
Of Love Trilogy
Bab 3
Sebuah kartu nama, masih terus di pandangi Ayana. Sebuah nama CEO dari perusahaan.
" Arga Arkhilendra.." Gumamnya sambil menetap kartu nama.
Sudah sejak 1 jam Lalu, Mereka janji bertemu. Ayana duduk di sebuah ruang tunggu, dan akhirnya Ayana di panggil ke ruangan Agha untuk bertemu dan memberikan kotak Cincin yang Agha tinggalkan sewaktu bertemu.
Sekertaris itu mengetuk pintu,
TOK...
TOK...
"Pak, Mba Ayana mau ketemu sama bapak, katanya ada perlu." Ucap Sekertaris Agha yang bernama Raisya. Dia melihatkan sebagian kepalanya dipintu.
" Suruh, dia masuk." Agha masih duduk di kursi jabatan nya dengan beberapa pekerjaan yang masih dikerjakan di Laptopnya, terlihat sedang meeting. " Saya masih meeting, ya_" desisnya
" Baik, Pak." Raisya mempersilahkan. Ayana masuk ke dalam ruangan kantor, Dia duduk agak kikuk. Dan beneran canggung, sebenarnya dia hanya ingin memberikan kotak cincin saja, tanpa harus berlama - lama.
kalau saja harganya ngak mencapai Milyaran, mungkin saja kotak itu sudah dia titipkan pada sekertaris Agha saja.
Agha mempersilahkan duduk walau hanya dengan isyarat, dia tetap fokus pada Laptopnya.
Hening, suasana hanya terdengar percakapan Agha saja, Ayana diam dia tidak bisa berkata apapun selain melihat seisi ruangan Agha yang di penuhi penghargaan dirinya.
Cukup lama ternyata, Ayana sudah menunggu Agha selama setengah jam. Agha masih sibuk dengan Laptopnya. Dia mulai bosan, dan mengeluarkan ponsel nya. Matanya membelak dia mulai lagi panas melihat layar ponsel nya.
Sederetan pesan sudah muncul, sebuah pesan menagih hutang piutang Ayana. dan beberapa panggilan yang ditolak Ayana karena nomor tidak dikenalnya. Dia tau ulah siapa ini? ulah suami nya.
Benar. Ini ulah Ares, dia bahkan dengan lantang mengaku suami Ayana, tapi dia tidak pernah berani memasang badan menghadapi para Debt Collector itu. Ayana selalu jadi sasaran para penagih hutang.
" Ya, Allah. Mas." Desisnya. ia menahan bibirnya gemetar dan ujung matanya panas.
Ayana merapatkan rahang nya, dia menutup matanya dan mengingat kelakuan Ares yang membuat kepalanya hampir meledak.
Ayana memijit pelipisnya.
Dua ratus juta itu bukan uang yang sedikit, dari mana datang nya? dia mengganti uang itu dengan apa? apa dia harus menjual dirinya pada Agha? atau mengadaikan harga dirinya pada Agha berani meminjam uang untuk piutang ini.
Ayana menggeleng, dia tidak akan melakukan itu pada Agha, Agha hanya lelaki yang baru di kenal. Solusinya memang satu, dia harus menjual mobil nya dan mengganti dengan sepeda motor saja. Atau bahkan Ayana harus pulang pergi naik angkutan umum. Demi menyelamatkan nama nya. Ayana membenarkan jalan satu - satunya adalah menjual kendaraan itu pasti.
Ayana sudah bertekad.
" Maaf, Mbak Ayana. Menunggu saya agak melar waktunya." Ucap Agha meminta maaf. " Barusan meeting dadakan." sesalnya.
" Ngak, Pa -pa. Mas. its oke." Ayana tidak keberatan. Dia meronggoh tas di samping lengan kiri nya mengambil sebuah kotak, Lalu meletakan dimeja.
Dia menyembunyikan dengan baik kotak perhiasan itu dan sudah menginap semalaman dirumahnya. Untung saja Ares tidak tau benda itu, kalau saja dia tau, mungkin sudah di Gasak Ares." Maaf, Mas. kemarin saya tidak bisa kesini. Ada perlu, maaf juga kalau Cincin mas nginap dirumah saya semalaman." Ucap Ayana malu.
" Oh, Iya. Terima kasih mba Ayana. Saya kira kemarin jatuh dimana." Ucapnya santai.
" Iya, Sama - sama, Mas."
Agha memandang nya. Dia melihat wajah Ayana agak sendu. Tapi ditutupi dengan baik dengan caranya tersenyum.
"Mbak agak sedih, kenapa?" Agha ternyata memperhatikan Ayana dari jauh. Tadi dia sempat melihat Ayana mengusap sudut matanya. " Apa karena, Suami kamu?"
Bagaimana dia tau? Apa jika Agha lulusan Psikiater dia bisa tau pikiran nya, ataukah Mas Agha Cenayang? bagaimana bisa dia menebak masalah Ayana dengan tepat sasaran. Meskipun ayana tidak menceritakan nya dengan gamblang.
