
Occidens
Bab 2
Kutukan Sang Demon
_★_
"Aqua, Terra, Aer et Ignis. Ante te iuro exsecrari filium huius lamiae regis, fieri monstrum, qui perstat mihi atri sanguinis!" Guntur dan kilat langsung mencambuk langit malam yang gelap. ("Demi Air, Tanah, Udara dan Api. Di hadapan kalian aku bersumpah untuk mengutuk anak dari raja vampir ini agar nenjadi sosok monster yang meneruskan darah gelap ku!")
Sosok bersayap besar itu melebarkan telapak tangan di atas tubuh mungil Edgar yang tengah menangis meraung-raung kedinginan.
Munculnya kepulan asap berwarna ungu menjadi awal masalah bermula.
Sesaat sebelum dirinya menghilang karena teleportasi, James berkata pada Justin. "Jika kau tersiksa karena tak memiliki keturunan, maka aku tambahkan penyiksaan mu dengan mengambil keturunan mu satu persatu."
Tubuh Edgar menggigil di atas tanah. Tangisan juga isakan pilu menyatu dalam keheningan malam.
Sebuah simbol berbentuk bulan sabit terbalik berhias tanda salib besar terlihat memerah dengan darah segar yang mengalir.
Justin berteriak sedih. Menggendong tubuh putranya gemeteran, dia berlari cepat menuju selatan Meridiem, tempat para tetua tinggal.
Brak!
Tangannya membuka kasar pintu kayu kokoh di salah satu gubuk reyot. Matanya berkilat merah, sama seperti bulan pada malam ini yang masih memunculkan ronanya.
"Anak ku dikutuk," katanya bernada dingin.
Estelle, ayah Estelyn mendekati sosok gagah Justin yang mendekap erat tubuh Edgar. Melihat sang cucu perlahan memucat, tetua vampir itu memunculkan taring tajamnya.
"Kau melanggar perjanjian itu, Justin!" erang Estelle marah.
Laki-laki baya lain menghampiri untuk melihat kondisi Edgar. Melakukan hal yang sama, pria itu memunculkan taring tajam di giginya. "Kutukan ini tidak bisa dipatahkan," ungkapnya begitu tenang saat memberi informasi.
Tatapan sang raja menajam. "Tidak! Ini harus dipatahkan, hanya dia satu-satunya penerus ku!" tolak Justin mentah-mentah.
Ia tidak akan sanggup untuk kehilangan sang buah hati yang baru saja lahir di dunia. "Ku mohon, patahkan kutukan ini," pintanya memelas.
Estelle menggeleng tegas. "Bunuh dia, atau kembalikan ke kastel sang Demon," ujarnya tanpa ragu.
Justin meliriknya kesal. "Dia adalah putra ku. Tidak ada yang bisa membunuhnya atau aku yang akan membunuh kalian!" sentak sang raja vampir.
Seorang wanita vampir lain masuk, menengahi keributan di dalam gubuk itu. Katanya, "Jangan buat keributan! Bagaimanapun juga dia anakmu, penerusmu. Tetapi kami di sini sudah jauh lebih lama dari mu, kami jelas lebih tahu hal apa yang akan terjadi jika kau tetap mempertahankan anak ini, Justin."
Justin perlahan merosot turun. Kakinya terasa lemas begitu mendengar perkataan selanjutnya dari wanita cantik berumur ribuan tahun tersebut.
"Kutukan itu tidak bisa dipatahkan dengan cara apapun, kecuali ia memenuhi takdirnya sebagai penerus sang Demon."
Untuk pertama kalinya, gerhana bulan darah disambut tangisan deras awan yang begitu lebat. Disertai guntur memekak telinga, kilatan cahaya dari petir mencambuk langit gelap bagai lampu sorot.
"Ku mohon ... patahkan kutukannya."
Sementara di kastel kerajaan vampir sekarang, Estelyn baru saja terbangun dari kondisi kritisnya.
Ia yang belum sempat beristirahat, bergegas beranjak menyusul sang suami setelah mendengar kabar dari tabib.
Namun ketika kakinya hendak melangkah turun dari ranjang, sebuah tangan hangat menyapu pundaknya, memberikan rasa nyaman dan tenang untuk sementara waktu.
Senyuman manis ia tunjukkan pada Estelyn. "Jangan khawatir, Raja pasti bisa menanganinya," ujar Bellatrix hangat.
Ratu vampir itu jadi merasa sedikit lega. Keberadaan Bellatrix mampu menenangkan sedikit rasa khawatirnya. "Trimakasih, Bella."
"Sama-sama, Yang Mulia." Diam-diam, Bellatrix tersenyum simpul melihat reaksi positif dari Estelyn. "Harusnya aku yang berterimakasih, Estelyn," sambungnya dalam hati.
