
Paman Terobsesi Padaku
Bab 3
Bel istirahat berbunyi nyaring meriuhkan anak-anak yang sudah muak menerima materi pembelajaran yang terasa teramat membosankan, hampir memecahkan kepala mereka.
Serena berjalan lambat, tangan kirinya di genggam oleh Naya— teman satu bangku yang sangat baik dan juga ceria. Gadis tersebut terlihat cantik setiap hari, memiliki sepasang gigi kelinci menggemaskan yang menjadi daya tarik unik tersendiri.
Keduanya belum lama kenal karena Serena adalah murid pindahan di semester akhir kelas sepuluh. Alasan dia pindah karena Pamannya cemburu dia pergi bersama pemuda dari kelas lain tanpa meminta ijin, Xavier memilih memindahkan gadis kecilnya.
Dia tidak ingin mengambil resiko.
Siapa yang tahu jika di masa depan, pemuda ingusan itu akan merebut gadis kecil darinya?
Naya menunjuk tempat duduk paling pojok dekat dengan jendela besar kantin, "Kau ingin makan di sana? Hari ini akan ada permainan basket antara Maxime dan Prince, mereka berdua adalah pemuda populer di kalangan anak kelas sepuluh. Jika kita duduk di sana, kita bisa melihat permainan mereka."
Serena mengangguk tanpa rewel, berjalan di belakang tubuh Naya, berusaha menyembunyikan dirinya dari tatapan banyak orang.
Wajah cantiknya ini bisa mendatangkan masalah. Kepala sekolah di SMA lama bahkan menjuluki dia sebagai “Kecantikan Pembawa Bencana”.
Semua di sebabkan banyaknya anak laki-laki membolos hanya untuk mengintip Serena Blard di kelas secara diam-diam.
Tidakkah mereka berpikir jika di masa depan nanti mereka memerlukan otak cerdas untuk bertahan hidup?!
Kepala Sekolah sampai bosan menceramahi anak-anak yang kerap membolos dengan alasan tak masuk akal, yaitu karena kecantikan adik kelas baru. Kepala Sekolah menahan diri untuk tidak memukul kepala barisan bocah dungu!
Naya kembali ke meja setelah mengambil dua nampan berisi makanan favorit masing-masing. Ia meletakan nampan di tangan kiri ke dekat Serena, "Ini, makanlah."
"Terima kasih."
"Sama-sama, oh ya, bagaimana buku novel yang aku berikan kemarin? Indah, bukan? Aku masih punya banyak di rumah, kalau kau mau, bilang saja, aku bisa membawakan banyak untukmu. Kau harus memperbanyak membaca sekaligus menambah ilmu tentang hubungan."
Tak kuasa membayangkan bagaimana reaksi Pamannya andai dia mengoleksi buku seperti itu. Serena memijat sisi keningnya, "Tidak perlu, yang kemarin sudah cukup. Namun aku merasa buku tersebut tidak cocok dengan seleraku."
Mencebikkan bibirnya kesal, Nayamemeluk leher putih Serena erat-erat, tidak berpikir bahwa pelukannya bisa mencekik orang dalam waktu kurang dari lima menit. "Kau terlalu polos! Berapa umurmu? Apa kau tidak pernah punya kekasih?"
"Tidak ada, Pamanku melarang aku berpacaran, aku masih kecil." Balasnya enteng, mulai melakukan aktivitas makan dengan damai.
Mau tak mau Naya menyerah, mengangkat kedua bahunya acuh kemudian menyantap makanan kesukaannya. Mereka berdua terlibat percakapan menyenangkan meskipun Naya adalah pihak yang lebih aktif dan Serena sebagai pendengar yang baik.
"Ey! Lihat! Tim dari Maxime dan Prince sudah datang ke lapangan!" Naya berseru kegirangan, memeluk tubuhnya sendiri setelah melihat wajah tampan Prince. "Aiya! Ibuku pasti setuju jika aku menunjukkan foto Prince sebagai calon menantunya di masa depan!"
