
PELUKAN HANGAT PAPA MERTUA
Bab 3
Mobil Brian berhenti dengan bunyi decitan ban di depan rumah Luna dan Eric. Lampu teras redup, hanya menerangi sebagian kecil halaman yang dipenuhi dedaunan kering. Brian keluar dari mobilnya, matanya menyapu sekeliling, mencari tanda-tanda Eric. Tak ada. Hanya kesunyian yang menyapa.
Brian mengetuk pintu. Satu ketukan, dua ketukan, tiga ketukan. Tak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu, namun terkunci. Brian mendesah, kepalanya menggeleng pelan. Luna, yang tertidur pulas di kursi penumpang, tak akan bisa membantu. Ia terlalu mabuk.
"Luna, Luna," Brian membangunkan Luna dengan lembut.
"Apa kau membawa kunci rumahmu?"
Luna mengerang, membuka matanya dengan berat.
"Aku... aku mau tidur," gumamnya, suaranya serak.
"Luna, kau tak bisa tidur di sini. Eric tidak ada, dan pintunya terkunci," kata Brian, mencoba bersabar.
Luna mengucek matanya, pandangannya masih kabur. "Eric... Si tukang selingkuh itu ya?" tanyanya, suaranya semakin serak.
"Apa?" Brian mengerutkan keningnya.
Luna menggeleng, tubuhnya lemas.
"Aku... aku tidak bisa jalan. Aku juga tidak mau bertemu dengan pria itu lagi, papa." katanya.
Brian menghela napas. Ia tak bisa membiarkan Luna tertidur di sini. Ia harus membawanya pulang.
Luna mencekal lengan sang papa mertua. Dan sorot matanya seakan memohon untuk dia tidak ingin pergi ke rumah.
"Bawa saja aku kerumahmu daddy," kata Luna, suaranya semakin pelan.
Brian menghela napas. Ia tak bisa membiarkan Luna terus begini. Ia harus membawanya pulang. Dirinya pun lelah setelah bekerja dikantor. Apalagi hari ini dia lembur hingga larut, malah bertemu sang menantu yang membuatnya frustasi.
"Baiklah, apa boleh buat. Ayo pulang ke apartemenku." Putus Brian.
Luna hanya terdiam, tubuhnya terasa lemas, dan ia melepaskan cengkraman tangannya di lengan Brian.
"Hah, semoga ini keputusan yang baik." Gumam Brian, kemudian kembali menyalakan mobilnya.
***
Hujan masih mengguyur kota dengan deras. Brian mengemudi dengan hati-hati, tangannya menggenggam erat setir, sementara pandangannya tertuju pada jalanan yang licin. Di sampingnya, Luna, menantunya, tertidur lelap dengan kepala bersandar pada jendela mobil. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan napasnya tersengal-sengal. Bau alkohol masih tercium kuat dari tubuhnya.
Brian menghela napas panjang. Ini adalah malam yang panjang dan melelahkan. Luna, yang baru saja bermasalah dengan suaminya, telah menghabiskan malam di bar, menenggak minuman keras untuk melupakan kesedihannya. Brian, yang merasa bertanggung jawab atas keadaan Luna saat ini hanya bisa pasrah.
"Apakah ini keputusan yang tepat?" Brian bertanya pada dirinya sendiri. Ia tahu bahwa Luna membutuhkan bantuan, tetapi ia juga merasa lelah. Tubuhnya terasa berat, matanya terasa panas, dan kepalanya terasa berdenyut-denyut.
Namun, Brian tidak bisa membiarkan Luna sendirian diluar. Ia harus membawa Luna pulang, meskipun ia tahu bahwa Luna akan marah padanya di pagi hari dan mungkin saja akan ada yang terjadi setelah ini.
Saat mobil memasuki kompleks apartemen, Brian melihat banyak orang tengah bermesraan dosana. Itu adalah pemandangan Brian di setiap malam ketika pulang larut. Ia berencana ingin pulang sebelum pukul sepuluh malam, tetapi sekarang sudah lewat tengah malam.
Brian memarkirkan mobil di garasi dan membantu Luna keluar dari mobil. Luna terhuyung-huyung, hampir jatuh. Brian menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Owh, come on baby. Follow me." Gumam Brian sambil membopong Luna masuk ke dalam apartemen.
Luna hanya menggumam tidak jelas. Matanya terpejam, dan tubuhnya terasa berat.
Brian menggendong Luna ke dalam apartemen. Luna meronta-ronta, tetapi Brian tetap menggendongnya dengan kuat.
"Lepaskan aku, Eric! Aku bisa jalan sendiri. Jangan sentuh aku! Tanganmu sudah kotor karena telah banyak menyentuh banyak pelacur diluar sana!" teriak Luna.
"Kau tidak bisa jalan sendiri, Luna. Kau mabuk. Bahkan kau meracau tidak jelas. " jawab Brian.
Sebenarnya ada apa antara putranya dan menantunya ini, kenapa menantunyabterlihat sangat membenci putranya, pikirnya.
Brian meletakkan Luna di sofa. Luna tertidur lelap, dengan napas yang tersengal-sengal.
