Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel OBSESI MANTAN SUAMI

OBSESI MANTAN SUAMI

Pasca diceraikan akibat tuduhan palsu, Sarah berjuang sendirian demi membesarkan anaknya. Namun, Aditya justru kembali muncul dengan obsesi gelap yang menghancurkan ketenangannya. Mantan suaminya itu nekat melakukan penculikan dan pemaksaan karena enggan melepas Sarah. Saat Sarah berupaya melarikan diri bersama putranya, kehamilan baru akibat perbuatan Aditya menjadi penghalang besar. Akankah pria itu membiarkan mereka pergi atau justru mengekang mereka selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Lepaskan aku brengsek!" makinya kesal, saat melihat siapa orang yang telah menariknya paksa.

"Sstt ...! Jangan berontak, Sayang!" pinta sesosok lelaki yang sedang memeluknya erat dari belakang. Menahan kedua tangannya yang hendak membuka paksa pintu mobil.

"Lepasin gue, Setan!" hardik Sarah semakin murka. Kedua kakinya menendang-nendang ke sembarang arah, begitupula dengan tubuhnya yang berontak, berusaha melepaskan pelukan lelaki itu, dimana ia kenali aromanya karena aroma itulah yang setiap malam menemani tidurnya saat mereka masih menjadi sepasang suami istri.

"Sstt ... kok mulutmu makin kasar sekarang, Yang!" tegur Aditya kesal, karena Sarah terus saja berontak. "bukankah sudah aku bilang, kalau aku gak suka kalau kamu sudah ngomong kasar gitu! Karena bikin aku bergairah, tau gak!" omelnya dengan wajah merah padam menahan hasrat untuk menyerang mantan istrinya membabi buta.

"An jing! Se tan! Ib lis! Jangan sentuh gue, Setan! Gue gak sudi!" pekik Sarah dengan suara keras, yang segera dibungkam Aditya dengan tangan besar berbulu miliknya. Sementara tangan yang satunya serta kedua kakinya memeluk erat tubuh Sarah, hingga wanita itu tidak bisa bergerak sedikitpun.

"Mmmm ...!" Sarah berusaha berteriak, namun bekapan di mulutnya menutup akses tersebut. Dirinya benar-benar jijik jika harus disentuh sang mantan suami kembali.

Aditya segera menciumi leher bagian belakang milik Sarah, ingin memancing hasrat sang mantan istri agar mengikuti kemauannya. Sementara Sarah yang mendapatkan perlakuan seperti itu, lantas tergugu sembari kembali berontak, dirinya benar-benar tidak sudi mendapatkan sentuhan menjijikkan dari mantan suaminya.

"Sebaiknya kamu menyerah saja, Sayang. Bukankah kita nantinya akan sama-sama merasakan nikmatnya saling menyatukan diri, seperti yang biasanya kita lakukan sewaktu masih berumah tangga. Jadi jangan berontak terus, ya! Anggap saja ini sebagai salam perpisahan, karena setelah ini Mama akan menyuruhku kuliah ke London. Namun sebelum itu, aku ingin kembali mengulang rasa indah itu denganmu!" Aditya merayu sembari mulai menjalankan tangannya yang sedang memegangi tubuh Sarah, menuju ke arah area-area  yang menjadi kelemahan wanita itu.

Sarah berusaha mati-matian menjaga kewarasannya saat mendapatkan sentuhan memabukkan itu. Dirinya lantas segera berpikir cepat, bagaimana caranya melarikan diri dari kungkungan mantan suami sakit jiwa di belakangnya itu. Meskipun kini intinya ikut basah saat disentuh sedemikian rupa, karena mau bagaimanapun dirinya tahu bagaimana rasanya saat menyatu dengan mantan suaminya.

"Mau, ya?" rayu Aditya kembali saat dirinya melihat sang mantan istri berhenti berontak, juga saat mendengar napas wanita itu mulai terdengar berburu.

Sarah segera menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan lelaki itu.

Aditya tersenyum semringah, iapun segera melepaskan bekapan tangannya pada mulut wanita itu. Dimana kini Sarah berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah akibat lamanya mulutnya berada dalam bekapan tangan lelaki itu.

"Lepaskan belitan kakimu dulu!" Sarah memohon, setelah napasnya kembali teratur.

"Oh, ok! Dimana kita akan melakukannya? Apa di mobil saja?" Aditya kembali merayu, karena dirinya benar-benar merindukan kehangatan sang mantan istri yang selalu sukses membuatnya terbuai.

"Terlalu sempit, Mas Adit," tukas Sarah saat lelaki itu akhirnya menuruti permintaannya. Belitan itupun terlepas, namun Aditya masih duduk di belakang Sarah.

