
Pacarku Sagapung
Bab 2
Beberapa saat kemudian, Jeff mendapati dirinya telah bersandar pada pintu lemari persediaan tempat penyimpanan barang, tepatnya di gudang kafe. Lidah Anna telah memasuki mulutnya ketika tangannya meraba-raba kulit punggungg gadis itu, menyentuh setiap inchi dari kehalusan kulit yang memungkinkan untuk bisa dia jangkau. Anna mengerang, meski suaranya tertahan karena mereka masih sibuk bercumbu satu sama lain, topeng mereka bergesekan satu sama lain.
“Kita harus melepaskan topeng ini,” gumam Jeff di dekat bibir Anna, sambil menarik perempuan itu untuk mendekati ereksinya yang makin mengeras dibawah sana. Anna menggelengkan kepala, menarik bibirnya sendiri dari bibir Jeff dan dia malah sibuk melepaskan dasi yang dikenakan pria itu.
“Tidak,” katanya dengan terengah-engah. “Mari bermain tanpa melepaskannya.”
Hanya dalam waktu singkat, perempuan itu telah melepaskan dasi dan membuka seluruh kancing kemeja dan melepaskan blazer dari bahu lebar Jeff. Dia membuangnya entah kemana tanpa perasaan, meninggalkan tampilan baru pria itu dalam kondisi setengah telanjang di depannya. Tak ingin menjadi satu-satunya yang dilucuti, maka Jeff berinisiatif menarik kebawah gaun yang gadis itu kenakan sehingga bagian dadanya yang sekal menyembul keluar, memanjakan pandangan matanya terhadap satu-satunya eksistensi paling menarik dari tubuh seorang wanita.
Dia sedikit menunduk dan menyelami keindahan yang terpampang di depan mata. Memanfaatkan moment tersebut sepenuhnya –kapan lagi dia bisa menyentuh dada seindah ini jika tidak sekarang? Jeff mula-mula menyentuhnya dengan halus, lalu kemudian memegang keduanya dengan tangan masing-masing. Bahkan tidak sebatas itu saja, pria itu juga mendekatkan bibirnya kearah puncak dan mempermainkannya didalam mulut sementara jemarinya memanjakan puncak yang lain dengan ibu jari dan telunjuknya. Anna hanya bisa mengerang, tubuhnya terasa lemas ketika merasakan bagian dari dirinya dihisap terlalu kuat di dalam mulut pria itu dan menggodanya secara bergantian dengan mulut dan giginya. Anna secara refleks mendekatkan kepala pria itu ke dadanya, jari-jarinya menjambak rambut pria itu tiap kali dia merasakan dirinya digigit gemas oleh Jeff. Sejujurnya Anna menikmati pelayanan yang pria itu berikan kepadanya.
Merasa puas dan bosan hanya dengan dadanya –setidaknya untuk sekarang— Jeff merasa dia perlu melakukan hal lain yang lebih menantang. Pria itu kembali ke posisi semula dan menyambar bibir penuh Anna, membawa gadis itu kembali dalam sebuah ciuman yang panas sementara tangan Anna bergerilya menurunkan celana pria itu berikut penghalang satu-satunya hingga melorot di betisnya, menyentuh bagian yang menarik perhatiannya sejak lama. Anna menyentuhnya dengan sedikit agak kasar dan memompa benda itu ditangannya sebagai balasan atas apa yang pria itu lakukan terhadapnya barusan. Jeff langsung menggeram di dalam ciuman panas mereka, dia berpasrah atas apa yang Anna lakukan padanya sebab dia telah berputus asa untuk segera melakukan pelepasan yang dia butuhkan sejak pertama melihat tubuh gadis itu dibalut dengan gaun yang seksi.
“Duduklah,” perintah Anna seraya mendorong pria itu ke arah sebuah tong yang kemungkinan besar isinya adalah anggur yang sedang difermentasi dengan tegas. Jeff menurut, dan memandangi gadis itu melepaskan celana dalamnya sendiri tanpa menurunkan gaunnya. Kedua mata Jeff melotot mendapati bagian paling menarik dari tubuh perempuan tersebut meski langsung tertutup kembali dengan gaunnya. Tanpa perlu berbasa-basi, Anna tiba-tiba saja telah memposisikan diri mengangkanginya dan dalam satu gerakan cepat, dia membawa Jeff memasuki gerbang surga.
