
Pedang Naga Siluman
Bab 3
Bab 3
"Ton!" bisik Satya pelan.
Hartono yang sedang membuka buku, celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya,
"Siapa?" bisiknya juga pelan, khawatir dengan ibunya yang judes dan galak. Ya Ibunya Hartono ini sangat judes dan galak, Hartono ini agak terkekang karenanya, jadi dia agak kuper.
"Aku...! Satya!" bisik Satya pelan dari sela-sela dinding kayu rumahnya Hartono.
"Ayo kita main!" bisik Satya lagi.
Hartono tampaknya agak-agak takut kalau ketahuan Ibunya, karena Ibunya terobsesi anaknya ini bisa melampaui Satya dalam kepandaian dan segalanya, tapi Hartono sendiri sangat mengagumi dan patuh pada Satya sahabatnya.
"Aku takut ketahuan ibu," jawab Hartono lirih.
Dan kelihatannya kali ini Satya tidak berhasil merayu Hartono untuk di ajaknya main.
Satya akhirnya menyerah merayu Hartono.
Langkahnya kemudian di arahkan ke padukuhan lain yang berdekatan dengan rumahnya.
Ya dia menuju ke rumah Bambang, karena anak ini mudah dirayu untuk mengikutinya, apalagi orang tuanya juga tidak terlalu mengekang, bahkan cenderung membebaskannya dalam bermain.
Dan benar saja, Bambang terlihat bersama Satya berjalan di pematang sawah yang gelap, hanya sebatang obor yang dibawa mereka.
Waktu-waktu mendekati musim kemarau seperti ini adalah masanya anak-anak bermain aduan jangkrik.
Malam itu Satya dan Bambang menyusuri pematang di sawah yang di tanami kacang tanah dan Jagung.
Setelah padi di tuai, memang petani di desa ini memilih kacang tanah, kacang hijau, juga jenis kacang yang lain.
Ketika sudah memasuki areal persawahan terdengar banyak sekali suara jangkrik. Memang ini baru musimnya jangkrik.
"Mbang, hari ini kita dapat jangkrik banyak nih!" Kata Satya sambil menunjukkan toples yang di bawanya yang sudah terisi jangkrik berbagai jenis.
Ada Jlitheng (hitam legam) Jerabang ( merah) juga Pilo (agak kekuningan).
"Bener Sat, besok bisa kita adu setelah pulang sekolah sama temen-temen," sahut Bambang.
Dalam mencari jangkrik ini Satya yang bertugas menangkap dan Bambang yang bertugas membawa obor, sedangkan toples tempat jangkerik di cangklongkan di bahu Satya.
Malam itu mereka mendapatkan jangkerik yang cukup banyak dan mereka segera berjalan pulang.
Dalam perjalanan, mereka melewati gerumbul bambu yang besar-besar dan rimbun, banyak anak-anak yang sangat takut jika lewat jalanan ini, bahkan orang tua pun banyak yang takut, karena di dipercaya sebagai sarangnya lelembut seperti Genderuwo, Banaspati atau jenis makhluk halus lain.
Genderuwo sendiri di lukiskan oleh penduduk seperti sosok berbulu lebat hitam seperti kingkong, tinggi dan besar terbiasa bertempat di pohon besar juga bambu yang rimbun.
Sedangkan Banaspati di lukiskan sebagai bola api yang bisa bergerak sendiri dan suka menyedot darah manusia.
"Aku takut lewat sini hii ." Kata Bambang mulai ketakutan. Dia memegangi ujung bajunya Satya saking takutnya
Bamb tidak berani melihat gerumbul-gerumbul bambu yang melambai-lambai tertiup angin malam, seperti bayangan-bayangan setan yang sedang melambai pada mereka.
Satya sebenarnya juga takut, tapi berhubung ada kawannya jadi hatinya di kuat-kuatkan.
Ketika mereka sudah dekat dengan batang-batang bambu yang rimbun mendadak terlihat ada bola api berwarna merah menyala- nyala melayang di udara seperti layaknya permainan bola api saja.
Satya sebenarnya juga sangat takut apalagi Bambang yang segera bersembunyi di belakangnya.
Satya segera teringat kata-kata Mbah Wiguno, bahwa manusia diciptakan dengan derajat yang lebih tinggi dari makhluk lainnya seperti jin dan setan.
Apalagi akhir-akhir ini dia juga sering menghadapi hal- hal aneh bersama Mbah Wiguno!
Dia sudah di beri pesan Mbah Wiguno supaya jangan takut menghadapi makhluk halus, anggap saja seperti hal-hal yang lucu atau menarik.
Hilang sudah rasa takut di hati Satya. Dia berpikir ini adalah bola api mainan yang sering di mainkan anak-anak dalam mengisi tujuh belasan memperingati kemerdekaan Republik Indonesia.
Kini dia berjalan semakin dekat, bola apipun tampaknya masih menunggu di tempatnya.
Satya berjongkok dan mengambil segenggam tanah halus seperti pasir yang halus.
Ketika sudah berjarak dekat dengan bola itu, Satya segera berkata, "kamu ini hewan apakah, mengganggu aku saja!"
Dan dia kemudian telah melontarkan tanah yang di genggamnya kearah bola api itu.
Anda Mungkin Juga Suka





