
OBSESI CINTA MANUSIA VAMPIR
Bab 2
BURONAN
"Jangan teriak!" bisik orang itu dengan nada mengancam.
Aleeta melotot. Dia mengenali pria itu yang baru saja ke tokonya tadi. Aleeta berusaha sekuat mungkin untuk berteriak dan memberontak. Aleeta mengadu kepalanya dengan kepala pria tersebut.
"Isshhh kau! Gadis sialan!" pria itu meringis dan agak lengah. Belum Aleeta berteriak karena engap. Pria tersebut mendaratkan bibirnya pada bibir Aleeta. Sebelum mendaratkan bibirnya. Ia berbisik lirih "Tolong aku."
Mata Aleeta membulat penuh dan tubuhnya membeku tak bisa memberontak.
Pria itu mencium bibir Aleeta penuh dengan penekanan. Lalu ada 3 orang pria bertubuh kekar melongok ke arah lorong.
"Ah bukan dia, itu cuma remaja yang sedang pacaran, ayo cepat cari lagi!" mereka pun pergi. Pria itu pun mengakhiri ciumannya. Namun Aleeta masih membeku di situ. Dia berusaha berbicara namun sulit keluar satu kata pun dari mulutnya.
"Maafkan aku, aku terdesak," ucap pria itu lagi.
"Brengsek!!" emosi Aleeta mendadak meletup.
Plakkkkkkkkk. Aleeta menampar pria tersebut sangat keras.
"Kamu! Berani sekali menamparku hah?!" pria itu menahan emosinya.
"Apapun situasinya, kau tidak boleh mencium orang sembarangan! Dasar laki-laki cabul!"
Aleeta berjalan pergi, menghentakkan kakinya sebelum angkat kaki. Namun pria itu terus mengikutinya. Kini Aleeta bukan lagi berjalan merasa dibuntuti, alih-alih lari terbirit-birit demi menghindar.
"Jangan ikuti aku!" teriak Aleeta.
Saking kencangnya lari Aleeta. Sampai pria itu tak bisa mengejarnya lagi. Aleeta menoleh ke segala arah untuk jaga-jaga jika pria itu ada di belakang membuntutinya. Tangannya gemetar ketika ia berusaha membuka kunci pintu kosannya yang sudah agak karatan itu.
"Kamu ingin aku melakukan hal yang brutal lagi padamu? Atau selamat dariku? Cepat pilih!" ancam si pria. Aleeta kaget ketika suara itu muncul berbisik di telinganya. Dia tak berani menoleh dan mulutnya seperti terkunci. Pria itu mendekapnya dari belakang seperti seorang rampok dan menculik sanderanya.
"Buka pintunya dan biarkan aku masuk, oke?" pria itu mengendalikan Aleeta. Memerintah Aleeta untuk membuka pintunya. Dan Aleeta tidak bisa memberontak sama sekali. Meskipun tak ada sebilah pisau di lehernya. Ia belum pernah diancam oleh seseorang secara brutal seperti ini.
"Baik, sekarang kamu bisa menutup pintunya," perintahnya. Aleeta pasrah namun batinnya berkata apakah ini hari terakhirnya.
"Jangan takut aku hanya ingin tinggal beberapa hari di sini sampai orang-orang itu tidak berada di kota ini lagi, aku tak akan melakukan apapun padamu percayalah," tutur pria itu yang sama sekali tak dapat dipercayai Aleeta.
Aleeta hanya terdiam di pojokan. Melihat pria asing berbicara padanya di dalam kosan yang sama. Berkali-kali pria itu membujuk Aleeta bahwa dia tidak berbahaya. Dan menjelaskan kalau nyawanya sedang terancam.
Karena kasihan, akhirnya Aleeta berjalan ke arah kamar mengambil selimut dan bantal dan dilempar selimut dan bantal itu pada pria tersebut.
"Apa kamu seorang buronan?" tanya Aleeta.
"Mereka dibayar seseorang untuk menangkapku, tapi yang jelas aku bukan buronan polisi," jelasnya. Buronan atau bukan Aleeta tetap takut ia terkena imbasnya. Sepertinya pria ini orang yang banyak musuhnya. Aleeta menyuruhnya untuk jangan dekat dekat dengannya dan membiarkan ia tidur di lantai.
"Ada obat luka?"
"Ada."
"Tanganku tergores kawat, darahnya menetes banyak sekali."
"Sebentar, aku ambilkan."
Aleeta turun dari kasur dan berjinjit mengambil kotak obat. Lalu diletakkannya ke hadapan pria itu, lalu kembali berlari ke pojokkan. Meringkuk dibalik selimut dengan gestur waspada.
***
* Di Kampus
"Kenapa kamu telat Lee? Biasanya kamu selalu berangkat pagi kalau pergi ke kampus," ujar temannya. Andita namanya. Dia teman curhat Aleeta selama kuliah disini. Andita bingung melihat Aleeta mondar- mandir dengan wajah resah.
