Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati

Pedang Kebenaran Sejati

Permana Brata adalah pendekar dengan masa lalu kelam yang penuh noda hitam. Demi menebus dosa lamanya, ia berkelana menyebar kebaikan. Berbekal jurus Sepuluh Syair Bumi Pertiwi dan Pedang Kebenaran Sejati, Permana bertekad mencari orang tuanya. Meski rintangan berat menghadang, ia tak gentar menghancurkan setiap aral. Prinsipnya teguh: membasmi angkara murka dan memusnahkan kejahatan agar kedamaian sejati tercipta di seluruh jagat raya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Permana Brata meninggalkan Hutan Titir yang penuh kenangan baginya. Ada kenangan buruk, ada kenangan baik, dan ada kenangan yang tidak mungkin terpisahkan dari kehidupannya sebagai seorang anak manusia. Permana, si Pendekar Budiman itu memang ingin melupakan masa lalu. Masa yang sebagian merupakan masa kelam. Masa-masa yang sebagian penuh kisah hitam.

Karena dirinya memang berasal dari sebuah hubungan gelap. Sehingga menyebabkan sebagian dari jiwanya berada dalam kegelapan. Apalagi masa kecilnya dididik oleh mendiang Padaswaja yang penuh watak angkara murka.

"Kau hidup tanpa diharapkan dari kedua orang tuamu!” kata Padaswaja semasa masih hidup. Saat itu Padaswaja telah mewariskan segala ilmu sesatnya kepada Permana. “Kamu lahir dari hubungan gelap. Kamu dibuang di tengah Hutan Titir. Kamu sekarang telah menjadi manusia kuat, pendekar hebat yang kebal dari senjata apa pun. Kamu memiliki ajian worowojo yang bisa membakar apa saja. Maka binasakan semua orang yang membuatmu tersia-siakan sejak lahir!”

Setelah kematian Padaswaja, Permana mengembara untuk mencari kedua orang tuanya. Siapa pun yang tidak bisa menunjukkan keberadaan kedua orang tuanya, akan dia binasakan.

Untunglah masa kelam itu tidak berlangsung selama hidup Permana. Ada tiga orang yang membimbing Permana menuju jalan kebenaran: Wacoko, Ki Sasmaya, dan Bendu.

Mendiang Wacoko keturunan keenam Ki Angeb. Wacoko pemilik pusaka sakti Pedang Biru. Pada masa mudanya, Ki Angeb prajurit Kerajaan Majapahit, salah satu anak buah kepercayaan Mahapatih Gajah Mada. Ki Angeb merupakan salah satu prajurit setia andalan Gajah Mada di medan perang.

Wacoko mewarisi Pedang Biru alias Pedang Kebenaran Sejati dari Ki Angeb. Saat bertarung melawan Permana demi membela harga diri keluarga, Wacoko kalah. Sebelum ajal, Wacoko mewariskan Pedang Biru kepada Permana dengan pesan sama seperti yang diucapkan Gajah Mada kepada Ki Angeb, “Gunakan Pedang Biru untuk menumpas segala angkara murka di muka bumi!”

Peristiwa itu menyadarkan Permana dari perbuatan jahatnya dimasa lalu. Sejak saat itu, Permana ingin membinasakan diri dengan menggunakan Pedang Biru. Waktu itu Permana menyadari bahwa dirinya adalah jelmaan angkara murka yang harus binasa. Dia ingin menggunakan Pedang Biru di tangan untuk menghabisi diri sendiri.

Pada saat itulah muncul orang kedua dalam lintasan hidup Permana. Orang itu bernama Ki Sasmaya, yang menyadarkan Permana dari masa kelamnya.

“Kamu akan lebih berguna bagi sesama manusia kalau masih hidup, bukan setelah mati,” begitu kata Ki Sasmaya. Ki Sasmaya menjadi guru Permana. Ki Sasmaya termasuk pendekar dari golongan putih. Berkat didikan Ki Sasmaya, Permana menjadi Pendekar Budiman, pendekar yang punya budi pekerti terpuji.

Ki Sasmaya memberikan segala ilmu yang dimilikinya kepada Permana. Ilmu tentang budi pekerti, ilmu tentang kehidupan dan pergaulan hidup, ilmu kepekaan batin, ilmu ketajaman pikir, dan sepuluh jurus ilmu silat yang aneh. Aneh, tapi dahsyat.

“Sepuluh jurus silat itu merupakan sepuluh jurus utama. Tiap jurus dikembangkan dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi. Sepuluh syair dijabarkan menjadi sepuluh jurus utama. Tiap satu jurus utama merupakan hasil pendalaman dan penja¬baran dari satu syair. Tiap satu jurus utama bisa kamu kembangkan sesuai kemampuanmu,” Ki Sasmaya memberikan penjelasan.

