Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pancaroba

Pancaroba

Dunia Aretha yang awalnya tenang dan sederhana mendadak berubah drastis setelah ia bersinggungan dengan seorang pemuda yang dianggap aneh oleh teman-teman sekolahnya. Sosok misterius ini memiliki pola pikir yang sulit dipahami dan menyimpan banyak rahasia tentang kehidupannya yang tak terduga. Pertemuan tersebut membawa Aretha ke dalam situasi penuh tanda tanya, saat ia mencoba menyelami sisi lain dari lelaki yang sulit ditebak tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Finally, Mahesa dan Aretha akhirnya dihukum olah Ibu Sondakh karena di anggap menerobos masuk tanpa izin. Keduanya di hukum hormat tiang bendera hingga jam pelajaran pertama usai.

Mahesa tak henti-hentinya menyalahkan Aretha. Bagaimanapun Aretha adalah orang yang mengajaknya untuk memanjat tembok belakang sekolah. Walau pada awalnya dia memang berniat sama juga, tapi itu tak akan terealisasi jika Aretha tidak muncul tadi.

"Ini semua gara-gara lo." Mahesa masih saja menyalahkan Aretha. Aretha hampir bosan mendengarnya sejak tadi.

"Kok gue? Kan lo juga setuju mau ikut cara gue." Aretha tak kalah sewotnya. Terang saja dia kesal lantaran Mahesa seolah sedang melimpahkan semua kesalahan padanya. Bocah menyebalkan. Tidak tahu diri.

"Kapan gue bilang setujunya?" tanya Mahesa dengan tampang songong.

Aretha melirik Mahesa sekilas,"Ya ... lo emang nggak bilang. Tapikan akhirnya lo ikutan manjat juga kan?"

"Kalau gue tahu endingnya kayak begini, gue nggak bakal ikut-ikutan lo tadi. Lagian lo bilang, daerah situ aman dari pantauan guru. Nyatanya? Kita ketangkap juga kan?" omel Mahesa panjang lebar membuat Aretha hanya bisa geleng-geleng kepala. Tadi saja kelihatan coolnya tapi sekarang Mahesa justru terdengar sangat cerewet. Lebih cerewet dari Bunda Aretha di rumah.

"Ya mana gue tahu kalau hari ini Bu Sondakh bakal ke situ. Kenapa lo jadi nyalahin gue melulu sih?" sahut Aretha tak mau kalah. Baginya mereka sama-sama melakukan kesalahan, jadi rasanya aneh saja jika saling melempar kesalahan begini. Mahesa memang aneh.

"Kenyataannya emang lo yang salah,"ujar Mahesa lagi masih tetap teguh menyodorkan semua kesalahan pada Aretha.

"Ihhh ... lo nyebelin banget sih!!" Aretha semakin kesal karena terus saja disalahkan. Jika saja ini bukan di sekolah, dengan sangat senang hati Ia akan mengacak-ngacak wajah Mahesa dengan kuku-kuku indahnya.

"Tahu gini, mending gue langsung pulang tadi. Jelas urusannya. Bisa nyantai di rumah walau nggak bisa ikut ulangan. Lah ini, ikut ulangan nggak bisa. Di hukum pulak."

"...."

"Mimpi apa gue, sampe ketemu cewek aneh kayak begini."

Sumpah demi apapun, Mahesa sungguh sangat amat menyebalkan. Bisa-bisanya dia dengan begitu percaya diri menyudutkan Aretha, padahal dia sendirinya juga salah. Toh ... Aretha nggak maksa dia buat ikutan tadi.

"Lo nyindir gue?" tanya Aretha mulai memamerkan raut wajah kesalnya.

"Menurut lo?"

"Erghhhhh ...!!"

Walau tengah dirundung rasa kesal yang luar biasa, Aretha tetap tak bisa berbuat apa-apa. Ia memilih mengambil jarak lebih jauh dengan Mahesa daripada semakin darah tinggi. Seolah tak takut dengan kemarahan Aretha, Mahesa tampak memamerkan senyum tipisnya. 

"Ngapain lo senyum-senyum? Lo lagi nggak berada di situasi, di mana lo bisa tersenyum lepas kayak gitu. Lo nggak tahu apa kalau gue lagi sebel banget sama lo?" Sekarang giliran Aretha yang mengomel.

"...."