Ayana mengelak, bahwa tidak ada yang terjadi padanya.
" Ngak, saya cuman mau jual mobil saya, kira - kira laku berapa?" Tanya Ayana penasaran. Sambil mengalihkan masalah dia dan suami nya.
" Mobil mana?"
" Kalau Hon*da Br*io saya, kira- kira laku dijual berapa, Ya. Mas?"
Agha mengingat sesuatu, dia hampir menebak saja tepatnya. Lalu mengulang kalimat Hon*da Br*io " Tahun berapa?" Tanya nya lagi?
" 2014"
Agha mengangguk. Dia hapal harga mobil itu, dia hapal pasti, terkait jual beli dan barang - barang seperti mobil itu sudah di luar kepalanya.
" Mbak butuh uang berapa?" Tembak nya.Tanpa basa - basi.
" M-Maksud nya? harga saya, Ups ralat. Harga mobil saya berkisar berapa?" Tanya Ayana agak gugup. Dia tau Agha menebak kalau Ayana sedang butuh uang. " jadi berapa kira - kira?"
" Kalau harga sesuai tahun paling 100juta, itu karena tahun nya 2014, Sudah agak lama ya?"
Ayana mengangguk, benar itu adalah mobil idaman nya selagi dia beli sendiri dengan uang nya. Hasil tabungan semasa dia kerja dan hidup sendiri sebelum menikah, Lalu dia belikan mobil,
Mobil itu dibeli ketika Athena berusia empat tahun. Ayana suka sekali mengajak Athena jalan - jalan dengan mobil kecil nya.
" Mbak butuh berapa untuk semuanya?"
" N-Ngak Mas. Saya hanya butuh seharga mobil itu ajah. Nanti saya cari sisanya." Ayana menolak . " Supaya bisa tertutupi hutang Mas Ares."
" Suami kamu?"
Ayana mengangguk. dia sebenarnya ingin bercerita banyak, tapi dia dan Agha tidak sedekat itu. Bahkan dia mau meralat kalimat Suami tersebut. Ayana dan Ares sudah sejak lama berpisah.
" Saya kasih cek, seharga mobil kamu. Tapi mobilnya bisa kamu pakai dulu, kalau kamu sudah punya kendaraan lain silahkan datang kesini " Agha menuliskan Cek, dia berdiri dan mengambil buku cek di meja nya.
" Mas, Saya ngak perlu secepat ini." Ayana menolaknya. Dia takut juga curiga pada lelaki yang dengan mudahnya memberikan uang padanya. Ayana meyakini bahwa pasti ada buntut dari kebaikan Agha. " Saya simpan kunci mobil nya di meja, Mas. Saya terima cek nya." Ayana punya harga diri, dia bukan pengemis.
Dia yakin dengan menjual mobil itu adalah solusinya.
Agha terkekeh.
" Mbak Ayana itu punya prinsip, ya?"
Ayana mengangguk, Jelas Ayana memiliki prinsip. Dia tidak suka bergantung pada siapapun, bahkan dia sudah tangguh dan mandiri sejak awal.
Ayana sudah kuat dengan bahu dan punggung nya. Dia bukan tipe wanita yang lemah dan menggantungkan diri pada makhluk yang bernama laki - laki. Itu terjadi Empat tahun lalu dari usia pernikahan yang 14tahun berlangsung. Sepuluh tahun baik - baik saja sisa empat tahun adalah Neraka dari Ares.
Dia belajar dari Ares, lelaki yang mengaku sebagai suaminya, dan terus menjerat leher Ayana hingga tercekik. Bahkan Ares tidak pernah memberi nya kebahagiaan selama empat tahun ini. Ares terus menyiksa Ayana secara perlahan dengan piutang nya, Jiwa Ayana sudah lama hancur dan berantakan karena ares membiarkan dirinya tertatih tanpa bahu sandaran.
Hasil akhirnya adalah Ayana juga Apatis pada mahluk yang bernama laki - laki. Dia tidak mudah percaya siapapun kecuali Lisha sahabatnya. Bahkan dia juga tidak percaya Agha.
Ayana senyum ke arah Agha, ketika Agha menuliskan Cek itu.
Hidupnya dijalani dengan baik, Ayana terlatih hidup penuh Ekspresi, dia terlatih tersenyum dalam kegetiran, Dia terlatih untuk tertawa padahal dia sedang menangis, Ayana terlatih untuk berfikir secara waras padahal kehidupan nyata dalam hidupnya penuh ketidakwarasan,
Misalnya dia masih bertahan dengan Ares. Hanya karena Athena yang memiliki penyakit Bipolar. Hidup satu rumah dengan lelaki macam Ares.
Ayana melihat foto kelulusan Agha, selain kuliah di Oxford, dia memiliki beberapa gelar. ia terlihat mengagumi perjalanan Agha di dunia karirnya.
Agha memang lulusan Psikologi, dia memulai karirnya di bidang HR, dia loncat kesana kemari ke beberapa perusahaan Multinational hingga pada akhirnya dia mendirikan perusahaan nya sendiri.
