
OLD & GOLD
Bab 2
Betul apa kata orang : Ternyata hidup yang terlalu sempurna adalah sebuah pertanda buruk.
Bagaimana bisa Carissa lahir sebagai gadis cantik, kaya, tidak pernah kekurangan apa pun dan selalu dapat apa yang dia mau seumur hidupnya tanpa perlu membayar kembali sesuatu?
Kehidupan cintanya tak kalah seru. Kecantikan Carissa selalu menjatuhkan hati pria mana pun yang dia mau. Segala hubungan cinta bagi Carissa adalah kesenangan. Berbagai lelaki pernah Carissa pacari mulai dari adik kelas, kakak kelas, selebriti online populer hingga dosennya sendiri.
Bahagia. Hanya itu dalam otaknya.
Ketenangan itu disusul dengan fakta bahwa Carissa musti menyerahkan sebagian besar hartanya.
Belum lagi sebuah mimpi aneh yang kerap hadir ke benaknya.
Carissa terbangun di suatu tempat berlatar kelabu tanpa ujung. Dia masih memakai gaun hitam, gaun tidurnya. Dia celingukan mencari cahaya. Namun karena mimpi ini sudah terlalu sering, dia tahu apa yang akan segera muncul.
Maka gadis itu menutup matanya keras-keras. Dentum jantung yang menggebrak dadanya semakin meyakinkan dia untuk berontak. Dia takkan teriak kali ini. Dia takkan takut.
Sebuah cengkraman serasa meretakkan rahangnya. Nyerinya seperti gigi-giginya dicabut perlahan!
"Buka mata kamu!" Suara serak dan nyaring memaksanya.
"Nggak!" Lawan Carissa.
"Baik ... " Kekehan menyeramkan berbarengan dengan kekuatan tak tertahan yang akhirnya membuat matanya entah bagaimana terbuka sendiri.
Di hadapannya adalah sosok menyeramkan. Sosok yang takkan dia sangka bisa muncul di bentuk seperti ini. Sosok kurus, bermata besar, pucat, yang telah kehilangan aura manusianya. Hanya tahi lalat di ujung mata kanan yang menunjukkan bahwa sosok itu mirip ibunya, Mirna.
"Sampai kapan pun kalian tidak akan bisa lari dari saya!" Geramnya marah untuk yang ke ... Mungkin sekian ribu kali.
Adegan ini seolah menegaskan mimpi Carissa bahwa Mirna mati tidak wajar. Padahal Mirna meninggal dalam keadaan memegang tangan Carissa setelah dua hari terkena tipes parah.
Pesan Mirna kembali menusuk ke dadanya. Carissa menghentakkan tubuhnya untuk bangun, terduduk.
Di sebuah kamar hotel yang jadi tempat tinggalnya. Kasur ukuran queen, dapur kosong, balkon tertutup. Tipe deluxe yang menjadi fasilitas gratis baginya. Mimpi kali ini agak lebih ekstrim. Carissa memegang rahangnya yang nyeri. Terasa sangat nyata.
Asumsinya ini berhubungan dengan bau kayu, sprei lama yang masih asing dengan dirinya. Tidur di tempat baru selalu membuat dia tak nyaman. Namun tempat ini akan segera jadi miliknya. Mungkin mulai besok dia bisa mulai memasang pewangi jasmine agak mengingatkan dia pada aroma rumah yang familiar.
"Lebih baik daripada penjara." Carissa berbicara menenangkan dirinya sendiri. Dia beringsut bangun. Kota Bandung yang dingin tanpa AC saja membuat lantai serasa seperti terbalut es. Gadis itu menuju ke dispenser, menuangkan air hangat ke gelas kaca yang panjang lalu menambahkannya dengan air suhu netral.
Dia menyesap pelan memastikan hangatnya pas. Lalu meneguknya habis setelah yakin itu cukup menghangatkan tenggorokannya.
Baik lah. Mari berharap sisa malam ini akan dihabiskan dengan tenang. Harapnya.
Baru hendak kembali ke kasur, Carissa salah fokus pada cahaya bulan yang nampak terang. Dia mengambil Samsung S23 Ultra-nya di meja. Melihat jam menunjukkan angka 2.25 pagi.
