
PELUKAN UNTUK LANIA
Bab 2
Melihat langit yang begitu indah sore ini membuat Angkasa berniat menghentikan mobilnya tepat di taman kota. Wajahnya menengadah melihat senja, burung-burung yang lalu lalang serta banyak pemuda pemudi yang bercengkerama seolah sudah siap akan malam minggunya.
Ia segera duduk di bangku panjang yang terlihat kosong meskipun ada seorang bocah menempatinya seorang diri di posisi paling ujung. Entah ke mana orang tua anak lelaki itu, meninggalkannya seorang diri di tempat umum seperti ini.
Menikmati suasana dengan angin yang berhembus ia menyandarkan punggungnya tanpa ingin tahu keadaan sekitar. Langit yang kuning makin lama berubah menjadi gelap digantikan oleh lampu-lampu untuk membantu penerangan.
Telinganya mendengar bunyi tak asing, melirik sedikit apa yang dilakukan bocah di sampingnya itu.
"Kamu lapar?" Bergumam tanpa melihat.
Sedangkan anak laki-laki itu hanya menunduk malu seperti tertangkap basah mencuri sesuatu. Angkasa akhirnya menatap dengan jelas bocah itu. Anak yang sebenarnya tampan dengan baju yang sudah pudar warnanya.
Bunyi yang sama ke sekian kali membuat Angkasa menghela napas, akhirnya ia beranjak pergi. Bocah lelaki itu melihat kepergian Angkasa dengan wajah tertunduk, ia yakin om itu tak ingin berdekatan terlalu lama dengannya.
"Makanlah!" Sodoran yang diberikan membuat bocah itu melihat bagaimana wajah pria yang sudah memberikannya sesuatu. Ia melihat bungkusan hadapannya, tampak menggiurkan tapi dia takut.
"Kamu sendirian?" Angkasa duduk kembali sambil menaruh bungkusan nasi di bangku dekat dengan bocah itu. Tapi hanya anggukan yang di dapat Angkasa.
"Kamu tersesat atau bagaimana?" Menarik, seorang Langit Angkasa ingin ikut campur urusan orang lain. Ia tak henti-hentinya menanyakan hal yang seharusnya tak ia tanyakan.
Hanya anggukan lagi. Angkasa sampai menegakkan tubuhnya.
"Siapa namamu?"
"Kakak!" Teriakan secara tiba-tiba bocah itu sambil melambaikan tangan, entah siapa yang dipanggil membuat ia terperanjat.
"Cakra, Cakrawala." Sambil berlari, bocah itu berbalik menatap Angkasa
***
"Kamu dari mana saja?" teriaknya sambil memeluk bocah yang sudah lari menghampiri dirinya. Hampir dua jam ia berkeliling kota untuk mencari sang adik, yang entah kenapa bisa hilang begitu saja.
"Maaf, Kak," ringis bocah itu karena dipeluk erat sang kakak.
"Kakak takut kehilangan kamu!" Jantung Amara semakin berdetak, ia ingin menyerah dan menelepon polisi saja jika sampai malam ia tidak menemukan adiknya. Jakarta bukan kota aman untuk bocah seusia Cakra yang sendirian, bisa saja eksploitasi anak membuat Cakra menjadi budak. Ia menggeleng-geleng mengenyahkan pikiran buruk tentang hal tersebut.
"Apa yang ada di tangan kamu?" Menggandeng tangan Cakra untuk berjalan kembali pulang.
Cakra melihat tangannya yang membawa bungkusan, ia nyengir malu. "Makanan, diberikan oleh Om yang tadi susuk di samping Cakra.”
Amara tak habis pikir, bisa-bisanya Cakra mengambil pemberian dari orang lain yang tidak di kenal. Padahal bisa saja itu modus penculikan. "Kamu tidak ingat apa yang Kakak katakan untuk tidak mengambil pemberian orang lain?" Amara mengambil bungkusan dari tangan Cakra. “Beri tahu Kakak yang mana orangnya!”
"Jangan, Kak! Nasibnya bisa untuk makan malam kita ...," mohon Cakra sambil menarik baju kebesaran milik Amara.
"Dengar! Kalau di makanan ini ada obat terlarang atau racun, bagaimana? Lalu kamu diculik dan dijual oleh mereka?" Amara mensejajarkan tubuhnya untuk melihat wajah gembil sang adik. "Kakak masih punya cukup uang kalau untuk makan kamu sehari-hari. Jangan jadi miskin hati, Cakra. Cukup materi kita saja yang kurang." Amara menghela napas.