"Bagaimana tadi wajahku? Aku gak terlihat seperti orang bodohkan di depan pak Zean?" Aleeta bertanya tentang keterlambatannya saat jam pelajarannya yang diajar dosennya yang bernama Zean itu.
Zean adalah dosen favoritnya. Aleeta menyukai dosennya itu sejak pertama kali melihat wajahnya. Sosok Zean sangat berwibawa, dingin dan juga tegas. Sejak 2 bulan ini ketika Zean menjadi dosen baru di kampus, Aleeta sungguh mengaguminya. Zean itu seperti sosok penyemangat yang tidak disengaja katanya.
"Kamu cantik Lee! Cantik banget!" sanjung Andita tapi dengan ekspresi malas.
"Sialan! Gara-gara cowok itu aku jadi gak bisa tidur," keluh Aleeta sambil memukul meja yang ada di depannya. Membuat orang orang menatapnya aneh.
"Maksudnya cowok siapa Lee?" Andita penasaran. Aleeta baru ingat kalau ia keceplosan, sekarang ia kebingungan harus cerita apa padanya. Sedangkan pria itu seorang buronan penjahat. Seharusnya dia tidak mengeluh padanya tadi. Sekarang Andita menatapnya menunggu jawaban itu.
"Ah bukan siapa-siapa." kini dia beralasan.
"Dia cuma pelanggan yang membuat aku kesal," sambungnya.
"Oh gitu... Lee aku lapar tapi aku mau sesuatu yang enak."
"Kita makan toast roti saja yuk! Di sana ada kedai baru, mungkin saja ada harga promo," ajaknya.
Mata Andita jadi berbinar sekarang ketika mendengar harga promo. Dia adalah pecinta kuliner. Makanan sejenis junk food adalah favoritnya. Apalagi jika harganya murah pas di kantong pelajar, dia akan rela pergi ke sana walaupun mengantri. Aleeta pun tak ada bedanya sama sama pecinta kuliner. Mereka berdua pergi kemanapun dimana ada tempat yang menjual makanan enak dengan harga promo.
Kebetulan kedainya tak jauh dari kampus mereka. Dari jauh pun sudah jelas kalau antriannya panjang.
"Semoga kita sempat kebagian," gumam Aleeta.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Aleeta menatap layar ponselnya. Itu panggilan dari nomer asing. Aleeta menjawab panggilannya barangkali itu nomor orangtuanya yang baru fikirnya.
"Hallo!"
"Hallo ini aku, aku lapar, belikan aku makanan, di sini tidak ada makanan." orang yang ada di seberang telfon terus nyerocos. Aleeta kesal ketika dia mulai mengenali suara ini. Dia langsung mematikan telfonnya dengan menekannya keras. Dari mana pria itu mendapatkan nomornya? Apa semalam pria itu mengambil ponselnya diam-diam?
Tak lama ponselnya berdering lagi, tampilan nomor yang sama, muncul. Kekesalan Aleeta membuncah.
"Kenapa Lee? Siapa yang menelponmu tadi?"
"Seorang penipu!"
Ponselnya berdering lagi dan lagi walaupun sudah dimatikan berkali-kali. Sekarang Aleeta menyerah. Dia mengangkatnya kembali. Tapi Aleeta tidak berbicara sepatah katapun. Wajahnya nampak bosan.
"Belikan aku makanan yang enak, aku bakal kasih kamu uang tip," pinta pria itu. Mendengar kata uang tip bagaikan aroma segar baginya.
"Yang benar?" tanyanya penuh harap.
"Aku gak bohong, cepat kamu belikan aku makanan! Jangan lupa minumannya juga, aku tunggu kamu di rumah!" perintahnya.
Aleeta agak risih diperintah oleh orang yang tidak dikenalnya. Apalagi dia hanya menumpang di kosannya. Tapi demi uang tip tidak akan dia sia-siakan.
"Dasar tukang perintah!" celetuknya. Dia seperti suami yang sedang menunggu istrinya berbelanja saja.
"Sudah selesai masalahnya? Sebentar lagi giliran kita" tanya Andita.
"Beres!"
Tiba giliran mereka memesan. Aleeta membeli 4 bungkus dan 3 minuman. Andita terheran-heran. Banyak sekali yang dibeli Aleeta. Untuk siapa makanan sebanyak itu.
"Kamu beli banyak banget Lee? Buat siapa?"
"Ya buatku lah, ini buat persediaan Dit, biasanya malam hari aku selalu lapar."
"Okelah masuk akal."
"Ya kan masuk akal? Males juga kan kalo harus keluar malem-malem?"
Setelah makanan mereka sudah siap. Aleeta terburu-buru pamit pulang. Andita menganggap Aleeta hari ini sangat aneh. Seperti ada yang sesuatu yang disembunyikannya. Tapi Andita berusaha berfikir positif. Barangkali dia sedang ada masalah yang tidak bisa diceritakan.
Anda Mungkin Juga Suka





