
Pelarian Cinta Yang Terlarang
Bab 2
Elara mengunci pintu kamarnya dengan suara pelan, seakan takut dunia di luar sana mendengar langkahnya. Suasana rumah ini seakan memeluknya dalam cengkraman yang semakin erat. Ruangan itu terasa sempit, meskipun sebenarnya cukup luas. Setiap sudutnya dipenuhi dengan bayangan masa lalu-bayangan yang tak bisa ia buang, tak bisa ia lupakan. Bayangan ibunya, yang dulu selalu mengajarkan untuk hidup bebas, untuk tidak terikat pada apapun yang bisa menghalangi kebahagiaan. Tapi sekarang, semua itu terasa jauh.
Ia berjalan menuju jendela, memandang keluar, menatap langit senja yang berwarna merah keemasan. Seharusnya ia merasa tenang, tapi tidak. Perasaan itu, perasaan terperangkap, terus menghantui. Ketika ibunya bunuh diri, dunia Elara berubah dalam sekejap. Dan sekarang, ia terjebak di dalam rumah besar ini, rumah yang dibangun dengan ambisi, dengan kekuasaan yang tidak dapat ia mengerti sepenuhnya.
Tapi ada satu hal yang jelas. Thorne. Pria itu, yang selama ini mencoba untuk tampil seperti ayah, ternyata lebih mirip seorang penjara. Seorang tiran yang melihatnya bukan sebagai seorang anak, tetapi sebagai seseorang yang bisa dikendalikan. Sering kali, Elara merasa seperti boneka yang terikat tali, bergerak hanya sesuai dengan kehendaknya. Thorne selalu punya cara untuk membuatnya merasa kecil, tak berdaya, terjatuh dalam jurang kebingungannya sendiri.
Namun ada satu hal yang lebih menakutkan lagi-Thorne sepertinya tidak hanya ingin mengendalikannya. Ada sesuatu yang lebih gelap di balik perhatian yang diberikannya. Sesuatu yang membuat Elara merasa tidak nyaman, yang bahkan tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana mungkin seorang pria yang sudah menghancurkan segalanya untuk ibunya, bisa mendekatinya begitu saja dengan cara yang hampir penuh kasih?
Sebuah ketukan pelan di pintu membangunkan Elara dari lamunannya. Ia menoleh, jantungnya berdebar kencang. Dalam sekejap, Thorne sudah berada di sana, berdiri di ambang pintu, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya mata yang tajam, penuh makna.
"Ada apa?" tanya Elara, suaranya terdengar lebih dingin dari yang ia niatkan.
Thorne mengangkat alisnya sedikit, seakan terkejut dengan sikapnya. "Makan malam hampir siap," katanya tanpa mengubah nada suaranya. "Kamu tidak mau terlambat lagi, kan?"
"Jangan perintah aku," jawab Elara dengan nada tajam. "Aku tidak anak kecil lagi, Thorne."
Thorne hanya diam, seolah kata-kata Elara tak pernah ada. Matanya tetap menatapnya dalam, penuh dengan ketenangan yang begitu mengganggu. Ia melangkah lebih dekat, begitu dekat hingga Elara bisa merasakan hembusan napasnya. Bau cologne yang kuat mengelilinginya, menambah ketegangan yang semakin menyelimuti ruangan itu.
"Elara," Thorne akhirnya bersuara, suaranya kali ini lebih dalam, lebih menekan. "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Jangan buat semuanya lebih sulit daripada yang seharusnya."
Elara menahan napas. Kata-kata itu. Kata-kata yang selalu sama. Yang terbaik untuknya. Apa yang terbaik untuknya dalam hidup yang penuh dengan kontrol ini? Apa yang terbaik untuknya dalam hidup yang dipenuhi dengan ancaman dan manipulasi? Ia ingin berteriak, tapi malah hanya bisa menatapnya dengan mata penuh kebencian.
"Tapi itu tidak ada hubungannya dengan aku," ujar Elara pelan, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh kekuatan. "Kamu tidak tahu apa yang terbaik untukku. Dan aku tidak butuh kamu untuk menunjukkan jalan."
Thorne hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak menyembunyikan apapun selain ketegangan yang semakin mencengkeram. Ia mundur selangkah, memberikan ruang antara mereka.
"Apapun yang terjadi, Elara," katanya, "ingat satu hal. Kamu tidak pernah bisa melarikan diri dariku. Aku akan selalu ada, mengawasi."
Elara merasakan darahnya mendidih. Kata-kata itu, ucapan yang penuh ancaman, bukan lagi hanya tentang kontrol-itu adalah permainan. Permainan di mana ia hanya sekadar pion.
Thorne menoleh dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Elara yang masih berdiri di sana, terjebak dalam perasaan yang sulit ia artikan. Semua yang terjadi-setiap tindakan, setiap kata-semakin membuatnya ragu. Dia tidak tahu apa yang lebih buruk: terjebak dalam permainan ini atau mencoba melawan dan kehilangan semuanya.
Namun satu hal yang jelas, tak ada jalan keluar yang mudah. Thorne akan selalu ada, mengintai, menunggu kesempatan untuk menariknya lebih dalam ke dalam dunia yang tidak pernah ia pilih.
Elara tahu ini baru permulaan. Dan dia tidak akan tinggal diam.
Anda Mungkin Juga Suka