Brian duduk di kursi, menatap Luna dengan sedih. Ia merasa sangat lelah, tetapi ia tidak bisa meninggalkan Luna sendirian. Ia harus menjaganya sampai pagi.
"Kenapa kau harus melakukan ini, Luna?" Brian bergumam pelan.
"Mabuk bukan solusi yang tepat." Imbuhnya.
Brian teringat saat kejadian beberapa waktu lalu, Luna menciumnya dengan penuh gairah dan agresif. Tiba-tiba Ia juga teringat saat Luna menikah dengan putranya, Eric. Ia teringat saat Luna menjadi menantu yang penuh kasih sayang dan melayaninya selayaknya seorang menantu dan papa mertua. Mulai dari memasakkan makanan dan lainnya.
Tetapi sekarang, ia memandang sebagai seorang wanita. Bahkan ia melihat Luna membuat hasrat kelaki-lakiannya memuncak. Ia sudah menduda lebih dari 10 tahun. Wajar jika ia terangsang dan ingin menyalurkan hasratnya yang terpendam selama ini kepada seorang wanita. Ia menjaga dirinya untuk tidak tidur dengan wanita sembarangan. Namun, apakah harus dengan menantunya sendiri, pikir ya. Brian menggelengkan kepalanya cepat. Menepis segala pikiran buruknya.
Brian menghela napas panjang. Kepalanya menengadah keatas. Merasakan kepalanya yang semakin pening.
"Ah Shit, kenapa aku jadi terangsang begini." Gumamnya.
Brian mengangkat tubuh Luna ke atas ranjang dan ia berencana ingin membersihkan tubuhnya. Namun, Luna mencekal tangannya dan tidak ingin membiarkan dia pergi.
"Don't go anywhere Daddy, please! Temani aku disini ya!" Pinta Luna dengan wajah yang mengiba. Wajahnya merah dengan tatapan sayu. Brian terpana dan terpaku ditempat. Luna menarik tangan Brian hingga terjerembab. Dan kini posisi Brian berada diatas Luna. Sebenarnya Brian belum sangat tua. Ia baru berusia 48 tahun dan Luna berusia 26 tahun. Brian memiliki tubuh yang kekar dan atletis. Brewok tipis dan sangat manly. Tubuhnya sangat sexy bahkan menjadi rebutan wanita genit, baik di kantornya maupun wanita diluaran sana.
Brian membelalakkan matanya ketika posisi tubuhnya berasa diatas sang menantunyabyang cantik.
"Kenapa kamu mau pergi? Apa kau tega meninggalkan aku disini, Hm?" Tanya Luna mengiba.
"Apa yang kau lakukan Luna? Aku ayah mertuamu, kau tidak pantas untuk me-"
Namun tanpa pikir panjang, Luna kembali mencium bibir tebal sang papa mertua. Luna menciumnya dengan agresif. Dengan reflek Luna mengalungkan kedua tangannya ke dalam leher kokoh Brian. Brian membelalakkan matanya, dan berusaha untuk melepaskan diri, namun cengkraman Luna sangat kuat. Tiba-tiba, pikiran Brian melayang. Luna sudah berani menggunakan lidahnya untuk semakin menambah gairah ciumannya.
"Dingiinn ...." lirih Luna.
"Luna aku ad-"
Tiba-tiba Luna membalikkan posisi Brian. Dan kini Luna sedang berada di atas Brian. Rambutnya yang terurai panjang, menjuntai hingga menyentuh pinggangnya.
"Kau sangat tampan. Siapa kau, ha? Apakah kau lelaki asing yang ingin memuaskan aku malam ini, Hm?" Bisik Luna dengan sensual.
"Luna, aku Brian. Ayah mertuamu!" Seru Brian.
Namun Luna seakan tidak peduli. Luna membuka kancing baju satu persatu milik Brian hingga menampakkan dada bidangnya yang penuh bulu.
"Luna, don't! Kamu tidak boleh melakukan ini. Ini tidak benar. Kamu mabuk, kamu bukan dirimu. Jadi ayolah! Bekerjasamalah denganku." Brian berusaha membaringkan tubuh Luna. Namun hal yang mengejutkan lagi-lagi terjadi. Luna membuka bajunya dan sekarang hanya memakai dalaman saja. Dadanya yang super montok menggoda iman Brian. Bagaimana tidak, bukit kembar Luna benar-benar besar. Mungkin j cup, sangat besar dan padat. Brian tidak mampu berkata-kata lagi. Ia juga masih normal. Ia tidak mungkin juga untuk menolak.
"Daddy, kau sangat seksi. Ayolah, buat aku mendesar dan banjir penuh kenikmatan. Atau, kau menolakku karena kau tidak bisa memuaskan wanita?" Cibir Luna.
"Apa?" Brian merasa terganggu dengan itu. Ia adalah penakluk wanita. Bahkan di ranjang. Bahkan mendiang istrinya dulu sangat kualahan melayaninya. Hingga selalu tertidur pulas setelah bertempur dengannya.
"Jangan macam-macam denganku gadis kecil! Jika aku sudah gelap mata, aku bahkan tidak tahu lagi apa yang akan terjadi setelah itu." Ucap Brian dengan tatapan mata dan kilatan yang penuh nafsu.
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