Ayana mengetahui nya, dia membaca Profil Agha Akhilendra, seorang pengusaha sukses di bidang otomotif.
Mereka diam, setelah Ayana kembali menyodorkan kotak perhiasan itu ke arahnya.
" Cincin nya indah, pasti beruntung calon istri, Mas." Puji Ayana. Setelah melipat kotak tersebut.
Agha hanya mengangguk, lalu senyum tipis. lelaki yang tidak jauh dengan usia Ayana itu hanya melihatkan senyum nya sedikit. Dia juga terlihat tidak baik - baik saja.
" Kamu sudah melihatnya?" Agha membuka kotak perhiasan itu dan memastikan berlian yang ada di dalamnya tidak copot. " Kamu ngak tertarik?"
Ayana mengangguk. dia senyum pasti. Perempuan mana yang menolak perhiasan mewah. " Mana ada yang tidak bahagia, di berikan perhiasan segitu mewah nya, Mas." Ucap Ayana sambil senyum kearah Agha. " Saya juga menginginkan itu, Tapi_"
" Tapi apa?" Tanya Agha penasaran.
" Hanya dalam cerita saja."
" Oh, Masih nulis Novel online, Mbak Ayana?" Agha menatapnya dalam, ada keinginan matanya untuk menyelam kedalam kehidupan Ayana.
Ayana menolaknya dia tidak memberikan akses untuk Agha mengetahui lebih banyak masalahnya.
" Perhiasan itu mahal sekali, Semalaman saya ngak bisa tidur. Mas. Saya takut, kalau ada orang yang tau harganya, bisa saja saya dibunuh." godanya sengaja.
Agha tertawa terbahak - bahak
" Itu imitasi, jangan terlalu dipikirkan." Ucapnya santai. Agha bahkan terlihat acuh dengan cincin itu. Dia sudah menutup nya kembali.
" Oh, gitu. Saya khawatir. Bahkan Lisha saja sampai hampir pingsan jika perhiasan itu asli, dia bahkan rela mau bercinta dengan mas dua hari dua malam kalau, Dia dapat perhiasan seperti itu?" Ayana terkekeh melihat Ekspresi sahabat nya.
" Ha..ha..kok Lisha, sampai kepikiran begitu ya? Tapi boleh juga ide gila itu, Apa Mbak Ayana mau bercinta sama saya?"
Ayana langsung membelak.
" Halah, Mas. ini becanda saja, mana mungkin saya seperti itu."
"Saya percaya." Agha mengalihkan perhatiannya dengan kembali melihat, cek untuk Ayana.
Ayana kembali menatap nya, dia percaya? seorang Agha dengan latar belakang berpendidikan dengan mudah percaya pada orang lain, Ayana tidak habis pikir? padahal bisa saja kalimat tadi Ayana membohongi nya, Bisa saja tadi Ayana sesungguhnya ia mau diajak bercinta demi perhiasan itu, Bisa saja kan> apapun demi uang.
"Mas percaya saya?"
Ayana masih tidak percaya, buktinya cek senilai seratus juta sudah di tangan Ayana. Tapi Ayana juga berfikir orang macam Agha mana mungkin, ia gampang ditipu? dia berpendidikan, memiliki gelar MBA dari Universitas Oxford. Tapi mengapa? segampang itu memberikan seratus juta. "Apa dia terlalu banyak uang?" Pikirnya
" Mas, Jangan mudah percaya, siapa tau saya juga bisa saja nipu, Mas."
" Oh gitu, pantas saja ya. Saya ketipu."
" S-Siapa yang nipu, Mas?" Ayana takut bahkan ucapan tadi hanya asal saja, dan hanya memperingatkan Agha. " Mas Ketipu, aku tadi asal bicara loh..?"
" Lupakan." Agha tidak keberatan.
Ayana mengangguk." Oh, gitu.." ia menarik kursinya dan pamit, sudah tidak banyak lagi yang harus dia bicarakan dengan Agha selain mengecek, Cek keaslian yang Agha berikan, kosong atau tidak.
" Mbak Ayana, Kalau saya hubungi sewaktu - waktu apa, boleh?" Tanya Agha sedikit penasaran " Kita bicara santai. Atau saya kirim surat undangan pernikahan." Ucapnya.
Ayana mengangguk dia tidak keberatan, " Boleh, Mas. Saya ambil cek ini. Mobil saya ada di carport kantor Mas. Saya tinggal."
Agha mengangguk.
" KTP Mbak Ayana, jangan lupa di Copy, nanti kasih ke Raisya di depan ya?"Ucapnya mengingatkan. Agha mengantarkan hingga depan pintu kantor." Hati- hati, mbak.." lambainya.
" Iya, mas." Ayana keluar dari ruangan. " Kalau butuh surat - suratnya, hubungi saya ,saja. " Ucap Ayana.
" Pasti." Jawab Agha.
******
Anda Mungkin Juga Suka