Selama beberapa waktu kebelakang, Carissa tinggal di rumah di gang yang bahkan menghalangi segala pandangnya dari Matahari. Bisa melihat langit dini hari begini jadi pemandangan yang cukup membuat dia terbelalak.
Gadis itu membuka tirai, menggeser pintu kaca balkon, menerima udara yang tiga kali lipat lebih dingin menghantam kulitnya, namun paru-parunya terasa ditiup angin mint! Sangat sejuk.
Dia membuka kamera, melakukan zoom untuk melihat bulan lebih jelas ditengah langit biru tua.
"You're so pretty." Puji Carissa dengan senyum tulus.
Hanya perlu sepersekian detik bagi Carissa untuk merasakan pergerakan aneh di bawah.
Jadi dari lantai tiga view kamar Carissa memungkinkan dia melihat ke kolam renang hangat yang langsung berhadapan dengan kebun pembatas menuju area perkemahan.
Pepohonan rimbun hijau menutupi pandangan Carissa dari wilayah camping.
Namun justru pergerakan itu terlihat di pagar pembatas utama dimana masih ada kursi-kursi panjang yang disediakan untuk piknik atau area tunggu para pekemah.
Ada gerakan aneh dibelakang salah satu kursi yang tertutup daun.
Apakah itu hantu?
Carissa mundur sekali.
Bisa jadi hantu.
Apa lagi coba pergerakan yang bisa terlihat di area yang bisa dibilang wilayah hutan itu? Seliar-liarnya para pekemah, mereka akan tidur di jam segini.
Yang lebih ngeri, hari ini perkemahan tutup. Hanya hotelnya yang buka.
Tapi, masa sih hantu?
Lagian, kalau Carissa bisa membuktikan itu hantu dengan kameranya, justru itu adalah kesempatan bagus. Dia bisa menguploadnya ke sosial media. Dia bisa mendapatkan perhatian positif dari orang-orang. Siapa tahu bisa mendapat uang dari sana kan?
Seketika saja keberanian menyelimuti dirinya. Carissa membuka fitur kamera, telah merekam video. Dengan seksama ponsel canggihnya yang bahkan bisa memoto bulan itu menyusuri area pinggiran hutan yang terdapat pergerakan tadi.
Ada pepohonan rimbun, ada jalan setapak kosong, ada kursi panjang dengan senderan yang warnanya telah menghitam, nah! Ada pergerakan lagi!
Siku Carissa sampai bertumpu ke pagar balkon agar pergerakan kameranya lebih stabil. Semangatnya membuat napasnya memburu diiringi jantung yang berdegup lebih cepat.
Tapi yang dia lihat ...
Seorang gadis telanjang dibanting ke rumput.
Mulut Carissa menganga seketika.
Sang pria menyusul dari balik semak. Perempuan itu kelihatan sudah tidak berdaya. Si pria tak berbasa-basi ketika menyosor bibir si wanita. Tangan lelaki itu mengarah ke bagian bawah. Tak terlihat jelas, tapi Carissa tahu apa yang lelaki itu lakukan padanya.
Carissa menelan ludah.
"What the ... " Kaget Carissa bercampur bingung.
Apakah perempuan itu sedang diperkosa?
Saat lelaki itu mengangkat wajahnya sedetik, jantung Carissa seakan jatuh.
Antoni?
ITU ANTONI?
ANTONI MEMPERKOSA SESEORANG?
Carissa menutup mulutnya. Namun pikirannya segera terbantah sendiri melihat si wanita malah menarik kepala Antoni untuk mendekat ke dadanya.
Mereka sengaja.
Mereka dengan sadar melakukannya disana.
"That freaking old man!" Maki Carissa pelan, menyuarakan kebingungannya.
Bisa-bisanya mereka melakukan itu di kebun! Jam segini! Di udara sedingin ini!
Memangnya cewek itu tidak digigit semut api? Memangnya badan mereka tidak beku? Memangnya mereka yakin takkan ada yang mengintip?
Walau pun mustahil memang melihat jelas tanpa bantuan kamera apalagi di jam hantu berpatroli seperti ini. Tapi kan tetap saja...
Si perempuan melengkungkan tubuhnya, terlihat sangat keenakan. Sepertinya dia bukan perempuan bernama Eni yang pernah Carissa temui. Bagian bawahnya tak terlalu jelas, cuma yang bisa Carissa perhatikan, tangan Antoni bergerak sangat cepat.
