
Om Duda I Love You
Bab 2
Kenan menahan tawanya saat mendengar celotehan sang adik .“Baby, dia punya nama, bukan kulkas.” Tegur Kenan.
Sedangkan Rega sudah menatap tajam ke arah Baby yang berkata tanpa dosa. Jika tidak mengingat gadis kecil itu adaah adik Kenan, bisa di pastikan dia akan memarahinya.
“Tapi muka Om datar sekali, bahkan Bang Ken kalah datar sama Om itu, dia seperti kulkas berjalan Bang .” Bisik Baby, yang lagi-lagi di dengar oleh Rega.
Tega menggeram tertahan. “Nama saya Rega! Dan saya bukan kulkas!” sarkas Rega.
Kenan bukannya marah, ia malah tekekeh pelan, begitu pun dengan pria berkacamata di samping Rega. “Apa itu lucu bagi kalian?” tanya datar Rega menatap kesal Kenan dan asistennya.
Keduanya bungkam. “Sorry-sorry Bro, sudahlah.” Kenan menatap sang adik dengan lekat. “Baby nama teman Abang ini Rega, jangan panggil seperti itu, atau kau akan kena marah.”
Mata Baby mengerjap beberapa kali , sembari memandang wajah tampan Rega yang juga sangat menyeramkan di matanya. “Abang kenapa sekarang teman Abang itu, seperti singa, lihat lah wajahnya itu Bang, Baby takut.”
Bwahahaha!
Kenan tak dapat lagi menahan tawanya.
Bugh!
Pukulan kecil mendarat di bahu pria itu.
“Hentikan sialan!” kesal Rega.
“Ih Om singa! Jangan pukul Abang Baby! Nanti Baby pukul balik lho ya! Awas aja Om nangis ngadu Mama Om!” geretak Baby dengan mata melotot. Membuat mulut Rega terbuka lebar mendengar celotehan gadis kecil itu.
”Ck! ceptlah Ken, aku tidak punya banyak waktu.” Ucap Rega malas.
Kenan pun menghentikan tawanya lalu menggenggam tangan Baby untuk segera pergi. Atau temannya itu akan marah dan berubah pikiran.
Baby sesekali menoleh kebelakang melihat Rega dan seketarisnya. Rega memperhatikan badan Baby yang berjalan di hadapannya. Dia tak habis pikir di jaman sekarang masih asa anak SMA sepolos Baby.
‘Bagaimana bisa ada gadis seperti ini.’ batin Rega menatap tubuh Baby yang berjaan di depannya bersama adengan Kenan.
Sesampainya di restoran, mereka duduk saling berhadapan, Baby dan Kenan , di hadapan mereka ada Rega daan seketarisnya.
“Baby mau pesan apa Sayang?” tanya Kenan pada Baby.
“Baby mau nasi goreng sea food, ice cream, kentang goreng, sama milk stroberi. Eh satu lagi Bang, Ayam geprek.”
Rega menatap horor gadis di hadapannya itu. Ia tercengang mendengar pesanan Baby.
“Apa perut mu akan muat?” tanya Rega spontan.
Kenan terkekeh pelan. “Jangan kaget Bro, dia memang seperti itu, badan kecil makan banyak.” Sahut Kenan.
Baby menatap penuh permusuhan pada Rega di hadapannya itu. “Kenapa Om ihat-lihat Baby, awas ya naksir Baby gak mau tanggung jawab!”
“Cih!” Rega berdecih namun bibirnya menarik senyum kecil, hanya sedikit hingga nyaris tak terlihat.
“Mana mungkin saya tertarik sama bocah seperti kamu.” Sahut Rega melipat tangannya di depan dada.
Kenan hanya bisa menggelangkan kepala saja melihat teman dan adiknya itu. Padahal ini merupakan pertemuan pertama mereka, tapi lihatlah mereka malah seperti anjing dan kucing.