Aditya lantas menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan yang dilontarkan oleh sang mantan terindah. "Benar juga, ya! Kalau begitu, di hotel saja! Kebetulan aku nginap di hotel SBHBB. Besok baru check out. Nanti kamu aku antar pulang besok pagi, sekalian aku check out, Sayang."

Sarah kembali mengangguk, dirinya lantas bernapas lega saat Aditya kini duduk dengan benar di sampingnya. Namun hanya sebentar, tatkala tangan kanan lelaki itu merangkul pinggangnya dengan erat, hingga bahu mereka bertabrakan. 'Dasar Adit gila!' desisnya membatin.

"Jalan, Pak!" titahnya dengan tegas pada sopir di depan dari balik interkom yang ada di di samping tempatnya duduk.

"Baik, Tuan Muda!" sahut sang sopir yang segera menjalankan mobil menuju hotel tempat lelaki itu menginap.

"Aku kangen banget sama kamu, Yang," ungkap Aditya dengan senang, karena bisa memeluk Sarah kembali, hidungnya bahkan ia majukan, hendak mengendus leher sang mantan istri, yang kini mengenakan kemeja putih lengan pendek pas badan dengan bordiran nama ARM Cafe and Karaoke, dengan rok model payung di bawah lutut ---seragam kerjanya sebagai waiters di sebuah tempat karaoke---. Dimana ia tutupi dengan memakai jaket sweater butut berwana hijau kelabu yang memiliki potongan leher rendah, serta celana legging tiga perempat di balik rok model payung yang ia kenakan, sementara rambut sepinggangnya ia ikat kuncir kuda. Dimana kini terlihat sedikit berantakan dengan beberapa helai rambut keluar dari ikatannya.

Sarah memiringkan tubuhnya, hingga hidung lelaki itu gagal mengendus lehernya kembali. "Jangan di sini!" tegurnya, agar lelaki itu menghentikan aksinya yang suka mengendus leher.

"Oh, ok! Kamu pasti malu, ya, kalau keliatan Mang Supri! Tapi, kamu tenang aja, Mang Supri sudah cs kok sama aku, Yang! Jadi apa yang kita lakukan hari ini, gak bakal ketahuan mama!" ungkap Aditya senang.

"Terserah kamu, Mas! Yang jelas aku tidak mau bermesraan di sini! Jadi tunggu di hotel saja, ya!" pinta Sarah sembari tersenyum manis saat ia menolehkan kepalanya pada lelaki itu.

"O-ok! Tentu! Aku setuju denganmu! Jangan di sini, nanti Mang Supri pengen juga, sementara istrinya baru saja lahiran. Gak mungkin, kan, orang baru lahiran dipake? Kan jijik, ya, kalau lihat masih banyak yang merah-merah itu keluar dari sana. Belum lagi baunya yang bikin mual! Pokoknya gak enak banget lah kalau istri itu gak bisa dikunjungi kalau lagi palang merah!" gerutu Aditya dengan bibir mengerucut, yang justru tidak sesuai dengan perawakannya yang macho juga tinggi besar.

"Jadi kamu bersedia menurut, kan?!" ucap Sarah kembali, ingin memastikan kesediaan lelaki itu

"Ok! Aku nurut mau kamu!" pungkas Aditya dengan senyum manis yang semakin membuat wajah tampannya bersinar. Namun justru membuat Sarah mual. "tapi, pegang dikit ya, Sayang!" pintanya, mencoba bernegosiasi agar mendapatkan bonus.

"Mending sekalian saja, ya," tolak Sarah dengan halus. "kan lebih enak kalau langsung daripada icip-icip dikit! Yang ada nanti kamunya yang gak puas!" ungkapnya sembari tersenyum manis, saat menatap balik wajah lelaki itu, yang kini semakin melebarkan senyumnya.

"Ish ... Ayang ternyata pengen juga, ya!" kekeh Aditya dengan geli. "tahu gini, mending kita jangan cerai, ya! Kan enak tuh bisa main tiap malam! Kalau perlu sampai subuh, ya, Sayang, ya?!" desaknya memaksa Sarah menyetujui usulannya.

"Iya, dong ...!" Sarah balas merayu dengan suara mendayu-dayu.

"Ikh ... Ayang makin gemesin kalau gini!" pekik Aditya senang. "Jadi gak sabar pengen main kuda-kudaan sama kamu sampai pagi," ungkapnya dengan nada gembira.

Sarah hanya tersenyum skeptis dengan ucapan lelaki itu, tanpa balas menjawab sepatah katapun. 'Sinting!' makinya di dalam hati.

Mobil yang mereka tumpangi mulai melambatkan lajunya, saat akhirnya tiba di parkiran hotel yang dimaksud. Dimana terlihat jika sang sopir sedang berusaha mencari tempat parkir yang kosong, di tengah padatnya kawasan parkir dengan mobil para tamu yang sedang menghadiri upacara pernikahan seorang artis daerah.

