Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Om Duda I Love You

Om Duda I Love You

Kharisma Baby Arganda mendesak Rega Pradipta untuk menjalin hubungan asmara meski ia masih berstatus pelajar. Bagi Baby, debaran jantungnya adalah bukti cinta sejati, namun Rega terus menolak karena perbedaan usia yang jauh dan status Baby yang masih sekolah. Rega merasa kewalahan menghadapi kepolosan adik temannya itu yang menganggap umur hanyalah angka. Akankah kegigihan Baby meluluhkan hati pria yang ia panggil Om Singa tersebut di tengah logika orang dewasa?
Bab
Bagikan

Bab 3

Baby menggelengkan kepalanya dengan mata yang sudah berembun, siap akan turun badai. “Tidak, Baby  baru ini menawarkan bahu Baby yang mungil ini, tapi jika Om tidak mau, ya sudah tidak perlu marah-marah begitu dong.” Sungut Baby kesal, sembari melipat tangannya di dada dengan mulut maju ke depan. Air matanya pun berhasil lolos. 

Baby tidak biasa mendapat suara tinggi seperti itu, dia selalu di perlakukan dengan lembut, hal itu leh membuat hatinya sangar rapuh, tidak bisa mendengar suara bentakkan atau suara tinggi. 

Rega menghela nafas. Di tatapanya Baby yang mengahpus air matanya kasar, dia menjadi merasa bersalah pada gadis mungil itu. “Saya tidak marah, saya hanya kaget dan tidak suka jika kau menawarkan pundak mu seperti itu pada lelaki, masih mending kau menawarkannya pada saya bagaiaman jika pada lelaki lain.” Jelas Rega, kali ini dengan suara lebih lembut.

 Baby menoleh dengan hidung merahnya. “Ya kan tapi Baby udah bilang,  cuma sama Om, Om ini sangat bandel sekali, di bilangin juga dari tadi.” Sungut Baby kesal.

”Oke saya minta maaf.” Ucap Rega.

“Maaf Nona, Tuan, kita sudah sampai.” Suara Gery menghentikan perdebatan kecil antara keduanya. Baby menengok keluar jendela dan benar saja saat ini ia sudah tiba di hadapan rumahnya. Baby kembali menoleh ke arah Rega.

“Terimakasih Om kacamata, dan samapikan juga pada Om Singa ya, terimakasih gitu dari Baby, Baby malas ngomong sama Om singa yang suka marah-marah!” ucapnya setelah itu keluar dari mobil dan belari masuk ke dalam rumah.

Rega menghela nafas. “Astaga bocah itu!” Cicitnya tak habis pikir. kepalanya pun serasa pening saat ini.”Cepat kembali ke rumah Gery! Saya butuh istitahat!” titah Rega sembari memijat pelipisnya yang terasa sakit, akibat menghadapi tingkah Baby. 

“Siap Tuan.”

***

“Baby, mana Abang Ken mu?” tanya Anina yang melihat Baby masuk seorang diri dengan wajah di tekuk.

 “Abang masih di kantor Ma, Baby pulang duluan.” Sahut gadis itu lesu, lalu duduk di samping sang Mama yang sedang memangku majalah fasion.

 “Lalu Baby pulang dengan siapa? Apa Bang Tala?” tanya Anina lagi.

“No! Baby di anterin sama Om Singa dan Om kacamata.” Sahut Baby asal.

Kening Anina berkerut heran, ia melatakkan majalahnya di atas meja, dan menatap dengan tatapan serius sang putri kesayangan.

“Siapa mereka Baby? Kamu gak pulang dengan orang sembarangan ‘kan?” tanya Anina mengintrogasi.

Baby menghembuskan nafas kasar. “Baby pulang sama temannya Bang Ken Ma, siapa ya tadi namanya?” Baby meletakkan jari telunjuknya di dagu berpose seolah sedang berfikir keras. “Ah, namanya Om Rega! Dan asistennya Om tikus, eh bukan makasunya Om Gery.” Sambung Baby. 

“Rega? Rega Pradipta Wilson?” tanya Anina memastikan.

 “Ah iya itu Mama, kok Mama tau sih?” tanya Baby bingung.