“Fuck, Anna!” erang Jeff, dia segera menempelkan bibirnya ke leher Anna ketika dia merasakan dirinya telah dicengkram di dalam sana. Dia meraih pinggul wanita itu dan membantunya mengatur tempo dengan putus asa, membiarkan Anna bermain-main diatasnya untuk memuaskan dirinya sendiri. Jeff sedikit menekuk lututnya dan menjadikannya sebagai pengungkit untuk mendorongnya saat dia turun, upayanya yang satu ini mengakibatkan dada Anna yang terbuka memantul bebas di depan mata. Menggodanya ketika dia mencari pelepasan yang jauh di dalam dirinya.
Pergerakan mereka makin lama makin cepat dan menggila, keduanya tampak terlalu bergairah dan menginginkan akhir yang istimewa. Tubuh mereka mulai terasa licin karena keringat, dada keduanya yang naik turun berikut pula dengan napas mereka yang sesak. Jeff menarik Anna jauh ke dalam dirinya dan melahap dadanya dengan rakus ketika dia merasakan bahwa dirinya hampir sampai sesegera mungkin.
Anna yang menyaksikan Jeff bersenang-senang dengan dadanya ketika dia bergerak naik turun diatasnya, semakin mempercepat pergerakan dengan gila. Dia merasakan tubuhnya bergerak makin lincah dan cepat begitu merasakan sensasi yang dia dapatkan dari lidah pria itu di dadanya. Dia meraih bagian belakang kepala Jeff, menancapkan kukunya ke bahu pria itu, makin menempelkan kepala pria itu untuk terus tetap berada di dadanya ketika Anna merasakan dirinya mencapai orgasme. Erangan keluar begitu saja dengan napas yang tajam dan cepat. i
Jeff mau tidak mau ikut datang ketika merasakan cengkraman pada miliknya makin tidak karuan. Wanita itu seolah memerah dirinya hingga habis dan Jeff tentu tidak akan keberatan untuk mengeluarkan semuanya. Dia menggigit dada Anna ketika dia merasakan dirinya juga kehilangan kendali, pria itu mengerang diantara kelembutan buah dada si wanita dan menjentikan lidahnya pada bagian puncak dengan putus asa.
Setelah merasakan rasa reda, dan kembali seperti semula. Jeff melepaskan mulutnya sendiri yang beberapa saat lalu bercokol di dada si wanita. Ada bekas kemerahan disana, tetapi mungkin itu bukan masalah baginya. Tubuh Jeff terasa lemas dan tubuhnya terasa tak bertulang. Dia menatap wanita yang masih berada di pangkuannya, senyumannya yang manis, keringat yang banjir dan gaun yang tidak karuan menjadi kombinasi luar biasa yang tidak pernah dia bayangkan. Dia sama kacaunya dengan Jeff, tetapi yang membuat pria itu kagum adalah wanita itu masih bisa bergerak sesekali untuk menggodanya disana.
“Kau menginginkannya lagi?” tanya wanita itu seolah dia tidak merasa lelah sedikit pun.
“Beri aku waktu,” ujar Jeff sambil menghela napas.
Tetapi bukannya mengikuti ujaran Jeff, wanita itu malah bergerak-gerak disana dan mengakibatkan Jeff merasa ngilu. Bagian dirinya masih cukup sensitif, dan bila dia begerak-gerak seperti itu Jeff tidak bisa menahan diri untuk merasa terangsang kembali.
“Sepertinya sudah kembali naik.”
“Kau pikir karena siapa?”
“Lanjut babak kedua?”
Jeff tidak menduga bahwa dia baru saja menemukan seorang perempuan yang terlalu menarik.“Tidak, sebelum itu … aku perlu mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
“Anna, kau mau jadi pacarku?”
Jeda sesaat dan Jeff diam-diam melihat perubahan ekspresi wanita itu. Senyuman indah nan menggoda kembali dia hadirkan dan terus terang itu membuat Jeff merasa makin tertantang.
“Ya, asal kau bisa memastikan bisa memuaskan hasratku,” katanya sambil menggoyangkan pinggulnya membuat Jeff menggeram lagi.
“Jangan mengujiku, aku mungkin akan terus menggagahimu siang dan malam sampai kau tidak bisa berjalan,” sahut Jeff angkuh.
Anna terkikik. “Mari kita lihat siapa yang melemas duluan kalau begitu.” Lihat kerlingan nakal dan cara bibirnya bergerak sekarang, tidakkah Anna terlihat begitu sensual? Jeff sangat suka dengan tatapannya itu.
Anda Mungkin Juga Suka





