
Pedang Kebenaran Sejati
Bab 2
Srenggoloyo akhir-akhir ini sering datang ke Genturan untuk mencari mangsa. Siapa lagi yang dia mangsa kalau bukan gadis-gadis desa yang lugu. Gadis-gadis Genturan tidak berani menolak keinginan Srenggoloyo. Berani menolak keinginan Srenggoloyo, sama saja dengan berhadapan dengan Ardalapa secara langsung!
“Jadi sekarang ini Genturan mulai tidak aman lagi ya, Pak?” tanya Permana ketika keduanya berbincang-bincang di emper rumah Soma. Sebuah rumah sederhana berdinding anyaman bambu. Terletak di tepi dukuh, yang dilintasi jalan ke timur menuju Pulungwarih.
“Benar, Nak. Makin hari, kami sekeluarga makin resah saja dibuatnya,” kata Soma dengan nada prihatin dan sedih.
“Memangnya di dukuh ini tidak ada yang bisa melawan Srenggoloyo?”
“Sebenarnya ada, tapi sudah tak ada gunanya. Paling sedikit ada satu keluarga ditumpas dan enam pemuda dibantai secara keji oleh anak buah Srenggoloyo. Perlu Nak Permana ketahui bahwa anak buah Srenggoloyo tak lain dan tak bukan adalah para prajurit Kadipaten Muncar.”
“Itu artinya, para prajurit kadipaten itu malah diperalat oleh Srenggoloyo?”
“Benar, Nak. Melihat kenyataan ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Apalah daya seorang petani dusun macam aku ini, Nak. Hanya tinggal pasrah menunggu nasib saja. Orang-orang yang duduk di atas singgasana Kadipaten Muncar dan para punggawanya yang berkuasa. Yang sangat kuasa menentukan nasib orang-orang kecil macam aku ini.”
“Seharusnya jangan mudah mupus seperti itu, Pak Soma!”
“Lantas, apa yang bisa kulakukan? Melawan kekuatan mereka yang begitu besar itu? Tidak mungkin kulakukan. Karena hal itu sama saja dengan bunuh diri, Nak. Sama saja dengan mati konyol akibat keberingasan para prajurit-prajurit yang diperalat Srenggoloyo.”
“Memang…, kalau Pak Soma melawan sendiri-sendiri, maka akan habis disikat mereka. Tetapi kalau Pak Soma dan penduduk sedukuh sini bersatu, nyali mereka akan ciut. Srenggoloyo dan para prajuritnya pasti akan berhitung kalau ingin menindas kalian.”
Soma terdiam. Petani tua yang usianya lebih dari setengah abad itu merasa sulit melaksanakan pendapat Permana. Mungkin anak muda yang ada di sampingnya itu bisa melawan mereka sendirian karena dia sosok pendekar yang memiliki ilmu silat.
Permana juga memiliki senjata ampuh berupa Pedang Biru. Tapi dirinya dan para penduduk Genturan ini? Paling-paling mereka hanya memiliki ilmu bertani, itu pun hanya berdasarkan naluri para leluhur jaman dulu.
Malam terus berlalu. Mereka segera berangkat tidur karena besok pagi masih banyak yang mereka kerjakan. Besok pagi, seperti kebiasaannya, Soma akan ke sawah seperti bersama istrinya, Rinten. Sedangkan Permana, akan meneruskan perjalanan hidupnya menuju Pulungwarih. Permana ingin secepatnya bertemu ibundanya, Prabasari.
Malam semakin larut. Soma dan Permana terlelap tidur. Keduanya terbangun ketika mendengar suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan.
Permana, Soma, Rinten dan Raras Arum berada di halaman rumah bambu milik keluarga Soma. Permana siap meneruskan perjalanannya, sedangkan Soma dan Rinten akan ke sawah dengan membawa peralatan tani mereka. Sedangkan Raras Arum akan meneruskan masak untuk orang tuanya. Gadis cantik itu hanya bisa merelakan kepergian Permana.
Sosok Pendekar Budiman yang sejak kemarin menjadi pembicaraan gadis-gadis sedukuhnya. Teman-temannya menduga Permana adalah calon suami Raras.
Padahal tidak demikian kenyataannya. Permana hanyalah seorang petualang yang sedang dalam perjalanan. Karena berhari-hari berjalan, maka kelelahan. Sesuatu yang wajar kalau Pendekar Pedang Biru itu kelelahan. Karena sejak pertama bertualang, belum pernah beristirahat.
Baru kemarin dia merasa sangat kelelahan dan memutuskan untuk menginap di rumah seorang penduduk. Penduduk itu kebetulan memiliki seorang anak gadis bernama Raras.