"Ahhh ... gue tahu, lo senyum karena lagi ngeledekin gue kan? Seneng lo udah bikin gue darah tinggi pagi ini?" tanya Aretha lagi yang mencoba meluapkan semua kekesalannya sejak tadi.

"Idih ... GR banget lo. Gue nggak ada waktu buat ngeledekin lo. Tapi ... lo benar, gue senang karena udah bikin lo darah tinggi."

"MAHESA!!"

Puas berdebat, keduanya kembali diam dan fokus menjalani hukuman. Mereka bisa saja kabur, tapi Bu Sondakh tentu tak akan tinggal diam. Hukuman yang lebih berat pasti sudah menanti jika mereka nekad kabur. So...lebih baik jalani saja hukumannya dengan hati yang ikhlas. Daripada dihukum lagikan?

***

Bel tanda jam pelajaran usaipun berbunyi. Satu-satunya hal yang sudah sangat di nantikan oleh dua anak manusia yang dahinya telah di penuhi bulir keringat itu. Entah kenapa cuaca pagi ini terasa lebih terik dari biasanya, seakan semesta tak mau ketinggalan menghukum kedua murid yang melanggar aturan ini.

Mahesa dan Aretha kompak berjalan mendekati tiang bendera. Tempat dimana keduanya menyimpan ransel masing-masing. Aretha mendelik tajam pada Mahesa, seakan-akan begitu ingin menunjukkan pada Mahesa kalau dia benar-benar emosi.

Tapi ... yang di kasih kode malah tidak peka sama sekali. Mahesa berlalu pergi begitu saja sambil memanggul ranselnya. Dia bahkan tak melirik Aretha sedikitpun. 

"What? Apa-apaan tu cowok? Nggak tahu apa kalau gue sebel banget sama dia? Minta maaf kek, atau ngomong apa kek gitu? Dasar cowok aneh," gerutu Aretha kesal.

Namun diluar dugaan, Mahesa membalikkan badannya. Ia kini berjalan kian dekat ke arah Aretha. Aretha mulai panik, khawatir Mahesa mendengar kata-katanya tadi.

Mahesa kini sudah berdiri persis di hadapan Aretha. Tatapan tajam yang Ia layangkan lebih dari cukup membuat nyali Aretha menciut.

"Siapa nama lo tadi?"

Aretha bengong sesaat. Nih cowok pikun apa gimana? Apa cuaca yang cukup panas pagi ini membuat otaknya meleleh hingga kehilangan seluruh ingatannya?

Stopped Aretha. Berhenti melebih-lebihkan sesuatu.

***

Masih di lapangan, dan Aretha masih dengan rasa marah yang sama.

"ARETHA. Nama gue ARETHA. ARETHA SAQUILA."

Mahesa mengangguk kecil tanda mengerti. Ia kembali melempar tatapan tajamnya, tapi sedetik kemudian tatapan itu melunak seiring dengan pergerakannya yang kini berjongkok di hadapan Aretha.

Aretha kaget bercampur panik. Ia mulai berpikiran yang aneh-aneh.

"Lo mau ngapain?! Mau ngintip ya?" tuduh Aretha cukup beralasan. Aneh saja rasanya ketika ada orang yang tiba-tiba jongkok persis di depannya.

Aretha sudah berniat ingin menggeplak kepala Mahesa atau mungkin menendangnya, tapi apa yang dilakukan Mahesa justru membuatnya tertegun. Mahesa mengikat tali sepatu Aretha yang tanpa sadar terlepas. Kenapa malah situasinya jadi seperti ala drama korea begini sih? Aretha merasa sangat canggung.

"Lo nggak bisa ya, nggak curigaan sama orang?" tanya Mahesa dengan nada tenang.

"Ya maaf. Habisnya gelagat lo aneh sih. Bentar-bentar kejam dan bawel kayak emak tiri. Bentar-bentar baek kayak emaknya Meyra," oceh Aretha tak jelas.

Mahesa sudah selesai dengan kegiatannya. Ia kembali berdiri menghadap Aretha.

"Meyra siapa lagi?"

"Sahabat gue," sahut Aretha dengan nada santai.

Mahesa hanya mengangguk lalu kemudian berlalu pergi. Terlihat seperti anak yang irit bicara. Namun Aretha tak akan mau bilang begitu, karena tadi dia sudah mendengar betapa cerewetnya si pancaroba itu.

Ok ... forget it Aretha. Waktunya masuk ke kelas sekarang.

Aretha ingin beranjak meninggalkan lapangan. Tapi belum juga satu langkah Ia pergi. Tiba-tiba...