.
.
Ternyata kabar bahwa anak raja vampir dikutuk oleh sang demon sudah melebar luas ke seluruh penjuru dunia immortal. Termasuk Occidens, tempat dimana Raja Demon tinggal.
Ratu Estelyn meras begitu menyesal telah melahirkan Edgar setelah mengetahui fakta itu, berbeda dengan Raja Justin yang bersikap biasa-biasa saja seperti tak ada yang terjadi.
Berulang kali ratu mencoba membunuh anaknya sendiri, tetapi sang raja berhasil menghentikan niatannya tanpa mau menghukum.
Hal itu terus terjadi selama 19 tahun berturut-turut.
Sampai pada saat Justin kesal karena untuk kesekian kalinya Estelyn berusaha meracuni Edgar ketika jamuan makan malam kemarin.
"Raja, harusnya kau membunuhnya. Dia tidak bisa dinobatkan sebagai putra mahkota, kau tahu itu!" Dalam kamar besar mereka, Justin dan Estelyn tengah cekcok mempermasalahkan keberadaan Edgar kedepannya.
Sang raja berdecih, "Kenapa kau ingin sekali membunuh darah daging mu sendiri? Apa kau tidak pernah menginginkan anak itu?" tanya raja murka.
"Iya, aku tidak menginginkan anak itu sama sekali!" jawab Estelyn tegas. Ia kecewa karena anaknya dikutuk begitu saja oleh sang Demon.
Namun maksud Estelyn ditanggapi berbeda oleh sang raja. "Maksudmu kau tidak pernah menginginkan anak dari ku? Apa selama ini kau memiliki hubungan lain selain dengan ku?" tanya Justin murka.
Estelyn sontak membantah. Dia bahkan bersimpuh di hadapan Justin ketika dituduh begitu kejamnya oleh sang suami.
"Kenapa Raja bilang begitu? Aku tidak punya hubungan apapun selain dengan mu." Justin malah tertawa remeh. "Kini kau bersimpuh untuk pengampunan?"
"Tida— akh ..."
"Selama ini kau mengkhianati ku, Estelyn. Kau telah menjatuhkan kehormatan seorang ratu," ujar Justin menggebu-gebu. Tangannya bergerak untuk mencekik leher Estelyn lebih keras.
"Akh ... ti-dak, bu-kan begi-tu mak-sud ku ..."
"Kau ratunya. Mengkhianati raja dan rakyat adalah kesalahan seorang ratu, Estelyn. Kau harus menerima hukumannya!"
.
.
Beralih pada sosok Edgar.
Hidup di kalangan vampir kerajaan ternyata membuat jati diri Edgar sedikit tertutupi.
Terlalu lama dilindungi oleh sosok ayah, menjadikan Edgar sebagai sosok manja karena sikap protektif Justin pada dirinya. Hingga akhirnya Edgar tumbuh layaknya vampir normal namun dengan sifat sedikit rewel.
Hanya saja, diusianya yang memasuki usia matang. Perilaku Edgar sering berubah-ubah. Terkadang kemampuannya melebihi orang-orang di sekitarnya. Hal itu juga yang membuat raja dan ratu takut.
Klang!
Prang!
Pedang panjang itu terhunus tepat pada sebuah pot bunga di sisi Edgar. Menatapnya malas, tangan laki-laki itu bergerak menghancurkan pot tanpa menyentuhnya.
"Bukankah kau terlalu arogan, Pangeran?" Sosok Bellatrix muncul dari balik tembok. Wanita muda itu sangat tertarik pada sosok Edgar semenjak hari kelahirannya.
Dia berjalan mendekat, "Kau harus istirahat, Pangeran," ujar Bellatrix lagi. Namun, sama seperti sebelumnya, wanita iu diacuhkan oleh Edgar.
"Ayolah—"
"Berhenti bicara Bellatrix, cukup aku yang tahu bahwa kau adalah pengkhianat di kerajaan vampir ini!" sela Edgar penuh penekanan.
Bellatrix terdiam. Wajahnya membeku, begitu juga tubuhnya. Lalu di detik berikutnya, senyum seringaian tercetak tanpa ditutup-tutupi. "Oh, wow. Aku tersanjung kau mengetahui identitas ku, Pangeran."
Edgar lagi-lagi mengacuhkan keberadaannya. "Tapi apa kau tahu siapa orang yang mengutus ku?"
"Memangnya apa peduli ku?" tanggap Edgar acuh.
"Ayolah, kau, kan, memiliki simbol sang Demon. Tidak bisakah kau menebaknya?"
Anda Mungkin Juga Suka





