Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Obsesi stalker gilaku

Obsesi stalker gilaku

Dulu dihina dan ditolak mentah-mentah, kini seorang pria misterius kembali untuk mengklaim Arabella Carol. Bertahun-tahun Arabella diawasi secara rahasia hingga akhirnya ia terjebak dalam obsesi dan dendam kelam dari masa lalu. Di tengah dunia gelap yang penuh rahasia, mampukah ia bertahan hidup? Ataukah Arabella justru akan menyerahkan hatinya pada sosok yang seharusnya ia benci? Sebuah kisah penuh ketegangan antara benci dan cinta yang berbahaya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Siapa... siapa yang menekan bel terus-menerus seperti ini? batin Arabella bertanya-tanya.

Ia meraih ponsel, melihat jam yang baru menunjukkan pukul lima pagi.

"Sepagi ini ada yang ingin bertamu? Bagaimana jika itu bukan manusia?" Arabella bergidik ngeri.

Arabella ingin mengabaikan, tapi bel terus berbunyi tanpa henti. Hal itu sangat mengganggunya. Meski takut, Arabella coba beranikan diri untuk mengecek. Ingin rasanya ia memaki orang yang telah mengganggu waktu istirahatnya itu.

Arabella membuka pintu dengan tampang sok berani. Namun, tak ada siapa pun di depan pintu kamar. Lorong apartemen itu bahkan masih tertutup rapat oleh kegelapan.

Arabella mengusap tengkuknya yang meremang. "Siapa yang ... Argh!"

Ketakutan menggiring Arabella untuk segera mengunci pintu kamar apartemennya. Tubuh wanita itu bergetar bagai daun diterpa angin kencang di belakang pintu. Air matanya menggenang di pelupuk.

"Apa hantu yang menekan bel kamarku tanpa henti? Tapi... bagaimana itu mungkin?"

Arabella tak bisa berpikir jernih. Ia baru mengambil langkah untuk kembali ke kamar, saat dentang bel apartemen kembali memecah keheningan. Arabella terlonjak kaget, memegangi dadanya yang berdegup hebat.

Arabella mengambil ancang-ancang membuka pintu dengan cepat. Ia sudah ingin memaki-maki orang yang dengan sengaja mempermainkan ketakutannya saat ini. Namun, sial! Lagi-lagi Arabella masih tidak menemukan keberadaan orang yang menekan bel. Suasana masih sama seperti pertama kali ia membuka pintu.

Arabella menoleh ke kanan, tak ada orang. Saat menoleh ke arah kiri, kedua matanya menangkap siluet seseorang yang tengah berdiri di kegelapan. Dengan keberanian yang tersisa, Arabella coba bertanya dengan pelan.

"Siapa ... di sana? Kau yang menekan bel kamarku tanpa henti?"

Arabella tak melihat jelas. Suasana gelap lorong apartemen yang hanya diterangi oleh  cahaya remang-remang, menerpa siluet seseorang berbalut hoodie hitam. Ia menunduk, wajahnya bahkan tidak bisa di lihat. Insting keamanan Arabella terpicu. Ia   mundur, ingin menutup pintu kamarnya.

Namun, pandangan Arabella tak sengaja tertuju pada buket bunga mawar hitam yang tergeletak tidak jauh dari kaki pintu. Dengan gerak cepat dan hati yang masih berdegup, Arabella meraih bunga itu, membawanya masuk ke dalam, dan tanpa ragu mengunci pintu dengan segera.

"Buket mawar lagi? Siapa orang misterius tadi? Apakah ... dia yang meletakkan buket bunga ini?" tanya Arabella pada dirinya sendiri sambil membolak-balikkan buket tersebut.

"Aku tidak menemukan apa pun di mawar ini. Bagaimana aku bisa tahu siapa yang telah memberikannya?" Arabella menghela napas panjang, ia merasa seperti di teror.

Arabella kembali ke kamar. Ia membuka tirai, menatap langit yang mulai terang. Buket itu ia letakkan di atas meja, bersebelahan dengan satu lagi buket mawar merah yang semalam juga ia temukan di depan pintu apartemennya.

Ia memandangi kedua buket tersebut. "Aneh," gumamnya. "Tidak ada satu pun nama pengirim di kedua buket ini. Apa ... aku memiliki secret admiror?"

Tak ingin menduga-duga, Arabella memilih untuk menyegarkan diri. Ia memasuki kamar mandi, mengisi bathtup, menyalakan lilin aromaterapi yang dapat meredakan ketegangan.

Begitu tubuhnya tenggelam di dalam bathtub, Arabella menghirup dalam aroma sabun yang lembut, memenuhi paru-parunya dan perlahan meredakan ketegangan di dada. Kedua matanya terpejam, membiarkan sensasi hangat itu menyeretnya ke dunia lain, jauh dari bayang-bayang gelap yang sempat menyergap tadi.

Usai berendam, Arabella melangkah masuk ke dalam shower box berdinding kaca. Air hangat mengguyur sekujur tubuhnya, membasuh sisa kecemasan yang masih melekat. Suasana hening dan suara gemericik air menjadi teman satu-satunya. Waktu seakan berhenti, membuatnya tak menyadari betapa lama ia terjebak di sana.

Dengan hanya selembar handuk putih membalut tubuh, Arabella melangkah keluar dari kamar mandi, menuju walk-in closet. Namun, entah mengapa, setiap langkah yang diambilnya terasa berat. Seperti ... ada sepasang mata yang mengawasi dari dekat. Namun, Arabella tahu betul jika ia sendirian, tapi naluri wanita itu berkata lain.

"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa ada yang tengah mengawasi," gumam Arabella, matanya memandang sekeliling.