Menggeleng maklum, Serena melanjutkan makan, mendengar semua pekikan Naya serta anak perempuan lain di kantin dengan tabah dan sabar. Setampan apapun mereka, menurutnya, masih tampan Pamannya.
Paman tidak hanya tampan, tapi juga mempunyai aura dominasi yang kuat dengan pesona maskulinitas sempurna. Anak laki-laki di sekolah menjadi terlihat tidak terlalu tampan di mata Serena Blard.
Naya mengguncang bahu temannya, sungguh kewalahan akibat serangan visual ketampanan. "Prince lihat ke sini! Lihat ke sini! Aku mendukungmu, sayang!"
Serena mulai jengah, dia meletakan sumpit ke atas meja. Menopang dagunya malas, melihat pemandangan ramai orang-orang di halaman sekolah dimana lapangan basket berada. Saat ini dia berada di kantin lantai dua. Setidaknya dia bisa melihat secara jelas wajah tampan yang di sebutkan Naya.
Yang satu mempunyai ciri khas dengan kulit sedikit kecoklatan unik, sedangkan yang satunya lagi tampan menjorok pada kesan cantik seolah pemuda tersebut baru saja keluar dari komik-komik elektronik.
Oh? Ternyata cukup tampan, tapi masih belum setampan Xavier Blard.
Serena terus memandangi lapangan melalui kaca kantin, mata malasnya setengah tertutup, mulut kecilnya menguap lucu. Ia mengedipkan mata besarnya tiga kali, ketika titik fokusnya kembali, yang dia lihat adalah pemuda tampan berkulit putih yang dia sebut seperti pemuda komik, menatap dia?
Ataukah dia salah paham?
Namun jelas-jelas pemuda itu memandang tepat ke wajahnya?
Tidak mungkin. Mereka saja tidak kenal satu sama lain.
Di belakang, Naya meloncat senang, kedua tangannya terkepal ke atas menunjukan kemenangan mutlak yang baru saja dia dapatkan. "Dia memandang kemari! Dia melihat ke sini! Doaku langsung terjawab! Akh! Inikah tanda yang di berikan oleh takdir jika aku dan dia berjodoh di masa depan?"
Sudut mulut Serena berkedut, iris caramelnya melirik Naya miris, seolah sedang memandang anak anjing yang berusaha mendapatkan daging dari seekor anak harimau. Hampir mustahil untuk mendapatkan apa yang di impikan.
Pemuda bermata sipit dan manis berlari memeluk Prince dari belakang, dia adalah Liu Chen, salah satu siswa pertukaran antar negara di progam pertukaran siswa asing. "Yo! Kita menang!"
"Mm."
Liu Chen menaikan satu alisnya, bingung mendapatkan respon acuh seakan kemenangan mereka bukan apa-apa. "Apa yang salah?" Tanyanya heran.
Prince menggeleng, kepalanya mendongak sekali lagi, "Aku menemukan hal menakjubkan." Dia berkata lembut.
Mengikuti arah tatapan kawannya, Liu Chen mendongak menatap kaca yang menampilkan sorak-sorai anak perempuan dari kantin lantai dua. Sebagai playboy, mata sipitnya mengedip menggoda, "Kecantikan mana yang bisa membuatmu terpikat?"
"Dia baru saja pergi. Ada sesuatu yang menarik darinya."
"Menarik dalam hal apa? Selama ini kau selalu menolak semua perasaan dari anak perempuan, menggertak mereka ketika mulai merasa risih, aku sempat mengira kau menyukai sesama jenis. Untung saja dugaanku tidak benar, karena aku tidak mau kau menyukai aku."
Prince menatap Liu Chen tajam, dari tatapannya, orang-orang bisa menafsirkan sebuah tanda, “Anjing Tolol.”
Di tempat lain, Serena berjalan menyusuri lorong, istirahat kali ini cukup panjang di karenakan guru-guru sedang membahas rapat mengenai penetapan tanggal ujian semester akhir.