Setelah mendapatkan ilmu dari Ki Sasmaya, Permana ingin mencari kedua orang tuanya. Untuk tujuan itu, Permana bertemu dengan Bendu. Pendekar bertubuh pendek yang baik hatinya. Dia tahu tentang masa lalu, termasuk tentang kedua orang tua Permana.

“Ibumu bernama Prabasari. Ayahmu bernama Baron Smith,” Bendu menjelaskan tentang orang tua Permana. “Dulu Prabasari adalah permaisuri di Kerajaan Pulungwarih. Sekarang beliau menjadi raja di Pulungwarih menggantikan mendiang Raja Jarabas yang telah mangkat. Baron Smith ahli obat. Dia datang dari suatu tempat yang sangat jauh. Orang menyebutnya Tanah Hijau. Untuk sampai di Tanah Jawa dibutuhkan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu naik kapal layar.”

Permana merasa bangga dalam hati saat mendengar cerita Bendu tentang kedua orang tuanya. Bendu mengatakan bahwa ibunya sangat cantik dan ayahnya sangat tampan. Kini langkah kaki Permana lebih tegap dan tegar. Apalagi kini Permana menyandang Pedang Biru di punggungnya.

Pedang Biru pusaka berbentuk pedang. Pedang itu memancarkan sinar biru menyilaukan bila dicabut dari sarungnya. Sebuah pusaka sakti peninggalan dari kakek moyang Wacoko.

Wacoko, pewaris keenam dari Ki Angeb. Wacoko memberikan pesan terakhir yang tidak akan dilupakan Permana selama hidup. Permana harus menggunakan Pedang Biru untuk menumpas segala bentuk angkara murka di muka bumi, tanpa pandang bulu.

Tentu saja Permana merasa bangga mendapatkan kepercayaan itu. Dia merasa bangga, juga karena tahu bahwa Pedang Biru itu dulunya pemberian Mahapatih Gajah Mada kepada Ki Angeb. Ki Angeb merupakan salah satu prajurit setia andalan Gajah Mada di medan laga.

Dia menerima pedang pusaka itu juga dengan pesan yang sama, seperti yang dikatakan Ki Angeb kepada anak cucunya secara turun-temurun: Gunakan Pedang Biru untuk menumpas segala angkara murka di muka bumi!

Dengan demikian, secara tidak langsung, Permana mendapatkan pesan. Atau perintah. Perintah dari mendiang Sang Mahapatih Gajah Mada…!

Dengan pemikiran seperti itu membuat Permana tidak ingin mengkhianati si pemberi perintah. Dia selalu mengeraskan tekad. Membajakan keinginan untuk melaksanakan perintah itu.

Permana berjanji dalam hati untuk menggunakan Pedang Biru sebagaimana mestinya. Dia tidak ingin menyelewengkan kekuasaan atas pusaka sakti itu. Sebab kalau sampai dia selewengkan kekuasaannya atas pusaka itu, maka justru akan makin runyam dunia persilatan.

Mengapa bisa begitu? Karena Permana mempunyai ilmu silat tinggi dengan jurus-jurus aneh nan dahsyat dari Ki Sasmaya. Ki Sasmaya, sosok pendekar dari aliran putih yang mempunyai sepuluh jurus utama dari Sepuluh Syair Bumi Pertiwi. Satu dari kesepuluh jurus tersebut telah digunakan Permana pada saat menghadapi Bendu dan Ganggarati. Permana berhasil mengalahkan mereka tanpa mengalami kesulitan yang berarti.

“Tugas yang kamu sandang itu tidak ringan,” terngiang pesan Ki Sasmaya dalam benak Permana. “Tugasmu berat, tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Saat ini angkara murka makin merajalela di dunia persilatan.”

“Manusia-manusia jahat makin ganas dalam melakukan kejahatannya,” kata Ki Sasmaya. “Manusia-manusia laknat makin menjadi-jadi dalam mengumbar tindakan keji. Permana… kamu harus memusnahkan semuanya! Apakah kamu sanggup melakukannya? Aku yakin kamu bisa melaksanakan tugasmu dengan sebaik-baiknya.”

Pesan dan dorongan semangat dari Ki Sasmaya membuat Permana merasa lebih percaya diri. Dirinya bisa melangkah dengan pasti menapaki jalan menuju Pulungwarih.

Dalam perjalanannya menuju Kerajaan Pulungwarih, Permana menempuh waktu berhari-hari. Waktu pagi dan siang, Permana selalu berjalan menuju ke arah timur.