Usai makan siang. Ah sebenarnya hanya Baby saja yang makan, ketiga pria yang lainnya itu hanya memesan minum saja karena mereka sudah makan siang.
“Ahhh kenyangnya.” Ujar Bbay bersandar di kursinya sembari mengusap-usap perutnya sendiri.
Namun tiba-tiba gadis itu menegakkan badannya. “Astaga Baby lupa Bang!” jeritnya, sontak membuat ketiga pria itu terlonjak kaget. Bahkan Rega tersedak akibatnya.
“Baby, ada apa?” tanya Kenan khawatir.
“Baby udah kenyang, tapi pasti Chiko belum mamam. “ Ujarnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Kenan menghembuskan nafasnya lega, ia pikir ada apa. Ternyata hanya karena Chiko.
“Ada apa?” tanya Rega penasaran menatap Kenan.
“Baby teringat, Chiko.” Sahut Kenan.
‘Apa itu kekasihnya?’ batin Rega penasaran.
“Chiko?” tanya Rega dengan alis terangkat.
“Hm, Chiko anak anjing yang baru di belikan Tala untuknya.” Jelas Kenan sembari menyesap kopinya.
Rega kembali di buat terperangah, ia beralih menatap Baby yang bersandar manja di bahu Kenan, dengan mata yang berkakca-kaca.
“Hhh adik mu, hampir membunuh ku, beruntung aku tidak memiliki penyakit jantung.”
Kenan tertawa kecil. “Sorry. Bbay ini memang selalu berlebihan.”
“Abang ayo pulang, Baby pengen ketemu Chiko, gimana kalau Mama lupa kasih makan? Terus Chiko mati dan Baby nangis.” Rengek gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
“Iya ay-“
Drrrt! Drrrt!
Ponsel Kenan berdering, menampilkan nama Johan di sana.
“Sebentar Sayamg.” Ucapnya membelai kepala Baby lembut, lalu mengangkat telepon dari Johan.
“Hm? Ada apa?”
…
“Tidak bisa kau yang menangani?”
…
“Baiklah.”
Tut!
Kenan memebuang nafasnya pelan, lalu menatap Baby. “Baby, Abang gak bisa mengantarmu pulang sekarang, ada masalah di kantor, Abang harus kembali sekarang ke kantor.”
Wajah Baby semakin sedih, dengan bibir melengkung ke bawah.
Kenan beralih menatap Rega yang sedari hanya diam memperhatikan.
“Ga, tolong ya, tolong anterin Baby pulang, bisa kan? Tolong lah Bro.” Ujar Kenan pada Rega yang sedikit kaget.
Hhh! Sebenarnya dia agak berat, namun tak enak hati menolak permintaan temannya itu.
“Hh oke baiklah.” Ujarnya membuat Kenan bernfas lega.
“Baby sayang, pulangnya bareng Bang Rega ya? Abang serius gak bisa nganter kamu sayang, maafin Abang ya?” bujuk Kenan menangkup kedua pipi Baby.
“Jadi Baby pulang di anter Om Singa ini?” cicit Baby pelan.
Rega memejamkan matanya kesal mendengar panggilan dari Baby itu. Bayangkan saja ia sudah di panggil dengan embel-embel Om, di tambah kata Singa di belakangnya. Sungguh hari ini membuat emosi seorang Rega terkuras. Bahkan menghadapi Kevin_anaknya saja tidak semenguras tenaga ini.
“Baby gak boleh ngomong gitu, ingat! Namanya Rega.” Tegur Kenan menegaskan.
“Iya iya Om Rega singa!” Sahut Baby malas.
Mata Rega melotot dengan tangan mengepal, sedangkan seketarisnya berusaha menahan senyumnya mendengar itu.
“Ya udah Bro, aku minta tolong ya. Terimakasih.” Ujar Kenan lalu buru-buru bangkit dan mengecup sayang kepala Baby.
“Abang pergi, jangan bandel ya.” Pesannya pada Baby. Baby mengangguk, sembari melambaikan tangannya.