Anak perempuan di dalam kamar mandi menyapa Serena dengan senyuman ramah, di ikuti anak gadis lain yang kebetulan sedang berada di kamar mandi untuk mencuci muka sekalian membicarakan gosip seru yang sedang berkembang di sekolah.
Salah satu rumor yang masih populer saat ini adalah murid pindahan baru di kelas sepuluh, siapa lagi kalau bukan Serena Blard. Paras cantiknya memikat banyak kaum adam, di tambah proporsi tubuhnya yang sempurna, sifatnya lembut dan ramah walau terkadang acuh tak acuh.
"Hei, hei, lihat gadis Serena, sekarang banyak kakak kelas sangat membenci dia karena terlalu cantik." Ucap salah satu gadis berambut merah tua.
Gadis berambut hitam sebahu mengoleskan bedak di wajahnya, ikut terjun ke dalam topik, "Betul, tapi sesuatu yang aneh terjadi, entah ini benar atau tidak, tapi ketika ada kakak kelas yang berusaha menggertak gadis Blard, keesokan harinya kakak kelas itu langsung tidak masuk sekolah beberapa hari, tidak ada hujan tidak ada angin, langsung pindah dari sekolah ini begitu saja."
"Ah!" Si rambut coklat tua menimpali bersemangat, "Itu benar, bukan saja kakak kelas yang sempat menggertak itu keluar dari sekolah, bahkan mereka seperti orang gila yang terus meraung meminta di lepaskan dan berteriak kepada semua orang untuk menjauh seolah sedang melihat hantu."
Bisik-bisik orang lain di depan cermin tidak bisa menganggu Serena, dia sudah tahu siapa yang melakukan semua itu. Siapa lagi jika bukan Paman? Tidak orang lain yang sangat sensitif ketika dia di tindas di sekolah.
Telapak tangan mungilnya menadahi air bersih, kemudian membasuh muka sebentar sebelum mengeringkan kedua tangannya menggunakan tisu.
Ketika dia menarik gagang pintu, wajah cantiknya menoleh ke belakang, menatap tiga anak perempuan di depan cermin yang sibuk bergosip lagi. Dia tidak tahu kenapa, dia tiba-tiba berujar lembut, "Lebih baik kalian diam jika kalian tidak ingin menjadi yang selanjutnya."
Tiga anak perempuan yang asik berdandan sambil bergosip merinding seketika. Jantung mereka berdetak kencang, wajah cantik terpolesi riasan tidak mampu menutupi kecemasan yang terpampang jelas.
"Dia bilang apa tadi?"
"Tutup mulutmu! Aku sangat takut!"
"Lain kali jangan bergosip tentang dia! Kakak kelas yang sudah menggertaknya keseluruhan berakhir tidak menyenangkan! Jangan sampai kita menjadi yang selanjutnya!"
Serena belum beranjak pergi dari area kamar mandi, tubuh tingginya bersandar di dekat pintu besi. Dia hendak pergi meninggalkan area pintu, tetapi lengannya di tahan.
"Tunggu dulu."
"Kau—" Serena ingat wajah ini. Bukankah ini pemuda di lapangan basket? Prince kalau tidak salah?
"Siapa namamu?"
Menarik pergelangan tangannya, Serena menujuk peniti berisi nama siswa yang tercantum di jas sekolah, "Kamu bisa membaca ini, kan?"
"Serena Blard."
"Itu aku."
"Apa kau punya saudara perempuan?"
"Saudara perempuan?" Bibir tipisnya menggumam ragu. Ia melanjutkan dengan suara lembut namun acuh, "Tidak, aku putri tunggal dari mendiang orang tuaku. Mengapa kau bertanya seperti itu?"
Menatap lurus pada iris caramel lawan bicaranya, Prince menjawab setengah berbisik, "Bagaimana jika aku mengatakan ada satu perempuan berwajah sangat mirip denganmu... "
"... Di rumah sakit jiwa Lilac."
Anda Mungkin Juga Suka