“Mama kenal sama Rega, ya sudah sana kamu mandi, kamu sangat bau, ganti baju.” Suruh Anina mendorong tubuh putrinya.

Baby mencebikan bibirnya menatap Anina yang menutup hidung. “Ih Mama ngeselin, Baby mah gak mandi satu bulan juga tetap wangi ya.”

“Mana ada begitu, udah sa’a mandi, sudah sore juga ini, tuh lihat udah mau jam empat. Paling sebentar lagi Bang Tala kamu itu udah pulang, mau nanti di ledekin sama dia?”

Baby bangkit dengan malas. “iya-iya Baby mandi sekarang.”Ucapnya sembari berjalan gontai menuju kamarnya. 

***

 “Daddy!”

 Baru Rega turun dari mobil, suara kecil itu membuatnya buru-buru berjalan dan menghampiri bocah kecil yang kini sudah menunggunya di teras mansion miliknya.

“Hai Son, are you oke?” tanya Rega sembari menggendong bocah kecil berusia empat tahun itu.

“Im fine Daddy.” Sahut bocah pintar dan tampan itu. Dia adalah Kevin Pradipta Wilson, putra tunggal Rega. Wajah Kevin sangatlah mirip wajah Rega, bedanya hanya di usia, wajah Kevin adalah wajah Rega versi kecil.

Rega menggendong Kevin masuk kedalam rumah, dengan di ikuti seorang wanita yang menjadi babysitter Kevin selama ini.

“Selamat datang Tuan, apa anda ingin sesutau?” tanya seorang wanita peruh baya menghampiri Rega. Dia adalah Nani kepala pelayan di mansion.

“Tolong buatkan kopi hitam saja dan tolong antar ke kamar Kevin.” Ujar rega sembari terus berjalan menuju kamar sang buah hati, yang bersebelahan dengan kamar miliknya.

“Apa yang hari ini kau lakukan Son?” tanya Rega sesampainya di kamar sang Putra.

“Belmain dan belamin Dad.” Jawab Kevin antusias.

“Tidak belajar?” tanya Rega.

“Kevin kan macih kecil Dad.”

Rega terkekeh pelan. “Oke baiklah, bermain saja sepuas mu, kau memang masih kecil.”

“Dad,” Kevin tiba-tuba memeluk tubuh Rega dengan erat.

 “Hm? Ada apa ?” tanya Rega balas memeluk.

“Evin pengen punya Mommy, tadi Evin berjalan-jalan cama Kakak Lila, kamu pelgi ke taman, di sana Evin lihat anak-anak belmain sama Mommy nya, Evin juga pengen Daddy.”

Deg!

Hati Ayah mana yang tak sakit dan terluka mendengar ucapan seperti itu dari sang Putra.  

“Son bukannya Daddy sudah pernah bilang pada mu, jangan pikirkan Mommy, kau sudah cukup punya Daddy, Daddy menyayangi mu lebih dari apapun.” Ujar Rega.

“Tapi  Dad-“

“Huuust! Mau bermain sama Daddy?” potong Rega.

Kevin langsung dengan senang hati megangguk, wajahnya pun berubah ceria seketika. “Mau Daddy!” girangnya.

Rega bernafas lega. ‘Sabar Son, aku tau ini berat untukmu, tapi untuk sekarang biarkan Daddy yang menjaga mu, Daady masih belum berfikir untuk mencari Mommy untuk mu.’ Batin Rega.  

***

Makan malam di kediaman Arganda, selalu ricuh  sperti biasanya. Siapa lagi pembuat onar di kediaman itu selain Baby Arganda. Ya, gadis yang sebentar lagi berusia delapan belas tahun itu selalu mampu membuat suasana rumah sepi manjadi gaduh dengan ulah dan tingkhanya itu.

“Baby, masukkan dulu Chiko kedalam kandangnya, dan kamu habiskan makanan mu!” tegur  sang papa.

 “Tapi Chiko ingin bersama Baby, katanya Pa.” Sahut Baby berkilah, ia ingin makan bersama Chiko, jadi banyak saja alasannya itu. 

“Hey gadis nakal, sejak kapan Chiko bisa berbicara, kau ini mengada-ada ya?” protes Tala.

“Ih Abang, ‘kan Baby bisa mengerti bahasa Chiko.”  