“Abang hati-hati ya, jangan ngebut nanti di tabrak nenek gondrong.” Teriak Baby.
Rega lagi-lagi mengehela nafas lelah mendengar celotehan Baby yang random bahkan terdengar tak masuk akal itu.
“Jangan berteriak, ini bukan hutan!” tegur Rega pada Baby.
Baby memajukan bibirnya kesal. “Yang bilang ini hutan siapa coba? Lagian Baby itu bisa bedain hutan dan restoran kali Om.” Sahut Baby.
“Berhenti memanggil saya Om, saya bukan Om kamu!” hardik Rega mulai kesal.
Mata Baby memicing, menatap Rega yang juga menatapnya kesal. “Tapi ‘kan Om udah tua!”
Rega memejamkan matanya berusaha tenang.
“Sudah Tuan, maklumi saja, jangan di ambil hati ucapan Nona Baby.” Bisik Gery_asistennya.
“Jika sudah selesai, kita pergi sekarang.” Ujar Rega bangkit dari duduknya. Baby tak menyahut ia juga ikut bangkit. Sedangkan Gery mengurus pembayaran terlebih dahulu.
***
Selama perjalanan Baby sibuk bermain ponselnya, sedangkan Rega diam-diam melirik gadis yang duduk di sebelahnya itu.
Baby tiba-tiba mengangkat kepalanya menatap kedepan, dan Rega buru-buru mengalihkan pandangannya.
“Om kaca mata.” Panggil Baby pada Gey yang menyetir di depan.
Gerry melirik dari kaca. “Iya anda memanggil saya Nona?” tanya Gery.
“Iya Om, siapa lagi coba. Om kacamata kok gak nanya Baby di mana alamat rumah Baby si? Emangnya Om tau alamat rumah Baby? Nanti kita tersesat dan tidak bisa pulang loh Om.” tanyanya dengan panjang lebar.
Gery tersenyum. “Tau Nona, Tuan Kenan sudah mengirmkannya tadi.”
“Ah begitu rupanya, ya sudah selamat menyetir Om kacamata.”
Gery tersenyum kikuk. “Maaf Nona, tapi nama saya Gery.”
“Kalau gitu nama Baby, Kharisma Baby Arganda.” Sahut Bbay yang malah ikut menyebutkan namanya sendiri. Membuat Rega memutar bola matanya malas. Sungguh Rega tak habis pikir ada seorang gadis yang polosnya seperti Baby saat ini. ‘Entah polos aatau bego?’ batin Rega.
Baby melirik Rega yang duduk tegap dengan tatapan mata lurus ke depan. “Om,” panggilnya pelan.
“Hm?” sahut Rega tanpa menoleh sedikit pun.
“Om, kenapa Om terlihat seperti patung, apa Om tidak lelah, kalau lelah sini senderan di bahu Baby.” Ucap Baby.
Mata Rega terbelalak, dan dengan refleks ia menoleh menatap Baby di sampingnya.”Apa?” tanyanya tidak santai.
“Apanya Om? Om ini gak jelas deh? “
“Tadi kamu bilang apa?” tanya Rega lagi.
“Om gak capek begitu, kalau Om capek Om bisa senderan di bahu Baby,” Ujar Baby menjelaskan ulang dengan menepuk bahunya sendiri.”
Rega benar-benar tak habis pikir. ’Astaga bocah ini.’ batin Rega kembali menatap kedepan. “Jangan berkata seperti itu pada pria yang baru kau kenal!” hardik Rega dengan wajah datarnya.
“Hah?” Baby mengerutkan keningnya bingung, tak paham dengan maksud dari ucapan Rega.
“Apa kau sering berkata seperti itu pada lelaki lain, menyuruh mereka bersandar pada bahu kecil mu itu?” tanya Rega menatap Baby dengan tatapan intens.
Deg!
Anda Mungkin Juga Suka





