
Pelayan Ranjang Maduku
Bab 2
Suasana kantor yang dingin karena hembusan AC sentral ternyata nggak cukup buat mendinginkan kepala Kalila. Padahal hari ini jadwalnya padat banget, ada rapat koordinasi antar divisi buat proyek kuartal depan, tapi fokusnya buyar setiap kali ponsel di atas mejanya bergetar. Dia tahu itu bukan dari klien atau bosnya. Getaran itu punya ritme yang dia hafal: rentetan pesan dari grup keluarga Arkan atau pesan pribadi dari ibu mertuanya.
Kalila mencoba mengabaikan notifikasi yang muncul di layar. Dia memaksakan diri membaca laporan performa timnya, tapi kata-kata di layar itu seolah menari-nari tanpa makna. Pikirannya melayang kembali ke percakapan di meja makan tadi pagi. Rasa sesak di dadanya belum juga hilang. Padahal, harusnya dia lagi bahagia-bahagianya menikmati jabatan baru. Tapi kenapa malah rasanya kayak baru aja dapet hukuman tambahan?
Sekitar jam sebelas siang, ponselnya berdering. Kali ini bukan pesan, tapi telepon langsung dari Ibu mertuanya, Bu Lastri. Kalila menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Assalamualaikum, Bu?" sapanya berusaha seramah mungkin.
"Waalaikumsalam, Kal. Duh, sibuk banget ya menantu Ibu yang sukses ini? Ibu ganggu nggak?" Suara di seberang sana terdengar sangat manis, tipe suara yang biasanya jadi pembuka untuk sebuah permintaan besar.
"Lagi di kantor sih, Bu. Ada apa ya?"
"Gini, Kal... Ibu tuh bener-bener nggak enak sebenernya mau ngomong, tapi Ibu bingung mau ke siapa lagi. Tadi malem kan Arkan ke sini, Ibu udah bilang sama dia, eh dia malah bilang katanya dia lagi nggak ada pegangan. Terus Ibu pikir, ya siapa lagi yang bisa Ibu andalin kalau bukan kamu?"
Kalila sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. "Ada apa emangnya, Bu?"
"AC di kamar Ibu mati, Kal! Mana cuaca lagi panas-panasnya begini. Ibu semaleman nggak bisa tidur, sesek napas rasanya. Kamar Ibu kan nggak ada jendela yang gede, jadi pengap banget. Ibu udah panggil tukang servis tadi pagi, katanya mesinnya udah jebol, udah nggak bisa dibetulin lagi. Harus ganti baru."
Kalila terdiam sejenak. "Oh, AC kamar Ibu rusak? Kalau mau dibelikan yang biasa dulu gimana, Bu? Yang setengah PK aja cukup kan buat kamar segitu?"
Suara Bu Lastri tiba-tiba berubah, nadanya agak meninggi dan terdengar tersinggung. "Aduh Kal, kalau yang murah-murah mah cepet rusak lagi. Ibu tadi udah liat-liat di katalog toko elektronik deket sini. Ada itu lho, yang mereknya terkenal, yang ada pembersih udaranya, yang Inverter biar listriknya irit katanya. Harganya emang lumayan, tapi kan awet. Ibu nggak mau ya kalau cuma dipasangin AC yang berisik sama nggak dingin."
Kalila melirik saldo rekening di layar komputernya-ia baru saja membuka mobile banking untuk mengecek dana darurat. "Tapi harganya pasti jauh beda ya, Bu, kalau yang tipe itu? Kalila baru aja ada pengeluaran buat uang kuliah Dimas yang kemarin Mas Arkan bilang."
"Lho, uang kuliah Dimas kan emang kewajiban, Kal. Masamu mau biarin adek ipar kamu putus sekolah? Terus sekarang masa kamu tega biarin mertua kamu mati kepanasan? Arkan bilang gaji kamu baru naik banyak kan? Masa buat kenyamanan Ibu sendiri kamu perhitungan banget? Ibu ini udah tua, Kal, cuma pengen tidur nyenyak aja kok susah banget..."
Kalimat itu selalu menjadi senjata pamungkas. Membawa-bawa umur, kenyamanan orang tua, dan membandingkannya dengan gaji Kalila. Kalila merasa sudut matanya mulai panas. Bukan karena sedih, tapi karena marah yang tertahan.
"Iya, Bu. Nanti Kalila liat ya," jawabnya pendek, ingin segera mengakhiri percakapan.