Bekerja sebagai operator fotokopi di depan sekolah, membuat Amara lebih banyak bersyukur meskipun hanya berpenghasilan pas-pasan. Ia sudah banyak mencoba melamar di suatu instansi atau perusahaan walaupun bermodal ijazah SMA. Tak ada salahnya bukan?
Sambil menunjukkan tempat orang yang memberikannya makan, Cakra menengok sekelilingnya. "Tadi om itu duduk di sini, Kak. Duduk di samping Cakra," jelas Cakra sambil menunjuk bangku panjang.
"Terus sekarang om itu hilang?" ejek Amara melihat wajah kebingungan Cakra yang terlihat lucu. Ia pun mendudukkan bokongnya di sana.
Amara memberikan bungkusan pada Cakra. "Ya sudah, ini untuk kamu. Tapi nanti kalau kita bertemu lagi dengan orangnya maka kamu harus membayar uangnya, ya.”
Cakra pun mengangguk senang. Setidaknya ia bisa makan enak malam ini.
**
"Bagaimana bisa kamu main hingga sejauh ini?" tanya Amara sambil menggandeng Cakra menikmati malamnya suasana ibukota.
"Tadi ada ondel-ondel terus Cakra ikuti, deh," kata bocah berumur sepuluh tahun itu menjelaskan.
"Sampai sejauh ini?" Anggukan yang bocah itu berikan membuat asumsi Amara benar. "Kamu sendirian?" cecarnya.
"Tidak, banyak anak lain juga tadi. Tapi sekarang Cakra tidak tahu mereka ke mana." Bisa dipastikan entah Cakra yang kehilangan jejak temannya atau memang ia yang pergi ke suatu tempat setelahnya.
Amara membuka gerbang tua rumahnya, membuat besi yang sedikit berkarat itu berbunyi. "Cepat kamu mandi, Kakak ingin lihat ibu dulu." Dengan lihai Amara menghidupkan seluruh lampu rumahnya.
Dibuka pintu kayu untuk melihat ibunya. "Bu ...." Panggilan itu memenuhi ruangan yang sedari tadi sunyi.
Hanya gumaman yang terdengar sebagai balasan. Amara duduk di pinggir ranjang memperhatikan ibunya yang juga menatap dirinya. Dengan sigap Amara membantu ibunya untuk duduk. "Cakra sedang mandi, Bu." Sambil memijat kaki ibunya, ia berbicara.
Mata sayu itu menatap Amara dengan lembut walau dirinya tak bisa berbuat banyak namun doa selalu terpanjat di hatinya.
"A ... aa ... aa." Perkataan tak jelas yang selalu bergumam itu membuat Amara miris. Tubuh ibunya tak lagi sama, setengah dari sistem sarafnya tidak berfungsi. Bibir yang sedikit menyungging itu menandakan jika dia tak bisa berbicara normal.
"Ibu lapar?"
Menggelengkan kepala Dinarianti–Ibu Amara—membuat Amara semakin berpikir apa yang diinginkan ibunya.
"Aaa ... aaa."
"Kak Guntur?" Akhirnya Amara mengetahui apa yang ibunya jelaskan, dengan bantuan tangan kiri yang masih berfungsi menggambarkan sosok tinggi yang artinya kakak Amara.
"Kak Guntur sepertinya tidak pulang lagi, Bu." Helaan napas Dinar membuat Amara mengerucutkan bibirnya.
Guntur Pribumi laki-laki dewasa yang sudah menginjak dua puluh lima tahun itu entah ke mana dan jarang pulang. Sosoknya tak ubah seperti berandalan di pinggir jalan yang sering nongkrong bersama teman-temannya. Mengikuti pergaulan bebas.
Amara tak banyak berharap dengan Guntur, jika laki-laki pertama di keluarga lain pasti menjadi sandaran dan tumpuan tapi tidak untuk Amara dan Cakra. Mereka tak bisa mengharapkan Guntur yang memberikan kenyamanan di rumah.
"Ibu ingin ke toilet?" Amara membantu Ibunya berdiri, Dinar bisa saja berdiri sendiri namun kakinya sebelah yang mati rasa memperlambat dirinya untuk berjalan.
Dengan tertatih dan menyeret kaki sebelah kanan, Amara menopang tubuh sang Ibu. Belum sempat mencapai pintu kamar, Dinar serta Amara dikagetkan dengan pecahan kaca dari arah dapur. Amara dengan cepat mendudukkan ibunya di kursi. Pikirannya langsung tertuju pada Cakra yang sedang di dapur, semoga Cakra hanya memecahkan gelas.
Amara tambah panik saat melihat adiknya sudah terduduk di lantai dengan pecahan kaca di sampingnya.
"Kak Guntur!"
Anda Mungkin Juga Suka





