
Nyawaku di Ujung Kematian Saat Dia Bersenang-senang
Bab 3
Tengah malam, efek obat tidur telah hilang dan aku terbangun karena rasa sakit. Barulah aku sadar kalau Elton sudah pulang.
Elton sudah lama tidak pulang ke rumah. Dia membeli sebuah vila di luar kota untuk Yvette dan tinggal bersama di sana, seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Elton bersandar di depan jendela besar sambil memegang segelas anggur. Dia menatapku dengan malas. Sorot matanya menyiratkan kelembutan yang sudah lama tidak kulihat.
Aku berjalan melewatinya, ingin mencari dua butir obat pereda nyeri, tapi Elton tiba-tiba menarik tanganku.
"Hedy, kenapa kamu kurus sekali belakangan ini?" Nada suaranya penuh kekhawatiran, seolah dia masih mencintaiku. Namun, aku tidak akan percaya kalau dia masih mencintaiku. Melihat penampilannya saja sudah jelas, dia baru saja turun dari ranjang wanita lain.
Aku menepis tangan Elton dengan jijik. "Bukan urusanmu."
Elton terhempas, ekspresinya seketika menjadi dingin.
Saat aku berjalan ke ruang tamu, barulah aku melihat di meja ada sebuah kue pesta berlapis lilin dan beberapa kotak cupcake cokelat kesukaan kami dulu.
Baru aku sadar, ternyata telepon itu bukan mimpi. Aku bilang ingin makan kue dan Elton benar-benar membelinya tengah malam. Apakah ini bentuk penyesalannya karena lupa ulang tahunku?
Akan tetapi, aku sudah hampir meninggal. Aku tidak butuh kue itu dan aku juga tidak butuh Elton lagi.
Aku bahkan tidak melirik kue itu untuk kedua kalinya. Elton mengerutkan kening dan menggenggam tanganku dengan erat. "Hedy, kamu sedang mempermainkanku, ya? Atau kamu masih marah karena aku lupa ulang tahunmu? Sebenarnya aku nggak lupa, aku cuma ...."
Elton ingin menjelaskan bahwa dia hanya sibuk bekerja dan berniat datang menemaniku setelah urusannya selesai, tapi ucapannya langsung kupotong dengan tajam. "Benar, aku memang mempermainkanmu. Kenapa?"
"Siapa suruh kamu semurahan itu! Aku bilang mau makan kue, kamu langsung beli. Sama seperti dulu, murahan sekali!"
Aku sengaja menyebut "masa lalu". Itu adalah masa yang paling tidak ingin diingat Elton dan masa paling memalukan baginya.
Elton menarik kerah bajuku dan menyeretku ke arahnya, lalu mengangkatku dan melemparkanku ke tempat tidur di kamar. Dia marah besar dan menciumku dengan kasar. Aku bisa merasakan bibirku sampai robek karena gigitannya.
"Elton, kamu kenapa sih?! Jangan sentuh aku, menjijikkan!"
Elton semakin marah, dia menggigitku dengan keras. "Hedy, kamu bakal mati kalau ngalah padaku sedikit saja, ya? Kamu tahu nggak, selama ini aku selalu nunggu kamu minta maaf padaku? Aku sudah nunggu bertahun-tahun!"
"Kamu tahu nggak, waktu kamu bilang ingin makan kue, aku senang sekali. Aku nekat keluar malam-malam cuma buat beli kue buat kamu! Dan kamu bilang kamu cuma mempermainkanku!"
Matanya memerah dan menatapku tajam dengan amarah yang tertahan. Aku terdiam di dalam kegelapan, tidak berkata apa-apa. Kami berdua terdiam lama, tak ada yang mau mengalah terlebih dulu.
Akhirnya, Elton menghela napas pelan. "Hedy, aku harus bagaimana sama kamu?"
Dia menunduk, wajahnya makin mendekat dan bibirnya hampir menyentuh bibirku. Tiba-tiba suara dering telepon yang nyaring memecah keheningan.
Elton mengernyit, panggilan itu dari Yvette. Dia berhenti dan mengangkat teleponnya.
"Elton, aku sendirian di bar sekarang. Tadi ada orang yang coba ngajak kenalan, aku takut sekali .... Kamu benaran mau ninggalin aku demi Hedy? Elton, tolong jemput aku pulang, ya?"
Elton tidak menjawab. Dia hanya menatapku. "Hedy, minta aku untuk tinggal. Kamu cukup memintanya, aku nggak akan pergi, aku nggak akan hubungi dia lagi." Nada bicaranya terdengar seperti permohonan.
"Elton, kamu nggak pantas."
Elton tertawa getir, lalu berkata ke telepon, "Yvette, tunggu ya, aku segera ke sana."
Kemudian dia mengambil bajunya, membanting pintu, dan pergi.
Aku menatap punggungnya yang menjauh, dan dalam hati berbisik pelan, 'Masih ada enam hari lagi.'
Anda Mungkin Juga Suka