"Jangan nanti-nanti, Kal. Kalau bisa sore ini udah dipesenin biar besok dipasang. Ibu bener-bener nggak kuat kalau harus tidur di ruang tamu lagi, badan Ibu sakit semua. Ya udah ya, Ibu tunggu kabarnya. Kirim aja uangnya ke rekening Ibu atau kamu mau pesenin lewat online?"
"Nanti Kalila kabarin lagi, Bu. Assalamualaikum."
Kalila meletakkan ponselnya dengan agak kasar. Dadanya naik turun. Rasanya dia ingin berteriak di tengah kantor yang tenang itu. Belum lewat dua puluh empat jam sejak dia dapet promosi, tapi "daftar belanja" dari keluarga Arkan sudah lebih panjang dari daftar tugas kantornya.
Sore harinya, perjalanan pulang terasa jauh lebih melelahkan. Macet Jakarta seperti ikut mengejeknya. Di dalam mobil, Kalila hanya melamun, membiarkan radio memutar lagu-lagu yang bahkan nggak dia dengerin. Pikirannya cuma satu: Arkan.
Kenapa Arkan seolah memberikan "lampu hijau" ke keluarganya untuk terus-terusan memalaknya? Kenapa suaminya itu nggak pernah pasang badan?
Sampai di rumah, Kalila mendapati Arkan sudah santai di depan TV sambil ngemil. Nggak ada tanda-tanda dia merasa bersalah soal pembicaraan mereka tadi pagi.
"Udah pulang, Sayang?" sapa Arkan tanpa dosa. "Gimana kantor? Capek?"
Kalila melempar tasnya ke sofa. "Ibu telepon aku tadi."
Arkan menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Oh, soal AC ya? Tadi dia juga chat aku, katanya udah ngomong sama kamu. Syukurlah kalau kamu udah tau."
"Syukurlah gimana, Mas? Kamu tau nggak AC yang diminta Ibu itu harganya berapa? Hampir delapan juta kalau sama pasang! Itu AC teknologi terbaru yang bahkan di kamar kita aja kita nggak pake yang semahal itu."
Arkan berdecak, meletakkan toples camilannya. "Ya ampun Kal, mulai lagi deh. Kamu tuh kenapa sih jadi sensi banget soal uang? Ibu kan butuh. Dia itu punya asma, kalau udaranya nggak bersih sama gerah, asmanya kambuh. Kamu mau tanggung jawab kalau Ibu masuk rumah sakit?"
"Mas, bukan gitu masalahnya! Masalahnya adalah, kenapa semuanya harus aku? Uang kuliah Dimas aku, AC Ibu aku, cicilan motor kamu aku, belanja bulanan aku. Terus gaji kamu buat apa, Mas? Buat apa?!" Suara Kalila meninggi. Dia sudah tidak tahan lagi.
Arkan berdiri, wajahnya mulai terlihat emosi. "Kan udah aku bilang berkali-kali, gaji aku tuh kecil, Kal! Habis buat bantu-bantu cicilan di rumah Ibu, buat bayar utang koperasi yang dulu aku ambil buat biaya nikah kita. Kamu pikir aku seneng apa nggak punya uang? Aku ini suami kamu, tapi kamu kayak nggak ada harga dirinya sama sekali kalau ngomongin soal duit."
"Harga diri?" Kalila tertawa getir. "Mas, harga diri itu dibangun dengan tanggung jawab, bukan dengan numpang hidup sama istri terus malah nuntut macem-macem buat keluarga kamu. Aku kerja berangkat pagi pulang malem sampe tipes, cuma buat jadi mesin ATM kalian?"
"Jaga mulut kamu ya, Kalila! Kamu udah keterlaluan. Cuma gara-gara naik jabatan sedikit aja sombongnya udah selangit. Kamu pikir aku nggak usaha? Aku juga kerja! Tapi rezeki aku emang belum sebanyak kamu. Harusnya kamu bersyukur bisa bantu keluarga, itu jadi ladang pahala buat kamu."
"Pahala atau diperes, Mas? Bedanya tipis!"
Arkan membanting bantal sofa. "Ya udah! Kalau kamu nggak mau beliin, nggak usah! Biar aku yang cari pinjaman. Biar aku makin numpuk utang demi Ibu aku sendiri. Biar kamu puas liat aku susah!"
Arkan langsung masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. Kalila terduduk di sofa, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang tertahan akhirnya pecah juga. Dia merasa sangat sendirian di rumah yang dia bayar sendiri cicilannya setiap bulan.