Ya iya lah. Lelaki itu pasti berpengalaman dengan banyak perempuan. Kemampuannya sudah tak diragukan lagi.
Kepala si wanita mendongak keatas. Matanya terpejam. Giginya menggigit bibir. Kelihatannya dia betulan sangat menikmati.
Apakah Antoni memang selihai itu?
Carissa mendadak tersadar apa yang sedang dia lakukan.
Dia mengambil video orang yang sedang bercinta. Video orang lain. Bagaimana kalau nantinya ini jadi masalah?
"Fuck. No. Stop. Stop." Gadis itu panik sendiri. Dia buru-buru masuk ke kamarnya, menutup pintu balkonnya. Menyeret penuh tirainya.
Dia bersandar ke pintu kaca sambil terengah-engah. Bedanya kini bukan karena adrenaline, melainkan kekagetannya pada isi pikirannya sendiri ; bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu oleh seorang pria paruh baya yang gagah?
*
Pada dasarnya, tugas Carissa sama saja seperti membangun bisnis ini dari nol.
Mereka tak punya apa pun! Email saja tak punya.
Sampai jam dua siang, dia jadi satu-satunya penghuni di restoran dekat kolam. Berhadapan dengan laptop, sebuah buku catatan dengan berbagai coretan revisi serta password.
Berkali-kali muncul di benaknya, apa mungkin dia bisa?
Hari ini saja dia baru urus sistem, tapi setengah hari belum sampai setengahnya. Bagaimana dengan sisanya?
Dia juga lupa bertanya soal jam kerja. Sejak tadi Carissa tak menemukan Antoni di mana-mana. Untung sih, soalnya Carissa tak yakin dia bisa melupakan kecepatan gerakan tangan Antoni saat ...
Mata Carissa mengerjap keras. Dia menundukkan kepalanya ke meja.
Kapan dia bisa stop kalau dia terus kepikiran?
Imajinasinya termasuk aktif. Dengan video yang dia miliki di ponselnya, dia bisa membuat ratusan kemungkinan.
Bagaimana kalau akhirnya Antoni menyukai dia? Bagaimana kalau dia juga tak bisa menahan rasa penasarannya pada Antoni?
Dari hasil riset Carissa yang terbatas, nama Antoni Miller pernah masuk ke postingan Facebook akun bernama Echa Gania. Mereka tidak terlihat dekat, makanya Echa sampai update status ketika dia berkunjung ke The Golden's Arena, menandai akun Facebook Antoni yang sudah tidak aktif sejak lima tahun lalu. Disana tertulis Antoni lahir pada 1979, cuma lebih muda dua tahun dari pak Gian. Termasuk tua, tapi katanya usia 40-an sudah termasuk masa puber kedua. Bagi pria, justru ini masa 'panas'nya mereka.
Tak heran, sebagai seorang pria yang tidak didampingi istri, Antoni jadi melampiaskannya dengan sembarang perempuan.
Tapi kenapa harus di kebun? Apa enaknya melakukan itu ditengah rasa khawatir? Carissa saja tak pernah mau kalau diajak oleh mantannya ke hotel sembarangan. Minimal bintang lima, itu sudah pasti.
Dentingan kecil terdengar saat sebuah piring diletakkan di meja.
Carissa mendongakkan kepalanya.
Tepat menanamkan pandangnya pada seorang pria yang sejak tadi berkeliling di otaknya. Kali ini dia memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek. Dia memakai topi motif army. Duduk santai di depan Carissa tanpa tahu isi pikiran gadis itu. Tangannya memegang gelas teh hangat yang mengepul.
"Nenden bilang kamu belum makan siang. Ngemil dulu aja nih." Dagu Antoni menunjuk ke sepiring cemilan khas Sunda mulai dari dua combro, dua misro, empat cibay yang masih mengepul dan tiga goreng pisang.
Nenen? Dia bilang nenen kah? Dahi Carissa mengerut bertanya dalam hati.
"Belum kenalan? Nenden yang masak di belakang."
"Ah ... Teh Nenden. Iya, saya sudah kenalan tadi pagi." Fiuh! Kupingnya kenapa jadi error sih?