Malam harinya, menginap di desa yang dia lewati. Atau kadang-kadang tidur di sebuah gubuk tengah sawah yang biasa digunakan oleh petani untuk beristirahat waktu siang hari.

Suatu malam dia singgah di sebuah rumah penduduk Dukuh Genturan. Sebuah desa pelosok yang masih termasuk wilayah Kadipaten Moncer, masih berada dalam wilayah kekuasaan Pulungwarih.

Soma, nama pemilik rumah yang disinggahi Permana merasa beruntung. Karena ada orang yang bisa dia ajak bicara tentang keadaan Dukuh Genturan. Sebuah dukuh yang terletak di kaki sebuah perbukitan berbatu-batu terjal.

Dukuh itu semakin tidak aman sejak kedatangan Srenggoloyo, anak Adipati Ardalapa, penguasa Kadipaten Moncer.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Palsu, Dendam Sejati Telah Dimulai
9.6
Vano, tunanganku, tega mendorongku ke kolam meski tahu aku trauma air. Saat aku sekarat, ia justru bermesraan dengan selingkuhannya, Melodi. Setelah selamat, ia berbohong bahwa aku terpeleset demi reputasinya. Kebencianku memuncak; aku memutuskan berpura-pura amnesia untuk menghancurkannya. Aku mengaku sebagai kekasih Bahar Adijaya, musuh bebuyutannya. Melihat wajah Vano yang pucat pasi, aku tahu misi balas dendamku yang mematikan baru saja dimulai.
Sampul Novel Dikorbankan Demi Keselamatan Cintanya
9.1
Saat penculikan melanda diriku dan Elowyn—mantan kekasih suamiku—harapan muncul ketika suamiku yang berprofesi sebagai ahli negosiasi tiba di lokasi. Namun, saat penculik hanya mengizinkan satu sandera bebas, suamiku justru memilih menyelamatkan Elowyn. Dia berdalih Elowyn yang masih suci tidak akan kuat menghadapi trauma, sementara aku yang sudah berstatus istrinya dianggap sanggup bertahan. Meski aku memohon, dia tega menyerahkanku pada penculik, tanpa tahu aku sedang hamil tiga bulan.
Sampul Novel GAIRAH TENGAH MALAM
9.5
Seorang fotografer alam liar melakukan ekspedisi mendalam ke jantung hutan Amazon yang misterius. Di sana, ia bertemu dengan pemandu lokal tangguh yang memicu ketertarikan kuat sejak awal. Di balik pesona hutan hujan yang eksotis, mereka harus menghadapi berbagai rintangan berbahaya yang mengancam nyawa. Di sela ketegangan dan ancaman alam tersebut, tumbuh gairah membara yang menyatukan keduanya dalam sebuah petualangan cinta yang penuh dengan risiko dan aksi.
Sampul Novel Hidden Tea
8.2
Saat menghadiri pesta di Negeri Suwarna, Putri Mahkota Manggalya menerima kabar duka atas wafatnya sang ayah. Karena takhta tak boleh kosong, Pangeran Rahagi yang berusia sepuluh tahun pun naik takhta menggantikannya. Sang Putri yang terpukul memilih mengasingkan diri demi menenangkan jiwa. Namun, di bawah kuasa raja muda yang baru, Manggalya justru berubah menjadi kerajaan agresif yang terus memperluas wilayah kekuasaannya secara membabi buta.
Sampul Novel JOSEPH HUNTER (Fight for Trust)
8.7
Malam pertama Joseph Hunter berubah tragis saat istrinya, Camila, jatuh ke laut demi menghindari restu maut sang ayah. Setelah nyaris tewas, Joseph terjebak kontrak gelap untuk memburu kartel The Demon. Di tengah misi, ia bertemu Vanessa, kekasih musuh bebuyutannya yang berwajah identik dengan mendiang istrinya. Rahasia masa lalu yang terkuak kemudian menyeret Joseph ke dalam pusaran dendam mendalam, memaksanya berjuang demi sebuah kepercayaan di dunia mafia.
Sampul Novel Ketika Cinta Mati, Dendam Dimulai
9.8
Pasca kematian tragis putranya, Eva Anindita justru dikhianati suaminya, Jaksa David Adiwijaya. Demi melindungi Karin, pelaku tabrak lari, David memenjarakan Eva atas tuduhan palsu. Setelah tiga tahun mendekam di penjara dan kehilangan anak keduanya, Eva bebas hanya untuk melihat kenyataan pahit. David telah membina keluarga baru bersama Karin. Kini, jurnalis investigasi ini siap menuntut balas atas pengkhianatan keji yang menghancurkan hidupnya.