Dia teringat kata-kata sahabatnya, Maya. 'Kal, orang kalau dimanja pake duit terus, lama-lama mereka nggak akan liat lu sebagai manusia, tapi cuma sebagai angka.' Sekarang Kalila merasakan kebenaran ucapan itu. Di mata Arkan dan ibunya, Kalila bukan lagi seorang istri atau menantu yang perlu disayangi dan dilindungi perasaannya, melainkan sebuah solusi instan untuk setiap keinginan mereka.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan masuk dari grup keluarga. Isinya foto-foto Dimas yang lagi nongkrong di kafe mahal sama temen-temennya, pake sepatu baru yang Kalila curigai dibeli pake uang "buku kuliah" yang dia kasih kemarin. Di bawah foto itu, Bu Lastri berkomentar: "Duh, gantengnya anak bungsu Ibu. Untung ada kakak ipar baik ya, jadi bisa gaya dikit."
Kalila merasa mual. Dia merasa seperti orang bodoh yang paling bodoh sedunia. Dia bekerja keras sampai mengabaikan kesehatan, mengabaikan hobi, bahkan jarang membelikan sesuatu untuk orang tuanya sendiri karena takut uangnya nggak cukup untuk "kebutuhan" keluarga Arkan. Sementara itu, orang-orang yang dia biayai malah bersenang-senang di atas keringatnya.
Malam itu, Kalila tidak bisa tidur. Dia menatap langit-langit kamar yang gelap. Arkan tidur memunggunginya, masih dalam mode marah karena keinginannya belum dituruti. Di tengah kesunyian itu, sebuah pikiran mulai muncul di kepala Kalila. Sebuah pikiran yang sebelumnya tidak pernah berani dia bayangkan.
Sampai kapan aku mau begini?
Dia menghitung dalam hati. Dua tahun. Dua tahun dia sudah bersabar. Dua tahun dia sudah mengalah. Dan setiap kali dia mengalah, tuntutan mereka bukannya berkurang, malah makin melunjak. Kalau hari ini dia membelikan AC itu, besok apalagi? Kulkas baru? Renovasi dapur? Atau mungkin mobil baru untuk Dimas?
Kalila mengambil ponselnya, membuka aplikasi belanja online, dan menatap keranjang belanjanya yang berisi barang-barang yang sudah lama dia inginkan tapi selalu dia tunda demi keluarga Arkan. Ada sepatu lari baru, ada skincare yang sudah habis, ada buku-buku yang ingin dia baca. Dia melihat total harganya. Jauh lebih murah dibanding AC yang diminta mertuanya.
Tapi, bukannya check-out belanjaannya sendiri, jari Kalila malah bergerak mencari AC yang diminta Bu Lastri. Kebiasaan untuk "mengalah demi kedamaian" ternyata masih terlalu kuat mencengkeramnya. Dia merasa kalau dia nggak beliin sekarang, drama ini nggak akan selesai. Arkan bakal terus mendiamkannya, dan mertuanya bakal terus menyindirnya.
Dengan tangan gemetar dan hati yang berat, Kalila menyelesaikan transaksi itu. Delapan juta rupiah terbang begitu saja dari rekeningnya.
Dia meletakkan ponselnya, lalu membalikkan badan membelakangi Arkan. Air matanya mengalir lagi, membasahi bantal. Bukan karena dia kehilangan uangnya, tapi karena dia merasa baru saja mengkhianati dirinya sendiri lagi. Dia merasa baru saja mengonfirmasi kepada keluarga Arkan bahwa dia memang "mesin ATM" yang bisa ditekan kapan saja.
Di dalam kegelapan kamar itu, Kalila berbisik pelan, hampir tak terdengar. "Ini yang terakhir, Mas. Ini bener-bener yang terakhir."
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu, selama dia tidak punya keberanian untuk berkata 'tidak', kata 'terakhir' itu hanyalah sebuah kebohongan yang dia ciptakan untuk menghibur dirinya yang sedang hancur. Kalila memejamkan mata, mencoba tidur, meski dia tahu besok pagi dia akan bangun dengan beban yang sama, di rumah yang mulai terasa seperti penjara baginya.
Besok pagi, dia harus bangun, memakai baju rapi, memasang topeng "Senior Manager" yang sukses, dan kembali bekerja keras. Bukan untuk masa depannya, tapi untuk memastikan AC di kamar mertuanya tetap dingin, sementara hatinya sendiri perlahan membeku.
Anda Mungkin Juga Suka