"Sudah sampai, Tuan Muda!" seru sang sopir sembari membuka tirai pembatas antara dirinya dengan kursi penumpang di belakang.

"Ok!" sahut Aditya dengan senang. Lelaki itu lantas membuka pintu mobil di sampingnya. Kemudian segera keluar dari dalam mobil dengan posisi pintu masih terbuka lebar. Ia lantas berlari memutar, ingin membukakan pintu yang ada di samping sang mantan istri.

Sarah yang melihat pintu terbuka lebar, lantas bergegas keluar dari sana dengan cepat, sebelum Aditya berhasil membuka pintu di sampingnya.

Wanita itupun berlari kencang, meninggalkan Aditya yang terbelalak. Lelaki itu benar-benar terkejut akan aksi nekat yang Sarah lakukan.

"Sarah, tunggu!" pekik Aditya dengan kuat sembari mengejar wanita itu dari belakang.

Sarah tidak menggubris teriakan yang mantan suaminya ucapkan. Ia terus saja berlari, hingga hampir sampai di depan gerbang hotel yang dijaga oleh tiga orang petugas keamanan.

Aditya yang sadar tidak akan bisa mengejar langkah kaki Sarah, lantas berteriak dengan kencang. "Pak, tolong tahan wanita itu! Jangan biarkan dia lolos!"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NRP" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NRP
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Terlarang Dengan Tetangga
9.7
Maya terjebak dalam pernikahan kelam bersama Rafael, suami temperamental yang kerap menyakiti fisik dan batinnya. Suatu malam, ia terpaku melihat kemesraan Daniel, tetangga barunya, terhadap pasangannya. Kelembutan Daniel memicu rasa iri sekaligus kekosongan mendalam di hati Maya. Meski Daniel telah beristri, benih cinta terlarang mulai tumbuh di jiwa Maya. Kini ia terombang-ambing antara tanggung jawab moral dan dambaannya akan kasih sayang yang tulus.
Sampul Novel Going Crazy
9.6
Marcel menceraikan Mikaela setelah mendapati anak kembar mereka tak sedarah dengannya. Demi mempertahankan rumah tangga, Mikaela membebaskan Ares dari penjara guna menyerahkan hak asuh anak-anak itu. Namun, duka mendalam menyelimuti Mikaela saat ayahnya wafat tiba-tiba. Kini ia berjuang agar Marcel menerimanya kembali, meski Marcel terus membandingkannya dengan Michelle, sang mantan istri sekaligus ipar. Akankah Mikaela berhasil atau justru hancur?
Sampul Novel Istri Bodoh, Mantan Miliarder
8.1
Alisa terjebak dalam pernikahan menyesakkan bersama Dion, suami super pelit yang hanya memberinya uang belanja dua puluh lima ribu rupiah sehari untuk enam orang. Selain tekanan ekonomi, Alisa harus menelan makian mertua setiap hari. Situasi memburuk saat ia memergoki Dion mendekati mantan kekasihnya. Di tengah kemelut, Alisa menemukan aplikasi penghasil uang dan merahasiakannya. Namun, saat mencoba membongkar skandal Dion, ia justru difitnah menggoda ayah mertuanya sendiri.
Sampul Novel Istri Tuan Jhason
7.9
Hidup Kara berubah drastis setelah diselamatkan oleh Jhason, sosok yang kemudian menjadi tunangannya. Namun, perjalanan cinta mereka tidaklah mulus karena berbagai rintangan berat terus menghadang. Situasi semakin rumit saat mantan kekasih Kara muncul kembali di kehidupannya. Kehadiran masa lalu tersebut memicu dilema besar dalam batin Kara, membuatnya mulai merasa ragu untuk tetap bertahan di sisi Jhason dan melanjutkan komitmen mereka.
Sampul Novel Kehangatan selimut cinta
8.7
Sophia adalah wanita dengan daya tarik fisik yang unik dan gairah asmara yang meluap-luap. Suatu ketika, saat ia hendak melangkah keluar kamar, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram bahunya dengan kasar. Tubuh Sophia terdorong hingga menempel pada dinding di samping pintu. Ia nyaris berteriak karena terkejut, namun mulutnya segera dibungkam secara paksa. Ketegangan pun memuncak dalam pertemuan yang tidak terduga dan penuh desakan tersebut.
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Sang CEO
8.9
Pasca bercerai, Bella yakin hidupnya akan tenang tanpa bayang-bayang mantan suaminya. Namun, sang CEO yang dulu angkuh justru datang bersimpuh dan memohon pengampunan agar mereka bisa memulai kembali. Meski pria itu menundukkan kepala dengan penuh penyesalan, luka hati Bella sudah terlanjur dalam. Ia dengan tegas menolak bunga serta permintaan maaf tersebut karena merasa semuanya sudah terlambat. Kesempatan kedua yang diharapkan sang mantan kini terasa sia-sia.