Dalam benaknya, Permana merasa terpikat oleh kecantikan Raras. Tapi dirinya tahu diri. Dia harus menghilangkan segala godaan di hatinya. Pendekar Budiman itu tidak ingin keinginannya untuk segera bertemu ibundanya terhalang oleh urusan cinta.
Pendekar muda yang berwajah tampan itu memang sudah bertekad untuk segera menemui Prabasari. Halangan apa pun akan dia hindari demi mencapai keinginan kuat di hati untuk secepatnya bertemu Ratu Pulungwarih tersebut.
Aku harus tabah menghadapi godaan ini. Begitu kata hati Permana. Walau hati ini tertarik pada Raras, tapi aku menahan diri. Aku harus menahan kesedihan karena harus berpisah dengan Raras. Gadis cantik yang jauh di lubuk hati, mulai memikat hatiku.
Permana segera pamit kepada tiga orang yang telah berbaik hati dengan memberinya tumpangan menginap, walau hanya semalam. Memang hanya ingin menginap semalam, sesuai rencana Permana. Dia tidak ingin terlalu lama tinggal di Genturan.
Pulungwarih adalah tempat utama yang harus dia capai secepatnya. Kalau perlu, pada waktu matahari berada di ufuk barat nanti dirinya sudah sampai tujuan. Rencananya, Permana nanti akan menginap lagi di kota Kerajaan Pulungwarih. Sedangkan pagi berikutnya ingin menghadap ibundanya, Prabasari. Sekarang telah menjadi raja, sehingga panggilannya ‘Ratu Prabasari’.
Permana memandang cukup lama kepada tiga orang baik hati itu. Terutama sekali, sudut matanya memandang ke arah Raras Arum. Setelah itu, dia segera membalikkan tubuhnya. Menyongsong sinar matahari yang mulai terbit di ufuk timur. Berjalan mantap menentang sinar matahari memerah jingga yang hangat.
Raras merasa cemas ketika Permana meninggalkannya. Meninggalkan Genturan. Sepertinya ada sesuatu yang membahayakan bila sampai Genturan ditinggalkan Pendekar Budiman itu.
Namun karena Permana mengatakan ada urusan pribadi dan sangat penting harus dikerjakan, maka Raras tidak bisa berbuat banyak. Selain itu, Raras tak mungkin bisa mencegah kepergian Permana. Pemuda tampan itu memang bukan apa-apanya.
Tidak ada hak bagi Raras untuk mencegah kepergian Permana. Tidak ada yang bisa mencegah Permana untuk secepatnya meneruskan perjalanan menuju Pulungwarih. Tanpa sepengetahuan ketiga penduduk Genturan itu, Permana secepatnya ingin melacak kebenaran atas kisah hidupnya yang pernah diceritakan oleh Bendu.
Rupanya yang dicemaskan Raras ada benarnya juga. Baru beberapa langkah Permana meninggalkan rumah Soma, mendadak dari arah selatan terlihat gerombolan berkuda bersenjata lengkap dipimpin oleh seorang muda berwajah rupawan.
Soma, Rinten, dan Raras Arum tahu mereka yang datang itu. Wajah ketiga penduduk Genturan tersebut memucat. Mereka buru-buru hendak bersembunyi ke dalam rumah.
Namun gerombolan manusia yang terdiri dari tujuh orang itu telah dekat mereka. Ketujuh orang berpakaian mewah, menunjukkan kalau mereka berasal dari kota Kadipaten Moncer, langsung mencegah Soma dan anak-istrinya yang ingin masuk ke rumah.
Mereka melalui Permana dengan sikap dingin saja. Melewati Permana dengan anggapan bahwa sosok pemuda itu tidak ada di situ. Ketujuh orang dari Kadipaten Moncer itu menganggap Permana sepi. Tidak ada.
Mati.
Sesial-sialnya hidup adalah dianggap mati padahal masih hidup. Semalang-malangnya nasib adalah ada dianggap tiada. Hidup dianggap mati. Hidup dimatikan. Masih hidup telah dimatikan. Seburuk-buruknya nasib bila masih ada dianggap tiada. Ada dianggap tidak ada. Ada atau tidak ada dianggap sama, tidak ada.
Mati.
“Hei Soma Kancil!” teriak si tampan dan bersih wajahnya dari atas kuda. Keenam prajurit Moncer yang berada di bawah kendalinya juga berhenti. Tiga di samping kiri, tiga di samping kanannya. “Mau masuk rumah ya?”
***
Anda Mungkin Juga Suka