"Makan." Antoni membuka topinya, memperlihatkan rambut yang hitam legam dengan uban di bagian bawahnya, tangannya mencomot goreng pisang, memakannya dalam sekali suapan.
"Iya, makasih om. Lagi ngerjain ini dulu."
Tadi lagi ngapain ya? Sejujurnya Carissa lupa. Dia pun melihat ke tab chrome nya. Ada gmail dan website list rekomendasi aplikasi wajib untuk para pemilik hotel dan tempat wisata.
"Gimana hari ini? Lancar?" Antoni mencomot satu combro.
"Mulai dari sistem dulu. Besok baru keliling." Jawab Clarissa tanpa menatap atasannya.
"Memang pasti makan waktu agak lama untuk keliling. Karena ini lagi proses perluasan ke belakang sana ... " Carissa mengikuti arah pandang Antoni ke bagian belakang hutan.
"Mau dibikin perkemahan juga om?"
"Pondok," Ralatnya. Akhirnya setelah berusaha dihindari, mata Carissa dan lelaki itu bertemu juga. Akan aneh kalau Carissa buru-buru memalingkan pandangan. Maka dia bertahan, mengangguk, berusaha menyembunyikan lehernya yang menegang, "tipenya lebih dekat ke villa. Satu kamar, perlengkapan lengkap. Tapi jarak antara room satu dan lainnya kita buat jauh. Biar cocok untuk penyewa yang lebih suka suasana intim."
Pasti usaha satu ini terinspirasi dari kegiatan dia sendiri, yang suka 'main' di tempat terbuka. Tebak Carissa.
"Keren. Ide bagus." Tanggap Carissa.
"Dua bulan lagi kita pembukaan resmi. Nanti saya butuh bantuan kamu untuk diskusi man powernya."
"Siap om."
"Ini dimakan Caris." Tangannya menyodorkan piring mendekat ke sisi Carissa.
"Gampang om. Nanti kalau udah lapar saya makan."
"Disini kamu gak usah takut kelaparan. Makan pagi siang malam tinggal minta Nenden. Kalau mau snack memang musti bayar, tapi yang ini saya yang bayar."
"Siap om. Gampang ... "
"Jangan telat. Setidaknya ganjal dulu Caris... " Antoni mengambil sebuah pisang goreng. Camilan berbentuk panjang itu diarahkan ke mulutnya.
Duh apa ini? Terakhir dia disuapi ayahnya saja belasan tahun lalu.
Dan tangan kanan Antoni adalah tangan yang sama yang semalam bergerak cepat di bagian bawah tubuh wanita itu. Sekarang, tangan itu terarah ke mulutnya.
Pertanyaannya, atas dasar apa Antoni berpikir bahwa Carissa mau dia suapi?
"Aa ... " Tangan Antoni semakin maju. Harum gorengan itu mulai terendus Carissa. Carissa yakin Antoni tak sedang menatap pisang goreng-nya, melainkan ke bibirnya.
Fix.
Carissa tak salah sangka.
Tindakan lelaki ini punya maksud lain baginya. Ini seperti kode. Apakah Carissa mau menerima tindakan abnormal yang dia tawarkan? Atau tidak.
Antoni lelaki yang cerdas. Apa yang dia lakukan pasti terstruktur. Pelan. Terencana. Untuk membawa Carissa ke ranjangnya pasti dia punya tahapan.
Pertanyaannya ... Apakah Carissa mau?
Tangan Carissa mengambil gorengan itu dari tangannya, "thank you om."
Ini lah pilihan Carissa. Entah benar atau tidak apa yang dia pikirkan barusan. Dia harap itu bisa menghentikan imajinasinya dan imajinasi Antoni.
Tatapan pria itu menggelap. Dia mengambil kembali tangannya, bersedekap di meja, meluncurkan tatapan bertanya-tanya seolah memikirkan hal yang sama dengan Carissa.
Entah dalam topik yang sama atau tidak. Entah dalam satu cerita yang senada atau tidak. Yang jelas baik Carissa dan Antoni saling bertukar tatap. Berusaha menelaah sikap masing-masing dan sikap yang harus ambil. Tapi yang jelas, mereka sama-sama tahu tidak bisa sembarangan dengan rekan kerja mereka ini.
***
***
***
Anda Mungkin Juga Suka