"Tenangkan dirimu, Arabella! Kau aman. Tidak ada siapa pun di sini." Arabella mencoba meredam desiran aneh yang merambat di tengkuknya.

♦️♦️♦️

Di sisi lain...

Jantung seorang pria kini tengah berdetak kencang saat melihat seseorang melalui layar monitor besar yang terpasang di ruangan pribadinya. Di layar, terpampang wanita cantik yang selama ini mencuri perhatian pria itu, terlihat mengenakan pakaiannya. Cahaya layar monitor memantulkan siluet tubuh telanjang yang membuat pria itu semakin tidak sabar untuk berada di sisinya.

Pria itu tersenyum tipis. "Kau benar-benar membawa kegilaan untukku, Baby."

Pria itu melihat wanitanya menoleh ke seluruh sisi kamar, seakan merasakan kehadirannya meskipun ia sudah tak berada di lokasi wanita itu lagi. Pria itu membayangkan bagaimana reaksi wanitanya jika ia benar-benar berada di sana.

"Mungkin ... aku bisa kelepasan menidurimu, Sayang," katanya, penuh kegilaan.

"Rasanya aku ingin menembus layar monitorku. Menarikmu ke dalam pelukanku, merasakan setiap helaan napasmu yang tercekat saat aku menyentuh bagian tubuh sensitifmu yang paling kau lindungi dari kekasihmu sendiri," gumam pria itu dengan suara parau.

Kedua matanya terpejam sesaat, membiarkan imajinasi liar itu membakar kewarasannya.

Matanya terbuka perlahan. Pandangannya bertaut ke layar lagi, di mana wanitanya kini telah selesai berpakaian. Hasrat pria itu  memuncak. Ingin rasanya menerkam, menggenggam erat, dan tidak pernah membiarkan wanita itu beranjak sedetik pun dari sisinya.

"Damn it," desisnya. "Aku ingin menguncimu dalam dekapanku, Baby. Melingkupi tubuhmu dengan sayapku, membangun dinding yang tak bisa kau tembus, agar tak ada celah bagimu untuk kabur. Suara, wajah, semuanya ... hanya aku yang akan menjadi satu-satunya."

Setiap detik terasa menjelma menjadi siksaan. Waktu seakan mempermainkan, memaksa pria itu untuk terus menatap layar monitor, menyaksikan wanita incarannya tanpa mampu menyentuh. Tapi ia tahu, saatnya akan tiba. Saat di mana ia akan berada di sisi wanita itu. Memastikan bahwa tidak ada siapa pun, atau apa pun, yang bisa memisahkan mereka.

Dengan tatapan tajam menusuk ke layar, pria itu berbisik pelan, namun suaranya penuh ancaman manis.

"Itu baru pemanasan, Sayang. Masih begitu banyak kejutan yang sudah ku persiapkan. Kejutan-kejutan itu menunggumu, Arabella Carol."

Ruangan di kamar apartemen wanita itu telah sepi. Bayangannya pun tak terlihat lagi dari pandangan pria itu. Ia bangkit dengan keputusan bulat, meninggalkan kursinya yang empuk. Langkahnya terarah menuju pintu, lalu memastikan untuk menguncinya kembali. Tidak satu pun boleh mengusik ruang pribadi pria itu tanpa izin, jika mereka tak ingin memberi nyawa padanya secara cuma-cuma.

♦️♦️♦️

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Anak Tersisih
8.4
Sarinah melarikan diri dari rumah karena ketidakadilan orang tuanya. Insiden kecelakaan mobil justru membawanya ke kehidupan baru sebagai Rully setelah ia diadopsi. Dari gadis buta huruf, ia bertransformasi menjadi dokter sukses. Namun, konflik besar muncul saat seorang pria melamarnya tanpa mengetahui asal-usul Rully yang sebenarnya dari keluarga miskin. Kini, ia harus memilih antara jujur atau terus bersembunyi demi menjaga cinta dan statusnya.
Sampul Novel Dibuang oleh Keluarga
8.5
Pernikahan Cindy Marissa hancur saat tunangannya, Thomas Samono, membatalkan upacara demi Yana Amerta yang baru kembali. Thomas membuang cincinnya, sementara kakak kandung Cindy juga pergi meninggalkannya demi wanita yang sama. Di malam yang sunyi, Yana mengirimkan foto dirinya memakai gaun pengantin dan kalung rancangan yang seharusnya milik Cindy, didampingi Thomas dan kakak Cindy. Merasa sangat dikhianati dan lelah, Cindy akhirnya menangis menghubungi orang tuanya untuk pulang ke rumah.
Sampul Novel Jadi Korban Kelalaian Orang Tuaku
8.1
Seorang gadis menjadi korban balas dendam keji dari kriminal yang pernah ditangkap ayahnya. Di saat kritis dengan lidah terpotong, sang penculik menghubungi ayahnya yang seorang kapten polisi. Namun, sang ayah dan istrinya yang ahli forensik mengabaikan telepon itu demi menemani sang adik lomba. Setelah membantai korban, pelaku meninggalkan jasadnya. Saat pasutri itu tiba di TKP untuk menyelidiki mayat tragis tersebut, mereka tidak sadar bahwa korban adalah putri kandung mereka sendiri.
Sampul Novel Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah
8.0
Pernikahan Nadira hancur seketika saat terungkap bahwa Fadlan, calon suaminya, masih berstatus suami orang. Demi menutupi aib keluarga besar, Nadira terpaksa menyetujui usulan ibunya untuk menikahi Rafli, tetangga duda yang dingin dan jauh lebih tua. Meski awalnya menolak karena asing, Nadira mulai melihat sisi lembut dan tanggung jawab di balik ketegasan Rafli. Kini ia harus beradaptasi dalam pernikahan mendadak ini dan menemukan makna cinta sejati.