Gelak tawa terdengar, dari mereka semua. “Kamu ini ada-ada saja By, sejak kapan Mama memiliki anak yang bisa berbahasa binatang, sudah! Letakan Chiko, kalau tidak Mama akan mem-“

Baby tiba-tiba bangkit dari duduknya dengan Chiko di gendongannya. “Ah iya iya! Tidak perlu mengancam Baby seperti itu.” Potong Baby kesal dan berlari membawa chiko pergi ke kamarnya, mengurung Chiko di dalam sana, setelah itu barulah ia kembali.

Baby kembali duduk di kursinya dengan wajah lesu. “Sudah Baby kurung di dalam kamar Baby, jangan ancam Baby lagi, nanti Baby laporkan  Pak Polisi loh.” Celoteh gadis itu yang lagi-lagi sontak membuat kedua abangnya tertawa.

“Sudah Sayang, ayo makan, kau mau di suap?” tanya Kenan lembut pada sang adik yang sedang kesal.

“No! no! Baby mau makan sendiri saja.” Tolak Baby, entah kenapa malam ini, gadis imut itu hendak makan sendiri, padahal biasanya selalu merengek minta di suapi.

 “Wah adik manisku sepertinya sudah mulai dewasa.” Goda Tala mencolek dagu Baby.

“Iya dong Abang, ‘kan pussy Baby sudah berdarah!”

Byurr!

Uhuk uhuk!

Semua mata terbelalak, bahkan Tala menyemburkan air minumnya kaget.

“Baby, apa yang kamu katakan ?” kaget Anina mendengar ucapan absurd sang putri.

“Apa? ‘Kan Baby cuma bilang pussy Baby berdarah dan itu katanya teman Baby tandanya wanita sudah dewasa.” Jelas Baby santai.

Anina memejamkan matanya menahan gejolak emosi dan gemas di dirinya. Sedangkan ketiga pria yangain hanya bisa menghela nafas parah dengan tampang datar.

 “Abang kenapa sih? Apa Baby salah ya?” tanya Baby menatap kedua abangnya yang tiba-tiba  diam.

“Tidak Sayang, Baby tidak salah, itu benar, dan karena itu Baby tidak boleh berdekatan dengan sembarang pria. Baby paham kan?” Ujar Kenan memberi wejangan pada sang adik.

“Kenapa memangnya? Bukannya karena udah dewasa Baby boleh pacaran? Teman Baby juga pada pacaran semua.” Sahut Baby dengan wajah santainya. 

Ketiga pria di meja makan itu sontak melotot mendengarnya.”Tidak boleh!” Jawab ketiganya bersamaan.

Sedangkan Anina terkekeh melihat keposesifan ketiga pria berbeda umur itu. Baby mengerucutkan bibirnya sebal, selalu seperti itu. 

“Mama, lihat Abang dan Papa, masa Baby-“

“Huuust! Kamu memang belum dewasa, dan jangan sesakli-kali berpacaran, kamu masih kecil.” Sergah Anina, semakin saja membuat Baby kesal setengah  mati. 

“Iss Mama sama saja, sudahlah mending Baby makan, kasihan anak-anak Baby.”

Lagi-lagi keempat orang di sana terperangah mendengaranya. Agam bahkan tersedak.

Anina  menatap horror  Baby yang sedang mengelus perutnya sendiri.

Sasar dirinya sedang di tatap. Baby menghembuskan nafasnya. “Salah lagi? Baby cuma kasihan sama cacing-cacing di perut Baby yang sudah Baby angkat menajdi anak.”

Keempat orang itu pun bernafas lega. “Asatga adek gue gini amat ya Tuhan.” Lirih Tala memegang keningya sendiri.

“Baby makan lah! Setelah itu belajar dan istirahat.” Suruh sang Papa.

“Oke siap Komandan!”

Mereka pun kembali melanjutkan makan malam.

“Ah ya Ken, tadi Baby di antar pulang sama Rega katanya, apa teman mu itu sudah kembali dari London Nak?” tanya Anina di sela-sela makannya.

“Hah? Rega sudah kembali?” tanya Agam yang juga kaget dan senang mendengarnya.