Gubrak!!

Kedua lutut Aretha sukses mencium kerasnya lantai lapangan,"Auww ... lutut gue," rintih Aretha kesakitan.

Namun rasanya Aretha bisa mengabaikan rasa sakit itu karena kini darahnya terasa mendidih saat menyadari penyebab Ia bisa terjungkal seperti itu. Tidak salah memang jika tadi dia mencurigai Mahesa.

Bukannya mengikat tali sepatu Aretha dengan benar, cowok itu justru menyatukan ikatan tali sepatu yang kiri dengan yang kanan. Alhasil ... Aretha akhirnya terjungkal sedemikian rupa.

"MAHESA!!"

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bodyguard I'm In Love
9.7
Jhon Christy terobsesi pada Aleta Louison sejak pandangan pertama. Seiring waktu, perasaan tersebut berkembang menjadi obsesi yang kelam. Demi mendekati sang pujaan hati, Jhon rela melepas hidup mewahnya dan bertolak ke Rusia untuk menjadi seorang bodyguard. Ambisi terbesarnya hanyalah terus mendampingi Aleta. Jhon bertekad menyembuhkan sisi psikopat dalam diri gadis itu dan membimbingnya kembali menjadi sosok wanita yang normal sepenuhnya.
Sampul Novel Cinta Untuk dr. Saka
7.9
Dunia Dokter Saka runtuh seketika saat wanita yang ia cintai justru memilih menikah dengan kakak kandungnya sendiri. Komitmen dan kesetiaan yang ia jaga selama ini hancur akibat pengkhianatan pahit tersebut. Meski dikenal jenius dalam menyembuhkan berbagai penyakit pasien di rumah sakit, Saka kini justru tak berdaya menghadapi luka batinnya yang teramat dalam. Mampukah sang dokter menemukan cara untuk mengobati hatinya yang telah hancur berkeping-keping?
Sampul Novel Dikejar Mantan Posesif
9.6
Tujuh tahun silam, Farel Zay Amanta mendadak lenyap dari hidup Refa Aletta Zafana tanpa sepatah kata pun. Kepergian misterius itu meninggalkan luka mendalam bagi Refa. Kini, Farel kembali hadir secara tak terduga dengan sikap yang sangat posesif. Tanpa memedulikan masa lalu mereka yang penuh tanda tanya, pada pertemuan pertama setelah sekian lama, Farel langsung melontarkan tuntutan mengejutkan agar Refa segera menjadi istrinya saat itu juga.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma
8.5
Hidup Dion berubah drastis usai menyelamatkan Kayla dari bahaya bersama Nenek Melati. Terpikat oleh ketangguhan Kayla, sang nenek ingin mereka bersatu. Namun, Bu Ratna menentang karena ia telah menjodohkan Dion dengan Amara yang ambisius. Amara yang haus status pun mulai menyusun taktik licik untuk menyingkirkan Kayla dengan mengorek rahasia kelam masa lalunya. Di tengah tekanan keluarga dan intrik jahat, Dion harus berjuang melindungi cintanya dari kehancuran.
Sampul Novel My Tsundere King
8.3
Kehidupan Ratu Gifara berubah sejak masuk kelas 11. Gadis berusia 16 tahun ini terjebak dalam perselisihan harian dengan Raja, pemuda dingin bermata hitam yang hanya bersikap sinis kepadanya. Keduanya sama-sama keras kepala dan enggan mengalah hingga kelulusan tiba. Namun, Ratu tidak menyadari adanya perjanjian rahasia antara orang tuanya dengan pihak lain. Di sisi lain, Raja yang bermulut pedas ternyata menyimpan sejuta misteri yang belum terungkap.
Sampul Novel Penyesalan Ibu Setelah Aku Tiada
9.4
Sejak tragedi masa kecil yang menewaskan sang kakak, kehidupan protagonis berubah menjadi neraka. Ibunya menaruh dendam mendalam dan menuduhnya sebagai penyebab kematian tersebut. Diperlakukan layaknya pelayan di rumah sendiri, posisinya kian tersisih setelah sang ibu mengadopsi anak perempuan baru. Puncak penderitaan terjadi ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk saudari angkat tersebut. Menyerah pada keputusasaan, ia memutuskan memberikan seluruh hidupnya demi memenuhi tuntutan sang ibu, memicu penyesalan tak berujung yang terlambat setelah kematiannya menjemput.