu dengan pak Halbert yang baik ini." Sindir Jason.
"Permisi... Bolehkah saya berbicara dengan pak Jason sebentar." Potong Bianca yang tak ingin jika ayahnya semakin merendahkan Carly.
"Ohh... Silahkan Nona."
Bianca mengajak ayahnya menuju meja lain.
"Selamat ulangtahun ayah."
"Ini ada sebuah kado kecil untuk ayah dari kami berdua."
"Terimakasih Bianca."
Saat Bianca memberikan kado, Jessica dengan gesit merampas kantong itu dari tangan adiknya.
"Hmm... Hadiah apa yang diberikan oleh adikku untuk ayah?" Ucap Jessica sembari mengintip bingkisan kado dari Bianca.
"Berikan itu kepada ayah kak."
"Memangnya kenapa jika kakakmu ingin membuka kado ayah?" Ujar Jason.
"Tidak apa-apa Ayah! Aku hanya ingin ayah yang membuka kado itu."
"Ayah ataupun kakakmu, itu sama saja."
Bianca memang sering dibedakan oleh ayahnya. Ditambah lagi, Jessica yang bisa menghasut Jason untuk tidak percaya dan selalu menuduh Bianca sehingga tak ada rasa sayang dari Jason pada Bianca.
Apalagi, semenjak kejadian Bianca yang dijebak oleh kedua kakaknya sehingga ia harus menikah dengan Carly. Kejadian itulah yang membuat Jason semakin marah dengan Bianca.
"Hmm... Sebuah jam yang cukup mahal." Ungkap Jessica.
"Sekarang kakak sudah melihatnya. Apakah kado itu bisa diberikan pada ayah?"
"Baiklah."
Jessica memberikan kado itu kembali pada ayahnya.
"Dimana suami miskin kamu itu?" Tanya Jessica.
"Dia sedang berbicara dengan tamu lain."
"Ohh... Jangan lupa, ingatkan suami itu agar tak merusak hari bahagia ayah."
"Kamu tidak perlu memperingati saya. Carly bisa menjaga sikapnya."
"Yasudah... Ayo ayah. Kita mulai acaranya."
Jason dan anak perempuan yang sangat dimanja itu meninggalkan Bianca sendirian.
'BUGHH'
Seseorang tak sengaja menabrak Bianca.
"Ohh... Sorry! Aku tak sengaja." Ucap seorang lelaki yang segera mengambil tisu dan membersihkan dress Bianca.
"Tidak usah! Saya bisa membersihkannya di toilet." Tolak Bianca sembari berjalan menuju toilet.
Anda Mungkin Juga Suka