“Iya Ma, Pa, Rega baru kembali satu minggu yang lalu.” Sahut Kenan.

 “Bang Rega yang istrinya ka- awww!” Tala meringis ketika kakinya di injak kuat oleh sang Ibu.

“Maaf Bang.” Sesal Tala menyengir kuda. Anina dan Agam sudah tau  apa yang akan di sebut oleh Tala.  

“Jadi Mama sama Papa sudah kenal sama Om singa?” celetuk Baby.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KAY" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KAY
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amarah Dan Cinta
9.5
Bagi Yasnina, mencintai Devan adalah berkah sekaligus luka karena cintanya tak pernah terbalas. Saat mendengar kabar pernikahan Devan, hatinya hancur berkeping-keping. Didorong amarah yang mendalam, Yasnina nekat menjebak pria itu dalam hubungan satu malam tepat sebelum hari pernikahannya. Akankah tindakan berisiko ini membuahkan cinta yang ia dambakan, atau justru membuat Devan semakin membencinya dan menjauh selamanya dari hidup Yasnina?
Sampul Novel KIRANI SI WANITA MALAM
8.5
Kirani adalah sosok istri muda yang terjebak dalam dilema kehidupan yang sangat pahit. Demi menanggung beban finansial dan mencukupi seluruh kebutuhan hidup keluarga suaminya, ia terpaksa mengambil jalan gelap sebagai wanita malam. Kisah ini menyoroti pengorbanan batin dan perjuangan berat Kirani saat ia harus menjalani profesi tersebut di tengah status pernikahannya. Sebuah narasi modern tentang cinta, tekanan ekonomi, dan rahasia kelam di balik kehidupan rumah tangga.
Sampul Novel Menikahi Taipan Misterius
9.3
Bertahun-tahun Amelia mengejar cinta Jako, namun pria itu justru memintanya berlutut demi wanita lain. Muak dengan penghinaan tersebut, Amelia melepaskan cincin tunangannya dan memilih berpaling. Tak disangka, ia segera menikah dengan seorang miliarder misterius hingga fotonya viral. Jako yang terbakar cemburu menuduhnya hanya ingin balas dendam. Namun, sang taipan justru membela Amelia dengan tegas dan menyebut peran sebagai pelindungnya adalah sebuah kehormatan.
Sampul Novel Neng Zulfa
8.5
Zulfa Zahra El-Faza, putri kiai yang dingin terhadap asmara, selalu menolak setiap lamaran yang datang. Namun, keteguhannya runtuh saat mengenal Fatih Thoriqul Firdaus. Meski akhirnya menikah, Zulfa justru terjebak dalam kepedihan. Fatih menyimpan banyak rahasia kelam yang memicu luka mendalam. Di tengah bayang-bayang orang ketiga, sanggupkah kejujuran menyelamatkan cinta mereka? Sebuah kisah tentang pengkhianatan dan pencarian kepercayaan dalam rumah tangga.
Sampul Novel Pemuas Ibu tiri KEMBAR
8.7
Kehidupan Rey yang tenang berubah drastis setelah ayahnya memutuskan untuk menikah lagi. Kehadiran dua ibu tiri kembar yang memiliki kecantikan luar biasa dan bentuk tubuh memikat mulai memicu gejolak gairah dalam diri pemuda berusia dua puluh tahun tersebut. Terpikat oleh pesona mereka, Rey pun mulai menyusun rencana demi menyalurkan hasrat terpendamnya. Ia terus mencari celah dan kesempatan tersembunyi di dalam rumah untuk mendekati kedua wanita itu.
Sampul Novel PERNIKAHAN DIATAS KERTAS
8.3
Jarvis, pengusaha kaya, menjodohkan putranya, Nathan, dengan Nindy yang sederhana. Pernikahan dipercepat demi Slamet, ayah Nindy, yang kemudian wafat. Namun, Nathan diam-diam menikahi kekasihnya, Jovanka. Setahun berlalu, Jarvis meninggal dunia. Nathan pun menceraikan Nindy atas desakan ibunya, apalagi Jovanka tengah hamil. Segalanya berubah saat pengacara mengungkap wasiat Jarvis; seluruh aset justru diwariskan kepada Nindy. Akankah Nathan menyesali keputusannya?