
Pelarian Cinta Yang Terlarang
Bab 3
Malam itu, Elara duduk di meja makan, matanya berkelana di atas hidangan yang tersaji di hadapannya. Suasana di meja makan terasa kaku, setiap orang terdiam, hanya suara peralatan makan yang terdengar memecah keheningan. Thorne duduk di ujung meja, pandangannya selalu mengarah padanya, meski seolah ia tidak peduli. Sejak pertemuan mereka tadi di kamar, Elara bisa merasakan ketegangan yang semakin nyata di antara mereka.
Pemandangan itu-semua yang ada di sekelilingnya-terasa begitu asing. Paman dan bibinya yang duduk di seberang meja tidak berbicara, mereka seakan tahu apa yang terjadi, tapi memilih untuk diam. Elara tahu mereka bukanlah orang yang bisa ia percayai sepenuhnya. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri, tak peduli apa yang terjadi padanya. Di dunia ini, dia hanya punya satu orang yang benar-benar mengendalikan takdirnya: Thorne.
"Elara, makanlah," kata Thorne dengan nada lembut namun penuh perintah. Itu bukan permintaan, itu adalah instruksi yang tak bisa ia tolak. "Kamu tidak ingin mengecewakan kami, kan?"
Elara menatap Thorne dengan tajam. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seperti duri yang menusuk langsung ke hatinya. Ada sesuatu yang salah dengan semua ini. Ia bisa merasakan pengaruh Thorne yang begitu kuat, menggerogoti segalanya dalam hidupnya. Perasaan seperti ini membuatnya ingin berontak, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Setiap pergerakan, setiap keputusan, terasa seperti perang besar yang harus ia hadapi sendirian.
"Kenapa kamu melakukannya?" Elara akhirnya membuang pertanyaan yang telah terpendam begitu lama. "Kenapa semuanya harus seperti ini? Kenapa aku harus tinggal di sini, di bawah kontrolmu?"
Thorne mengangkat alis, seolah terkejut dengan keberanian Elara. Untuk sesaat, suasana di meja makan seakan terhenti. Paman dan bibinya menundukkan kepala, tidak berani mengangkat pandangan mereka. Elara bisa merasakan atmosfer yang mencekam, tetapi ia tidak peduli. Sudah cukup ia hidup dalam ketakutan.
"Melakukan apa?" Thorne berkata, suaranya terdengar tenang, hampir menenangkan, namun Elara tahu itu hanyalah kebohongan yang ia coba tutupi. "Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Elara. Kamu tahu itu."
"Tidak ada yang terbaik dari semua ini, Thorne," Elara membalas dengan tajam. "Aku tidak butuh perlindungan dari orang yang membunuh ibuku."
Kata-kata itu langsung mengiris udara, meninggalkan keheningan yang lebih dalam di antara mereka. Paman dan bibinya saling berpandangan, jelas sekali mereka tidak ingin terlibat dalam percakapan ini. Mereka tahu betul siapa yang memegang kendali di rumah ini, dan siapa yang bisa membuat hidup mereka sengsara.
Thorne tetap diam sejenak, wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Namun matanya, mata yang penuh rahasia itu, menatap Elara dengan kedalaman yang mengerikan. Ada kekuatan yang tersembunyi dalam pandangannya, sebuah ancaman yang tidak perlu diucapkan.
"Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan," Thorne akhirnya berkata pelan, namun suaranya mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. "Terkadang, apa yang kita anggap salah adalah yang terbaik bagi kita."
Elara merasa tubuhnya bergetar mendengar kata-kata itu. Betapa mudahnya Thorne berbicara seolah dia yang paling tahu segalanya. Segalanya tentang hidupnya, tentang ibunya. Segalanya yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan pria itu.
"Yang terbaik?" Elara tertawa, namun suara tawanya terdengar pahit, seperti air mata yang tertahan. "Kamu tidak pernah tahu apa yang terbaik, Thorne. Kamu hanya peduli pada dirimu sendiri. Kamu membunuh ibuku, dan sekarang kamu mencoba mengendalikan hidupku. Tidak ada yang terbaik dari semua itu."
Thorne menatapnya, sekali lagi dengan pandangan yang tidak bisa ia terjemahkan. Ada keheningan yang menekan di antara mereka, dan Elara tahu dia baru saja membuat sebuah langkah berbahaya.
"Jangan menguji aku, Elara," Thorne berkata, nadanya lebih dalam sekarang, hampir seperti peringatan. "Kamu tidak tahu siapa yang kamu lawan."
Namun Elara tidak mundur. Dia tahu terlalu banyak. Dia tahu bahwa Thorne berusaha memainkannya, membuatnya merasa takut, merasa tidak berdaya. Tapi dia tidak bisa membiarkan itu terus berlanjut. Dia tidak bisa membiarkan pria itu merusak apa yang tersisa dalam dirinya.
"Aku tidak takut padamu, Thorne," Elara membalas dengan penuh keyakinan, meskipun hatinya berdegup kencang. "Kamu bisa mencoba mengendalikan semuanya, tapi aku tidak akan pernah menjadi bagian dari permainanmu."
Perkataan itu menggantung di udara, dan Elara bisa melihat kekesalan di wajah Thorne. Namun ia hanya tersenyum tipis, seakan itu semua hanyalah bagian dari rencananya. "Kita lihat saja nanti, Elara. Kamu mungkin berpikir bisa melawan, tapi dunia ini tidak sehitam putih yang kamu pikirkan."
Dengan itu, Thorne bangkit dari meja, meninggalkan Elara dengan perasaan campur aduk. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan bahwa dia terperangkap. Tapi itu tidak akan membuatnya menyerah. Tidak sekarang. Tidak pernah.
Thorne mungkin berpikir dia bisa mengendalikan segalanya, tetapi Elara tahu-dia tidak akan tinggal diam selamanya.
Anda Mungkin Juga Suka





